Di dalam gedung yang berada dekat dengan fakultas Teknik Sipil, anak ospek sedang berkumpul sambil mendengarkan panduan dari panitia pelaksanaan acara. Nathan, Egi, dan Gery sedang berada di tempat paling belakang sambil celingukan mencari pasangan mereka masing-masing ketiga gadis yang hilang saat berpisah di lorong koridor akibat serangan mendadak dari para fans ketiga cowok itu.
"Banyak banget deh ini lautan manusia apa kandang binatang? Keknya cewek-cewek kita nggak ada di sini," gerutu Nathan yang sudah lelah menelusuri satu persatu gesture tubuh para perempuan di sana dengan mata tajamnya.
Gery pun ikut mengangguk dan terus menghela napasnya kasar. "Nomernya mereka pada nggak ada yang aktif masa? Apa kita cabut aja dari sini nyariin mereka dulu? Nanti kalau hukuman mereka nambah gimana? Trus belum lagi itu kakak senior cewek nggak cowoknya yang kena hukuman sama Presiden BEM karena kita kek nggak enak hati kesannya kalau menatap ke kita atau ke cewek-cewek kita," bisik Gery.
"Hei, kalian berdua ngomong aja!" seru salah satu pria yang sedang menepuk punggung Nathan dan Gery dari belakang.
"Tuh, kan, gue bilang juga apa? Yang nggak enak hati nongol," gumam Gery berbisik lagi pada telinga Nathan, sebelum memberi tindakan mengejutkan senior yang menegur mereka.
Nathan dan Gery tersentak dan langsung membanting tangan seniornya itu. "Awww, kalian! Aku tambah poin hukumannya. Nama kalian berdua siapa?!" senior berambut cepak itu melotot tajam saat tangannya kepelanting hingga ke samping.
Nathan nyengir kuda, Gery hanya menampilkan raut wajah bosan seolah ia tak suka jika senior itu sedang mengintimidasinya. "Kakak senior belum kenalan sama kita, ya?" tanya Nathan tak meluputkan senyum miringnya.
Gery dan Egi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nathan yang mulai bereaksi. "Udah jangan basa-basi, aku catat nama kalian siapa?" tandas senior tersebut dengan intonasi suara tegas.
Nathan pun mengulurkan tangan kanannya, bingung atas kelakuan Nathan, kakak senior itu pun menaikan alisnya dan menjabat tangan Nathan. "Saya Upin, dan ini adik sama Ipin, ini hidup kami berdua. Anda siapa?" seru Nathan seraya menghadiahi senyuman miring khasnya. Senior laki-laki itu melotot dan segera melepaskan jabatan tangan mereka.
"Lo berdua, Nathan dan Gery hukumannya gue tambah!" ucapnya kumudian pergi dengan wajah sengitnya.
Nathan hanya bisa tertawa dan memandang remeh. "Udah tahu nama kok pakai nanya kayak mau pdkt sama gue aja!" gerutu Nathan yang mendapat acungan jempol dari Gery, sedangkan Egi tidak banyak berbicara selain memperhatikan perdebatan mereka.
"Eh, itu si cebol sama cewek gue ngendap-ngendap lagi. Kuy Ger, bantuin biar di hukum bareng kalau ketahuan!" Nathan yang sedang menatap kebelakang sambil menyipitkan matanya langsung menepuk bahu Gery, sedangkan Egi ikut menengok pada arah pandangan kedua saudaranya itu.
"Elssa mana?" gumam Egi cemas.
"Udah lo tunggu sini aja, biar gue sama Nathan yang nyamperin mereka ntar gue nanya kemana Calistanya. Lo awasin kalau ada apa-apa atau lo lihat Calista bilang ke kita!" Gery menyahuti kecemasan Egi dan berusaha menenangkan sebelum ikut mengendap berjalan mengikuti jejak Nathan tanpa sepengetahuan senior tadi yang sedang sibuk berbicara dengan salah satu maba cewek di barisan ujung sana.
