"Kak Bila, aku kesel deh ah! susah banget tau nyari Sanubari Jakarta sama Selamat Pagi Malam. Kakak kenapa sih nggak mau jualan itu? Kakak coba cari tau, download, beli, atau gimana caranya terus di jual lagi aja. Bagus tau kak, serius!". Seorang anak Perempuan Pelangi tiba-tiba menghubungiku. Ini bukan pertama kalinya ada yang kesal karena aku tidak menjual film Lesbian Indonesia. Aku sudah berkali-kali mencoba jelaskan pada mereka, tapi mereka tidak menerimanya dengan baik atau mungkin lupa.
Banyak pelangganku yang memesan kedua film tersebut. Sama cintanya dengan mereka, aku juga mencintai film itu. Memang jarang film bertema demikian di terima dan diperbolehkan tayang di Negara yang masih mengambil adat timur ini.
Setelah menyaksikan film Sanubari Jakarta, aku jadi tahu bahwa hewan Lumba–Lumba adalah salah satu symbol makhluk penyuka sesama jenis. Dinda Kanyadewi yang cantik memerankan seorang guru taman kanak-kanak dengan sangat manis. Aku jatuh cinta padanya sejak menyaksikan film ini. Berbeda dengan sinetron yang ia bintangi sebelumnya.
Sanubari Jakarta berisi 10 film omnibus dari 10 sutradara Indonesia tentang Lesbian, Gay, Bisex, Transgender, dan Interseks.
"Lumba-Lumba" karya Lola Amaria mengangkat sebuah kisah antara lesbian, biseksual, dan perselingkuhan dalam rumah tangga dalam satu film dengan durasi yang sangat singkat. Sejujurnya, aku sangat menunggu film lengkap dari ”Lumba-Lumba” ini.
Adinda, seorang guru Taman Kanak-Kanak yang selalu mengajarkan anak muridnya tentang lumba-lumba. Guru cantik itu terlibat cinta dengan salah satu orang tua muridnya yang menangkap radar orientas seksualnya tersebut, Anggya.
Adinda dan Anggya bertemu saat Anggya menjemput anaknya di sekolah. Ia memutuskan untuk menjemput anak perempuannya karena penasaran dengan seorang guru yang selalu disebut–sebut anak semata wayangnya. Guru yang sangat gemar menceritakan tentang Lumba-lumba. Anggya menangkap radar itu.
Ketika bertemu di sekolah, mereka saling menangkap radar. Tak perlu membicarakan atau mengutarakan jati diri mereka yang Spesial, radar mempertemukan mereka hanya dengan tatapan lembut dan tarikan kedua sudut bibir. Keduanya semakin dekat dan merasa saling menyukai.
Anggya yang sudah memiliki seorang suami bernama Aga, tanpa ia ketahui bahwa suaminya memiliki hubungan gelap pula dengan seorang laki-laki. Aga dan Anggya tak saling tahu bahwa mereka memilki hubungan masing-masing dengan sesama jenis.
Aku membeli buku Sanubari Jakarta karena merasa sangat mencintai film “Lumba-Lumba” yang penuh arti tersebut. Sofia pun pernah membacanya. Bahkan belum ia kembalikan hingga saat ini. Aku memang ingat.
Lumba–lumba merah jambu adalah hewan yang paling Sofia suka. Dan aku ikut menyukainya semenjak Sofia menceritakan tentang film dan arti dari hewan itu.
Lumba–lumba merah jambu memang benar keberadaannya. Setahu ku, warna merah jambu berasal dari sel-sel kulitnya yang terpengaruh dari suhu lingkungan disekitar tempat tinggalnya. Usia mereka pun mempengaruhi warna kulit mamalia air ini. Semakin tua, semakin memerah warnanya. Uniknya.
Hewan dengan jenis ini dikenal memiliki kecerdasan yang jauh lebih tinggi dibanding spesiesnya lainnya. Bahkan, hewan yang terkenal karena keramahannya ini memiliki kapasitas otak 40 % lebih besar dari seorang manusia.
