Ada satu pertanyaan yang tak pernah pergi dari kepala Arga sejak fajar pertama itu. Sejak iring-iringan truk pertama muncul dari selatan, menyelamatkan desa di saat-saat terakhir, lebih dari setengah tahun lalu. Pertanyaan yang tak pernah ia berani ucapkan keras-keras, karena jawabannya bisa berarti seseorang masih hidup — atau berarti sesuatu yang lebih menyakitkan.
Bagaimana truk-truk itu tahu harus datang?
Antena radio jarak jauh sudah hancur sejak serangan mortir pertama. Pos terputus dari markas. Arga sendiri tak pernah berhasil mengirim pesan keluar dari lembah. Lalu bagaimana bala bantuan tahu Talun Sengit diserang, tepat pada malam pos jatuh?
Jawabannya ia temukan di folder arsip yang sama, dua hari setelah laporan Dirga. Sebuah catatan masuk telegram dari stasiun penghubung kecamatan, bertanggal malam pengepungan pertama itu.
"Pesan diterima dari sumber tak dikenal, jalur darat. Isi: koordinat Pos Talun Sengit, kekuatan musuh ditaksir satu kompi, permohonan bantuan segera. Sumber: seorang lelaki tua dan seorang anak muda, berjalan kaki dari arah utara, tiba pukul dini hari, kelelahan berat."
Arga membaca dua kali. Lalu tiga kali. Tangannya dingin.
"Lelaki tua dan anak muda," ulangnya pada Wira. "Berjalan kaki dari utara. Ke kecamatan. Di malam pengepungan."
Wira mengambil catatan itu, membacanya, dan matanya menyipit. "Dirga memberimu surat saat kau turun ke jurang. Koordinat pos, kekuatan musuh, permohonan bantuan. Surat itu seharusnya kau bawa ke kecamatan."
"Tapi aku tak pernah sampai ke kecamatan," kata Arga pelan. "Aku menyimpang. Aku tinggal di desa untuk melindungi penduduk. Aku gagal membawa surat itu."
"Lalu siapa yang membawanya?"
Mereka menelusurinya bersama-sama, menyusun potongannya seperti menyusun peta pertempuran. Dan perlahan, gambaran itu terbentuk.
Pak Karto. Dan salah satu pemuda desa.
Saat Arga sibuk membela balai desa malam itu, kepala desa tua itu — yang menolak ikut mengungsi ke hutan, yang bersikeras tinggal — pasti telah mengambil keputusannya sendiri. Surat dari Dirga, yang entah bagaimana sampai ke tangannya, atau koordinat yang ia dengar dari Arga lewat radio, ia bawa keluar lewat satu-satunya jalur yang tak diawasi musuh. Bukan jurang timur, yang sudah dipakai Arga. Mungkin lewat punggung bukit selatan, jalan yang hanya diketahui orang yang sudah seumur hidup tinggal di lembah itu. Berjalan kaki semalaman, menembus gelap dan dingin, dengan seorang pemuda di sampingnya, ke kecamatan yang berjarak satu hari perjalanan — yang mereka tempuh dalam separuh waktu karena nyawa seluruh desa dipertaruhkan.
"Pak Karto tak pernah cerita," kata Arga, suaranya tercekat. "Selama ini. Dia tak pernah sekali pun menyebut bahwa dialah yang memanggil truk itu."
"Orang seperti dia tak bercerita," kata Wira. "Dia cuma melakukan, lalu kembali ke ladangnya seakan tak terjadi apa-apa. Tapi kau tahu apa artinya ini, Arga?"
Arga tahu. Selama ini ia memikul rasa bersalah diam-diam — bahwa ia gagal misi, bahwa ia menyimpang dari perintah Dirga, bahwa bantuan datang karena keberuntungan dan bukan karena dirinya. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah ini: keputusannya tinggal melindungi desa, justru menyelamatkan orang yang kemudian menyelamatkan mereka semua. Pak Karto bisa berjalan ke kecamatan karena Arga membuatnya tetap hidup malam itu.
Garis itu, ternyata, melingkar utuh. Setiap orang menyelamatkan orang lain. Tak ada satu pahlawan tunggal. Hanya rantai orang-orang biasa yang menolak roboh.
Sore itu Arga kembali ke desa lebih awal dari rencana. Ia mencari Pak Karto, menemukannya di pinggir ladang yang mulai ditanami lagi, tongkat di tangan, memandang utara seperti kebiasaannya.
"Pak," kata Arga, suaranya berat. "Truk-truk itu, malam pos jatuh. Bapak yang memanggilnya. Bapak yang berjalan ke kecamatan."
Pak Karto tak menoleh untuk waktu yang lama. Lalu sudut matanya yang keriput berkerut, dan ia tersenyum tipis.
"Kakek tua tak bisa memegang senapan, Nak," katanya. "Tapi kaki kakek tua masih bisa berjalan. Itu saja yang bisa kakek lakukan malam itu. Berjalan, dan tak menengok ke belakang."
Jangan menengok ke belakang. Kata-kata Wira, dulu, pada Arga di mulut jurang. Arga merasa matanya panas.
"Terima kasih, Pak," katanya. "Untuk kaki tua Bapak."