Tiba-tiba tas Naya jatuh ke lantai membuat keduanya langsung menoleh, detik kemudian Reza menegang melihat Naya sudah berlinang air mata.
"Naya,"
Naya langsung tersadar ia segera mengambil kembali tasnya dan menghapus air matanya, ia mengalihkan pandangannya sekilas lalu berusaha berekspresi sedatar mungkin.
Dengan kekuatan yang ia miliki, ia melangkah mendekati meja Reza, lalu perlahan ia meletakkan paper bag berisi makanan tersebut ke hadapan Reza. Sedangkan Reza ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya tersebut.
"Jangan lupa makan siang, sehat selalu,"
ucap Naya sekuat hatinya, tapi matanya tidak bisa berbohong terus saja
membendung air mata.
Reza tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang, antara kasihan, sedih dan merasa bersalah, bahkan bibirnya sulit untuk mengeluarkan satu katapun. Naya yang melihat Reza hanya diam, langsung berbalik dan kembali berjalan keluar ruangan karena air matanya benar-benar sudah tidak bisa di ajak kompromi.
"Za, kamu kenapa?" tanya Nova yang merupakan sekretaris pribadi beberapa hari yang lalu. Reza langsung tersadar, ia langsung bangkit dan berlari keluar ruangannya. Ia melihat lift hendak tertutup, secepat mungkin Reza
manahan lift itu lalu ia masuk.
Naya yang melihat itu buru-buru menghapus airmatanya dan menekan lantai bawah, tapi Reza malah membatalkan itu dan menekan
lantai terakhir, tepatnya ia ingin membawa Naya ke atap.
"Kakak ngapain disini? Pergilah," ucap Naya dengan nada yang begitu dingin. Reza tidak menjawab, begitu sampai atap Reza membawa Naya keluar.
Naya hanya diam, ia tidak ingin bertanya apa-apa karena sekarang menurutnya diam adalah senjata paling ampuh untuk hatinya yang sudah terlanjur hancur.
"Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu bayangkan, Nay," ucap Reza membuat Naya mengangguk.
"Aku tidak membayangkan apa-apa," jawab Naya datar sambil memandangi pemandangan di atas atap.
"Siapa yang menyuruh kamu kesini?" tanya Reza membuat Naya langsung tersenyum kecut.
"Maaf jika kehadiranku mengganggu, itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya," jawab Naya tanpa embel atau semacamnya membuat Reza merasa Serba salah.
"Bukan itu maksudku Naya,siapa yang memberikan alamat kantor ini untukmu dan siapa yang menyuruhmu kesini?" tanya Reza lagi.
"Sudahlah, tidak perlu di perpanjang, semuanya akan baik-baik saja tinggal jujur jika kamu sudah tidak menginginkan kehadiranku, maka aku akan sadar diri dan pergi sendiri," jawab Naya dengan santai tapi mampu membuat hati Reza ngilu.
"Aku pamit, jangan lupa makan," ucap Naya hendak berbalik namun Reza terlebih dahulu menahan tangan Naya dan menarik gadis itu ke pelukannya.
Naya yang merasakan itu hanya diam seperti patung, tidak ada ekspresi atau semacamnya baginya semuanya sudah hancur.
"Kamu percaya kan samaku?" tanya Reza, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Naya, Reza langsung melonggarkan pelukannya lalu ia mencium gadis itu.
Naya hanya terus diam, tapi air matanya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Reza yang melihat Naya menangis langsung melepaskan ciumannya.
"Aku pergi dulu," ucap Naya datar lalu ia berbalik meninggalkan Reza. Reza yang
melihat itu tidak tinggal diam, ia berlari mengejar Naya.
"Aku antar pulang," ucap Reza membuat Naya langsung berhenti lalu menggeleng.
"Tidak usah, lanjut kerja aja nanti perusahaan ini mengalami kerugian besar jika kamu lalai,"
Sindiran pedas itu membuat Reza seperti di sengat listrik, sedangkan Naya langsung masuk ke dalam lift dan pulang. Sadar dengan kepergian Naya, Reza buru-buru turun lalu menanyakan karyawannya terkait Naya.
"Kamu lihat gadis yang baru saja keluar?" tanya Reza.
"Oh pengantar makanan itu Pak,"
"Pengantar makanan?" tanya Reza bingung.
"Iya tadi ada yang menelpon katanya sebentar lagi akan ada pengantar makanan untuk Pak Reza," jawab karyawan tersebut membuat Reza bingung.
Disisi lain, Naya sampai di rumah, begitu ia sampai mertuanya langsung menyambutnya di pintu.
