Satu hal yang membuat Edgar salut dengan Rani adalah… Ketika masa-masa sulit kehilangan Farel yang telah ia alami sebelum Ujian Nasional diadakan, gadis itu tetap mendapatkan hasil yang terbaik. Ia menjadi salah satu lulusan IIS yang mendapatkan nilai Ujian Nasional nyaris sempurna.
Belakangan, Edgar juga mendengar bahwa Rani akan berkuliah di Universitas Indonesia. Dan omong-omong, ibunya adalah salah satu dosen di sana. Entah dosen di bidang apa, Edgar tidak mengetahuinya.
Edgar sebenarnya juga menjadi lulusan terbaik dalam bidang seni karena banyaknya iklan dan peran-peran kecil di sebuah sinetron yang telah ia bintangi. Bukan. Bukan berarti ia hanya bisa mendapatkan peran pendukung atau semacamnya.
Justru Edgar sengaja menunda untuk mengambil peran besar hingga ia lulus. Dan terbukti, saat ini ia sedang mengerjakan project sebuah sinetron dengan episode yang tidak terlalu panjang dan ia menjadi pemeran utamanya.
“Cie, ngeliatin Rani aja lo.”
Edgar langsung memalingkan pandangannya dari Rani. Temannya, Doni, selalu saja seperti ini. Sama seperti teman-temannya yang lain, selalu saja meledekinya dan mengatakan bahwa ia menyukai Rani atau semacamnya. Inilah yang membuat ia muak dan membenci Rani. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak lagi membully gadis itu.
“Apaan sih lo,” bantah Edgar.
Pesta kelulusan IIS diadakan di sebuah hall di gedung mewah yang ada di pusat kota Jakarta. Para siswa sudah mengenakan pakaian rapi ala wisuda biasanya. Perempuan memakai kebaya modern, sementara laki-laki memakai jas.
Bisa dibilang, ini adalah hari terakhir mereka akan bertemu. Edgar tidak melanjutkan kuliahnya dan lebih memilih untuk fokus pada dunia entertainment. Ayahnya sudah menyuruhnya mengikuti sekolah akting, karena Edgar lah satu-satunya di antara ketiga anak keluarga Malik yang memiliki potensi dalam bidang akting.
Ketika acara selesai, tepatnya ketika Edgar berjalan keluar dari gedung bersama Doni, matanya dan mata Rani bertemu.
Rani mengenakan kebaya modern berwarna salem dan terlihat elegan. Rambutnya ditata serapih mungkin, dan make up nya juga tidak terlalu berlebihan. Ia memang sudah berubah sejak pertama kali mereka bertemu di kolam renang. Ralat, mungkin mereka beberapa kali bertemu, namun Edgar tidak menyadarinya.
Masih terpaku di tempatnya masing-masing, Rani kemudian tersadar dan memalingkan wajahnya, membuat Edgar memaklumi hal tersebut. Mana ada orang yang mau menyampaikan salam perpisahan kepada orang yang telah membully nya habis-habisan?
Sementara Rani, ia kemudian pergi walaupun ada rasa yang mengganjal di hatinya. Haruskah ia menghampiri Edgar dan mengatakan terima kasih karena telah mengantarnya waktu itu? Mengantarnya pulang ketika ia baru saja mendapatkan kabar bahwa pesawat yang ditaiki oleh Farel jatuh?
Rani kemudian menggeleng. Tidak. Waktu itu, setelah Edgar mengantarnya, ia sudah mengucapkan terima kasih. Tyas juga. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Yang terpenting, ia sudah lulus dari IIS. Ia sudah terbebas dari desas desus yang pernah beredar mengenai dirinya dan Edgar, sekaligus soal Noah. Ia tidak harus merasa canggung ketika bertemu seseorang (Noah), atau pun menghindari seseorang seperti Edgar.
Ia sudah terbebas dari itu semua.
“Kenapa lo?” tanya Tyas tiba-tiba yang sudah hadir di sebelahnya.
“Kenapa apanya?”
“Kok diem?”
Rani mengerutkan dahi, “Apaan sih? Jadi gue harus gimana? Ketawa-tawa? Teriak-teriak gitu?”
“Ih, ngga, bukan gitu maksud gue. Yaudalah, kita foto-foto dulu buat dimasukin ke i********:. Biar keren,” kata Tyas sambil nyengir.
“Mentang-mentang baru pake android,” cibir Rani.
“Ya lo juga kan?”
“Udah, udah, buruan!”
Mereka pun mengabadikan momen kelulusan. Dan hingga saat ini, foto itu masih terpajang di meja belajar Rani dan Tyas.
*
Adegan itu seakan terulang lagi. Ketika Rani dan Edgar saling bertatapan dan terpaku, dipisahkan oleh jarak beberapa langkah.
Rani menghela napasnya, ia kemudian melanjutkan jalannya menuju makam Farel. Menaruh buket bunga yang dibawanya di depan nisan, berdampingan dengan buket bunga yang dibawa oleh Edgar.
Setelah sekian lama, ini adalah pertama kalinya Rani dan Edgar kembali bertemu sebelum pertemuan pembacaan script untuk Paramour besok. Dan pertanyaannya, apa kah Edgar sudah tau soal hal ini? Soal mereka yang akan menjadi lawan main di sebuah web series?
