Kaki Sarah tiba-tiba terangkat dari lantai, bukan terangkat karena daya gravitasinya sendiri, melainkan terangkat paksa. Sebuah jalinan tak terlihat, dingin namun kenyal, melilit pergelangan kakinya. Dia tak sempat bereaksi, seolah tubuhnya mendadak menjadi boneka tak berdaya.
Sesuatu menariknya dengan kekuatan brutal, sebuah tarikan yang membuat napasnya tertahan di tenggorokan, dan pandangannya hanya menangkap kilasan bayangan yang berputar sebelum semua lenyap dalam kegelapan pekat.
bam!
Tubuhnya terhempas ke atas permukaan dingin dan keras. Pintu yang tadi terbuka lebar kini tertutup rapat, menghapus setiap jejak cahaya rembulan yang sempat menyelinap masuk. Sarah merasakan getaran terakhir dari suara itu di dadanya, di tulangnya. Ia terperangkap.
Kegelapan yang mutlak. Bukan hanya ketiadaan cahaya, melainkan sebuah selimut hitam yang menelan segalanya, memadamkan pandangan, mematikan arah.
Sarah mencoba meraih ke depan, ke samping, tetapi tangannya hanya bertemu udara hampa. Ia berada di sebuah ruang yang tertutup, kedap, mengisolasi dirinya dari dunia luar, bahkan dari rumah tua itu sendiri.
Aroma melati yang memabukkan kini bercampur dengan bau apak, tanah lembap, dan sesuatu yang samar-samar beraroma amis. Darah? Atau hanya imajinasinya yang bermain-main di dalam kekosongan ini?
"Durja?" suaranya pecah, tercekat. Sebuah bisikan serak yang tak berarti di tengah keheningan yang menyesakkan ini. Ia bahkan tak yakin bisa mendengar suaranya sendiri. "Kau di sini? Apa ini?"
Keheningan menjawabnya. Sebuah keheningan yang bukan kosong, melainkan sarat dengan kehadiran yang tak terlihat, yang menekan, mengawasinya. Kulitnya merinding, bukan karena takut, melainkan gairah liar yang bergejolak di dalam dirinya. Ini yang ia cari di rumah hantu itu, sensasi yang melebihi batas.
Kemudian, sebuah sentuhan. Dingin, basah, dan lengket. Seperti lendir, namun dengan kekuatan yang tak terduga. Menjalar dari betisnya, naik perlahan, membelai kulitnya yang terbuka. Sarah tersentak, napasnya tertahan.
"Apa ini?" dia bertanya, suaranya kini lebih berupa desahan daripada pertanyaan. Tubuhnya tegang, namun bukan karena ketakutan. Justru sebaliknya. Sebuah gejolak aneh mulai beriak di perutnya.
Tangan-tangan tak kasat mata itu merayap naik, melingkari pergelangan kakinya, membelai pahanya yang mulus. Lendirnya terasa menggelitik, namun sekaligus mengunci, seolah ia terperangkap dalam jaring laba-laba yang sensual. Setiap inci kulit yang disentuh terasa hidup, peka, merespons.
"Kau suka bermain seperti ini, Durja?" Sarah tersenyum tipis dalam kegelapan, sebuah senyum penuh tantangan dan hasrat. "Membuatku tak melihatmu, tapi merasakanmu di setiap sudut."
Sentuhan itu semakin intens. Jari-jari tak terlihat itu, yang dingin dan basah, kini memijat paha bagian dalamnya, mendekat ke area yang lebih sensitif.
Sebuah panas aneh mulai menjalar dari bawah perutnya, membakar, memabukkan. Ia bisa merasakan denyutan di antara kedua pahanya, sebuah janji yang menggoda.
"Ya, ini yang kumau," bisiknya, suaranya kini lebih mantap, lebih yakin. "Lebih. Tunjukkan padaku apa yang bisa kau lakukan."
Lalu, sentuhan itu berpindah, meninggalkan pahanya untuk sesaat, merayap ke atas. Menjelajah perutnya yang rata, jari-jari lengket itu melingkari pusarnya yang kecil, memutar-mutar, bermain-main. Sensasi geli yang menyenangkan itu membuat punggungnya melengkung, kepalanya mendongak, seolah mencari sumber sentuhan dalam kegelapan.
"Kau tahu persis di mana harus menyentuhku," Sarah terengah, napasnya terputus-putus. "Kau membuatku merasakan hal-hal baru."
Kemudian, tangan-tangan itu naik lebih tinggi, menemukan tepi crop top rajutnya. Bukan merobek, bukan menyentak, melainkan menyelipkan diri di bawah kain itu, menembus material tipis yang membalut dadanya.
Dinginnya lendir yang basah kini bertemu kulit di bawah payudaranya. Sarah merasakan sensasi menusuk yang aneh, dingin namun memicu gelombang panas yang dahsyat.
"Astaga..." desahnya, matanya terpejam erat, meskipun tak ada yang bisa dilihatnya. "Ini... ini gila."
Jari-jari itu merayap di bawah payudaranya, memijat lembut, menekan, kemudian melingkari buah dadanya. Kuncupnya mengeras seketika, menegang, merespons sentuhan yang asing namun begitu memikat.
Durja mempermainkannya, mengulum, meremas, memilin perlahan. Sarah menggeliat di lantai, tubuhnya tak lagi bisa menahan diri. Sebuah erangan panjang lolos dari bibirnya.
"Kau... kau sungguh tahu cara bermain," napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat. "Aku... aku tak pernah merasakan ini."
