Lembah itu muncul di kejauhan persis seperti dalam ingatan Arga, dan persis seperti dalam mimpi buruknya.
Pos di puncak bukit—sudah diperbaiki sejak pengepungan pertama, dindingnya ditambal, menara pengawas baru berdiri di tempat menara lama runtuh. Pagar kawat baru. Dan di tiang bambu yang condong, bendera itu masih berkibar—pudar, lusuh, ujungnya robek, tapi tetap di sana. Bendera yang sama yang bertahan saat segalanya hancur. Arga menatapnya lama, dan rasanya seperti melihat wajah teman lama.
Di bawah, di lembah, Desa Talun Sengit terbentang. Tiga puluh rumah, asap tipis mengepul dari tungku-tungku, kambing-kambing di pekarangan. Dari kejauhan, desa itu tampak begitu damai hingga menyakitkan.
"Sudah hampir setahun aku tak pulang," kata Jaka lirih di samping Arga. Matanya basah. "Aku takut tak akan pernah pulang."
Mereka turun ke lembah ketika matahari mulai condong. Berita kedatangan mereka mendahului langkah—seseorang dari pos sudah berlari turun memberi tahu desa. Maka ketika Arga memasuki gerbang desa, orang-orang sudah menunggu.
Dan di barisan paling depan, ada Sari.
Ia tak banyak berubah. Mungkin lebih kurus, mungkin matanya lebih tua daripada usianya—seperti semua orang yang pernah melihat perang dari dekat. Tapi ketika matanya menemukan Arga di antara para prajurit yang berlumpur dan letih, wajahnya pecah—antara tawa dan tangis.
Ia tak berlari menghambur. Itu bukan caranya. Ia hanya berjalan mendekat, berhenti satu langkah di depan Arga, dan menatapnya seolah memastikan ia nyata.
"Kau pulang," kata Sari.
"Aku pulang," jawab Arga.
Lalu Sari melihat Jaka, dan kali ini ia memang menghambur—memeluk pemuda yang ia kenal sejak kecil, yang ikut pergi berperang dan kini kembali dengan luka di pelipis dan beban di mata. "Ibumu menangis tiap malam," bisik Sari pada Jaka. "Pulang. Pulang."
Pak Karto datang dengan langkah lebih pelan dari dulu, tongkat di tangan, tapi punggungnya masih tegak. Kepala desa tua itu menatap Arga lama, lalu menyentuh bahunya.
"Anak muda," katanya. "Kau yang dulu menyelamatkan desa ini dengan pisau dan keberanian. Kenapa kau kembali dengan wajah seperti membawa kabar buruk?"
Arga tak bisa berbohong padanya. "Karena memang itu yang kubawa, Pak."
Malam itu mereka berkumpul di balai desa—balai yang sama yang dulu jadi garis pertahanan terakhir, tembok batanya masih menyimpan bekas peluru lama seperti bopeng-bopeng cerita. Arga berdiri di hadapan tetua desa, dan ia menjelaskan semuanya. Lembah di balik gunung. Dua batalion. Konvoi yang bergerak. Garis perbatasan yang berlubang. Dan keputusan markas.
"Talun Sengit akan jadi garis pertahanan utama," kata Arga, suaranya berat. "Pasukan dari seluruh perbatasan timur akan ditarik ke sini. Karena lembah ini—pos ini, jurang itu, jalur sempit dari utara—bisa dipertahankan. Tapi itu artinya..."
Ia tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Wira yang menyelesaikannya. Kopral tua itu maju selangkah. "Itu artinya pasukan musuh akan datang ke lembah ini dengan kekuatan penuh. Dan perang besar akan terjadi di tanah kalian. Di antara rumah-rumah kalian."
Hening menggantung di balai. Sebuah lampu minyak berkedip. Di luar, seekor anjing menggonggong, lalu diam.
Pak Karto akhirnya berbicara, suaranya pelan tapi mantap. "Delapan tahun lalu kami tidur nyenyak karena ada seragam di pos itu. Lalu pos itu jatuh, dan kami tahu betapa berharganya seragam itu setelah kehilangannya." Ia menatap Arga. "Sekarang kau kembali membawa seragam—membawa banyak seragam. Pertanyaannya bukan apakah perang akan datang ke lembah kami, Nak. Perang sudah datang ke lembah kami delapan tahun lalu dan tak pernah benar-benar pergi."
Ia mengetuk lantai dengan tongkatnya.
"Pertanyaannya adalah: bagaimana kita akan menghadapinya bersama-sama."