Pukul nol enam waktu stasiun, lampu koridor menyala perlahan dari merah redup ke putih dingin, meniru fajar yang sebenarnya tidak pernah benar-benar tiba di sini. Arka membuka mata di kabin sempitnya, menatap langit-langit logam yang sudah dihafalnya sekrup demi sekrup. Di luar jendela bundar, Bumi menggantung seperti kelereng biru yang retak oleh awan—indah, diam, dan terlalu jauh untuk disentuh.
"Selamat pagi, Arka," suara AIDA mengalir lembut dari pengeras suara di sudut kabin. "Detak jantungmu enam puluh dua. Tidur yang lebih nyenyak dari biasanya. Mimpi indah?"
"Aku tidak mimpi apa-apa," gumam Arka, mengusap wajah. "Itu bagus, kan?"
"Tergantung," jawab AIDA. "Manusia yang tidak bermimpi biasanya terlalu lelah atau terlalu kosong. Aku berharap kau yang pertama."
Arka tersenyum tipis. Sembilan tahun ia di Stasiun Orbit Nawasena, dan suara itulah satu-satunya yang menyapanya setiap pagi. Stasiun ini dirancang untuk dua belas teknisi. Sekarang hanya ada satu—dirinya—dan ribuan ton logam, panel surya, serta antena yang setia memutari Bumi setiap sembilan puluh menit.
Ia menjalani rutinitasnya seperti ritual. Memeriksa tekanan modul, membersihkan filter udara dari serpihan debu mikro, mengetuk dua kali pipa pendingin di Modul C yang selalu mendengung sumbang. AIDA membacakan daftar tugas dengan nada datar yang sebenarnya menenangkan. Sarapan pasta nutrisi rasa entah-apa. Lalu duduk lama di kubah observasi, menatap garis siang dan malam yang merayap di permukaan planet.
"AIDA," kata Arka suatu kali, seperti yang sering ia tanyakan, "kapan kapal pasokan berikutnya datang?"
Hening sebentar. AIDA selalu hening sebentar di pertanyaan itu.
"Jadwal terakhir yang tercatat adalah empat tahun lalu," jawabnya akhirnya. "Tidak ada jadwal baru yang diterima sejak itu."
Empat tahun. Arka sudah berhenti menghitung sejak lama. Cadangan stasiun dirancang untuk bertahan puluhan tahun—daur ulang air, kebun hidroponik mungil di Modul E, reaktor yang masih menyala stabil. Ia tidak akan kelaparan. Ia hanya akan sendirian.
Dan ia tahu betul cara membedakan angka-angka yang menumpuk dalam kesendiriannya, karena masing-masing punya luka sendiri. Sembilan tahun lamanya ia bertugas di sini—itu hitungan penugasannya, sejak ia pertama kali merapat ke Nawasena sebagai teknisi muda. Empat tahun lalu kapal pasokan terakhir datang dan tak pernah ada lagi sesudahnya—itu hitungan keterputusannya dari logistik Bumi. Tapi suara dari Bumi sendiri tidak mati empat tahun lalu. Ia mulai meredup jauh lebih awal, sekitar tahun kelima penugasan Arka—pelan, bertahap, satu kanal demi satu kanal—dan baru benar-benar bisu beberapa waktu setelah pasokan terakhir berhenti. Arka pernah keliru menyamakan ketiganya menjadi satu kesedihan yang sama, sampai AIDA dengan sabar mengurai garis waktunya: penugasan, pasokan, dan keheningan adalah tiga jam pasir yang berbeda, mengalir dengan kecepatan masing-masing.
Dulu ada radio. Suara-suara dari Pusat Kendali di Bumi, instruksi, gurauan, kabar keluarga. Lalu satu per satu kanal mati. Bukan tiba-tiba seperti ledakan, melainkan perlahan seperti lilin yang kehabisan sumbu. Stasiun riset lain berhenti membalas. Satelit komunikasi berhenti merespons. Dan suara dari Bumi—suara manusia—menghilang begitu saja, tanpa perpisahan.
Itu sebabnya Arka tetap di sini. Bukan karena ada yang menyuruhnya. Pusat Kendali yang menugaskannya sudah lama bisu. Ia tetap karena seseorang harus menjaga lampu tetap menyala. Karena jika suatu hari nanti ada yang memanggil, harus ada yang mengangkat.
"Kau tahu kenapa aku tidak pulang saja dengan kapsul darurat?" tanya Arka, menyandarkan dahi ke kaca dingin kubah.
"Karena kau tidak tahu apa yang menunggu di bawah sana," jawab AIDA. "Dan ketidaktahuan itu lebih bisa kau tanggung daripada kepastian yang buruk."
Arka tidak menjawab. AIDA benar, seperti biasa.
Di bawah sana, di benua-benua yang kini tertutup awan dan kelam, dulu ada delapan miliar manusia. Kota-kota yang bercahaya di malam hari seperti rasi bintang yang tumpah. Sekarang, setiap kali stasiun melintasi sisi gelap Bumi, Arka mencari titik-titik cahaya itu. Dan setiap kali, ia menemukan lebih sedikit. Kini, hampir tidak ada sama sekali.
"AIDA, apakah menurutmu mereka masih ada di bawah sana?"
"Aku tidak punya data yang cukup untuk menjawab itu," kata AIDA pelan. "Tapi aku punya kau di sini. Dan selama kau di sini, aku tidak akan menyebut tempat ini kosong."
Arka memejamkan mata. Stasiun bergetar halus, suara abadi yang dulu mengganggunya dan kini menjadi pengantar tidur. Hari berganti malam, malam berganti hari, sembilan puluh menit sekali, terus-menerus, seolah waktu sendiri telah lupa cara berhenti.
Ia melayang kembali ke pos kerjanya, jari-jarinya menari di atas panel yang sudah hafal sentuhannya. Sebuah keberadaan yang berulang sempurna, hari demi hari, hingga ia hampir lupa bahwa keberadaan bisa diganggu oleh sesuatu yang baru.
Hampir.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Bumi membisu, Arka tidak tahu bahwa keheningan panjangnya akan segera retak.