Arshen masih ingat malam itu, malam ketika ayahnya dibunuh. Ia berusia 15 tahun dan berada di rumah saat kejadian. Suara tembakan masih terngiang di telinganya.
Arshen berlari ke arah ayahnya yang tergeletak di lantai. Ia melihat darah yang mengalir dari luka tembak di d**a ayahnya. Arshen merasa seperti dunia berhenti berputar.
"Ayah... Ayah...," Arshen menangis, berusaha membangunkan ayahnya.
Namun, ayahnya tidak bergerak. Arshen tahu bahwa ayahnya sudah meninggal.
Arshen merasa seperti kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa ayahnya. Ayahnya adalah sosok yang sangat penting dalam hidupnya, yang selalu mendukung dan membimbingnya.
Ibu Arshen berlari ke arah mereka, menangis dan berusaha membantu. Namun, sudah terlambat. Ayah Arshen sudah meninggal.
Arshen merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tidak bisa diakhiri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya akan berubah tanpa ayahnya. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menghadapi masa depan tanpa ayahnya.
Arshen melihat ibunya yang menangis dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ibunya membutuhkan dirinya sekarang. Arshen berusaha menahan air matanya dan menjadi kuat untuk ibunya.
Namun, di dalam hati, Arshen merasa seperti terbakar oleh api dendam. Ia ingin membalas dendam atas kematian ayahnya dan membuat mereka yang bertanggung jawab membayar. Arshen tidak tahu siapa yang membunuh ayahnya, tetapi ia tahu bahwa ia akan menemukan jawabannya.
Arshen berusaha mengingat kejadian itu, tetapi ingatannya kabur. Ia hanya ingat suara tembakan dan melihat ayahnya tergeletak di lantai. Arshen tidak tahu apa yang terjadi sebelum dan setelah kejadian itu.
Ibu Arshen akhirnya berhasil menenangkan dirinya sendiri dan memeluk Arshen. "Aku akan selalu ada di sini untukmu, Arshen," katanya, berusaha menenangkan Arshen.
Arshen merasa sedikit lebih baik dengan pelukan ibunya. Ia tahu bahwa ibunya akan selalu ada di sisinya, tidak peduli apa yang terjadi.
Namun, Arshen tidak bisa menghilangkan perasaan dendam di dalam hatinya. Ia ingin membalas dendam atas kematian ayahnya dan membuat mereka yang bertanggung jawab membayar.
Arshen tumbuh dewasa dengan api dendam yang terus membakar di dalam hatinya. Ia tidak pernah melupakan kejadian malam itu dan selalu berusaha untuk mencari tahu siapa yang membunuh ayahnya.
Ibu Arshen berusaha untuk mendukung Arshen dan membantu ia melupakan kejadian itu. Namun, Arshen tidak bisa melupakan. Ia terus mencari jawaban dan berusaha untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.
Arshen menjadi semakin dewasa dan semakin kuat. Ia tidak pernah melupakan tujuan hidupnya, yaitu membalas dendam atas kematian ayahnya.
Suatu hari, Arshen menerima sebuah petunjuk yang membawa ia ke sebuah alamat di kota. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana, namun ia yakin bahwa itu akan membawa ia lebih dekat ke tujuan hidupnya.
Arshen mendekati alamat itu dengan hati yang berdebar-debar. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana, namun ia siap untuk menghadapi apa saja yang akan terjadi.
Ketika Arshen tiba di alamat itu, ia melihat sebuah bangunan tua yang terlihat tidak terawat. Ia merasa sedikit ragu-ragu, namun ia yakin bahwa ini adalah langkah yang tepat.
Arshen memasuki bangunan itu dan melihat seorang pria tua yang duduk di sebuah kursi. Pria itu melihat Arshen dan mengangguk.
"Siapa kamu?" Arshen bertanya dengan nada yang tegas.
"Nama saya Ryker," pria tua itu menjawab. "Saya tahu apa yang kamu cari."
Arshen merasa sedikit terkejut. "Apa yang kamu tahu?" ia bertanya.
Ryker tersenyum. "Saya tahu tentang kematian ayahmu. Saya tahu siapa yang membunuhnya."
Arshen merasa seperti tersengat listrik. "Siapa?" ia bertanya dengan nada yang keras.
Ryker melihat Arshen dengan serius. "Kamu harus siap untuk apa yang akan kamu temukan," katanya.
Arshen mengangguk. "Saya siap," ia berkata.
Ryker tersenyum. "Baiklah, maka saya akan memberitahu kamu apa yang saya tahu."