“Hallo Chel.”
Rachel menghembuskan napasnya kasar saat mendengar suara nyaring dari orang yang meneleponya itu. Ternyata itu adalah sahabatnya, bukan telepon dari orang yang sangat dia benci saat ini.Tiba-tiba perasaan kesal dan kecewa pun datang, entahlah mengapa dia masih berharap kalau pria jahat itu menghubunginya untuk menjelaskan semuanya.
"Cieeeeee, baru bangun nih dari mimpi indah ya kan? secara semalam kan malam yang indah nan panjang buat kalian." sindir Adelia di telepon.
"Mimpi buruk yang ada," sembur Rachel kesal
"Ckckck, bercanda aja lo."
"Serius Del," Rachel mengucapkan dengan nada lirih
"Lo kenapa? Kok suara lo gitu? Are you ok chell ?" Adel menghujani banyak pertanyaan dengan nada khawatir, ketika mendengar suara lirih sahabatnya itu. Memang Adel lah yang paling peka soal perasaan Rachel selain ibunya.
"Hmmm." gumam Rachel tak ingin banyak berkata.
"Ok sebentar ya tunggu gue!” serunya lalu menutup telepon dan Adel pun segera siap-siap menuju kost-an Rachel. .
Adelia, Rachel dan juga Reno berteman sejak di bangku SMA, jadi sudah 8 tahun lamanya mereka menghabiskan waktu bersama. Apalagi Rachel dan Adelia sangat dekat, sehingga mereka tau betul jika salah satu dari mereka ada masalah, mereka akan tahu meskipun hanya dari nada suara atau pun tingkah lakunya. Seperti sekarang ini, saat mendengar suara Rachel lirih begitu dia langsung segera menuju kost-an Rachel.
“Chell …” Terdengar ketukan pintu dan suara Adel dari luar. Rachel pun membuka pintunya sambil tersenyum dengan mata sembabnya. Adel yang melihat Rachel pun langsung memeluknya sambil mengusap punggung Rachel. Pelukan dan usapan Adel itu pun membuat kaki Rachel tiba-tiba terasa lemas, lalu perasaan sedih, kecewa, dan marah pun menyerang hatinya lagi. Rachel pun sadar memang ia tak sekuat itu, lalu gadis rapuh itu pun menangis lagi sampai puas dalam pelukan sahabatnya.
Adelia pun merasa sedih melihat sahabatnya menangis seperti ini. Dia hanya bisa mengusap punggung Rachel dan diam tanpa bertanya apapun, karena tau yang dibutuhkan sahabatnya saat ini adalah sandaran untuk meluapkan rasa sedihnya lewat tangis ini. Selama setengah jam ruangan itu hening dan hanya terdengar tangisan Rachel. Setelah puas menangis, wanita itu pun merasa tenang dan lelah tentunya.
"Go food.” Terdengar suara dari luar disertai ketukan pintu.
"Gue pesan go food tadi pas mau jalan kesini hehe." Adel cengengesan lalu keluar mengambil pesanannya.
"Lo pasti lapar kan yuk, kita makan!" Adel mengatakan itu sambil mengeluarkan makanan dalam plastik bertuliskan nama restoran jepang favorit mereka.
"Nggak kok gue udah makan mie barusan," sergahnya lalu terdengar suara dari perut Rachel yang pertanda perutnya sudah meronta kelaparan lagi.
"Ckck Cacing dalam perut lo udah lapar lagi lah saking lelahnya." Adel mengejek lagi sambil menahan tawa, kini ia pun mendapatkan tatapan tajam dari Rachel. Lalu mereka pun makan sambil ditemani acara di TV.
Sebenarnya Adel sudah sangat penasaran. ingin tahu apa yang terjadi pada Rachel, tapi dia tidak akan menanyakannya sampai Rachel sendiri siap menceritakan nya karena dia tak mau memaksa sahabatnya itu.
"Ngapain lu lirik-lirik gue gitu, awas lo nanti suka lagi sama gue!” candaa Rachel saat sadar kalau Adel sedang meliriknya diam-diam.