Egi pun mengangguk setuju, ia melihat Nathan dan Gery terlihat tengil saat melewati beberapa mahasiswa baru yang nampak tertarik pada mereka.
"Elssa, lo di mana? Apa lo baik-baik aja sampai kepisah sama Anggun dan Pricil?" gumam Egi seraya memperhatikan di belakang terus menerus.
"Ger, Nath! Lo lihat Calista balik di sini belum? Soalnya gue sama Pricil kepisah sama dia gara-gara diserbu sama fans kalian itu bikin kita panik aja!" gerutu Anggun begitu melihat ada Gery dan Nathan tiba di depannya sedang menghampiri.
"Kagak, kita bertiga dari tadi nyariin kalian bertiga ternyata belum ngumpul di sini," jawab Nathan.
Pricil menghentakan kakinya kesal. "Ya, trus gimana dong? Kasihan Calista dia kan mau pemulihan untuk nggak lagi deket-deket sama hantu. Kalau dia sendirian ketemu hantu sebelum terbiasa bisa mati ketahuan anak mahasiswa lainnya nanti dengan kemampuan anehnya!" gumam Pricil mulai tidak tenang.
"Yaudah mending-- Calista sama siapa itu?!" Gery hendak menenangkan Pricil agar tidak menambah suara oktafnya yang bisa membangunkan kandang singa.
Semua sontak menoleh pada pintu utama masuk gedung saat mendapati laki-laki berpakaian olahraga basket dengan nomer punggung lima. Dari balik punggungnya ada salah satu anak ospek yang mengekori sambil menundukan kepalanya. Dari barisan belakang sontak menoleh, dan segera laki-laki itu menghampiri salah satu panitia yang berjaga di barisan belakang agar tidak mengganggu aktivitas mahasiswa terdepan.
"Pakaian lo masih gitu mau mancing maba baru buat terpesona sama lo?" Salah satu teman panitia cewek itu mendekati laki-laki jangkung tersebut sambil melirik gadis di belakangnya. "Siapa gadis yang lo bawa? Bukannya dia anak ospek? Kok bisa sama lo?" pertanyaan beruntun langsung dilemparkan begitu saja oleh si perempuan.
"Gisel, dia anak ospek yang di kejar-kejar sama cewek genit fansnya ketiga cowok di atas panggung tadi. Lo pasti tahu, jangan dihukum dia. Itu temannya. Dek, balik sana sama temen lo. Gue cabut dulu, Sel."
Tanpa basa basi lelaki itu sudah beranjak pergi tanpa memperdulikan teriakan Gisel. "Adam! Astaga keburu cabut aja, sih? Gue belum sempat nanya dia nanti malam ikut jaga apa nggak?!" gerutu perempuan bernama Gisel itu seraya mencebikan bibirnya kesal.
Adam Tripiluem Tiger adalah mahasiswa semester lima yang mengambil program double degree jurusan Sastra dan Ekonomi bisnis. Ia menjabat sebagai ketua klub basket dan salah satu pengurus inti di senat. Adam memiliki geng yang sudah terkenal di kampus Gunadarma ini, nama gengnya adalah Brotherhood. Selain kampus ini termasuk deretan favorit universitas swasta se-Indonesia, kampus ini juga berisi mahasiswi yang terbilang kaya raya semua. Apalagi mahasiswi semacam Adam, memiliki banyak karya yang sudah tersebar hingga ke mancanegara. Lelaki berpostur jangkung yang memiliki mata sorot elang dan rambut hitam pekat model fringe itu termasuk mahasiswi berprestasi hingga memiliki banyak idola di kalangan mahasiswi adek tingkatannya.
Adam laki-laki paling pendiam, tidak banyak bicara dan selalu to the point dengan yang ingin ia sampaikan seperti pada Gisel tadi. Geng Brotherhood terdiri dari tiga laki-laki tampan dan tiga gadis cantik yang selalu didambahkan oleh mahasiswi di sini.