Beberapa Lumba-lumba meniup jaring gelembung di sekitar kumpulan ikan untuk memaksa mereka berkumpul. Sonar yang mereka lontarkan tidak akan bekerja dengan baik jika mereka tidak bisa membedakan ikan dari gelembung-gelembung yang mereka buat.
Beruntungnya, aku dapat menemukan radar Sofia Putri Tjahaja.
***
Hari ini, aku harus menemani mama berbelanja di Supermarket. Tak seperti biasanya, mama mengambil alih tugas mbok Mar untuk berbelanja kebutuhan bulanan kami.
Kami melangkahkan kaki menuju Supermarket dekat rumah. Kami masih tinggal di rumah lama kami, daerah Bekasi. Supermarket disini tempat biasa mbok Mar membeli kebutuhan rumah tangga. Biasanya, ia yang sudah sangat khatam apa yang menjadi kebutuhan kami, bahkan lebih dari diri kami sendiri.
3 bulan lalu, ketika aku menemani mbok berbelanja, ditanggal yang sama dan ditempat yang sama, aku melihat seorang perempuan manis yang merampok segenap perhatianku.
Semoga hari ini jodoh untuk kami. Aku ingin melihatnya kembali. Tak harus bertegur sapa, sekadar melihatnya dan melempar senyum pun cukup untuk menjadi bagian mimpi indahku.
Selama 2 bulan terakhir aku menantinya disini. Ditanggal dan ditempat ini. Dan ia tak kunjung muncul juga. Mengapa harus di tanggal yang sama? Tidak tahu. Aku merasa yakin akan bertemu dengannya di tanggal yang sama. Hanya itu. Sederhana bukan?
Untuk apa menunggu sesuatu yang belum pasti? Perempuan manis itu memang belum tentu sama denganku, tertarik juga dengan perempuan. Tetapi entah mengapa, aku merasa yakin bahwa ia sama denganku. Tak ada alasan dan sebabnya.
Perempuan yang sepertinya lebih tua 2 atau 3 tahun dariku itu mengenakan jeans ¾, kaos merah jambu, dan flat shoes hitam. Aku dapat mengingat semuanya. Sederhana bukan? Tak perlu sesuatu yang mewah untuk membuatku tertarik padanya.
Mbok Mar yang ketika itu belum tahu bahwa aku tertarik pada perempuan membuatku memendamnya seorang diri.
“Ya Tuhanku, jika memang ia salah satu rezeki yang kau titipkan untukku, munculkanlah ia disekitarku saat ini juga” doaku berbulan–bulan terakhir ini di tanggal dan tempat yang sama.
Mama memintaku mengambil trolley di samping tempat penitipan barang. Aku menuruti permintaannya. Dan masih belum ada tanda–tanda bahwa perempuan itu ada disini. Ayolah, ini kali kesekian aku berusaha menemukan perempuan itu.
Aku sengaja membawa mama berputar-putar di tempat ini lebih lama. Mencari barang yang tidak penting untukku. Melihat dan menimbang-nimbang belanjaan kami untuk jadi atau tidak dibeli. Melihat ke tempat jauh dan mengalihkan perhatian mama. Memperlambat waktu. Memberi kesempatan untuk Tuhan mengabulan asaku.
“Tuhan, aku masih berharap Kau jabah doaku walau ku tahu ini hal yang salah”.
Satu jam, dua jam. Aku tak bisa menahan mama lebih lama lagi. Mama ingin memasak bersamaku pulang dari sini. Duh, bagaimana lagi caranya? Jadi harus kali berapa usahaku sia–sia? Harus berapa hari dalam satu bulan untuk mencarimu disini perempuan manis yang sering menghantui pikiranku?
Mungkin ini jawaban Tuhan, perempuan manis itu bukanlah salah satu rezeki yang Ia titipkan untukku.Aku dan mama membawa trolley penuh kami untuk mengantri di kasir.
