Pematang Siantar, Oktober 2036
Ini hari ke delapan sejak perang ini berkecamuk. Serpihan kaca jendela memantulkan cahaya matahari dari pinggir jalanan. Bangkai-bangkai mobil dan kerangka sepeda motor memalang jalan yang kosong. Mayat-mayat bergeletakan di mana-mana. Bau amis memenuhi udara, bercampur dengan aroma bensin.
Tak ada menyangka bahwa perang ini benar-benar akan terjadi. Seperti sebuah mimpi saja. Semua orang berpikir kalau serangan Amerika Serikat pertama-tama akan langsung ke Jantung Kota Beijing. Ternyata Amerika malah menyerang Pulau Sumatera, Indonesia.
Agresi Amerika ini di sengaja, mengingat secara ekonomi, sekian lama, kekuatan Beijing ditopang oleh Republik Indonesia. Jadi dengan serangan udara besar2 an, kepentingan-kepentingan Tiongkok di bumi hanguskan sepanjang Pulau Sumatera. Tidak terjaga dan sangat penting bagi musuh. Apalagi Indonesia secara terang-terangan berpihak ke Beijing dan menentang Amerika dalam berbagai kesempatan diplomasi di masa lalu.
Bom-bom berjatuhan dari langit selama 8 hari dan sepertinya belum berhenti. Perlawanan TNI benar-benar tak berarti. Dengan jumlah 24 pesawat saja, Indonesia benar-benar menjadi bulan-bulanan. Sementara artileri darat dan laut tak cukup memadai untuk sekedar mempersulit pesawat-pesawat hipersonik milik Amerika.
Diplomasi di PBB pun tak berguna. Sudah 7 tahun Amerika dan sekutunya keluar dari PBB sebagai awal dari perang ini. Mereka menganggap bahwa PBB tidak lagi sama ketika didirikan, sudah terlalu korup dan telah menganut “Beijing Central”.
Kisahnya dimulai 10 tahun yang lalu. Amerika Serikat dan sekutunya mendapat bukti kuat bahwa China sengaja menciptakan situasi pandemi global melalui virus Covid 19. Pandemi yang tak kunjung selesai karena virus ini bermutasi dengan sangat cepat, dirancang sebagai s*****a biologis yang sempurna. Mereka meminta China untuk bertanggung jawab secara financial dan moral dalam bentuk ganti rugi bagi semua korban Covid dan juga menyiapkan tenaga dan fasilitas gratis di seluruh wilayah yang terdampak pandemi.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya, selama beberapa tahun telah membuat suatu penyelidikan mendalam, bahwa virus ini memang dirancang secara khusus agar mempunyai kemampuan yang seperti itu. Mereka menemukan bukti-bukti yang kuat dan saksi-saksi bahwa Partai Komunis China dan beberapa birokrat terlibat secara mendalam untuk memastikan rekayasa genetik itu berhasil.
Namun Kemudian PBB menolaknya dengan alasan bahwa penyelidikan Amerika bersifat sepihak, tidak melibatkan PBB maupun Pemerintah China. Secara tersirat PBB mengatakan bahwa persaingan ekonomi yang semakin ketat dapat menyebabkan kekeliruan penafsiran dan bukti-bukti yang dipaksakan, serta saksi-saksi yang secara suka rela saling menjatuhkan.
Mendapatkan keputusan PBB itu, Amerika Serikat dan sekutunya kemudian mendirikan badan internasional baru Liberal Leuge of Liberty Nation (L3N). Terdiri dari negara Amerika, Eropa, sebagian Afrika, Australia, negara-negara Pasifik, sebagian kecil Asia, ditambah Rusia!
Maka China menjadi satu-satunya pemilik hak Veto di PBB yang tersisa. Keadaan ini membuat semakin lama semakin banyak yang ikut keluar dari PBB. Sebagian bergabung dengan L3N, sebagian lagi bersikap netral dan memilih untuk tidak ikut kedua organisasi.
China pun melakukan langkah strategis, mereka menginisiasi restrukrisasi keorganisasian PBB. Pertama, mereka mengusulkan agar setiap anggota mengusulkan negaranya masing-masing untuk menjadi pemilik hak veto yang baru. Kemudian bagi yang tidak berani, akan mengusulkan negara lain. Dengan perubahan tanggung jawab baru pemilik hak veto, maka China membuat frame khusus, agar negara-negara yang mengusulkan diri mempunyai kemampuan strategis untuk kepentingan organisasi. Akhirnya Indonesia, Iran, Arab Saudi, Nigeria terpilih.
Kemudian kelima pemilik hak veto mempunyai tugas pertama untuk merundingkan bentuk PBB yang baru yang lebih efektif, untuk kemudian disahkan oleh sidang Umum PBB. Proses ini memakan waktu yang cukup singkat dan berjalan tidak alot. Sebagian besar draf seperti sudah ada jauh sebelum PBB hampir bubar.
Perubahan pertama adalah dengan memindahkan Pusat PBB ke Banjar Baru, ibu kota Indonesia. Yang kedua, semua anak organisasi seperti WHO, UNICEF dan seterusnya disatukan menjadi Biro Kemanusiaan dan Lingkungan Hidup.
