Pagi datang dengan ketegangan yang tak kasatmata, menggantung di udara seperti kabut yang belum turun. Maya menyampaikan kepada yang lain bahwa rombongan inti akan berangkat ke jantung lewat jalan rahasia—jalan yang ditunjukkan ingatan kalung, yang tak melewati lubuk Penjaga yang kini kosong dan sunyi. Tetapi ia tidak menyampaikan apa yang dikatakan Nenek semalam tentang simpul terakhir dan satu nyawa penuh. Ia menyimpannya seperti bara dalam genggaman telanjang: terlalu panas untuk dipegang, terlalu penting untuk dijatuhkan, membakar telapaknya diam-diam.
Kaba menangkapnya sendirian di belakang rumah, di bawah pohon asam tua tempat semua ini bermula dulu, tempat Maya pertama kali ketahuan bicara pada pohon.
"Kau menyembunyikan sesuatu," katanya. Bukan pertanyaan. Kaba sudah terlalu lama jadi jangkar Maya untuk tidak merasakan ketika beratnya berubah, ketika ada beban baru yang ia panggul sendirian.
Maya hampir saja tidak menceritakannya, hampir saja menelan kata-kata itu. Tetapi ia teringat ajaran Nenek sendiri—bahwa berbohong pada orang yang menggadaikan nyawanya adalah dosa yang lebih besar daripada sihir mana pun—dan Kaba telah menggadaikan nyawanya untuk Maya berkali-kali, di lubuk, di tepi cahaya, di alun-alun semalam. Maka ia menceritakan semuanya, pelan, di bawah daun-daun asam yang berdesir. Harga simpul terakhir. Satu jiwa penuh, bulat, tak terbagi. Tawaran Nenek untuk menjadi jiwa itu.
Kaba diam lama, rahangnya mengeras. Lalu, pelan: "Dan kau menolaknya."
"Tentu aku menolaknya. Bagaimana mungkin aku tidak menolaknya?"
"Lalu siapa yang akan jadi simpul terakhir, Maya?" Suara Kaba tidak menuduh, tidak marah. Justru kelembutannya yang menyakitkan, karena itu berarti ia sudah memikirkan jalan buntu yang sama. "Kalau bukan Nenek. Kalau bukan kau. Siapa? Mbok Inah bukan darah penjaga. Para penambat bukan. Sembada bukan. Hukum kabut cuma menerima darah penjaga. Dan di seluruh dunia ini, darah penjaga yang tersisa cuma dua: seorang gadis tujuh belas tahun, dan seorang perempuan tujuh puluh tahun."
Maya tidak menjawab, karena ia tidak punya jawaban, dan keduanya tahu itu dengan pahit. Cara ketiga yang ia banggakan di depan seluruh desa—rantai penambat—hanya menyelesaikan setengah persoalan, mungkin kurang. Ia bisa membawa para penambat ke jantung, membagi harga membebaskan napas anak-anak satu per satu, menahan Yang Tertidur dengan nyanyian para ibu. Tetapi pada simpul terakhir, ketika segel harus dijahit utuh untuk tujuh generasi ke depan, hukum kabut yang lebih tua dari segalanya akan menuntut satu jiwa penjaga yang melebur seutuhnya. Dan rantai, betapapun banyak tangannya, tak bisa membayar simpul itu.
"Aku akan menemukan jalan ketiga di balik jalan ketiga," kata Maya akhirnya, suaranya keras kepala, hampir putus asa. "Bait terakhir nyanyian masih hilang, Kaba. Mungkin justru di sanalah jawabannya. Mungkin ada cara menjahit simpul tanpa membayar satu nyawa penuh, cara yang dilupakan para ibu bersama bait itu. Aku tidak akan menerima bahwa pilihannya cuma aku atau Nenek. Aku tidak akan."
Kaba menatapnya dengan campuran cinta dan keputusasaan yang tak terucapkan, sesuatu yang terlalu besar untuk kata. "Dan kalau ternyata tidak ada jalan itu? Kalau di hadapan Yang Tertidur, dengan anak-anak yang napasnya tinggal sehelai, pilihannya benar-benar cuma kau atau Nenek?"
"Maka aku yang pergi," kata Maya tanpa ragu sedikit pun, menatap mata Kaba lurus. "Bukan Nenek. Tidak akan pernah Nenek. Ia sudah memberi seluruh hidupnya untuk membesarkanku. Aku tidak akan membiarkan hal terakhir yang ia berikan adalah kematian menggantikan aku."
Kaba mengangguk pelan, dan dalam anggukan itu Maya tahu ia baru saja membuat Kaba berjanji pada sesuatu yang mungkin menghancurkannya kelak: berjanji untuk membantu Maya pergi, kalau saatnya benar-benar tiba.
Mereka tidak tahu bahwa di dalam rumah, di balik dinding bambu yang tipis, Nenek Larasati telah mendengar setiap kata yang mereka ucapkan di bawah pohon asam.
Malam sebelum keberangkatan, Nenek menyiapkan sebuah bungkusan kecil yang tak ditunjukkannya pada siapa pun, dibungkusnya dengan kain dan disembunyikan di balik kain selendangnya. Ia membalut tubuh tuanya dengan kain hangat berlapis-lapis, seperti orang bersiap untuk perjalanan jauh yang dingin. Ia menulis sesuatu di selembar daun lontar dengan tangan gemetar—surat untuk Maya—yang ia selipkan jauh di dasar bungkusan, agar tidak ditemukan terlalu cepat, agar baru terbaca ketika sudah terlambat untuk dicegah. Lalu ia duduk di dekat tungku sampai larut, menatap api, sesekali tersenyum tipis pada bayangan masa lalu yang hanya bisa ia lihat—wajah ibu Maya, wajah ibunya sendiri, semua perempuan dari garis yang sama.
Maya menemukannya di sana menjelang tengah malam dan duduk di sebelahnya tanpa bicara. Mereka menonton bara bersama, nenek dan cucu, untuk apa yang Maya kira adalah salah satu dari banyak malam tenang yang masih akan mereka miliki bersama.
Nenek Larasati meraih tangan Maya—tangan kanan yang masih utuh—dan menggenggamnya erat, lebih erat dari biasanya. "Apa pun yang terjadi di jantung nanti," katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam derak tungku, "kau sudah jadi penjaga yang lebih baik dari kami semua, Nak. Lebih baik dari aku, lebih baik dari ibumu, lebih baik dari semua leluhur yang kesepian itu. Kau membuat desa berdiri. Kami tidak pernah bisa melakukan itu dalam tujuh generasi. Kami hanya bisa menanggung sendiri dan berharap tidak terlihat, mati sendiri di tepi hutan tanpa ada yang tahu."
"Nenek bicara seperti mengucapkan selamat tinggal," kata Maya, dan ada sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya.
Nenek Larasati hanya tersenyum, senyum yang sama yang gagal ia baca, dan melepaskan tangan Maya, dan menyuruhnya tidur karena perjalanan besar menunggu mereka di fajar.