Pria sejati akan memperjuangkan cinta sampai darah titik penghabisan terakhir. Bukankah itu indah? Atau mungkin menyedihkan? Itulah seni cinta. Sebuah anugerah dan kutukan yang diberikan oleh Tuhan kepada Manusia.
Mungkin tidak semua cinta patut diperjuangkan. hanya yang suci, tulus, dan berarti bagi diri manusia tertentu. Bagaimana dengan cintaku?
Mungkin setelah usaha terakhir ini gagal, aku akan menambahkan kalimat 'MENYERAH' dalam kamus hati.
****
Sudah enam tahun berlalu. Kenangan SMA memang susah untuk dilupakan. Semua ada di masa itu, mulai dari kisah persahabatan, sakitnya hukuman dari sekolah, kenakalan remaja, cinta monyet, perjuangan mendapatkan cewek, sampai perih dikhianati.
Terlepas dari semua itu, siapa sangka jika Aristyo Ananto mampu menjadi pemilik dari sebuah kafe baca. Padahal tak ada yang spesial dariku, setidaknya tidak pada satu tahun awal di sekolah.
Tadi pagi aku sedang baca-baca novel online, tak sengaja mendapat informasi tentang sebuah lomba menulis novel. Kriteria lomba tak sulit, tema lomba sendiri tentang masa lalu, kenangan SMA. Aku jadi tergugah untuk ikut. Selain karena uang hadiah lumayan gede, ada tujuan lain yang membuatku bersemangat.
Sekarang aku sedang duduk di sofa empuk kafe, sambil mengetik. Ini kisahku ... .
Dahulu aku tinggal di Surabaya. Dekat stasiun Wonokromo ada sebuah daerah bernama Ketintang, di situ rumahku. Bangunan satu tingkat sederhana yang aku tempati bersama Bapak, Ibu dan seorang Kakak laki-laki. Kalau kalian mau mengunjungi, silakan. Cukup cari satu-satunya rumah dengan pohon beringin tua di taman depan. Itu rumahku. Sampai sekarang masih sama, kok. Hanya saja sekarang yang tinggal di sana cuma Ibu dan Bapak.
Orang-orang di sana sulit percaya kalau aku keturunan Solo. Mungkin karena kulitku yang terkesan putih atau mungkin logat bicara yang kental ke-Suroboyo-an. Walau dulu lahir di Palembang, uripku yo nang kene, Rek. Dadi Arek Suroboyo, lah.
Dahulu ibuku dari pagi sampai sore selalu ada di warung sebelah rumah. Untuk membantu perekonomian keluarga beliau membuka warung makan sederhana bersama seorang ibu single parent bernama Bi Ijah. Walau cuma menyajikan beberapa hidangan, tapi warung tak pernah sepi pembeli. Sampai sekarang ibu masih berjualan, hanya saja lebih sibuk mengurusi cabang di daerah Tugu Pahlawan.
Sementara bapak, kala itu beliau bekerja di RS-AL, Rumah Sakit Angkatan Laut, sebagai tenaga didik senior calon suster-suster cantik. Tempat kerja beliau tak jauh, di sebelah Stasiun Wonokromo. Cuma beliau sering dinas karena mendidik di tempat lain, jadi jarang di rumah. Sekarang sudah pensiun, sibuk membantu ibu di warung.
Kalau Kakak, kala itu sudah kuliah di UNESA, Universitas Negeri Surabaya. Sering di rumah dan jarang sendiri. Diam-diam dia suka bawa cewek pulang. Mau bagaimana lagi, rumah sepi. Itu dulu, sekarang dia bekerja di Bank BCA kantor pusat Jakarta di bidang Public Relation. Faktor Face dan body yang membuatnya sukses, bukan otak.
Cukup ya, membahas tentang keluarga. Sekarang cerita akan dimulai. Aku akan berusaha sebaik mungkin menceritakan semua kejadian dengan menonjolkan sifatku kala itu, tanpa ada 'jaim-jaim-an'. Dan perlu diketahui, sebenarnya kala itu aku dan teman-teman kalau bicara menggunakan bahasa Suroboyoan, tapi demi kenyamanan akan kutulis dialog dengan bahasa Indonesia gaul. Semoga bahasanya masih gaul, ya.
Kicau klakson mobil di tengah kemacetan mengiringi lariku menuju gedung SMA Gakkaya. d**a semakin berat ketika kiri-kanan tak ada murid lain. Ah s**l, terlambat lagi, deh. Wajarlah, setiap pagi aku membantu ibu ke pasar, membeli kebutuhan untuk warung.
"Oi! Ris." Seorang pemuda kurus berambut keriting, berseragam lusuh bangkit dari duduknya di pinggir trotoar. Dia melambai kepadaku. Namanya Prabu Bowo Saputra, panggilannya Bowo.
