Ruang sidang itu sunyi ketika hakim mengetukkan palu untuk terakhir kalinya. Bunyinya pendek, kering, tapi bagi Maya terasa seperti retakan yang membelah dadanya menjadi dua. Lima tahun penjara untuk Arman, kliennya, seorang sopir angkot yang dituduh mencuri uang setoran majikannya. Maya yakin Arman tidak bersalah, yakin sampai ke tulang sumsumnya. Tapi ia juga tahu, terlambat, bahwa tugasnya di ruang ini bukan meyakinkan dunia akan ketidakbersalahan Arman, melainkan menunjukkan bahwa negara gagal membuktikan kesalahannya. Dua hal itu tidak sama. Dan kegagalannya membedakan keduanyalah yang baru saja menjatuhkan kliennya ke balik jeruji.
"Tetap tenang, Bu Maya," bisik Arman, justru menenangkan pengacaranya sendiri. Tangannya yang kasar dan berkapal menggenggam lengan Maya sejenak sebelum dua polisi menggiringnya keluar. "Saya percaya sama Ibu. Ibu sudah berjuang."
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada kekalahan itu sendiri. Maya ingin berteriak, ingin membalik meja, ingin meraung bahwa sistem ini cacat. Tapi ia hanya berdiri, mematung, menyaksikan punggung Arman menghilang di balik pintu kayu jati yang berat.
Di seberang ruangan, Maya melihatnya. Pram. Jaksa penuntut umum yang baru saja mengalahkannya, dan ini pun baru kasus besar pertama Pram yang menyita perhatian publik. Pria itu merapikan map-mapnya dengan gerakan tenang, nyaris malas, seolah persidangan tadi tak lebih dari latihan ringan sebelum makan siang. Saat pandangan mereka bertemu, Pram menyunggingkan senyum tipis. Bukan senyum kemenangan yang kasar, melainkan sesuatu yang lebih dingin, lebih menusuk. Senyum seseorang yang tahu betul cara kerja permainan, dan tahu bahwa Maya baru saja kalah karena terlalu jujur.
"Kasus pertama selalu yang paling pahit," kata Pram saat berpapasan dengannya di lorong. "Tapi kamu akan belajar, Maya. Hukum itu bukan soal benar atau salah. Hukum itu soal siapa yang bisa membuktikan ceritanya lebih meyakinkan."
Maya tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk itu. Ia hanya menatap Pram berlalu, jas abu-abunya melambai pelan, sepatu kulitnya berdetak di lantai marmer seperti detak jam yang tak peduli.
Malam itu Maya tidak pulang langsung ke kosnya. Ia duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan, menatap gelas yang sudah dingin tanpa menyentuhnya. Di kepalanya berputar ulang setiap detail. Bukti transfer yang janggal. Saksi yang tiba-tiba berubah keterangan. Rekaman CCTV yang katanya rusak tepat di hari kejadian. Semua tanda tanya itu ada di sana, di hadapan matanya. Seharusnya keganjilan-keganjilan itu cukup untuk membuat hakim ragu, dan keraguan itulah seharusnya yang membebaskan Arman. Tapi Maya terlalu sibuk berteriak bahwa kliennya orang baik, dan lupa menuntut negara membuktikan ia bersalah tanpa keraguan. Ia gagal menjadi pembela bukan karena kurang percaya, tapi karena salah memilih senjata.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bu Hartati, partner senior di firma tempatnya bekerja, Hartati & Rekan. "Maya, datang ke kantor besok pagi. Ada yang perlu kita bicarakan."
Maya menghela napas. Ia tahu apa artinya. Firma kecil tidak bisa terus-menerus menanggung pengacara yang kalah. Mungkin ini akhir dari karier yang bahkan belum benar-benar dimulai.
Ia memejamkan mata, dan wajah Arman kembali muncul. Senyum tabahnya. Anak-anaknya yang masih kecil yang sekarang kehilangan ayah. Istri Arman yang menangis di bangku belakang ruang sidang. Maya merasakan beban itu menekan pundaknya seperti karung pasir yang basah.
"Maaf, Pak Arman," gumamnya pada angin malam. "Saya akan cari caranya. Saya janji."
Tapi bahkan sambil mengucap janji itu, Maya tahu betapa kosongnya kata-kata seorang pengacara yang baru saja gagal. Di kota besar ini, idealisme adalah barang mewah yang harganya terlalu mahal. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia lulus dengan predikat terbaik dari fakultas hukum, Maya mempertanyakan apakah ia memang diciptakan untuk pekerjaan ini.
Hujan mulai turun, gerimis tipis yang membasahi aspal. Maya membayar kopinya dan berjalan pulang, membiarkan tetesan air bercampur dengan air mata yang akhirnya ia izinkan jatuh. Esok pagi akan datang, entah membawa apa. Tapi untuk malam ini, ia hanya seorang perempuan muda yang patah hatinya pada keadilan.