Sentuhan itu tak hanya di satu tempat. Seolah banyak tangan, banyak jari, yang kini bekerja di sekujur tubuhnya. Satu tangan masih membelai dadanya, sementara yang lain kembali ke perutnya, meraba lekukan pinggulnya, menekan ke bawah, memijat lembut otot-otot di pantatnya.
Sarah merasakan setiap sentuhan, setiap tekanan, setiap jilatan lendir di kulitnya. Ini adalah simfoni sensasi, orkestrasi kenikmatan yang menenggelamkannya.
"Terus," dia memohon, suaranya kini hampir tak terdengar, tenggelam dalam lautan hasrat. "Jangan berhenti. Kumohon, Durja. Jangan berhenti."
Tangan-tangan itu kembali ke pahanya, kali ini lebih berani, lebih langsung. Jari-jari lengket itu kini merangkak naik, menelusuri garis celana pendek denimnya, menyelinap ke celah sempit di antara kain dan kulitnya. Dinginnya lendir kini menyentuh area yang paling terlarang, paling sensitif.
Sarah merasakan napasnya tertahan di paru-paru. Sebuah denyutan intens mulai berpusar di antara kedua pahanya, menjalar ke seluruh tubuhnya.
Jari-jari itu membelai, mengusap, menekan lembut. Lendir dingin itu terasa seperti aliran listrik, membakar sekaligus membius.
"Oh... ya..." dia mendesah, punggungnya terangkat dari lantai, kepalanya terlempar ke belakang. Sebuah ledakan kenikmatan mulai terbentuk, merayap naik, menguasai dirinya. Ia tak bisa lagi berpikir, hanya merasa.
Jari-jari itu bergerak lebih cepat, lebih berani, seolah Durja tahu persis apa yang Sarah inginkan, apa yang ia butuhkan. Sentuhan itu menjadi sebuah irama, sebuah tarian yang memabukkan.
Setiap usapan, setiap tekanan, membawa Sarah semakin dekat ke tepi jurang. Tubuhnya bergetar tak terkendali, napasnya memburu, bibirnya berbisik-bisik tanpa arti.
"Hah... Durja... aku... aku..."
Napasnya memendek. Matanya terpejam erat, wajahnya memerah, meskipun tak ada yang bisa melihatnya dalam kegelapan. Jari-jari itu kini terfokus pada satu titik, menggerakkan keajaiban yang belum pernah ia alami.
Sensasi itu memuncak, membelitnya dalam pusaran kenikmatan yang hampir tak tertahankan. Ia bisa merasakannya, gelombang itu datang, siap menelan dirinya. Sebuah jeritan kecil, penuh hasrat, nyaris keluar dari bibirnya.
Dan kemudian, berhenti.
Seketika.
Semua sentuhan lenyap. Dingin yang lengket, jari-jari yang memijat, tekanan yang memabukkan—semuanya menghilang. Seperti tidak pernah ada.
Sarah terhuyung, tubuhnya oleng, kembali terhempas ke lantai. Kekosongan itu menghantamnya, menusuk, meninggalkan dirinya dalam kekosongan yang membingungkan.
Sensasi kenikmatan yang baru saja akan meledak kini runtuh, hancur berkeping-keping.
"Tidak!" dia menjerit, suaranya serak, penuh frustrasi dan kekecewaan. "Durja! Apa-apaan ini? Kembali! Jangan... jangan berhenti!"
Keheningan kembali menyelimutinya. Keheningan yang kini terasa mengejek, mengolok-olok hasratnya yang dibiarkan menggantung.
Bau melati yang tadi memabukkan kini terasa hambar. Udara kembali dingin, namun kali ini dingin yang menusuk kesendirian, bukan menggairahkan.
Dia merangkak di lantai, tangannya meraba-raba kegelapan, mencari sentuhan yang hilang, mencari apa pun yang bisa menenangkannya. Namun tidak ada. Hanya lantai yang keras dan dingin, dan kekosongan yang tak terhingga.
"Kau... kau tak bisa melakukan ini padaku," dia merintih, suaranya pecah. Air mata menggenang di pelupuk matanya, panas dan pedih.
Bukan air mata kesedihan, melainkan kemarahan dan frustrasi yang membakar. Ia ditinggalkan di puncak jurang, tanpa sempat merasakan klimaks yang memuaskan dahaga nafsunya.
Bahkan suara yang menggodanya, bisikan samar yang tadi seolah meresap ke dalam jiwanya, kini lenyap. Seperti tidak pernah ada yang berbicara, tidak pernah ada yang menyentuh, tidak pernah ada Durja.
Sarah terduduk di lantai, memeluk lututnya, tubuhnya gemetar. Nafasnya masih terengah-engah, sisa-sisa gairah yang tak tersalurkan berdenyut sakit di antara kedua pahanya.
Ia merasakan hampa, sebuah kehampaan yang lebih menyiksa daripada rasa takut yang pernah ia bayangkan.
"Kenapa?" bisiknya, suaranya kini hanya sebuah desah pilu. "Kenapa kau menghilang?"
Kegelapan tetap gelap. Keheningan tetap hening. Dan Sarah, di tengah ruang kedap suara itu, sendirian, dengan tubuh yang masih berdenyut gairah, dengan jiwanya yang terbakar frustrasi.
Permainan itu, yang baru saja dimulai, kini terasa begitu kejam. Durja telah menanamkan benih hasrat, dan kemudian meninggalkannya dalam kegelapan, merintih dalam kehausan yang tak terpuaskan.