"Heh gue masih normal kali," sergahnya kesal.
"Adel makasih yah." Rachel mengatakan itu dengan nada tulus, sambil tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Adel.
"Makasih untuk sudah jadi sandaran gue, dan terima kasih nggak menanyakan apa yang terjadi, padahal gue tau lo pasti penasaran banget,” jelasnya lagi sambil memegang tangan Adel.
“Nggak apa-apa Chell gue ngerti kok, santai aja. Gue akan tunggu sampai lo siap buat ceritain itu semua. Dan asal lo tau, lo tuh nggak sendiri tenang masih ada gue di samping lo." terang Adel sambil mengusap punggung Rachel dan mereka pun tersenyum lalu berpelukan.
Melihat keadaan Rachel yang tak baik-baik itu, Adel pun memutuskan untuk menginap di kost-nya ini agar Rachel tak merasa kesepian. Jujur Adel takut Rachel melakukan yang tidak-tidak, karena terlihat dari tingkah Rachel yang tak stabil, seperti dia bisa tiba-tiba sangat ceria lalu menangis, bahkan hal sepele yang dia lihat di acara TV pun dia ikut menangis. Jadi mereka pun menghabiskan libur weekend mereka di dalam kamar kost-an Rachel.
“Dell ada bagusnya juga yah lo LDR.an sama pacar lo itu, jadi gue nggak kesepian gitu pas satnight gini hahaha.” Rachel menyindir sahabatnya itu, sambil merapikan tempat depan TV agar nyaman untuk mereka marathon film menghabiskan malam minggu ini.
“Jahat banget sih lo, nggak enak banget tau LDR itu.” terang Adel dengan nada sedih, sambil melemparkan satu bungkus kripik pada badan sahabatnya itu, karena kebetulan dia sedang menyiapkan camilan untuk teman saat menonton film.
“Masa ..” ejek Rachel.
“Bodo.” sela Adel saat tau sahabatnya itu ingin berkata masa bodo.
“Awas gue doa-in lo yah semoga nanti dapat pacar LDR juga, aamiin.” Adel mengatakan itu sambil berdoa sungguh-sungguh.
“Terserah lo deh.” ketus Rachel sambil tertawa. Mereka pun menghabiskan waktu mereka dengan marathon film kesukaan mereka.
-
-
-
Hari senin pun tiba, Adel semalam sudah pulang ke rumahnya, jadi pagi ini Rachel sendiri. Saat terbangun dia kebiasaan mencari ponselnya, karena biasanya sudah ada pesan dari sang kekasihnya itu, tapi sekarang tak ada satupun notif yang masuk. Rachel pun hanya tersenyum miris menatap ponselnya. Dia pun segera bersiap untuk bekerja seperti biasa dan akan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan agar tak terpikir lagi tentang mantannya itu. Sekarang ponselnya hanya digunakan untuk memesan makanan / ojek online dan paling membuka sosmed-nya sebentar.
"Pagi del!" Sapa Rachel pada sahabatnya itu yang mejanya bersebelahan, sambil memberikan minuman Coffee Latte yang dibeli saat berangkat kerja tadi.
"Wih thank you chell," seru Adel lalu meminum kopinya itu.
"Eh iyah ada kabar bagus nih Chel, kita berdua ditugasi buat perjalanan dinas ke Bali loh," terang Adel ceria
"Aslinya? Yuhuu kita bisa sekalian liburan dong kalau gitu, oh akhirnya bisa refreshing juga," Rachel sangat gembira mendengar kabar itu, karena yah di saat seperti ini liburan adalah obat terbaik untuknya.
"Yups, besok kita pergi jadi sekarang ayo kita selesai kan laporan dulu Chel!"
“Ok Dell." Mereka pun lalu sibuk masing-masing dengan pekerjaan mereka.
Sore pun tiba Rachel sedang menunggu taxi online yang dia pesan. Sebenarnya dia lebih suka menggunakan ojek online ketimbang mobil, karena malas terjebak macet yang parah itu, tapi sekarang karena sedang turun hujan jadi dia terpaksa memesan taxi online daripada dia basah kuyup kehujanan. Rachel pun sedang berdiri di depan kantornya bersama beberapa temannya.
