Sebelum turun dari mobilnya, Rani mengembuskan napas dan berkali-kali memakai minyak relaksasi di dahinya karena kepalanya terasa sedikit pusing. Persetan dengan kesan pertama Edgar nantinya, mengiranya adalah anak muda jompo yang suka memakai minyak angin kemana- mana. Toh, saat ini memang Rani yang menjadi model iklannya, kan? Jadi sekaligus ia mempromosikannya.
Rani jadi ingat pertama kali gadis itu mendapati Edgar di televisi, berperan sebagai manusia serigala jadi-jadian ala Jacob di film Twilight, dan perannya itu digilai oleh banyak remaja tanggung bahkan yang sudah dewasa sekalipun.
Penggemarnya melejit karena peran yang ia mainkan itu, dan Rani muak sekali ketika teman kuliahnya tidak ada habisnya membahas soal Edgar Malik serta rentetan keluarga Malik lainnya.
Kalau tidak salah, adik Edgar itu adalah penyanyi. Penyanyi jebolan Indonesian Idol, yang kini sedang memiliki banyak penggemar karena lagu-lagunya yang enak dan relate dengan kehidupan percintaan.
Rani sendiri pun ikut mendengarkannya. Ia juga saling memfollow di i********: dengan adik bungsu Edgar, yaitu Taliyah Malik yang kini menjadi seorang influencer kecantikan.
Bukan berarti Rani tahu siapa saja nama adik-adik Edgar, ia telah mencari tahu kabar soal cowok itu. Tidak sama sekali. Rani mengetahuinya karena memang ia sering sekali update di berbagai macam sosial media seperti Instagra, Twitter, dan juga membuat video pendek di t****k (soal ini, Bella lah yang megedit videonya karena ia tidak bisa).
“Udah siap bos?” tanya Bella.
Jika ditanya sudah siap atau belum, jawabannya adalah Rani tidak akan pernah siap. Namun mau tidak mau, ia harus siap.
Rani mengecek make up nya terlebih dahulu sebelum turun. Riasan mata sederhana menggunakan warna peach, senada dengan blush. Bulu matanya terlihat lentik natural, alisnya juga terlihat tebal natural, dan bibirnya yang dihiadi lip velvet ala Korea membuatnya semakin manis.
“Oke, cool,” gumamnya pada dirinya sendiri, sekaligus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semu akan baik-baik saja.
Ia kembali mengecek penampilannya menggunakan kaca mobil sebelum masuk ke dalam restoran yang ada di hotel tempatnya bertemu dengan Edgar. Blus putih dan celana ungunya juga terlihat baik-baik saja. Ia terlihat cantik. Dengan begini, Edgar tidak punya alasan untuk menghina fisiknya lagi seperti ketika SMA.
Dari kejauhan, Rani bisa melihat dengan jelas Edgar duduk dan matanya tertuju pada handphone yang ia genggam. Iphone keluaran terbaru berwarna hitam. Sama seperti milik Rani, bedanya ia memakai warna putih.
Cowok itu mengenakan kemeja berwarna putih dengan kancing atas yang sengaja dibuka, dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam. Lalu terpintas di kepala Rani. Kenapa mereka sama-sama mengenakan baju warna putih hari ini?!
Sempat menghentikan langkahnya karena perkara warna baju yang sama, Rani melanjutkan langkahnya ketika pandangan Edgar tertuju padanya. Cewek itu langsung memasang mode judes, dengan wajahnya.
Ketika duduk di hadapan Edgar, Rani meletakan tas Dior keluaran terbarunya, setelahnya ia bersedekap.
Edgar tertawa sinis saat melihat tingkah Rani, yang dimatanya terlihat bahwa jelas gadis itu sedang memamerkan tas Dior keluaran terbarunya.
“Katanya humble, tapi sekarang pamer tas Dior keluaran terbaru,” ujar Edgar sinis.
Rani menatapnya dengan alis yang menyatu, “Lo masih sama ya kayak dulu, mulutnya lemes. Kayak mulut cewek.”
“Sekarang langsung aja ke intinya, mau lo gimana?” tanya Edgar, mengabaikan hinaan Rani barusan.
“Kok lo nanya gue? Gue jelas-jelas nggak punya pilihan lain kan, selain tetap jadi Kian di series itu? Agensi dan manajer gue udah tanda tangan, lalu apa? Gue harus mundur dan bayar pinalti, gitu? Sekaligus buang kesempatan gue untuk main di salah satu web series buatan seorang Emir Malik.”