Gisel Perlicina juga salah satu anggota Brotherhood, sekretaris senat, mahasiswa semester lima dari fakultas Psikologi. Gadis cantik berambut panjang dengan model keriting gantung dan sedikit pirang. Matanya yang belo kecoklatan berbeda dengan mata gadis pribumi, dia ada keturunan dari bule. Gisel kerap menjadi unggulan dari laki-laki yang ingin menjadi pacarnya, tapi gadis itu sampai sekarang tidak pernah berniatan memikat salah satu hati pria. Hanya Adam yang mampu menarik perhatiannya, tetapi laki-laki itu tidak pernah peka. Gisel termasuk gadis yang posesif dan sedikit agresif untuk mendapatkan sesuatu. Dia juga ketua klub renang.
Begitulah singkatnya, tapi Gisel masih saja berdiri dengan bibir monyong memperhatikan punggung Adam yang sudah menghilang dari pintu gedung utama ini. Melihat ada peserta ospek yang terus memperhatikannya tadi, Gisel menatapnya bingung. "Nama lo siapa?" tanya Gisel ramah.
"Calista Elssa, kak. Panggil saja Calista," jawab Calista sambil menunduk setelah ia menatap Gisel.
"Yaudah, balik ke teman lo sana!" perintah Gisel membuat Calista mengangguk dan tersenyum ramah kepada kakak seniornya itu. "Makasih, kak!"
"Cal, lo sama siapa tadi?" tanya Pricil saat mereka semua sudah duduk satu barisan paling belakang ketika kembalinya Calista di samping Egi yang hanya diam menunggu gadis itu bercerita.
Calista mengedihkan bahunya acuh. "Saat gue terpisah sama kalian, gue masuk ruang olahraga dan ketika gue menjelajah deretan loker di sana. Gue dengar ada bola basket memantul, akhirnya gue hampirin dan ketemu kakak cowok itu yang nanya soal gue dikejar dan dia tahu kalau gue itu geng PASENA. Gue heran, dia nanya arti geng gue apa? Tapi selama gue ketemu dia diam aja, trus sampai dia nganterin gue kesini," jelas Calista membuat mereka semua mengangguk paham.
"Yaudah, jangan katakan apa pun pada mereka!" tukas Egi seraya kembali menatap ke depan untuk menyimak ketertinggalannya, membiarkan Calista meliriknya diam-diam sambil menerka-nerka pikirannya.
***
Kelompok sudah di bentuk, malam ini akan ada permainan pertama untuk menyambut para mahasiswa baru. Hanya kelima anggota ospek itu yang menentukan kelompok pilihannya sendiri tanpa mau memasukan anggota lain. Mereka menepi sendiri, berdiskusi sendiri dan seolah membiarkan para pengurus itu tidak melihatnya.
"Ini mau ngapain sebenarnya?" tanya Pricil yang sudah gerah dengan keadaan di dekat asrama sekitar. Di belakang kampus memang ada asrama, mereka sedang melakukan sebuah permainan seperti mencari para pengurus ospek, mulai dari Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa, Ketua Senat atau SM selaku lembaga legislatif yang sejak tadi tidak bisa mereka lihat kehadirannya, sebab katanya Ketua Senat di sini itu sedang mengawasi jalan kerjanya mereka, yang memberikan peraturan di pelaksanaan ospek ini.
"Kita harus nyari ketua senatnya? Ini di mana dia? Kesel banget gue cuma minta tanda tangan ketua senat aja nggak ketemu. Emang senatnya nggak kenalan gitu?" cerocos Calista membuat Egi menatapnya heran.
"Mau kenalan sama ketua senatnya?" tanya Egi membuat Calista menoleh pada laki-laki itu.
