Matahari Surabaya pagi itu terasa lebih garang dari biasanya, seolah ikut merayakan hari pertama orientasi siswa baru di SMA Harapan Bangsa. Gali menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang berpacu tak karuan.
Ini adalah sekolah impiannya, sekolah favorit yang hanya bisa ia capai berkat beasiswa yang dia perjuangkan mati-matian. Kaus putih polos dan celana abu-abunya terasa sedikit lusuh jika dibandingkan dengan seragam rapi siswa lain yang sudah memadati lapangan.
Gali melangkah masuk ke gerbang sekolah, matanya memindai sekeliling. Deretan mobil mewah terparkir di pinggir jalan, para siswa keluar dengan tas bermerek dan pakaian yang begitu modis. Sebagian dari mereka tertawa riang, berkelompok, membentuk lingkaran-lingkaran sosial yang sudah terbentuk bahkan sebelum pelajaran dimulai. Gali merasa seperti setitik debu di tengah keramaian yang berkilauan.
Dirinya mencoba mendekati salah satu kelompok yang sedang asyik mengobrol.
"Permisi," sapanya lirih, namun percakapan mereka terhenti sejenak, lalu kembali berlanjut tanpa ada yang menoleh padanya.
Gali merasa pandangan mereka sekilas menyapu dirinya, sebelum kembali pada obrolan mereka seolah dirinya tak terlihat. Ada rasa dingin menjalar di punggungnya.
Dirinya mencoba lagi, kali ini mendekati seorang siswa yang sedang sibuk memotret gedung sekolah dengan ponselnya.
"Hai, aku Gali, siswa baru," ujarnya sambil tersenyum tipis.
Siswa itu menoleh, tatapannya datar. Dia melirik sekilas pada penampilan Gali, lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Oh," jawabnya singkat, lalu melanjutkan aktivitasnya.
Gali merasa bibirnya terkunci rapat.
Semakin lama dia berdiri di sana, semakin merasa asing. Setiap kali mencoba berinteraksi, tanggapannya selalu dingin, acuh tak acuh, atau bahkan terkesan merendahkan.
Tatapan mata itu, terkadang menyelidik, terkadang mengejek, jelas menunjukkan perbedaan yang mereka lihat. Gali menyadari, bukan hanya seragamnya yang berbeda, tetapi juga aura yang terpancar darinya. Dirinya datang dari dunia yang berbeda, dunia tanpa kilau kemewahan, dunia tempat berjuang hanya untuk bisa bertahan.
"Anak beasiswa, ya?" Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
Gali menoleh dan mendapati dua orang siswa dengan rambut disisir rapi, mengenakan sepatu yang terlihat sangat mahal. Salah satunya tersenyum miring.
"Kamu dari mana? Pasti jauh banget dari sini, kan?" tanya yang lain, nadanya penuh sindiran.
Gali hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Mengakui bahwa berasal dari daerah pinggiran Surabaya, tempat dia harus bekerja paruh waktu sepulang sekolah demi membantu ekonomi keluarga, terasa seperti mengaku sebuah kelemahan di tempat ini.
"Kayaknya dia nggak ngerti bahasa kita, deh," kata yang pertama tertawa kecil, diikuti oleh temannya.
Mereka lalu berjalan melewatinya, meninggalkan Gali berdiri sendiri di tengah lapangan, dikelilingi oleh lautan wajah-wajah asing yang seolah tak ingin menyambutnya.
Di sudut lapangan, seorang gadis berambut panjang sedang memperhatikan adegan barusan dengan raut wajah yang sedikit berbeda. Dia melihat kesedihan yang terpancar dari mata Gali, dan entah mengapa, merasa ada sesuatu yang menarik dari keteguhan pemuda itu meski sedang dalam situasi yang sulit.
Bunyi bel menandakan dimulainya jam istirahat pertama. Suasana lapangan yang tadinya ramai dengan arahan panitia kini berubah menjadi hiruk pikuk anak-anak yang berhamburan.
Gali melihat teman-teman sekelasnya berbondong-bondong menuju kantin, beriringan, tawa mereka terdengar membahana. Kantin yang penuh sesak dengan berbagai macam makanan dan minuman yang tampak mewah bukanlah tempatnya.
Bekal yang dibawanya dari rumah nasi putih dan telur dadar yang dibungkus kertas nasi terasa sangat sederhana.
Dia memutuskan untuk mencari tempat yang lebih tenang. Kakinya membawanya ke sebuah koridor yang lebih sepi, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka.
Tanpa pikir panjang, Gali melangkah masuk. Ruangan itu agak remang, berbau kayu tua dan sedikit debu. Beberapa alat musik tergeletak rapi, namun tak terlalu memperhatikan. Dia hanya ingin menemukan sudut yang aman untuk menyantap bekalnya tanpa tatapan menghakimi. Duduk di kursi dekat jendela, membuka bungkusan nasinya dengan hati-hati.
Baru saja menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, pintu ruangan itu terbuka lebih lebar. Gali sedikit terkejut dan menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang gadis yang tadi sempat dilihat sekilas di lapangan. Rambutnya hitam legam tergerai, wajahnya teduh, dan matanya memancarkan kebaikan yang tak temukan pada siswa lain. Gadis itu membawa sebuah botol air mineral dingin.
Dia tersenyum tipis melihat Gali yang duduk sendirian, memakan bekal sederhananya. Ada sedikit rasa iba yang muncul di hatinya melihat Gali begitu terasing.
