Setahun penuh sejak damai ditandatangani, Arga mendaki ke puncak bukit sendirian.
Ia memilih hari ini dengan sengaja—pagi di mana, tiga tahun lalu, mortir pertama jatuh dan dunia di Pos Talun Sengit berakhir. Ia naik sebelum fajar, membawa tiga batang rokok kretek, sebungkus kopi, dan sekantong cabai dari kaleng-kaleng Wira. Hadiah-hadiah kecil yang konyol. Tapi ia tahu siapa yang akan menertawakannya kalau ia datang dengan bunga.
Tiga pusara berjajar menghadap lembah, di bawah pohon yang tumbuh entah sejak kapan, akarnya menahan tanah tempat sahabat-sahabatnya tidur. Rumput telah menutupinya hijau dan rapi—penduduk desa merawatnya bergantian, tak pernah dibiarkan rimbun. Tugu batu berdiri di tengah, tiga nama menghadap matahari yang baru naik.
Arga berlutut. Ia menancapkan sebatang rokok di tanah depan pusara Dirga, menyalakannya, membiarkan asapnya naik tipis ke udara pagi.
"Selamat pagi, Sersan," katanya. "Maaf aku baru mampir. Banyak yang harus dikerjakan. Kau akan suka—pos ini resmi sekarang. Logistik seminggu sekali. Antena yang langsung ke markas. Tak ada lagi yang harus menuruni jurang timur dengan dua magasin." Ia tersenyum getir. "Kau benar dulu. Aku membawa nyawa kita semua waktu aku turun. Aku cuma butuh tiga tahun untuk benar-benar memahaminya."
Ia pindah ke pusara Bayu, menaruh kopi. "Kopi yang layak, untuk sekali ini. Bukan buatan Tomas." Ia menoleh ke pusara di sebelahnya. "Jangan tersinggung, Tomas. Tapi kopimu memang racun." Tenggorokannya tercekat. "Aku merindukan racunmu. Aku merindukan tawamu yang konyol di tengah malam jaga. Anak-anak baru itu terlalu serius. Mereka butuh seseorang sepertimu. Kita semua butuh."
Untuk Tomas ia menaburkan cabai. "Wira yang menanamnya. Ia masih merawat kaleng-kaleng itu, bisa kau percaya? Tangannya tinggal separuh tapi ia tak pernah membiarkan satu pun layu. Katanya kalau cabainya hidup, berarti kita semua belum kalah."
Lalu ia diam, lama, duduk di rumput di antara tiga sahabatnya sementara matahari naik penuh ke atas lembah. Asap rokok menipis. Kabut pagi terangkat dari sawah di bawah. Ia mendengar, samar, lonceng sekolah berbunyi—anak-anak masuk kelas.
Tiga tahun ia memikul ini. Wajah-wajah mereka di reruntuhan pos: Bayu bersandar dinding, senapan di pangkuan. Tomas menggenggam granat yang tak sempat dilempar. Dirga telentang dengan pistol kosong. Ia memimpikannya berbulan-bulan, terbangun berkeringat, merasa ia seharusnya ada di sana, seharusnya mati bersama mereka.
Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, ia tak merasa bersalah karena hidup.
"Aku mengerti sekarang," katanya pelan pada tiga pusara itu. "Kenapa Dirga menyuruhku pergi. Bukan supaya satu orang selamat. Supaya ada yang tinggal untuk menceritakan kalian. Supaya ada yang menjaga apa yang kalian bayar dengan nyawa. Kalau kalian semua tinggal dan bertempur sampai mati, siapa yang akan membangun sekolah itu? Siapa yang akan mengajari anak-anak baru cara menunggu? Siapa yang akan datang ke sini tiap tahun dan bilang—" suaranya pecah, lalu pulih— "dan bilang terima kasih?"
Ia berdiri, menepuk tanah dari lututnya. Angin turun dari pegunungan biru, dingin dan bersih, dan ia bisa bersumpah ia merasakan sesuatu di dalamnya—bukan hantu, tak ada yang sekosmik itu—hanya kelegaan, seperti tangan yang akhirnya melepaskan beban yang terlalu lama digenggam.
"Tidurlah," katanya pada tiga sahabatnya. "Garisnya dijaga. Aku berdiri di sini sekarang. Dan aku tak akan jatuh."
Ia menghormat—hormat penuh, kaku, sempurna, hormat yang tak pernah benar-benar bisa ia berikan di hari pemakaman karena dukanya terlalu mentah—lalu turun ke lembah, ke desa yang hidup, ke garis yang menunggu untuk dijaga.