"Nggak! Maksudnya ketua senatnya nggak perkenalan sama mahasiswanya. Gini mana tahu orangnya yang mana, huh?!" Calista mendengus kesal.
Egi mangut-mangut. "Yang bareng sama kamu tadi itu ketua senatnya, Elssa."
"Seriously? Samperin aja, ayok!" kata Anggun antusias.
Nathan menahan lengan Anggun. "Heh?! Kamu mau selingkuh sama ketua senat tadi?" ketus Nathan mulai menyipitkan matanya.
Anggun melotot. "Gundulmu, mau minta tanda tangan biar kita cepet pulang ogep!" cercah Anggun seraya menarik tangan Nathan agar mau ikut dengannya.
"Ckckck, itu anak dua kok kayak kucing sama ikan pindang aja. Ger, aku capek ini. Ketua senat itu kayaknya misterius banget. Masa tantangannya harus menemukan ketua senat baru boleh pulang dan dapat kejutan sendiri dari Presiden BEM itu?" gerutu Pricil membuat Gery hanya bisa mengangguk pelan seraya merangkul bahu Pricil.
"Kita nunggu Anggun sama Nathan dulu aja, kalau mereka dapat baru kita minta juga," seru Gery mendapat acungan jempol dari Egi.
Tak lama mereka menunggu dengan jenuh, kehadiran Nathan dan Anggun yang datang dengan wajah berseri-seri membuat mereka semua menaikan alisnya bingung. "Dapet?" Egi bertanya, Nathan menyerahkan kertas miliknya dan Anggun.
"Gila? Di mana orangnya?" tanya Pricil, sedangkan Anggun hanya terkekeh kecil seraya menunjuk ke arah ujung sana tempatnya pergi.
Pricil segera berlari menarik tangan Gery dan mulai mencari ketua senat tersebut. Sedangkan Egi menahan lengan Calista sejenak. "Orangnya sama dengan yang nganterin Elssa tadi?" tanya Egi seraya memasang tampang seriusnya.
Anggun mengangguk pelan. "Kayaknya sih, tapi nggak jelas tadi yang nganterin Calista kan, kelihatan dari jauh."
"Rabun mata lo berarti!" sungut Nathan seraya menangkup wajah Anggun gemas dengan telapak tangannya. "Orangnya mirip kok."
"Yaudah ayo Elssa sama aku aja, jangan jauh-jauh."
Egi pun menggandeng tangan Calista, mereka pergi membaur di antara padatnya mahasiswa berlalu lalang. Di sana mereka bingung tidak menemukan keberadaan Gery dan Pricil yang sudah menghilang saja tidak meninggalkan jejaknya.
Egi menggunakan batinnya, ia mengarah ke arah barat. Calista hanya diam saja digenggam oleh Egi dan berjalan di sampingnya sambil sesekali ia tersenyum senang. "Itu ketua senatnya Egi, dia yang nganterin aku tadi!" seru Calista seraya menarik lengan Egi agar menghampiri laki-laki yang membelakangi mereka dengan almamater biru.
"Hei, kak?" sapa Calista.
"Jangan ngomong! Biar aku saja," bisik Egi, membuat Calista hanya bisa memutar bola matanya heran.
Seniornya yang ia kenal sebagai ketua senat itu pun membalikan tubuhnya begitu mendengar suara Calista. "Ya, ada apa? Kamu yang tadi dek?" tanya laki-laki itu dengan tatapan datarnya.
Calista tidak menjawab, hanya melirik ke arah Egi.
"Kak, minta tanda tangannya!" Egi langsung menyerahkan dua kertas miliknya dan Calista.
Laki-laki itu menaikan alisnya bingung. "Buat?" tanyanya singkat.
"Biar cepat pulang, cepat tanda tangan aja kali kak!" keukeuh Egi membuat ketua senat itu memutar bola matanya malas. "Kok dua ini kertasnya? Setiap anak satu-satu," katanya lagi.