"Bagaimana Nay, Reza suka sama masakan kamu?" tanya Neni dengan muka palsunya, padahal sudah jelas ia melihat wajah menantunya itu terlihat murung.
"Suka Ma, terima kasih banyak udah membolehkan Naya ke sana," lanjut Naya lalu ia masuk ke dalam. Neni dan Sarah berusaha menahan tawa melihat ekspresi Naya.
"Mama yakin dengan cara ini kita bisa memisahkan mereka berdua?" tanya Sarah.
"Yakin, karena mengadu domba mereka tiap hati pun tidak ada hasilnya, lihat saja ini Mama yakin babu itu tidak akan kuat," ucap Neni dengan ide liciknya membuat Sarah mangut-mangut.
Di kantor, Reza terus kepikiran Naya bahkan ia tidak bisa fokus dengan kerjaannya.
"Kenapa sih Za? Buat apa mikirin gadis itu, padahal dia sendiri selalu buat ulah di rumah, masa dengan kesalahan kecil dan sepele harus kepikiran sampe segininya," gumam Reza berusaha fokus, namun hasilnya nihil.
Sore hari ia langsung mengemas semua berkasnya dan memilih membawanya pulang, walaupun malam ini harusnya ia lembur.
Sekitar satu jam menempuh perjalanan akhirnya Reza sampai di halaman rumah, Neni danSarah yang melihat Reza pulang
langsung pura-pura bersih-bersih.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, eh anak mama udah balik, tumben gak lembur?"
"Iya Ma, lagi pengen balik cepat aja," jawab Reza sambil memperhatikan Ibunya yang sedang menyapu.
"Naya mana Ma, dia gak gabung?" tanya Reza membuat Neni langsung memasang wajah polosnya.
"Mungkin di kamar, tadi begitu pulang dari kantor kamu, Mama lihat dia murung jadi ya udahlah Mama biarin aja mungkin capek," jawab Neni padahal Naya baru saja masuk ke kamar setelah selesai membersihkan dapur, ia masuk kamar karena ingin menunaikan sholat. Reza terdengar menghela nafas, lalu mengangguk.
"Maafin Naya ya Ma," ucap Reza, tanpa mereka sadari Naya mendengar obrolan itu, Naya hanya bisa menahan sesak di
dadanya.
Terdengar pintu kamar di buka, Naya yang melihat itu buru-buru menyelesaikan pekerjaannya melipat baju lalu ia memasukkannya dalam keranjang.
"Mau kemana?" tanya Reza saat melihat Naya berjalan ke arah pintu.
Naya tidak menggubris perkataan Reza, melihat itu Reza langsung kesal lalu menarik tangan Naya membuat sang empu hampir terjungkal ke belakang, beruntung Reza menangkap tubuhnya.
"Kamu kalo di bilangin suami jawab Nay," lanjut Reza, Naya langsung membuang pandangannya.
"Buat apa aku jawab, toh Kakak gak bakalan percaya juga apa yang aku katakan, yang Kakak tahu setiap hari aku yang salah, aku yang malas, aku yang cuma bersenang- senang, iya kan?" ntah keberanian dari mana kali ini Naya membalikkan semua omongan Reza.
"Tutup mulut kamu Naya,kamu memang salah selalu membiarkan keluargaku kerja sendiri," tegas Reza membuat Naya langsung geleng-geleng.
"Kalo salah buat apa Kakak tanya lagi, tetap aja jawabnya salah 'kan?" lanjut Naya membuat Reza tidak percaya gadis yang selalu diam ketika ia marahin, kali ini malah menjawab.
"Percuma Kak, apapun yang aku lakuin dimata kamu tetaplah salah, aku memang beban iya kan?" suara Naya tiba-tiba bergetar menahan tangis membuat Reza langsung membuang pandangannya.
"Hapus air matamu aku tidak suka, kamu selalu berdalih dengan air mata untuk menutupi sifatmu," lagi-lagi ucapan Reza membuat hati Naya terus sakit.
"Baik, jika itu yang Kakak inginkan, aku sebenarnya tidak ingin ada perpisahan tapi karena rumah tangga kita sangat sulit, tidak ada kepercayaan dan tidak ada kemandirian-"
"Tidak ada kemandirian maksud kamu apa?" tanya Reza dengan tatapan tidak suka.
"Ingat Kak, aku dan Ibu adalah dua orang yang berbeda, jika kita terus seperti ini tidak misah dari keluarga sama saja itu tidak mandiri," tegas Naya.
"Jadi kamu mau ngatur aku gitu? Kamu mau nyuruh aku jauh dari keluargaku?" cecar Reza membuat Naya tersenyum kecut mendengar itu.
