BAB 2
PERHATIAN SEORANG ATASAN
Sejak percakapan mereka dalam perjalanan pulang dari pertemuan dengan klien, hubungan Dewi dan Johan terasa sedikit berbeda.
Tidak ada yang berubah secara drastis.
Johan masih menjadi atasan Dewi.
Dewi masih menjadi bawahannya.
Mereka tetap berbicara mengenai pekerjaan sebagaimana biasanya.
Namun, ada sesuatu yang perlahan tumbuh di antara keduanya. Sebuah kedekatan yang pada awalnya terasa begitu sederhana hingga Dewi sendiri tidak menyadarinya.
Pagi itu, Dewi datang lebih awal dari biasanya.
Ia meletakkan tas di samping kursi, kemudian menyalakan komputer. Setelah mengambil segelas air putih, ia mulai memeriksa surat elektronik yang masuk sejak malam sebelumnya.
Belum sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan, suara seseorang terdengar dari belakang.
"Pagi, Dewi."
Dewi menoleh.
"Pagi, Pak Johan."
Johan berdiri sambil membawa dua gelas minuman.
Satu gelas diletakkannya di meja Dewi.
"Ini buat kamu."
Dewi melihat gelas tersebut dengan bingung.
"Untuk saya?"
"Iya."
Dewi memperhatikan minuman itu.
"Kopi?"
Johan mengangguk.
"Saya lihat kemarin kamu minum kopi waktu rapat."
Dewi tersenyum kecil.
"Bapak ingat?"
"Saya gampang mengingat hal-hal kecil."
Dewi tertawa pelan.
"Terima kasih, Pak."
Johan kemudian berjalan menuju ruangannya.
Dewi memperhatikan gelas kopi tersebut beberapa detik.
Hal kecil.
Sangat sederhana.
Namun perhatian seperti itu membuat hatinya terasa hangat.
Rina yang baru datang langsung melihat gelas di meja Dewi.
"Eh?"
Dewi menoleh.
"Apa?"
Rina menunjuk kopi.
"Itu dari siapa?"
"Pak Johan."
Rina langsung tersenyum lebar.
"Sudah saya duga."
"Duga apa?"
"Dia suka sama kamu."
Dewi menggeleng.
"Jangan asal bicara."
"Kalau cuma bawahan biasa, apa semua karyawan dikasih kopi?"
"Mungkin kebetulan."
Rina duduk di kursinya.
"Kamu itu terlalu polos."
Dewi tertawa.
"Saya cuma tidak mau salah mengartikan perhatian orang."
Jawaban itu membuat Rina diam sebentar.
Dewi memang seperti itu.
Ia bukan perempuan yang mudah percaya kepada perhatian seorang pria. Baginya, perhatian tidak selalu berarti perasaan.
Ia lebih suka melihat tindakan seseorang dalam waktu lama.
Dewi pernah melihat beberapa temannya terluka karena terlalu cepat percaya kepada janji seorang pria.
Ia tidak ingin mengalami hal yang sama.
Karena itulah, meskipun perhatian Johan mulai membuatnya nyaman, Dewi berusaha menjaga batas.
Namun Johan tampaknya memiliki cara sendiri untuk mendekatinya.
Ia tidak terburu-buru.
Ia tidak pernah mengungkapkan perasaan secara terang-terangan.
Ia hanya hadir.
Ketika Dewi kesulitan menyelesaikan pekerjaan, Johan membantu.
Ketika Dewi harus pulang terlambat karena menyelesaikan laporan, Johan memastikan ada orang yang mengantarnya.
Ketika Dewi terlihat lelah, Johan bertanya apakah ia sudah makan.
Hal-hal kecil seperti itulah yang perlahan membuat dinding pertahanan Dewi menipis.
Suatu sore, kantor mulai sepi.
Sebagian besar karyawan sudah pulang.
Dewi masih duduk di depan komputer. Ia harus menyelesaikan laporan yang akan dikirimkan ke klien keesokan pagi.
Matanya mulai terasa berat.
Ia menarik napas panjang dan kembali mengetik.
Tiba-tiba sebuah suara terdengar.
"Belum pulang?"
Dewi menoleh.
Johan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Belum, Pak. Tinggal sedikit."
Johan melihat jam.
"Sudah hampir pukul delapan."
Dewi tersenyum.
"Saya ingin menyelesaikan ini malam ini."
"Besok juga bisa."
"Kalau saya selesaikan sekarang, besok tinggal diperiksa."
Johan mengangguk.
"Kamu memang keras kepala."
Dewi tertawa.
"Saya anggap itu pujian."
"Memang pujian."
Johan menarik kursi kosong di sebelah meja Dewi.
"Mana yang belum selesai?"
Dewi menunjukkan bagian laporan.
Johan ikut memperhatikan layar.
Beberapa menit kemudian mereka berdiskusi mengenai laporan tersebut.
Dewi sebenarnya bisa menyelesaikannya sendiri.
Tetapi kehadiran Johan membuat pekerjaannya terasa lebih ringan.
Setelah selesai, Dewi menyimpan dokumen tersebut.
"Sudah."
Johan mengangguk.
"Bagus."
Dewi mematikan komputer.
Mereka kemudian berjalan bersama menuju lift.
"Pak Johan."
"Ya?"
"Kenapa Bapak belum pulang?"
Johan tersenyum.
"Menunggu kamu."
Dewi terdiam.
Johan segera menambahkan,
"Maksud saya, memastikan kamu pulang dengan aman."
Dewi tersenyum kecil.
"Oh."
