Persembunyian mereka kali ini adalah gubuk pengering tembakau di tepi ladang utara, tempat yang sudah lama ditinggalkan sejak kemarau membakar panen. Bau daun kering dan tanah retak menempel di dinding bambu. Maya duduk di lantai papan yang dingin, menatap kalung batu hijau di telapak tangannya yang kini ia balut kain agar kelip kabut di jari-jarinya tidak terlihat oleh siapa pun.
Nenek Larasati datang membawa sebuah kotak kayu yang dulu Maya kira hanya tempat menyimpan jarum dan benang. Tongkat tua itu mengetuk papan pelan-pelan. Mata kelabu Nenek menatap kotak itu lebih lama daripada menatap cucunya.
"Sudah waktunya kau melihat ini," kata Nenek. Suaranya bergetar seperti ranting tua tertiup angin. "Aku menunggu sampai kau cukup kuat untuk tidak hancur olehnya. Mungkin aku menunggu terlalu lama."
Di dalam kotak, di bawah segulung benang dan sebilah pisau lipat berkarat, ada lipatan kain belacu yang menyimpan selembar kertas. Kertas itu sudah menguning, sudutnya digerogoti ngengat. Tulisan tangan di atasnya halus, miring ke kanan, dengan huruf-huruf yang gemetar di bagian akhir seolah ditulis oleh tangan yang kelelahan.
Maya mengenali tulisan itu sebelum membaca satu kata pun. Ia pernah melihatnya di balik bingkai cermin tua, di pinggir buku resep, di nama yang terjahit pada saputangan yang selalu Nenek simpan. Tulisan ibunya.
"Ia menulisnya untukmu," kata Nenek. "Tapi tak pernah sempat mengirimnya. Ia menulisnya di malam terakhir sebelum ia masuk ke hutan."
Maya tidak segera menyentuh kertas itu. Tangannya yang terbalut kain gemetar di atasnya, seakan kertas tua itu menyimpan api yang bisa membakar bila dipegang terlalu cepat. Di luar gubuk, angin sore menggesek-gesek batang tembakau mati, dan suara itu terdengar seperti bisikan yang tak bisa ia tangkap. Akhirnya ia mengangkat kertas itu dengan kedua tangan, sehati-hati orang mengangkat anak burung yang jatuh dari sarang.
Tangan Maya mendingin. *Untuk anakku, bila kau membaca ini, berarti aku telah gagal.* Begitu bunyi baris pertama, dan dada Maya langsung terasa diremas. Ia memaksa matanya terus turun, kata demi kata, sementara cahaya senja yang masuk lewat celah bambu memerah perlahan.
Surat itu bercerita tentang seorang perempuan muda yang juga mendengar bisikan pepohonan, yang juga menerima kalung dari tangan Nenek Larasati, yang juga melangkahi garis batu kapur merah dengan dada penuh harapan bahwa ia bisa menyelamatkan desa yang membenci darahnya. Ibunya menulis tentang lubuk Pohon Raksasa, tentang Penjaga yang waktu itu masih lebih kokoh, tentang jantung hutan yang ia lihat dari kejauhan.
Lalu surat itu bercerita tentang sebuah nama. *Mereka akan membisikkan sebuah nama tua kepadamu lewat kalung,* tulis ibunya. *Nama itu akan terasa seperti milikmu sendiri. Hati-hati, anakku. Nama itu bukan hadiah. Nama itu adalah jerat.*
Maya berhenti membaca. Kerongkongannya kering. Di luar, seekor burung malam memanggil sekali, lalu sunyi.
"Kau tahu nama itu," kata Maya pelan, mengangkat wajah ke arah Nenek. "Sejak awal kau tahu. Kau menyembunyikannya dariku."
Nenek Larasati tidak menyangkal. Ia hanya menundukkan kepala, dan untuk pertama kalinya sepanjang hidup Maya, ia melihat perempuan tua itu tampak benar-benar kecil. "Aku menyembunyikannya karena ibumu menyuruhku begitu. Ia bilang, kalau Maya tahu terlalu cepat, ia akan berjalan ke arah yang sama. Ke arah yang membunuh ibunya."
Maya kembali menatap surat itu. Di bagian bawah, tulisan ibunya semakin gemetar, hampir tak terbaca. *Pewaris bisa memilih,* begitu bunyinya. *Aku baru mengerti terlambat. Ada dua jalan, dan keduanya menelan. Menjadi segel—dan lenyap selamanya menjaga mereka yang tak pernah mencintaimu. Atau memutus garis—membiarkan kalung mati di tanganmu, tak mewariskannya pada siapa pun, sehingga darah penjaga berhenti, dan tak ada lagi anak perempuan yang dipanggil hutan sesudahmu.*
*Aku tak sanggup memilih keduanya. Maka aku berlari ke jantung, berpikir aku bisa menemukan jalan ketiga. Tak ada jalan ketiga, anakku. Hanya ada hutan yang lapar dan tubuh yang habis. Maafkan aku karena meninggalkanmu. Maafkan aku karena darah ini.*
Surat itu berakhir di situ. Tidak ada salam penutup, tidak ada tanda tangan. Hanya noda samar di sudut kertas, yang bisa jadi air, bisa jadi air mata, bisa jadi embun kabut yang sudah lama mengering.
Maya melipat surat itu dengan tangan yang bergetar. Untuk waktu yang lama ia tidak bisa bicara. Ia memikirkan ibunya yang berjalan sendirian di antara pohon-pohon, menyimpan harapan yang sama persis dengan harapannya sekarang, dan kalah. Ia memikirkan dirinya sendiri yang sudah kehilangan kelip-kelip kabut di ujung jari, yang tubuhnya pelan-pelan dipinjam hutan.
"Jadi ibuku tidak mati dibakar desa," kata Maya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Ia mati di sana. Mencoba apa yang sekarang aku coba."
"Ia tidak benar-benar mati," ralat Nenek, dan ada sesuatu yang patah di suaranya. "Kabut tidak mengembalikan apa yang ia ambil. Tapi ia juga tidak melupakannya. Itulah yang paling kutakuti, Maya. Bahwa suatu hari, di antara makhluk-makhluk kabut itu, kau akan menemukan wajah yang kaukenal."
Di luar gubuk, kabut sudah naik setinggi lutut, merayap di antara batang-batang tembakau yang mati. Maya menggenggam surat ibunya di satu tangan dan kalung di tangan lain, dan untuk pertama kalinya ia merasakan kedua benda itu sama-sama hangat—seakan dua tangan dari dua zaman saling mencari di dalam genggamannya. Ia tidak tahu apakah itu janji atau peringatan. Ia hanya tahu bahwa ibunya pernah memegang kalung yang sama, dan kalung itu masih mengingat sentuhannya.