Dewan Keamanan pun berubah menjadi Tentara Pembebasan. Pasukan perdamaian dianggap tidak efektif. PBB harus bisa memutuskan siapa yang salah dan benar secara hukum yang berlaku di organisasi—melalui sidang peradilan, untuk kemudian menindak secara langsung secara militer pihak yang dianggap bersalah. Perubahan ini kelak menjadi penyebab utama perang hari ini terjadi.
Lalu Bank Dunia dirubah menjadi PAN Bank Internasional. Mata uang tunggal ditiadakan, dan perwakilan Bank ini ada disetiap negara anggota. Investornya pun akan diusahakan dari seluruh anggota dengan kuota terbanyak 2 investor dan saham maksimal 15 %. Demikian juga kreditur dilakukan secara langsung tanpa melalui negara.
Sistem perbankan ini benar-benar memicu perbaikan financial negara-negara anggotanya. Karena Bank Central masing-masing negara tidak bertugas membagi hutang tapi mengutip hutang. Sirkulasi keuangan negara tidak terbani secara nasional, tetapi internasional.
Kemajuan ekstrim financial negara-negara Anggota PBB membuat organisasi ini kembali populer. Negara-negara kecil yang dulunya keluar, perlahan tapi pasti mendaftarkan diri untuk menjadi anggota. China mendapat banyak pujian.
Sebaliknya Eropa dan Amerika kehilangan setengah dari penghasilan mereka selama ini, karena kreditur globa merekal telah berkurang lebih dari setengah. Negara-negara kecil tidak lagi bergantung pada Dollar atau EURO, tapi mata uang negaranya masing-masing. Apalagi sejumlah besar kreditur mereka sebelumnya menolak membayar dengan dalih bahwa World Bank telah bangkrut.
Dalam kepanikan ekonomi, L3N memutuskan “untuk mendapatkan uang mereka kembali dengan cara seperlunya” yang bisa diartikan sebagai mungkinnya agresi militer. Beberapa negara kemdian takut dan masuk menjadi anggota L3N. Sebagian yang berkeras, pemerintahnya dijatuhkan dan kepala negaranya diadili untuk dihukum mati.
Selama beberapa tahun, insiden demi insiden terjadi seperti api yang membesar. L3N mengejek PBB sebagai organisasi “Made in China”. Ejekan ini terjadi ketika Namibia luluh lantak oleh Amerika, sementara PBB tidak bertindak apapun. Seolah-olah PBB direstrukturisasi hanya untuk kelihatan bagus, seperti barang-barang buatan China yang mudah rusak.
Sebaliknya PBB membalas L3N sebagai “White Powder”, pelesetan dari “White Power”. Melalui situs resmi mereka, PBB menyatakan bahwa “siapapun yang diberi bedak akan putih”. Maksudnya tentu saja menyindir negara-negara yang bergabung dengan L3N, yang bukan kulit putih mengingkari bahwa L3N adalah organisasi yang terbentuk untuk mempertahankan supremasi kulit putih.
Di berbagai mimbar, media sosial, media massa, hingga ke siaran radio, setiap orang meributkan soal ini. Tuduhan L3N bahwa China telah memperalat PBB untuk kepentingan mereka, dan ejekan China bahwa L3N bukan apa-apa tanpa s*****a mereka. Yang satu bilang China akan menghancurkan dunia demi menguasai umat manusia, dan China membalasnya dengan “Kami baru saja akan menghancurkan dunia, tapi kalian telah berabad-abad melakukannya”.
Selama 3 tahun pertama, kontak-kontak s*****a belum terjadi langsung. Beberapa negara bekas Kreditur yang menjadi korban L3N, belum mendapat bantuan kemiliteran PBB. Sementara di sisi lainnya L3N juga tak bisa berbuat apa-apa sewaktu Tentara Pembebasan mendukung China menginvasi Taiwan demi mewujudkan “One China Policy”, setelah berdekade-dekade.
Konflik sebenarnya mulai terjadi saat Indonesia mengusulkan di sidang PBB untuk menerima Etnis Rohingya di Kamboja, Moro di Filiphina, Kurdi di Asia Kecil diberikan kemerdekaan dan dibantu dengan mendirikan pemerintahan sementara. Dengan demikian PBB akan mempunyai 3 anggota baru. Usulan ini kemudian ditanggapi semua anggota dengan menambahkan satu negara: Palestina!
Secara kebetulan, keempat negara tempat para bangsa nomaden ini ada di wilayah negara yang bukan anggota PBB lagi. Perangpun tak terhidarkan. L3N dengan keras memperingatkan PBB, bahwa jika PBB melakukannya, maka itu adalah undangan bagi mereka untuk menginvasi negara-negara yang terlibat. Mereka berjanji tidak akan hanya bertempur di daerah konflik, tetapi juga akan menjadikan pemimpin-pemimpin negara yang terlibat sebagai penjahat perang. Perang pun terjadi.