"Terserah Kak, satu hal yang perlu Kakak tahu aku manusia yang punya batas kesabaran, selama ini aku diam karena tidak ingin ada keributan, tapi kali ini maaf Kak hatiku sudah terlalu sakit," lanjut Naya lalu ia menghempaskan tangan Reza meninggalkannya sendirian di kamar.
Ternyata Neni dan Sarah mendengarkan perdebatan pasangan suami isteri tersebut, melihat Naya keluar dari kamar Neni langsung memberik kode pada Sarah untuk membuatkan minum.
"Nak, boleh Ibu masuk," panggil Neni, Reza yang sedang menenangkan pikirannya langsung menoleh ke arah pintu.
"Masuk aja Bu," Neni masuk, lalu duduk di dekat Reza. Ia mengusap-usap pundak anaknya, tidak lama kemudian Sarah datang membawakan minum pada Reza. Dari kejauhan ternyata Naya melihat itu, ia tidak tahu harus bagaimana, sewaktu Ayah mertuanya masih hidup. Hanya itu yang membelanya dan memberi kekuatan untuknya.
"Kamu yang sabar sabar ya Nak, Ibu tahu kok kamu gak bahagia dengan pernikahan pilihan Ayahmu ini," ucap Neni memulai percakapan.
"Sebenarnya aku pribadi kasihan sama Abang yang terus ngalah sama Kak Naya yang keras kepala dan suka bikin drama, cuma mau gimana lagi udah takdirnya," sambung Sarah mengompor-ngompori Reza. Sedangkan Reza hanya seperti orang bodoh mendengarkan ucapan Ibu dan adiknya tersebut.
"O iya bagaimana sekretaris baru kamu? Apa dia baik?" tanya Neni, ya Neni lah yang memilihkan sekretaris untuk Reza, ia sengaja memilih sekretaris yang cantik dan seksi supaya anaknya tergoda.
"Baik Ma," jawab Reza datar.
"Baru kali ini loh kamu muji perempuan, selamat pernikahan kamu sama Naya aja, kamu gak pernah muji dia berarti emang bukan yang terbaik sih," lanjut Neni membuat Reza menghela nafas panjang.
Disisi lain, Naya meremas gamisnya menahan tangis.
'Kenapa harus aku ya Allah, kenapa seperti ini? Aku tahu engkau sangat benci dengan perceraian dan perpecahan tapi jujur aku sudah tidak kuat, aku takut suatu saat aku mati sia-sia karena terus di fitnah setiap hari,'
ucap Naya dalam hati.
Malam hari, setelah selesai sholat isya, Naya merasa kepalanya sangat pusing, ia langsung memilih untuk istirahat karena terlalu capek memikirkan drama keluarganya setiap hari.
Reza masuk ke dalam kamar, detik kemudian ia tersenyum miring melihat Naya sudah meringkuk kedinginan.
"Dasar pemalas, liat aja kamu akan menyesal," umpat Reza pelan lalu ia merebahkan tubuhnya di ranjang, sesekali ia melirik ke arah Naya.
Tidak berselang lama Reza merasa aneh dengan naya tiba-tiba badan gadis itu
menggigil tidak karuan. Reza turun dari ranjang lalu mendekati Naya.
"Naya," panggil Reza sambil menggoyangkan tangan Naya, namun hasilnya nihil Naya tidak
bangun. Reza menempelkan tangannya di kening Naya. Detik kemudian ia kaget merasakan bada gadis itu sangat panas, tanpa membuang waktu Reza langsung membopong Naya ke ranjang.
Reza keluar dari kamar berniat mengambil kompres. Begitu ia sampai dapur ia melihat Mamanya sedang membuat teh manis.
"Nyari apa Za?" tanya Neni.
"Mau buat kompres sama Naya, dia demam," jawab Reza membuat Neni langsung memutar mata malas.
"Itumah bukan demam, itu cuma akting karena kamu cuekin dia," ucap Neni membuat Reza diam sejenak mencerna ucapan Ibunya tersebut.
"Iya juga sih Ma, tapi biarin lah setidaknya di obati," lanjut Reza membuat Neni langsung muak.
"Ini nih sikap kami yang terlalu baik membuatnya ngelunjak setiap hari, di depan kamu dia manja begitu kamu pergi kerja dia bersenang-senang sendiri di kamar kalian, menantu tak tau di untung!" ujar Neni membuat Reza menghela nafas.
"Sudahlah Ma, udah malam gak enak di dengar tetangga, aku akan coba nasehati Naya," ucap Reza tenang membuat Neni langsung meninggalkannya sendirian di dapur.