Pintu lift terbuka.
Mereka masuk.
Beberapa detik tidak ada percakapan.
Kemudian Johan bertanya,
"Kamu dijemput?"
"Tidak. Biasanya naik kendaraan umum."
"Sendiri?"
"Iya."
"Kalau begitu saya antar."
Dewi langsung menggeleng.
"Tidak perlu, Pak."
"Kenapa?"
"Rumah saya lumayan jauh. Nanti merepotkan."
"Saya tidak merasa direpotkan."
Dewi masih ragu.
Johan tidak memaksanya.
"Kalau kamu tidak nyaman, tidak apa-apa."
Cara Johan menghargai keputusannya justru membuat Dewi semakin nyaman.
Akhirnya setelah keluar dari gedung kantor, Dewi menerima tawaran tersebut.
Mobil Johan berhenti di depan gedung.
Dewi masuk ke kursi penumpang.
Sepanjang perjalanan, mereka berbicara ringan.
Tentang pekerjaan.
Tentang makanan.
Tentang keluarga.
Sampai akhirnya Johan bertanya,
"Kamu dekat dengan kakakmu?"
Dewi tersenyum.
"Ya."
"Namanya Dina, kan?"
"Iya."
"Kalian tinggal bersama?"
"Masih satu rumah dengan orang tua."
"Berarti keluarga kamu cukup dekat."
"Sangat dekat."
Dewi memandang keluar jendela.
"Saya beruntung punya keluarga seperti mereka."
Johan melirik Dewi sebentar.
"Kamu sayang sekali sama keluarga."
"Tentu."
Dewi kemudian tersenyum.
"Kenapa Bapak bertanya?"
"Enggak apa-apa."
Johan kembali fokus ke jalan.
Beberapa saat kemudian mobil sampai di depan rumah Dewi.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Dewi hendak membuka pintu.
Namun Johan berkata,
"Dewi."
Dewi menoleh.
"Besok jangan lupa sarapan."
Dewi tersenyum.
"Baik."
Ia turun dari mobil.
Dari teras rumah, seorang perempuan sedang menyapu halaman.
Dewi langsung mengenalinya.
"Kak Dina."
Dina menoleh.
"Kamu baru pulang?"
"Iya."
Dina melihat mobil yang masih berhenti di depan rumah.
"Siapa?"
"Pak Johan."
Dina memperhatikan pria di balik kemudi.
Johan menurunkan kaca jendela.
"Selamat malam."
Dina tersenyum.
"Selamat malam."
Dewi kemudian masuk ke rumah bersama Dina.
"Atasan kamu?"
"Iya."
"Kenapa mengantar?"
"Tadi pulang kerja terlalu malam."
Dina mengangguk.
"Baik juga."
Dewi tersenyum.
"Iya."
Dina tidak melanjutkan pertanyaan.
Namun sebelum masuk, ia sempat melihat mobil Johan meninggalkan halaman.
Sementara itu, di dalam mobil, Johan sesekali melihat kaca spion.
Rumah Dewi semakin jauh.
Ia tahu perasaannya kepada Dewi sudah bukan sekadar ketertarikan biasa.
Ia mulai benar-benar menyukai perempuan itu.
Dan Johan merasa ingin memiliki hubungan yang lebih serius.
---
Malam itu, Dewi duduk di ruang keluarga bersama orang tuanya.
Ayah sedang menonton televisi, sedangkan Ibu menyiapkan minuman.
Dina duduk tidak jauh dari Dewi.
"Teman kerja kamu tadi?"
Ibu bertanya.
"Atasan Dewi, Bu."
"Namanya siapa?"
"Johan."
Ayah memandang Dewi.
"Orangnya bagaimana?"
Dewi tersenyum.
"Baik."
Dina ikut berbicara.
"Kelihatannya sopan."
Dewi mengangguk.
"Memang."
Ayah tersenyum.
"Yang penting kamu nyaman."
Dewi menundukkan wajah.
Ada sedikit rasa malu yang muncul ketika keluarganya membicarakan Johan.
Namun belum ada hubungan khusus di antara mereka.
Setidaknya, belum.
Malam semakin larut.
Dewi masuk ke kamar dan berbaring di tempat tidur.
Ia mengambil ponsel.
Sebuah pesan masuk.
Johan: Sudah sampai kamar?
Dewi tersenyum.
Ia mengetik balasan.
Dewi: Sudah.
Tidak lama kemudian pesan berikutnya masuk.
Johan: Jangan tidur terlalu malam. Besok masih kerja.
Dewi membaca pesan tersebut dua kali.
Kemudian membalas singkat.
Dewi: Bapak juga.
Johan menjawab:
Johan: Selamat malam, Dewi.
Dewi meletakkan ponselnya di samping bantal.
Ia menatap langit-langit kamar.
Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri.
Mengapa perhatian Johan membuatnya bahagia?
Dewi menggeleng pelan.
"Jangan terlalu berharap," bisiknya kepada diri sendiri.
Ia belum tahu apa yang Johan rasakan.
Ia juga belum tahu ke mana hubungan mereka akan berjalan.
Tetapi malam itu, sebuah benih perasaan mulai tumbuh di dalam hati Dewi.
Perasaan yang awalnya sederhana.
Perasaan yang belum memiliki nama.
Dan tanpa mereka sadari, hubungan antara atasan dan bawahan itu perlahan akan berubah menjadi sebuah kisah cinta.
Sebuah kisah cinta yang pada awalnya tampak indah.
Sebelum akhirnya berubah menjadi luka yang tidak pernah Dewi bayangkan.