Edgar benar-benar mengantar Rani bersama Tyas menggunakan mobilnya. Awalnya, Rani menolak lantaran tidak ingin Edgar tiba-tiba saja kembali digosipkan dekat dengannya. Namun, sepertinya anak-anak kelas dua belas tahu berita soal pesawat jatuh tersebut dan keberadaan sang alumni sekaligus ketua paskibra, Farel, di pesawat itu.
Seluruh anak kelas dua belas mengadakan doa bersama setelah mendengar kabar soal itu, dan hal itu membuat Rani berharap ia akan segera mendapatkan kabar dari Farel. Mungkin saja Farel batal naik pesawat itu? Atau mungkin saja pesawat itu tidak jatuh dan dapat sampai di Jakarta dengan selamat?
“Lo yakin Ran, si Farel ada di pesawat itu?” tanya Edgar, ia menyetir sementara Rani dan Tyas duduk di kursi belakang.
“Jadi lo gak percaya sama gue?!” tanya Rani dengan nada yang sangat tidak santai.
“Ya bukan gitu juga. Maksud gue, dia ada ngirim foto yang nunjukin kalau dia naik pesawat itu atau engga?” Edgar memperjelas pertanyaannya.
Rani menggeleng, “Jam keberangkatan pesawat itu sama, Gar. Tapi gue tetep optimis, bisa aja emang kak Farel gak ada di pesawat itu. Atau kalau memang dia naik pesawat itu, pesawatnya ditemukan atau apa gitu…”
Rani hanya bisa bergantung kepada harapan itu sendiri. Ia berharap bahwa dugaannya bahwa Farel naik ke pesawat itu adalah salah, walaupun jam keberangkatannya sama. Toh, Farel tidak memberitahunya soal nomor pesawat yang ia taiki atau apa.
Mereka baru saja berpacaran. Benar-benar baru saja, selama beberapa minggu kebelakang. Rani juga belum sempat bertemu dengan Farel lagi. Kenapa ketika dirinya hendak berbahagia, Tuhan malah menundanya? Memberikannya berita yang terlalu berat diterima olehnya seperti ini?
Rani menarik napasnya. Edgar dan Tyas tidak lagi berbicara. Mereka sadar bahwa Rani membutuhkan waktu untuk mencerna semua ini dan menenangkan dirinya.
Tyas mengarahkan jalan menuju rumah Rani hingga mereka semua sampai.
“Edgar lo mau mampir?” tanya Tyas, “eh, gue tau sih ini bukan rumah gue… Tapi-“
Edgar kemudian menggeleng, “Nggak usah, gue drop kalian aja.”
Karena Rani merasa tidak enak kepada Edgar yang sudah mau membantunya, dan walaupun ia masih dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, ia tetap menawarkan Edgar untuk mampir. Namun Edgar masih menolaknya.
“Yaudah, hati-hati Gar. Makasih udah mau anter gue,” kata Rani.
Edgar mengangguk, “Kalo ada kabar baru, lo kabarin gue ya,” ujarnya. “M-maksud gue, Farel juga kan sohib gue.”
Rani mengangguk, walaupun ia sendiri tidak tahu harus mengabari Edgar lewat siapa.
“Lo temenan sama gue kan di BBM, Tyas?” tanya Edgar, melirik Tyas.
Tyas mengangguk ragu, “Yaudah, lewat lo aja gue minta kabar.”
“O-oke kalo gitu.”
Rani mengerutkan dahi, sejak kapan Tyas berteman dengan Edgar di BBM? Ia melirik Tyas bingung, hingga mobil Edgar meninggalkan rumah Rani.
“Bisa gue jelasin,” kata Tyas.
“Jangan-jangan lo naksir Edgar gara-gara iklannya dia?”
Tyas menggeleng dengan cepat, “Sepupu gue suka sama dia, jadi yaudah, gue minta pin BB nya dari anak-anak.”
Rani menghela napas, ini bukan saatnya ia berdebat soal Edgar dengan Tyas. Ia harus menyetel televisi, mengikuti terus perkembangan soal pesawat yang jatuh itu.
*
Kabar itu akhirnya datang juga. Kabar yang benar-benar tidak ingin Rani dengar sekali pun. Tadi malam, ia sama sekali tidak bisa tidur. Mama dan papa serta Bayu sudah mengetahui soal hal ini.