“Oh jadi maksud lo, lo mau kita tetap ngikutin permainan bokap gue supaya kitab isa bangun kemistri di series itu, gitu?!” tanya Edgar.
“Ya terus gue harus gimana lagi? Kalau lo nggak mau, lo bisa mundur dan nyuruh bokap lo untuk cari aktor lain yang lebih professional dari lo kan?”
Edgar berdecak, “Emang lo kira bokap gue akan semudah itu ngizinin gue mundur dari project ini?!”
Pagi-pagi sekali Rani sudah berpikir bahwa pertemuannya secara empat mata dengan Edgar hari ini tidak akan membuahkan hasil. Mereka sama-sama masih keras kepala, sama-sama masih menjunjung tinggi gengsi. Dan percuma saja mereka berdebat, karena bukan hari inilah penentuan siapa yang akan memenangkannya.
“Udahlah, percakapan ini nggak akan membuahkan hasil apa pun,” kata Rani menyerah.
Edgar menelan ludahnya. Diam-diam ia menyetujui ucapan Rani barusan. Keras dengan keras sama sekali tidak akan membuahkan hasil yang baik. Mereka harus bisa tenang terlebih dahulu dan menerima, baru bisa menentukan bagaimana baiknya mereka kedepannya.
“Sekarang gini, Gar. Kita tau kita sama-sama nggak bisa mundur, tolonglah, lo professional sedikit. Terserah lo mau se fake apa sama gue, yang penting kita sama-sama setuju-“
“Nggak bisa,” kata Edgar memotong penjelasan Rani, “cerita di web series ini butuh kemistri yang kuat. Kian dan Raffi itu sepasang kekasih yang ngalamin hubungan yang complicated. Ada adegan kissing, adegan ranjang, bahkan ada adegan di kolam renang. Kalau gue maksain, jatohnya gue itu pura-pura, bukan akting.”
Rani menghela napasnya, “Ya maka dari itu, dari pada lo terus-terusan protes, ngajak ribut gue, mending lo pikirin deh tuh gimana solusi atas masalah lo itu. Karena gue akan ngelakuin apa pun supaya peran yang gue mainkan itu membekas di hati penonton. Gue gak pernah setengah-setengah kalo akting. Gue juga gak pernah asal-asalan kalo ambil project, gue gak suka gimmick. Jadi, lo cari solusi untuk masalah lo sendiri.”
“Jadi, lo nerima-nerima aja nih?”
“Ya gue harus gimana lagi?!”
Edgar menggeleng, “Gak, gak bisa. Lo gak boleh main terima gitu aja. Lo tau project reality show itu? Lo tau gak?” tanyanya.
Rani lantas menggeleng, ia tidak tahu apa-apa soal reality show itu. Ia belum diberitahu, lebih tepatnya.
“Kalo lo tau apa itu reality show Korea yang judulnya We Got Married, nah, ini versi Indonesianya.”
Rani terpaku mendengarnya. Apa? We Got Married? Bukankah itu sebuah reality show yang menayangkan kehidupan sehari-hari sepasang idol yang ‘berpura-pura’ menikah?
“Jadi maksud lo kita disuruh pura-pura nikah gitu?” tanya Rani, dengan mulut yang sedikit terbuka saking shocknya.
Edgar mengangguk.
“Wah, gila,” Rani memijit keningnya frustasi, ia bahkan belum bisa membayangkan bagaimana adegan ranjang yang akan mereka lakukan. Lalu ini, berpura-pura menikah di sebuah reality show?!
“Kalo pacar lo tau, gimana tuh?”
Pertanyaan Edgar membuat Rani sedikit kaget. Oke, siapa sih yang tidak tahu hubungannya dengan Jovi? Tapi benar juga. Setelah berpacaran dengan Jovi, Rani tidak pernah sekali pun melakukan adegan kissing dengan siapa pun. Jika Jovi tahu ia akan melakukan adegan ranjang bersama Edgar, sudah pasti dia akan protes habis-habisan.
“Kalo pun dia protes, ini kerjaan gue. Jadi itu sih masalah dia, mau nerima atau enggak.”
Edgar terdiam sebentar setelahnya, kemudian ia mendapatkan sebuah ide.
“Gimana kalo kita bikin perjanjian?” tanya Edgar.
“Perjanjian apa?”