"Duluan yah Chel," seru Lita. Kemudian terlihat sang pacarnya melepaskan jaketnya untuk menutupi kepala mereka sebagai pengganti payung dan mereka berlari-lari kecil menuju halte bus depan sambil tertawa kecil. Adegan itu memang terlihat sangat romantis.
Rachel hanya tersenyum kecil melihatnya dan tiba-tiba dia pun teringat kalau Reno dulu sering melakukan itu juga padanya. Mengingat hal itu hati Rachel pun terasa perih lagi. Wanita itu pun segera masuk ke taxi yang dipesannya telah tiba dan sepanjang jalan Rachel hanya menatap kosong jalanan diluar sana yang sedang turun hujan dan tak sadar air matanya pun ikut turun membasahi pipinya itu.
Sesampai di rumah Rachel segera mandi lalu menyiapkan baju-baju yang akan dibawa untuk pergi besok. Ia pun sekalian merapikan meja rias dan isi tasnya. Saat itu dia baru sadar kalau ternyata kado untuk sang mantannya itu masih ada di dalam tasnya. Rachel menatap kado itu dengan berbagai macam perasaan, dan teringat kenapa dia membelikan barang itu.
Yah, dia membelikan jam tangan lagi untuknya karena sang pria itu selalu memakai jam tangan yang dibelikannya 2 tahun lalu. Padahal sang pria itu mempunyai banyak jam tangan tapi tetap saja jam tangan pemberiannya lah yang selalu dipakai setiap hari sampai sudah terlihat kusam, maka dari itu Rachel pun memberikan jam tangan yang baru untuknya sebagai pengganti yang lama. Rachel pun tersenyum miris, kenapa dia masih saja memikirkan pria jahatnya itu. Lalu Rachel membuang kotak berisi jam itu ke dalam tempat sampah berharap semua perasaannya dan ingatan pria itu pun ikut terbuang ke dalam tempat sampah itu.
Setelah beres Rachel pun merasa bosan karena tak ada siaran seru di TV dia pun memutuskan untuk memainkan ponselnya lalu membuka sosial medianya. Dan terlihat ada notifikasi dari i********: bertuliskan
Lihat postingan anda dari 1 tahun yang lalu.
Rachel pun membukanya dan ternyata itu adalah postingan fotonya dengan Reno saat mereka liburan ke pantai bersama teman-temannya setahun yang lalu. Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang menghantam hatinya terasa begitu sakit sekali. Yah dia tahu selama beberapa hari ini dia berpura-pura kuat padahal hatinya ternyata tak sekuat itu. Air mata pun kembali membasahi pipinya dengan deras. Ternyata se-sakit ini lah rasanya dicampakkan oleh kekasihnya yang dia kenal sudah lama itu
Reno dan Rachel berteman sejak di bangku SMA, sampai akhirnya saat kelulusan Reno mengajak Rachel pacaran hingga tahun ke 5 ini dan berharap lanjut ke jenjang yang lebih sakral yaitu pernikahan. Tapi nyatanya sekarang lelaki yang dia sayangi sepenuh hati itu malah mencampakkannya begitu saja, dengan sebaris kalimat tanpa menjelaskan apapun padanya. Jujur dia masih menunggu berharap Reno mengabarinya dan menjelaskan semuanya agar dia mengerti, tapi nyatanya beberapa hari ini dia menunggu tapi nihil.
Maka mustahil jika hatinya baik-baik saja saat diperlakukan seperti itu. Mengingat pria itu membuat Air mata Rachel terus mengalir deras dan hatinya semakin terasa sakit. Ditambah di luar hujan deras menambah kesenduan malam itu. Di sela tangisan tengah malam itu dia berdoa berharap tuhan menghadirkan pengganti yang lebih baik dari orang itu. Tiba-tiba Rachel pun mengingat pesan ibunya yang berkata kalau tuhan tidak akan memisahkan sesuatu yang baik kecuali digantikan dengan yang lebih baik.
-
-
-
Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini.