Dalam tujuh hari berikutnya, tiga anak lagi menghilang.
Setiap kali, polanya sama. Tak ada jeritan, tak ada bekas perkelahian, tak ada darah. Hanya seorang anak yang sedang bermain atau menggembala di dekat batas, lalu kabut merayap turun lebih rendah dari biasanya, dan ketika kabut surut, anak itu sudah tiada. Yang tersisa hanya benda-benda kecil di garis batu merah: sebuah gasing kayu, seuntai gelang manik, sepasang sandal.
Desa Sumur Kayu yang dahulu hidup dengan suara tawa anak-anak kini sunyi mencekam. Para ibu tak lagi membiarkan anak mereka keluar rumah. Pintu-pintu ditutup rapat sejak matahari condong ke barat. Dan kabut—Maya memperhatikannya dengan cermat—kabut itu memang berbeda sekarang. Ia bergerak seperti makhluk hidup, merayap, mengendus, mencari.
Maya menghabiskan malam-malamnya mendengarkan. Ia tahu itu berbahaya, tetapi ia tak bisa berhenti. Setiap malam ia duduk di bawah pohon asam, menempelkan tangan ke akarnya, dan membiarkan bisikan datang.
Yang ia dengar membuat darahnya membeku.
Pepohonan di Hutan Kabut tidak menelan anak-anak itu. Mereka menyaksikannya. Dan mereka takut. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ada sesuatu di kedalaman hutan yang bangun dari tidurnya, sesuatu yang bahkan ditakuti oleh pohon-pohon tertua. Bisikan mereka penuh kepanikan, samar, terputus-putus, seakan ada kabut yang juga menyelimuti suara mereka sendiri.
*Ia bangun,* getar mereka. *Yang Tertidur sudah bangun. Dan ia haus.*
"Siapa Yang Tertidur?" tanya Maya berkali-kali. Tetapi pohon-pohon tak pernah menjawab. Setiap kali ia bertanya, bisikan mereka surut, seakan nama itu sendiri terlalu berbahaya untuk diucapkan.
Suatu malam, Maya memberanikan diri. Ia mendatangi Nenek Larasati yang sedang merebus air di tungku.
"Nek," katanya, suaranya berbisik. "Nenek bilang waktu itu, jangan dengarkan hutan. Bagaimana Nenek tahu aku bisa mendengar?"
Tangan tua itu berhenti mengaduk. Untuk waktu yang lama, hanya ada suara kayu bakar yang berderak.
"Karena ibumu juga bisa," kata Nenek Larasati akhirnya, sangat pelan. "Dan ibunya ibumu. Dan ibunya lagi. Itu mengalir dalam darah kita, Maya. Sejak sebelum desa ini berdiri."
Maya merasa lantai tanah seolah bergeser di bawah kakinya. "Tapi—tapi sihir adalah dosa. Kalau orang tahu—"
"Itulah sebabnya kita diam," potong nenek itu, dan untuk pertama kalinya Maya melihat air mata di mata kelabunya. "Itulah sebabnya leluhur kita bersembunyi di sini, di desa yang paling takut sihir, di tempat yang tak akan pernah dicurigai. Kita bukan penyihir, Nak. Kita penjaga. Tapi orang-orang ini tidak akan pernah mengerti bedanya."
"Penjaga apa?"
Nenek Larasati menatapnya, dan dalam tatapan itu ada beban ratusan tahun.
"Penjaga gerbang," katanya. "Tapi gerbang itu sudah retak. Dan aku terlalu tua untuk menahannya lagi sendirian."
Sebelum Maya sempat bertanya lebih jauh, terdengar ketukan keras di pintu. Suara Kaba, terengah.
"Maya! Nenek Larasati! Cepat ke alun-alun! Pak Lurah mengumpulkan semua orang. Mereka—" suaranya tercekat. "Mereka bilang sudah menemukan siapa penyebab semua ini. Mereka bilang ada penyihir di antara kita."
Maya dan neneknya bertukar pandang. Dan dalam pandangan itu, mereka berdua tahu—rahasia yang dijaga selama berabad-abad mungkin akan terbongkar malam ini.