"Hai," sapa Ratna lembut, melangkah masuk lebih dalam.
Gali hanya membalas dengan anggukan kecil, masih merasa canggung.
"Kamu nggak ke kantin?" tanya Ratna, suaranya tidak berteriak seperti kebanyakan suara yang didengar di sekolah ini.
Gali menggeleng pelan. "Bawa bekal dari rumah," jawabnya singkat, menunjuk bungkusan di tangannya.
Ratna mengangguk paham. Lalu berjalan mendekat dan meletakkan botol air mineral yang dibawanya di atas meja kecil di sebelah Gali.
"Ini, buat kamu. Biar nggak haus."
Gali terdiam sejenak, memandang botol air mineral itu, lalu menatap wajah Ratna. Dirinya terbiasa tidak menerima bantuan, apalagi dari seseorang yang jelas-jelas berasal dari dunia yang berbeda dengannya. Namun, tatapan Ratna begitu tulus, tanpa sedikit pun nada merendahkan.
"Nggak usah, aku bawa minum," tolak Gali halus, berusaha menutupi rasa terkejutnya.
"Nggak apa-apa. Ini masih banyak kok," ujar Ratna sambil tersenyum, senyum yang membuat Gali merasa sedikit lebih nyaman. "Lagian, di sini panas banget ya?"
Gali akhirnya mengangguk, "Iya, lumayan."
"Minum aja. Aku nggak maksa kok," tambah Ratna lagi.
Ada keraguan dalam diri Gali, tetapi kebaikan tulus Ratna akhirnya meluluhkan penolakannya. Tangannya terulur, meraih botol air mineral dingin itu. Saat jemarinya bersentuhan dengan botol dingin itu, ada semacam perasaan lega yang tak terduga.
Lalu membuka botol itu dan meneguknya perlahan. Air dingin terasa begitu menyegarkan, meredakan rasa haus yang tidak disadari sebelumnya, dan sedikit bikin adem rasa panas di hatinya.
"Makasih banyak," ucap Gali tulus, suaranya sedikit lebih mantap dari sebelumnya.
Ratna tersenyum lebih lebar. "Sama-sama. Aku Ratna." Dia mengulurkan tangannya.
Gali ragu sejenak, lalu membalas uluran tangan Ratna, "Gali."
Pertemuan pertama mereka bukanlah di tengah kerumunan yang meriah, melainkan di dalam ruang musik yang tenang dan diawali dengan sebotol air mineral dingin. Sebuah permulaan yang tak terduga, di mana Gali menemukan secercah kebaikan di tengah keterasingannya.
Hari terakhir orientasi siswa SMA Harapan Bangsa terasa sedikit berbeda. Gali sudah tahu kelasnya, X IPA. Dia memasuk ruangan yang akan menjadi 'rumahnya' selama satu tahun ke depan. Di dalam, bangku-bangku sudah terisi.
Kebanyakan siswa duduk berpasangan, tertawa, dan saling berkenalan. Gali tak ambil pusing, dia langsung menuju bangku di pojok kanan belakang. Tempat itu kosong, dan merasa nyaman di sana. Dari sudut ini, bisa mengamati seluruh ruangan tanpa merasa menjadi pusat perhatian yang tak diinginkan.
Tak lama kemudian, seorang guru wanita masuk. Dengan ramah, memperkenalkan diri sebagai Ibu Lestari, wali kelas X IPA. Beliau menjelaskan beberapa aturan dasar sekolah dan jadwal kegiatan belajar mengajar. Suara Ibu Lestari terdengar hangat, namun Gali tetap memilih untuk menjaga jarak. Hanya mendengarkan, mencatat hal-hal penting dalam buku catatannya.
Setelah Ibu Lestari selesai, beliau mengumumkan bahwa kegiatan orientasi hari ini selesai dan para siswa diperbolehkan pulang. Gali segera membereskan barang-barangnya. Saat berjalan keluar kelas, melihat lagi perbedaan mencolok antara dirinya dan kebanyakan siswa lain di SMA Harapan Bangsa.
Sekolah ini adalah salah satu sekolah swasta paling favorit di Surabaya, dan hampir semua siswanya berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Mobil-mobil mewah yang menjemput mereka, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, dan tas-tas bermerek yang dibawa, semuanya menjadi pengingat akan jurang pemisah yang begitu lebar.
Namun, Gali tak ambil pusing. Dia berjalan menuju tempat parkir motor yang terletak di bagian belakang sekolah. Di sana, motor lawasnya terparkir rapi. Warnanya sudah sedikit memudar, ada beberapa goresan di sana-sini, tetapi mesinnya selalu prima.
Gali selalu merawat motor itu dengan baik. Baginya, motor ini adalah penyelamat, kendaraan andalannya yang tak pernah mengkhianatinya, tidak seperti kebanyakan hal lain yang ditemui di sekolah ini.
Lalu menyalakan mesin motornya, yang langsung menderu halus. Gali tersenyum tipis. Dengan motor ini, bisa pulang ke rumah sederhananya, ke tempat di mana merasa diterima apa adanya. Saat keluar dari gerbang sekolah, melewati deretan mobil-mobil mewah yang sedang menunggu jemputan.
Tak lagi merasa seperti setitik debu. Dia adalah Gali, seorang siswa SMA Harapan Bangsa yang berjuang dengan caranya sendiri. Dan akan tetap bertahan, di bangku pojok dalam kelas, di atas motor lawasnya, di jalan pulang menuju rumahnya, dia akan terus melangkah.
*****