Berdua kami tercengang memandang pintu gerbang sekolah tertutup rapat. Kami berjalan mengamati tembok sekolah.
Biasanya kalau datang terlambat aku bisa masuk dengan cara memanjat tembok samping sekolah. Sekarang di bagian atas tembok beton sudah berhias kawat berduri. Alhasil aku dan Bowo cuma bisa gigit permen.
"Duh, Wo. Gimana nih?" tanyaku.
"PS-an aja yuk, ntar bayarnya patungan," ajaknya.
"Ogah."
"Gocik."
"Gocak-gocik," jawabku. "Lupa, kalau kita kena blacklist di rental karena nyolong memory card dan ngerusakin stick PS?"
"Oh iya."
Sebenarnya kami bisa saja pulang ke rumah masing-masing, atau duduk-duduk sampai siang di warung sekitar sekolah. Itu juga yang membuatku bingung sampai sekarang, kenapa aku bersikeras ingin masuk. Mungkin takdir, siapa yang tahu?
"Ada jalan lain, enggak?" tanyaku pada Bowo.
"Ada sih, cuma bahaya."
"Sama bahaya aja takut."
"Ya sudah lewat sini."
Bowo membimbingku berjalan menuju bagian belakang tembok sekolah. Sesampainya di tujuan kami memandang sebuah ventilasi dengan kaca pecah di bagian dinding sekolah. Kalau tak salah ini dinding yang membatasi toilet.
"Nah, ini dia jalan masuk kita," ucap Bowo.
Aku menjawab, "Heh, cuma Superman yang bisa terbang masuk lewat sana. Tuh, tinggi banget loh."
"Makannya, kita tag team."
Bowo menjelaskan ide besarnya. Kami bisa saling membantu untuk masuk melalui ventilasi. Orang pertama menggendong orang kedua hingga berhasil naik. Orang kedua akan mengulurkan tangan membantu orang pertama naik. cukup sederhana.
"Wo, kamu jongkok gih," pintaku pada Bowo.
"Enak aja. Kan ini ideku, jadi kamu lah yang jongkok."
"Suit dah suit," ajakku. "Kertas gunting batu, setuju?"
"Ogah."
"Ya udah, terbang sendiri sana. Atau merayap sekalian."
Kami berdiam diri cukup lama hingga Bowo menurut. Kami melakukan suit. Dia curang, merubah gunting jadi kertas di detik-detik terakhir. Dari pada berantem buang-buang waktu, aku mengalah. Mengalah, bukan kalah.
Aku berjongkok supaya Kedua kaki Bowo bisa menginjak pundak. Pelan-pelan aku bangkit hingga dia berhasil naik. Bowo berjongkok di ventilasi sambil mengulurkan tangan yang berhasil aku gapai. Semua berjalan semulus pipi gadis Korea.
"Heh! Berhenti kalian!"
Pak Gombloh, Satpam kuntet itu berlari menghampiri kami sambil pamer pentungan hitam. Dia menarik kakiku dari bawah. Terjadi adegan tarik menarik yang super sekali. Bowo pengkhianat! Dia melepas genggaman pada tanganku begitu saja sampai aku jatuh dalam peluk Gombloh.
Romantis banget seperti di film India. Gombloh memeluk dengan erat sambil merebahkan badan di atas jalan beraspal. Tubuhnya kenyal, hangat, bau.
"Mau lari ke mana kamu, hah!" sahut Gombloh dengan suara cemprengnya.
"Ampun Pak, tuh teman saya kok dibiarin lolos?"
"Nanti juga ketangkep! Ayo, sekarang ikut ke ruang BK!"
Seperti ternak aku digiring masuk melalui gerbang utama menuju ruang BK. Di sana Gombloh melepasku untuk menjadi sarapan Pak Muhajar, guru laki yang merangkap sebagai guru BP juga guru Olah Raga. Kebiasaan beliau suka menggebrak meja dan menggeram seperti Tadakatsu Honda, itu loh tokoh dalam game PS Samurai Warrior. Sekarang pun tak berbeda.
"Kamu lagi, kamu lagi! Sampai bosan lihat wajahmu! Mana baju enggak dimasukkan. Rapikan dulu!"
Aku mau merapikan pakaian di toilet.
"Mau ke mana? Rapikan di sini!"
Setelah merapikan pakaian, Pak Muhajar ceramah selama lebih dari lima belas menit. Beliau juga mencari tahu siapa temanku yang berhasil kabur. Namun, aku bukan Bowo. Solidaritas dan loyalitas adalah hal pertama yang harus kujaga. Semua berakhir dengan sebuah hukuman. Beliau menyuruhku berdiri di lapangan sambil memberi hormat pada bendera merah putih, sang Saka kebanggaan negara kita.
Dari hukuman itulah, aku bisa bertemu dengan bidadari yang turun dari surga. Cinta pertama yang membuatku berubah menjadi sosok lain.
****