Egi pun menghembuskan napas lelah. "Yailah, nggak ngerti juga kak. Ini aku satu dan buat kekasihku satu. Jadi tanda tanganin aja kali," ketus Egi tak pandang ia berhadapan dengan ketua senat.
"Kenapa nggak minta sendiri pacarnya? Harus bisa berani ngomong sendiri. Satu anak tetap akan dapat satu," jelas laki-laki itu tak mau memberikan pada kertas satunya lagi.
Egi menggeram kesal. "Ash, ribet amat. Yaudah gue tanda tanganin sendiri aja kok ribet. Nama lo Adam, toh? Salam kenal, dan gue nggak bakal ngizinin cewek gue berinteraksi sama orang yang kelihatan tertarik."
Calista yang bingung harus bagaimana hanya bisa melongo mendengarkan perdebatan sengit mereka.
"Yasudah tidak apa-apa."
Egi mengajak Calista kembali bergabung dengan teman-teman lainnya. Mereka semua sudah berkumpul, Egi masih kesal pasalnya Adam membuat ia uring-uringan sejak tadi.
"Lama banget deh, nyari ketua senatnya di mana?" tanya Gery dan Egi yang bete hanya menekuk wajahnya sambil menunjuk ke arah Adam berada tadi.
"Lah kok cuma satu? Calista mana?" Anggun heran melihat di tangan Egi hanya terlihat satu kertas bertanda tangan dan satunya lagi kosong.
"Ini punya Elssa, aku mau nirukan saja tanda tangannya." Egi mengambil bulpoin miliknya dan mulai merajut kertas itu dengan menirukan tanda tangannya.
"Eh, bentar!" seru Nathan. "Ini kok nama senat lo Adam?" lanjutnya heran.
"Katanya yang nganterin aku tadi? Ya, dia nulis namanya itu," jawab Calista.
"Bukan! Ketua senatnya itu bernama Deraxio. Ini coba lihat punya gue, Gery, Nathan dan Anggun. Sama, kan? Tapi orangnya memang mirip sama yang nganterin lo, sih."
"Wah, anjir ngerjain gue ini senat!" Egi sudah ingin menghampiri ketua senat itu lagi, namun Nathan menahannya sejenak.
"Udah nggak usah ribut, ini kayaknya ketua senat itu punya kembaran. Jadi kalian salah minta tanda tangannya di kembarannya gitu," simpul Anggun yang diangguki oleh Calista dan juga Pricil.
"Yaudah, mending kita cabut aja gimana? Urusan kalian berdua biar palsuin tanda tangannya aja gampang, kan? Sini gue yang buat!" Nathan merampas kertas Egi dan Calista. Mereka semua pun kompak mengumpulkan kertasnya jadi satu dan pergi menghampiri Presiden BEM itu berada.
Ketika perjalanan menghampiri laki-laki yang sedang sibuk dikerubungi mahasiswa itu, mereka segera memecah belah dan memberi ruang kesempatan untuk kelimanya mendekati Presiden BEM tersebut.
"Kita sudah melengkapi semua perintah kakak!" Egi menyodorkan semua kertasnya hingga laki-laki itu menerima.
"Yakin nggak ada yang malsu?" sindir lelaki bernama Frans itu.
Nathan maju selangkah di dekat Egi berdiri sambil memasang muka tengil ia menatap tajam Presiden BEM itu. "Yakinlah, lo kira kita tukang palsu? Lo kira wajah kita juga palsu?" sengit Nathan tidak ada takutnya.
Frans mengangguki. "Gisel, tolong periksa, kalau ada yang palsu kalian nggak jujur semua akan mendapatkan hukuman!" sungutnya membuat amarah Nathan ingin sekali menonjok mukanya.
Calista sudah berkeringat dingin, ia menowel-nowel lengan Anggun yang berada di sampingnya nampak serius menatap ke depan.