“Eh mama lupa lagi. Bila, tolong ambilin pembalut yang 35 cm ya. Yang isinya banyak aja sekalian. Ambil 2” kata mama yang kemudian mengantri.
Aku masih saja berharap menemukan perempuan itu disini, saat ini. Dan, Tuhan? Tak bisa Engkau jadikan saja dia rezeki ku? Tolong. Kali ini saja penuhi permintaanku tentang perempuan. Jadikan dia pacar perempuan pertamaku. Tolong Tuhan…
Dan aku makin patah hati…
“Ini ma” kataku memberikannya pada mama. Aku membantu mama memindahkan barang belanjaan kami dari trolley ke meja kasir, tertunduk sendu.
“Heh! Kamu itu, Saya panggil daritadi ke ruangan, kenapa nggak dateng–dateng? Udah bosen kerja disini ya?” bentak seorang lelaki dengan mata membesar dan wajah memerah.
Aku tengah patah hati, tak ingin tahu urusan orang lain dahulu saat ini. Aku melipir mengambil jarak untuk menunggu mama.
“Kamu b***k atau bisu?” tambahnya makin kuat.
“Pak! Maaf kalo Saya nggak sopan ya! Tapi, jangan mentang–mentang Saya disini bawahannya Bapak, Bapak bisa lecehin Saya kayak kemaren. Untung Saya nggak lapor polisi. Jangan mentang–mentang Bapak Manager disini Saya takut ya! Harga diri Saya nomer 1. Lebih dari harga diri Bapak, seorang Manager yang nganggep bawahannya p*****r sampe bisa di pake demi bertahan buat kerjaan. Pekerjaan nggak cuma ini doang kok, Pak. Uang Bapak nggak akan bisa ngebeli Saya! Jadi… Saya, keluar!” kali ini aku mendengar suara lawan bicaranya. Aku mengarahkan bola mataku pada arah suara tersebut. Sepertinya seru. Hiburan gratis pelipur lara.
Astaga! Perempuan manis itu? Perempuan itu berada di belakang meja kasir, melayani belanjaan mamaku. Berarti, sejak tadi kami saling berdekatan? Hanya saja aku yang terlalu berlebihan merasa patah hati padahal Tuhan menjawab doaku?! Oh Tuhan, terima kasih!
“Berapa sih harga kamu? Sini, Saya beli sekalian sama keluarga kamu!” jawab lelaki yang mengalungi kartu identitas Manager Supermarket disini. Kurang ajar! Tidak pernah diajari orang tuanya kali ya? Begitu cara laki-laki memperlakukan perempuan?
Mendengar keributan, pengunjung lainnya menoleh kearah sumber suara. Beberapa karyawannya mencoba mendekati dan menahan Manager mereka, tetapi ia malah mendorong bawahannya itu. Beberapa customer menggelengkan kepala melihat sikap karyawan di Supermarket ini.
“Heh Pak! Jangan kurang ajar sama perempuan!” mama yang berada tepat di hadapan mereka ikut marah mendengar ucapan lelaki itu.
“Diam aja deh Bu! Nggak tau apa–apa kan? Jadi, nggak usah ikut campur!” kasarnya mulut lelaki itu. Siapa dia, berani–beraninya membentak perempuan yang melahirkan dan menghidupiku selama ini? b******n!
Aku berjalan menghampiri lelaki itu dari belakang lalu menepuk pundaknya. Ia membalikkan badan. Aku mengarahkan lututku sekencang mungkin pada bagian dibawah perutnya.
GOTCHAAAAAA!!! Tepat sasaran. Ia mengaduh, meringis. Senyum kepuasan menghiasi wajahku. Baru alat kelaminnya yang sakit, jangan sampai sekujur tubuhnya yang ku sakiti.
Beberapa perempuan disekitar kami menepuk tangani aksi heroik ku. Beberapa diantaranya melempari lelaki itu dengan belanjaan mereka dan meninggalkannya pergi. Rasakan! Malu, sakit, kehilangan pelanggan, dan bisa kehilangan pekerjaan pasti.
