Salju di punggung pegunungan biru sudah mereda jadi serbuk halus ketika Arga akhirnya melihatnya. Dari balik tebing batu yang mereka panjati sepanjang malam, lembah itu terbuka di bawah seperti luka yang menganga di tubuh gunung.
"Tiarap," bisik Arga.
Sisa pasukannya—dua belas orang yang masih bisa berjalan setelah badai—merunduk di antara batu. Jaka merangkak ke sampingnya, napasnya masih tersengal, bibirnya pucat oleh dingin. Pemuda desa itu sudah jauh berubah dari anak yang dulu memegang tombak bambu di balai desa. Tapi matanya masih bisa terbelalak.
"Kak Arga... itu..."
Di dasar lembah membentang sebuah perkemahan militer. Bukan pos kecil seperti Talun Sengit. Puluhan tenda loreng tersusun rapi dalam barisan. Truk-truk berjajar menutupi terpal. Tumpukan peti amunisi setinggi dada manusia. Di tengahnya, menara pengawas kayu yang baru, kokoh, dengan sosok-sosok pengintai bergerak di puncaknya.
Wira merayap mendekat dari sisi kiri. Tangan kirinya yang cacat ia selipkan ke dalam mantel, seperti biasa, untuk menjaganya tetap hangat dan tak mengganggu. Dengan tangan kanan ia menyodorkan teropong tua pada Arga.
"Lihat baik-baik," kata Wira pelan. Suaranya serak. Delapan tahun di perbatasan, dan ia belum pernah melihat yang seperti ini. "Lihat arah moncong mortir itu menghadap ke mana."
Arga menempelkan teropong ke mata. Ia mengikuti jajaran tabung mortir yang ditata miring ke langit. Semuanya menghadap satu arah.
Selatan.
Ke arah perbatasan. Ke arah lembah Talun Sengit yang jauh di balik pegunungan. Ke arah rumahnya, desanya, negaranya.
"Mereka tidak menyiapkan ini untuk menahan kita," kata Arga, suaranya tercekat. "Mereka menyiapkan ini untuk menyerang kita. Dari sini. Inilah tempatnya."
"Tempat apa?" tanya Jaka.
Wira yang menjawab, matanya tak lepas dari lembah. "Tempat semua bermula. Yang menyerang pos kita dulu—Dirga, Bayu, Tomas, kompi yang menahan mereka semalaman—mereka turun dari sini. Tiga tahun radio kita menangkap suara aneh, latihan rutin yang ditutupi markas. Mereka menyiapkan ini di sini, di balik gunung, di luar mata kita semua. Selama bertahun-tahun."
Arga menurunkan teropong. Tangannya gemetar, dan bukan karena dingin. Ia membayangkan Dirga telentang dengan pistol kosong, Tomas menggenggam granat yang tak sempat dilempar, Bayu bersandar dinding barat. Semua itu—semua kematian itu—direncanakan di lembah ini oleh tangan-tangan yang tak pernah mereka lihat wajahnya.
"Berapa banyak?" tanya Arga.
Wira diam sejenak, menghitung tenda dengan matanya yang terlatih. "Lebih dari satu batalion. Mungkin dua. Ini bukan kompi pengintai. Ini... ini pasukan untuk menggulung seluruh garis perbatasan sekaligus."
Salah satu prajurit muda di belakang mereka—seorang pengganti bernama Rendi yang baru sebulan di pos—menarik napas tajam. "Kita harus mundur. Sekarang. Sebelum—"
"Diam," potong Arga, tapi tidak kasar. Ia menatap Rendi. "Kita mundur. Tapi kita mundur membawa ini." Ia mengetuk pelipisnya sendiri. "Angka. Posisi. Arah moncong. Markas harus tahu apa yang menunggu mereka."
Di bawah, terdengar derum mesin truk dinyalakan. Sebuah konvoi mulai bergerak, perlahan, menuju mulut lembah di sisi utara—jalur yang akan membawa mereka memutari pegunungan menuju perbatasan.
"Mereka sudah mulai," bisik Jaka.
Arga merayap mundur dari bibir tebing, memberi isyarat agar yang lain mengikuti. Hatinya berpacu. Mereka datang jauh-jauh ke utara, melintasi garis lama, melewati ladang ranjau dan hutan pinus dan badai yang nyaris menelan Jaka di salju—untuk menemukan ini. Bukan markas musuh yang kecil. Bukan sekadar sarang penyerang pos. Tapi jantung dari sesuatu yang jauh lebih besar.
"Wira," kata Arga ketika mereka sudah cukup jauh ke balik batu. "Apa yang kau lihat di sana, sejujurnya?"
Kopral tua itu menatap muridnya. Rambutnya kini lebih banyak putih daripada delapan tahun lalu. "Aku melihat awal dari perang yang sesungguhnya, Arga. Yang kemarin-kemarin itu cuma pembukaan. Yang di lembah itu—itu mereka mengangkat seluruh kekuatan mereka sekaligus."
Angin dingin menderu di antara batu. Jauh di bawah, konvoi pertama merayap keluar lembah seperti barisan semut hitam menuju selatan.
"Kalau begitu," kata Arga, mengencangkan tali ranselnya, "kita harus sampai ke markas lebih dulu daripada mereka."