"Dua kertas ini palsu, Frans!" Gisel kembali dengan dua kertas milik Egi dan Calista tadi. "Atas nama Calista dan Egi."
Frans tersenyum miring, ia menatap mereka satu persatu dengan sorot meremehkan. "Kalian semua siap menerima hukuman?" katanya tegas.
Nathan hendak menyerang karena kesal melihat rautnya. Egi segera menghalau dengan tangan kirinya dan berkata, "katakan saja apa hukuman yang pantas untuk kebohongan kita semua?!" jawab Egi tak kalah tegas.
Frans pun tersenyum manis. "Baiklah, kalian harus ke jaring laba-laba. Adam, Jeje dan Bela tolong tunjukan apa itu hukuman jaring laba-laba!" perintah Frans yang mendapat anggukan dari satu laki-laki dan dua gadis.
"Lo!" Egi melotot tajam kepada Adam, sedangkan laki-laki itu hanya berjalan di depan mendahuluinya sambil mengedihkan bahunya acuh.
"Kalau lo bilang minta tanda tangan ketua senatnya, gue bakal ngasih tahu dan nggak akan tanda tangan. Punya mulut itu buat bertanya bukan untuk mengunci mulut kekasihnya."
"s****n!" Egi hanya bisa membuang muka. Ia tidak pernah mendapat sindiran seperti ini apalagi di depan para saudaranya. Calista pun mendekati laki-laki itu, menggenggam erat tangannya dan memberikan senyuman terbaiknya agar Egi bisa meredakan emosinya.
"Jaring laba-laba adalah permainan mencari kunci. Sebenarnya ini diutamakan untuk kedua orang yang melakukan kesalahan. Jadi, dua orang tadi terpisah dengan keempat temannya," jelas gadis bernama Jeje.
Egi dan Calista menyanggupi dan berniat untuk tanggung jawab. Walau awalnya sedikit aneh dengan peraturan mereka.
"Ini ada dua peta. Masing kelompok harus bisa mendapatkan dua kunci. Soal satu-satu setiap kelompok, kalian pahami apa kata kunci dari jaring laba-laba. Kalau gitu kita akan kembali, jika kalian tidak paham bisa tanya lagi," sambung Bela.
Dan mereka semua menyanggupi, membiarkan ketiganya pergi dan berkumpul terlebih dahulu sebelum menyelesaikan hukuman ini. "Apa pun yang terjadi, kalian harus memberi sinyal. Jangan sampai ada yang pisah dari kelompok, jaga para gadis kita. Udah siap? Kita berdoa!" ujar Egi memandu mereka semua yang akhirnya mengangguk dan saling mengaitkan tangan untuk berdoa kepada Tuhan dan meminta perlindungan.
***
Di dalam peta itu berisi gedung fakultas dan setiap arah menuju ke lantai-lantai apa saja. Egi dan Calista tidak pernah melepas genggaman tangannya selama berjalan melewati koridor yang terhubung dengan fakultas Psikologi dan Sastra. Keduanya saling celingukan karena kondisi yang minim dengan pencahayaan, sebab waktu sudah malam.
"Kok gue parno gini, Gi? Kita kayak uji nyali aja." Calista mencurahkan keresahannya pada Egi yang terus saja menghujam setiap jalan dengan tatapan elangnya.
"Baca soal pertama, Elssa."
Calista membuka kertas soal dan melihat hanya ada dua soal. "Dua soal, pertama tentang mahasiswa membuka pintu, ada gedung kesenian, masuk ke dalam saja ada piano bercahaya, belum mati. Maksudnya apaan ini?" gumam Calista membuat Egi ikutan membaca kertas tersebut berulang kali.
"Kita di suruh masuk ke gedung kesenian!" ujar Egi yang kemudian menggandeng Calista kembali mencari tempat gedung kesenian.