Tadi pagi, puing-puing pesawat dinyatakan ditemukan di perairan. Ia mengetahui berita itu dari salah satu guru yang memang menaruh perhatian lebih pada kasus ini.
Guru kesiswaan, pak Farid, memanggil Rani dan juga Anita (sepupu Farel) ke ruang guru untuk memberitahu kabar ini. Tangis Rani pecah, sementara Anita hanya bisa diam dan tidak bisa berkata-kata.
Anita sendiri mengiyakan bahwa keluarga Farel dan juga Farel berada di pesawat itu. Termasuk nenek dari Farel, yang ikut ke Kuala Lumpur selama beberapa minggu terakhir.
Pak Farid memberikan waktu untuk Rani dan juga Anita berbicara.
“Keluarga gue udah ikhlas, Ran,” kata Anita, “mereka gak bisa berbuat apa-apa kalau gini caranya. Mau nyalahin siapa coba kalau kecelakaan pesawat? Semua udah takdir…”
Rani tahu itu. Semua adalah takdir yang telah ditentukan, tapi ada rasa mengganjal yang tidak enak… Rasa tidak nyaman, dan kesedihan mendalam yang ia rasakan.
“Bokap sama nyokap gue lagi ngurus data-data, kalau-kalau jasad mereka ditemukan…” Ujar Anita lagi, yang membuat Rani malah semakin menangis.
“Farel bisa berenang kan, Ta?” tanya Rani.
Anita menghela napas, “Ya tapi kecil kemungkinannya dia bakal selamat, Ran…”
“Tapi gue belum ketemu sama dia, sejak dia pindah ke Jogja, Ta…”
Anita terdiam, ia sendiri juga tidak tahu caranya menghadapi situasi seperti ini. Ia juga shock ketika mengetahui berita bahwa keluarga Farel dan juga neneknya berada di pesawat itu… Tapi kedua orang tuanya menenangkannya, memintanya untuk ikhlas karena merasa tidak ada harapan lagi jika pesawat telah jatuh.
Karena tidak tega dengan Rani, Anita pun lantas memeluk gadis itu… Menenangkannya hingga ia berhenti menangis, walaupun dadanya juga terasa sesak.
*
Edgar sudah mendapatkan kabar itu tanpa Tyas memberitahunya. Farel benar-benar berada di pesawat itu, dan namanya tertera di daftar penumpang yang telah dibagikan di tayangan berita salah satu stasiun televisi.
Tadi siang, Edgar juga melihat Rani keluar dari ruang guru bersama Anita, sepupu Farel dengan mata yang sembab. Sudah pasti salah satu guru mengabarinya soal hal ini, dan Rani tidak bisa menahan tangisnya.
Walaupun Edgar tidak tahu apa sebenarnya perasaan Rani terhadap Farel, atau pun apa yang sebenarnya telah dilewati oleh kedua sejoli itu selama ini, Edgar tetap merasa prihatin dengan apa yang dialami oleh Rani.
Kehilangan seseorang bukanlah sesuatu yang mudah. Walaupun ia membenci Rani (karena lagi-lagi, ada gossip yang mengatakan bahwa dirinya menyukai Rani namun cewek itu menolaknya), bukan berarti Edgar kehilangan rasa empatinya terhadap cewek itu. Lagi pula, Farel juga temannya, kan?
“Emangnya bener ada alumni sekolah kamu di pesawat itu Gar?” tanya Tamara, ibunya yang bergabung di depan televisi bersamanya sambil memakan semangkuk besar salad.
Edgar mengangguk, “Iya mah, udah dikonfirmasi sama keluarganya. Sepupunya masih di IIS.”
“Kasihan banget ya,” kata Tamara, “terus udah ditemuin belum?”
Edgar menggeleng, “Belum mah, kayaknya…”
“Mama jadi takut naik pesawat, Gar.”
Edgar menaikan sudut bibirnya, “Takut apanya? Sering keluar kota make pesawat aja takut… Edgar gak percaya deh kalau mama ngomong gitu.”
“Ih bener kok mama takut, gamau naik pesawat lagi.”
Edgar masih mencibir. Ibunya adalah public figure yang sering keluar kota menggunakan pesawat, rasanya mustahil ia tidak akan naik pesawat lagi.
“Kemungkinan kecelakaan itu lebih besar di darat dari pada udara mah,” kata Edgar.
“Ya tetap aja…”
“Terserah mama deh.”