Dor, dor, Brenda buka pintunya, aku bangun terkejut, dengan helaian napas terkejut aku menoleh kesebelah kanan Kasur, mencari jam bekerku, ternyata itu masih sangat pagi, tepat jam 2:20 “iya, aku segera kesana” dengan memelas aku berjalan menuju pintu, “apa yang salah denganmu, ini masih sangat pagi” dengan nada kesal, “Brenda segera ke halaman, Meryn terlihat buruk dan sedang kacau” perintah ibu sambil berjalan pergi meninggalkanku, aku terkejut “seburuk itukah suasana hati Meryn hingga membawanya kerumahku dijam segini” aku langsung berlari kecil menuju keluar rumah “Mer…. Kau baik-baik saja? Oh ayolah, jangan membuatku cemas?”. Dia menangis dengan menggelengkan kepalanya hingga jatuh kekakiku “aku benci takdirku” hanya itu kata yang bisa kudengar seolah beban yang dibawanya membuatnya tak sanggup hingga untuk berbicarapun ia tak mampu lagi. “Bangunlah!” sambil menggiringnya masuk dan menuju kamarku, aku bingung, harus memulai dari mana dan bagaimana, kutinggalkan ia sebentar dan menuju kedapur dan mengambilkannya segelas air, lalu segera menuju kamar.
Tanganku gemetar hingga gelas yang kupegang terjatuh, aku menemukan ibu tergeletak disamping meja dengan darah yang bercucuran dilehernya, “ibu…” antara sadar dan tidak, aku merasa baru saja 20 menitan yang lalu aku masih bicara sama ibu, “ayah” panggilku histeris, aku berjalan mundur dengan menangis ketakutan hingga kuterjatuh, rasannya aku habis saja mengenai sesuatu hingga kakiku kesandung. Aku memalingkan wajahku kebelakang, “Edellyn!” dia adik perempuanku yang masih berusia empat tahun, saat aku memegang adikku badanya dingin dengan tulisan didadanya “kau tidak akan merasakan kesulitan dimasa depan” aku kehilangan kendali, jantungku serasa ingin terlepas “apa yang terjadi Tuhan? Apa ini?” sambil memeluk adikku, aku menangis dan menciumnya, aku mulai mengangkat kepala dan memikirkan apa yang terjadi ini mungkin saja rumahku sedang dirampok, dan perampoknya masih berada didalam rumah yang artinya dia (perampok) bisa saja mendengarku dan akan membunuhku juga.