“Gue duluan,” ujar Edgar tiba-tiba, cukup mengagetkan Rani.
Sepertinya, Edgar belum tahu apa-apa soal lawan mainnya. Atau memang sedang tidak ingin membahasnya saja? Entahlah.
“Oke,” sahut Rani singkat, lantaran masih jengkel karena keputusan semena-mena yang dilakukan oleh agensi dan juga managernya.
Setelahnya, Edgar benar-benar berlalu begitu saja. Meninggalkan Rani yang masih berada di makam Farel seorang diri. Tetapi baguslah, ia tidak ingin memulai percakapan apa pun dengan laki-laki itu sampai besok.
*
Edgar tidak pernah mengira ia akan bertemu dengan Rani di makam Farel. Karena selama ini, jika ia datang, ia tidak pernah berpapasan dengan Rani atau pun teman-teman semasa SMA nya (yang sepertinya sudah dengan mudah melupakan Farel).
Dan kejadian barusan, sangat canggung!
Edgar bisa menangkap bahwa Rani masih jengkel terhadapnya jika dilihat dari ekspresi judes gadis itu. Jika memang Rani ingin bersikap jengkel seperti itu kepadanya, oke, Edgar juga bisa bersikap demikian.
Persetan dengan segala janjinya untuk tidak membully Rani lagi. Toh, gadis itu sekarang sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa. Kulitnya tidak lagi kusam seperti dulu, dan yang jelas ia kini sudah menjadi artis.
Begitu juga dengan Taliyah. Adik bungsunya tumbuh menjadi gadis yang super percaya diri, dan kini terkenal akibat konten-konten kecantikannya di media sosial. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk mengkhawatirkannya. Fans keluargannya sudah sangat banyak kan (maksudnya, Malik Family Lovers).
Dan kalau tidak salah ingat, (Edgar tau informasi ini dari Doni) bahwa Rani bisa menjadi artis lantaran sebuah audisi yang diadakan di kampusnya. Karena aktingnya mumpuni, banyak sekali rumah produksi yang menawarkannya untuk bermain di banyak film.
Edgar masuk ke dalam mobilnya, dan membanting pintunya dengan cukup keras. Ia masih kesal karena Rani tidak menanggapinya, dan seakan-akan menganggapnya adalah saingan di dunia entertainment.
Oh, mungkin karena rating episode terakhir series Sahabat Setia dikalahkan oleh episode terakhir sinetronnya? Bisa jadi, karena hal itu kan, Rani bersikap seperti itu?
“Oke, kalau dia emang mau anggap gue begitu,” kata Edgar kesal.
Baru saja ia ingin melajukan mobilnya, tiba-tiba saja handphonenya berdering. Edgar segera mengangkatnya. Asistennya lah yang meneleponnya.
“Bos, besok ada pembacaan script. Pak Emir minta supaya lo nggak telat."
Edgar mengernyit, “Jadwalnya dimajuin? Tadi bokap gue bilang lusa,” katanya.
“Kayaknya sih, soalnya kita juga harus nyocokin jadwal sama artis lain. Nanti dari pihak Maharani Soraya dan pemeran pen-“
“Tunggu, tadi nama siapa yang lo sebut?” potong Edgar, ia masih mencerna ucapan Galih barusan.
“Yang mana bos?”
Edgar berdecak, “Itu tadi, ucapan lo tolong di ulang. Gue lagi di jalan.”
“Iya, pihak Maharani Soraya dan pemeran pendukung lain juga akan datang besok. Apa lagi Lisa Azevia, dia lumayan padat jadwalnya. Jadi kita harus ngikutin juga.”
Karena terlalu shock dengan ucapan Galih barusan, Edgar melipir sebentar. Ia mematikan mesin mobilnya, dan masih tidak percaya. Apa? Maharani Soraya itu Rani, kan?!
“Ja-jadi, lawan main gue Maharani? Maharani Soraya maksud lo?!”
“Lah emang pak Emir belum ngasih tau?”
“Sialan!!! Gue mau kita mundur aja dari project itu,” perintah Edgar.
“L-loh nggak bisa dong, Gar. Ini udah keputusan pak Emir. Lo tau sendiri bokap lo gimana kan… Lagian kenapa sih emangnya sama Maharani Soraya? Dia cantik, kan? Lagi tenar-tenarnya pula. Gak ada masalah sih, seharusnya.”
Edgar mengacak rambutnya frustasi, “Iya, lo sih gak ada masalah. Yang masalah itu gue, tau!”
Edgar mematikan telepon. Belum cukup ia merasa shock dengan bertemunya ia dengan Rani di makam Farel tadi, dan tiba-tiba saja ia mendapatkan kabar bahwa lawan mainnya di web series yang sedang digarap oleh ayahnya adalah Rani!!
Apa lagi, Edgar sudah membaca sedikit script yang diberikan ayahnya. Khususnya ketika adegan dewasa dilakukan di atas ranjang. Ya, di atas ranjang!
“b******k! Gue gak bisa ngebayangin!”
“Lagian ngapain jadi artis sih tu orang! Kan bokapnya mentri! Jadi apa kek gitu, yang lebih berguna buat negara.”
Pantas saja Rani tadi menatapnya dengan sinis dan judes, sepertinya gadis itu juga sudah mengetahui soal hal ini. Dan sama sepertinya, Rani juga tidak bisa menerimanya dengan mudah.