Mama mengambil tasnya diatas meja kasir dan membawa beberapa plastik belanjaan kami. Aku menarik sebelah tangannya dan membantu membawa beberapa belanjaan untuk pergi menjauh dari keributan itu. Bising! Aku tidak suka kebisingan.
Punya berapa nyawa lelaki itu berani membentak mama tercintaku? Dia tidak tahu betapa berartinya mama untukku. Nyawa pun berani ku beri.
Hal semacam ini yang membuat aku semakin membenci lelaki. Aku sudah melihat banyak contoh nyata bahwa lelaki itu kasar, mata keranjang, tidak tahu diri, tukang bohong dan segala keburukan lainnya. Cara dia memperlakukan perempuan benar-benar...
Bajingan!
Hey, aku lupa. Perempuan manis itu? Dimana perempuan manis itu sekarang? Ampun! Usaha dan doaku tak boleh sia-sia.
“Eh ma, bentar ya Bila nyari pul… sa… du.. lu?”. Bibirku tetiba bergerak melamban. Mama berubah menjadi lebih muda dan lebih manis? s**t! Tangan yang berada di genggamanku adalah tangan perempuan manis itu. Wajahnya tidak bereaksi sedikitpun. Tidak marah, tidak tersenyum. Wajah datarnya membuatku bingung untuk memulai pembicaraan.
“Ihh! Ini anak bener-bener ya. Daritadi mama panggilin juga! Jalan aja terus tinggalin mama. Liat dulu dong, itu siapa yang tangannya kamu pegang daritadi” mama datang setengah berlari. Nafasnya memburu. Secepat itu kami berjalan?
“Ma.. Maaf, Mbak” aku melepaskan tangannya.
“Halah, udah. Biarin aja Mbak. Laki–laki setan kayak gitu emang harus dikasih pelajaran biar nggak kurang ajar sama perempuan!” mama memberikan semua belanjaan padaku kemudian merangkul perempuan itu dan mengajaknya berjalan.
Perempuan itu mencabut tanda karyawan disana dengan kasar lalu melemparnya ke lantai.
Aku mengikuti mereka berdua dari belakang. Memperhatikan cara perempuan itu berjalan dengan anggunnya. Begitu menggemaskan dan menggiurkan. Jangan salahkan aku jika aku khilaf lalu memeluk dan menciummu dengan ganas ya! Khayalanku memancing tawa nakal di kepala.
“Yaudah. Saya capek banget nih. Kita cari minum dulu yuk!” ucap mama masih mengatur nafas.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih…
“Iced lemon tea nya 3 mas” mama duduk dan mengeluarkan handphone dari tasnya.
“Jadi Mbak siapa namanya?” tanya mamaku menunggu pesanan datang.
“Saya… Nama Saya, Sofia Tante”. Aku memperhatikan bagaimana perlahan ia mulai menggerakkan bibirnya. Kalimat ini, adalah kalimat pertama yang ia berikan.
“Makasih ya Tante, sama Kakaknya udah belain Saya” suaranya lembut. Tak sekeras saat ia menjawab pertayaan lelaki tadi. Benar–benar manis perempuan dihadapanku ini. Tidak salah pilih aku.
“Iya, nggak apa-apa. Sama–sama ya. Nama Saya Ria. Dan ini anak Saya satu–satunya, Nabila. Saya ngerti kok perasaan Mbak gimana. Yang sabar. Yang kuat. Sikap kamu udah bener kok. Harga diri diatas segalanya. Rezeki mah kayak jodoh, nggak akan kemana. Berdoa berusaha aja terus, pasti ada jalannya”. Ahh…. Mama ini… Pasti maksudnya doaku yang meminta rezeki pada Tuhan dijawab dengan Sofia yang adalah jodohku? Ahh, mama ini bisa saja…
“Iya Te. Makasih ya. Mbak Nabila, makasih banyak ya udah belain Saya” kalimat pertama yang tertuju untukku. Aku tersenyum dengan kedua sudut bibir mata yang ikut tersenyum.
Sofia, Lumba-Lumbaku.
***