“Kadang cinta datang tanpa janji, hanya dengan sepayung kebetulan.”
Sore itu, langit Jakarta seperti sedang bingung memilih warna.
Awan tebal menahan cahaya matahari yang mencoba berpamitan.
Gerimis turun pelan cukup untuk memaksa orang-orang berhenti sejenak dan berteduh.
Di antara kerumunan di halte depan kampus, aku berdiri sambil memeluk tas ransel.
Hujan yang turun tiba-tiba membuat langkahku tertahan.
Aku menatap jalanan yang ramai, berharap ojek online segera datang, tapi sinyal sedang tidak bersahabat.
“Masih lama, ya?”
Sebuah suara laki-laki memecah lamunan. Aku menoleh dia berdiri di sampingku, membawa jas hujan biru muda yang setengah basah.
“Mungkin,” jawabku singkat sambil tersenyum kecil.
Dia ikut tersenyum. “Musim begini memang gitu. Hujan datang nggak permisi.”
Aku tertawa pelan. Lucu saja, entah karena ucapannya sederhana, atau karena cara dia mengatakannya terdengar tulus.
Beberapa menit kami diam. Hanya suara rintik hujan dan deru motor yang lewat di depan.
Dia menatap langit, lalu menatapku lagi. “Kamu kuliah di sini juga, ya?”
“Iya. Fakultas Psikologi.”
“Wah, pantesan wajahnya kayak orang yang suka dengerin curhat orang lain.”
Aku spontan menoleh dan terkekeh. “Itu pujian atau sindiran?”
“Pujian, tentu aja,” katanya sambil tertawa.
Obrolan kecil itu terasa ringan. Dari cuaca, bergeser ke kampus, ke makanan favorit, hingga topik konyol tentang kenapa payung selalu lupa dibawa waktu hujan datang.
Aku tidak menyadari waktu berjalan sampai hujan mulai reda.
Dia menatap ke arah jalan. “Aku bawa motor, tapi cuma ada satu jas hujan. Kamu mau aku anterin sampai gang depan?”
Aku ragu sejenak. “Nggak usah repot, aku bisa pesen ojek.”
“Serius, nggak apa-apa. Rumahku juga searah, kok.”
Aku menatapnya. Mata itu jujur, tanpa maksud aneh.
Akhirnya aku mengangguk pelan.
Kami berjalan menuju motornya, dan entah kenapa hujan kembali turun tipis, tapi cukup membuat udara beraroma tanah basah.
Dia membuka jas hujan, memotongnya jadi dua, menyerahkan separuhnya padaku.
“Biar adil. Kalau basah, kita basah bareng,” katanya.
Aku tertawa sambil mengenakan bagian jas hujan itu.
Saat motor melaju perlahan di jalanan yang masih licin, aku melihat langit di kejauhan.
Ada gurat warna lembut sepotong pelangi yang muncul samar di balik awan.
Aku tidak tahu kenapa, tapi di detik itu aku merasa hangat.
Mungkin bukan karena jas hujan, tapi karena seseorang di depan yang memegang setang motor dengan tenang.
**
Beberapa hari kemudian, aku kembali melihatnya.
Kali ini di kafe dekat kampus. Aku sedang mengerjakan laporan, dia sedang menunggu teman.
“Eh, yang di halte!” katanya begitu sadar kami saling mengenal.
Aku mengangguk sambil tersenyum. “Yang jas hujannya dipotong dua.”
Dia tertawa keras. “Aduh, ketahuan pelitnya.”
Kami duduk di meja yang sama, karena katanya “biar nggak kesepian.”
Awalnya aku hanya ingin mengetik laporan, tapi kami malah larut dalam percakapan panjang.
Tentang musik lama yang dia suka, tentang hobiku memotret langit sore, tentang cita-citanya yang sederhana: “Pengen punya rumah kecil di pinggiran kota, dengan halaman buat nanem bunga.”
Aku menatapnya sebentar. “Kamu romantis juga, ternyata.”
Dia menggeleng. “Nggak. Aku realistis. Hidup keras, jadi romantis itu bentuk perlawanan.”
Ada sesuatu pada kalimat itu yang menempel di benakku.
Realistis, tapi tetap mau memperjuangkan sesuatu yang lembut.
Mungkin itu yang membuatku nyaman berbicara dengannya.
Malamnya, kami bertukar nomor.
Pesannya sederhana:
Raka: “Pulangnya hati-hati. Hujan lagi, jangan lupa payung.”
Aku: “Kamu juga.”
Raka: “Kalo lupa payung, aku siap jas hujan separuh lagi. 😄”
Aku tersenyum sendiri membaca pesan itu.
Entah kenapa, dunia terasa sedikit lebih ringan malam itu.
***
Hari-hari berikutnya kami semakin sering bertemu.
Kadang tanpa janji. Kadang hanya sekadar “kebetulan” yang ternyata disengaja.
Dia sering muncul di depan perpustakaan dengan dua gelas kopi.
“Yang satu buat kamu, biar semangat ngetik,” katanya.
Perhatian-perhatian kecil itu yang pelan-pelan membuatku jatuh.
Tidak dengan kata-kata manis, tapi dengan kehadiran yang konsisten.
Suatu sore, kami duduk di taman kampus setelah hujan reda.
Langit memantulkan warna keemasan yang lembut.
Raka menatap langit lama sekali, lalu berkata,
“Tau nggak, pelangi itu muncul karena hujan dan matahari ketemu di waktu yang pas.
Kalau salah waktu, ya nggak bakal muncul.”
Aku menatapnya. “Berarti kita juga harus pas waktu, ya?”
Dia tersenyum. “Mungkin.”
Lalu diam.
Hanya suara serangga dan langkah mahasiswa lain yang lewat.
Namun di sela keheningan itu, aku tahu, sesuatu sedang tumbuh.
Bukan lagi rasa penasaran, tapi sesuatu yang lebih pelan dan dalam.
****
Beberapa bulan setelahnya, kami resmi berpacaran.
Bukan karena pernyataan besar.
Hanya karena kami mulai terbiasa saling menunggu, saling mencari, dan saling mengabari tanpa harus diminta.
Dia menatapku suatu malam di kafe yang sama.
“Kalau suatu hari kamu bosen sama aku, bilang, ya. Jangan tiba-tiba pergi.”
Aku menatap balik. “Kamu pikir aku bakal semudah itu?”
Dia tertawa. “Nggak tahu. Kadang orang ninggalin bukan karena bosen, tapi karena takut ditinggal duluan.”
Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa.
Tapi malam itu aku berdoa dalam hati: semoga tidak ada yang pergi duluan.
Hujan turun lagi saat kami berjalan pulang.
Raka membuka jas hujan yang masih robek separuh.
“Kamu masih nyimpen bagian satunya?” tanyanya.
Aku tertawa. “Masih. Disimpen di tas, jadi jimat.”
“Bagus. Biar nanti kalau hujan, kita nggak lupa awalnya kenalan.”
Kami tertawa bersama di bawah langit yang mulai gelap.
Di kejauhan, samar, terlihat cahaya oranye di langit barat
pelangi kecil yang hanya muncul beberapa detik sebelum malam menelan senja.
Aku menatapnya, lalu menatap Raka.
Saat itu aku yakin, kisah ini akan penuh warna.
Aku tidak tahu,
bahwa pelangi pun bisa pudar.