Perjalanan menuju gedung kesenian mereka tidak merasa ada yang aneh. Namun, soal itu membuat keduanya bertanya. Gedung itu sepi dan lampunya juga mati. Kalau seandainya teka-teki itu menyuruhnya untuk mematikan lampu, pasti gedung ini masih bersinar dari pencahayaan bisa terlihat. Egi merasa ada yang mengikutinya. Diam-diam ia memejamkan mata untuk melihat dengan batinnya.
'Kresek... kresss...'
"Egi, kau mendengar ada suara kayak gesekan gitu bukan?" tanya Calista dan Egi mengangguk.
Lampu menyala. Piano berbunyi. Calista langsung kaget dan memeluk Egi dengan erat. "Egi siapa yang melakukan ini!" gumam Calista mencoba untuk tidak berteriak walau sebenarnya suhu tubuhnya mulai berkeringat dingin.
"Sttts!" Egi mengusap punggung Calista, mencoba untuk menenangkannya.
Piano berhenti, lampu meredup lagi dan pintu gedung tiba-tiba terbanting hingga tertutup rapat. "Ahhhh! Egi itu pintu tertutup, nggak ada penerangan. Jangan tinggalkan aku!" Calista semakin histeris dan parno.
"s****n, kita diuji nyalinya!" Egi mencibir pelan, ia tidak akan melepaskan pelukannya pada Calista. Menuntun gadis itu mengikuti suara-suara yang ia dengar dari telinga tajamnya.
"Bukan, ini bukan soal uji nyali, Egi. Nggak mungkin anak senior itu membahayakan mahasiswa baru seperti kita. Akan ada hukumannya kalau sampai mereka membahayakan kita!"
'DRASSHHH'
"Minggir ada lampu jatuh!" Egi menggendong Calista hingga membawanya ke samping sisi kanan, lampu tersebut terpelanting ke bawah dalam sayup penerangan remang-remang ada burung-burung kecil berterbangan di atas sana.
Egi menautkan alisnya bingung. Ini gedung kesenian atau sarang burung?
"Ada piano bercahaya belum mati itu apa, sih?" Calista bertanya kembali. Teka-teki ini menyulitkannya dengan Egi.
Egi berjalan mengajak Calista untuk mendekati piano tersebut. "Palang merah? Violin? Lampu jatuh? Ada yang aneh dengan dua benda ini. Semuanya nggak ada palang merah. Gitar itu nggak aneh."
"Maksud kamu Egi?" Calista masih tidak paham.
"Ada yang menjebak kita. Ada yang sengaja menutup pintunya dan membiarkan kita terpisah dengan yang lain. Ada yang penasaran sama kita. Kenapa mereka bisa tahu kalau aku bisa main piano? Dan Violin itu? Kamu juga bisa memainkannya, bukan?"
Ucapan Egi memang tidak bisa lagi di bantah. Semuanya jelas nyata dan Calista berjalan mendekati dua alat tersebut diikuti Egi. "Apa kita harus memainkan dua alat musik ini, Gi?" tanya Calista.
"Sepertinya boleh, aku ingin tahu apa efek saat memainkannya."
Egi pun duduk di bangku piano itu dan Calista mengambil Violinnya. Mereka memainkan beberapa partitur musik hingga perlahan pintu terbuka dan lampu yang tadi terjatuh hilang digantikan oleh lampu baru yang kembali menyala. Aneh, ruangan ini bagaikan sihir yang ada di sebuah film Harry Potter, bedanya semua di sini telah dikendalikan oleh musik.
Dan munculah sebuah pigora besar bergambar wanita cantik yang terlukis dari balik tirai merah di atas panggung sana. Calista bergeming di tempatnya, Egi menjentikan jarinya. "Ini kuncinya, Elssa!" kata Egi antusias. Ia pun berlari menaiki atas panggung dan meninggalkan Calista tetap berdiri di sana.
"TIDAKKKK! JANGAN AMBIL!"
Calista berteriak, ia seperti spontan mendapatkan gambaran dari sebuah cahaya terang.