Hening itu bertahan beberapa detik yang panjang. Lalu Gisel bicara. “Letakkan nampannya,” katanya, “sebelum tehnya tumpah ke lantai.”
Gladys menurut. Dia meletakkan nampan di meja kecil dekat dinding dan melepaskan pegangannya pelan-pelan. “Bu Gisel, saya cuma mau mengantar teh. Saya tidak sengaja—”
“Tante tahu kamu tidak sengaja.” Gisel tidak menaikkan suara. Dia menatap Gladys lama, seperti membaca halaman yang tulisannya terlalu rapi. “Tante tidak akan tanya apa yang kamu dengar. Tante cuma mau tanya kenapa tanganmu gemetar hanya karena mengantar teh.”
Gladys membuka mulut, menutupnya lagi. “Saya lelah, Bu.”
“Mungkin.” Gisel mengambil satu cangkir dan menyodorkannya. “Minum. Duduk di mana saja kecuali di dekat pintu itu.”
Gladys menerima cangkir itu dengan dua tangan, tetapi air tehnya tetap beriak. Gisel tidak bertanya lagi. Dia berbalik, membawa nampan ke ruang tengah, dan tidak menyebut lorong itu pada siapa pun, tidak pada Felix, tidak pada Nadia. Pada makan malam Minggu dia hanya menyendokkan sup ke mangkuk Gladys dengan gerakan yang terlalu hati-hati, sementara Gladys menunduk mengaduk nasinya tanpa menyuapkan sebutir pun. Felix sempat melihat keduanya dan tidak bertanya.
Senin pagi, Nadia menyerahkan ponselnya pada Lucas.
“Tanggal, jam, kata-katanya persis,” katanya. “Dari kamus Spanyol di pintu apartemen sampai lobi hari Jumat. Saya catat Sabtu malam.”
Lucas membaca layar dengan masker menutup separuh wajah. Jari telunjuknya menggulir pelan dan berhenti pada satu catatan. Dia membacanya sekali lagi, lalu menyemprotkan sanitizer ke tangannya sendiri.
“Teh tawar hangat.”
“Iya, Pak. Saya nggak pernah bilang ke dia.”
“Warung nasi uduk.”
“Dia bilang tinggal dekat situ.”
“Hm.” Lucas menyerahkan ponsel itu kembali. “Catatanmu rapi. Itu kebiasaan baik.” Dia mengetuk meja dengan ujung pulpen. “Kamu fotokopi catatan ini juga?”
“Dua rangkap, Pak. Satu di tas, satu di laci.”
“Mesin fotokopi berjalan ternyata ada gunanya.” Lucas hampir terdengar bangga. “Kamu tahu apa yang tidak ada di sini?”
“Apa, Pak?”
“Ancaman. Pemaksaan. Sentuhan. Kata-kata kotor.” Lucas menautkan jari. “Itu bukan berarti kamu salah merasa tidak nyaman. Tapi bukti kamu belum cukup untuk surat peringatan. Cukup untuk percakapan.”
“Percakapan.”
“Pukul sebelas. Ruangan saya. Felix dan Evan.” Lucas menunjuk pintu dengan dagu. “Kamu tidak hadir.”
“Pak, saya...”
“Kamu sudah melapor. Sisanya urusan saya. Kembali ke mejamu; terjemahan tidak menerjemahkan dirinya sendiri.”
***
Ruang kerja Lucas di lantai tiga terang oleh jendela besar dan berbau antiseptik. Di sana hanya ada tiga kursi, dan hanya dua yang terisi. Felix duduk tegak dengan rahang mengeras, kedua tangan di atas lutut. Evan duduk di seberangnya dengan punggung lurus dan wajah tenang.
Lucas tidak duduk. Dia berdiri di depan jendela memunggungi cahaya.
“Evan.”
“Ya, Pak.”
“Saya tidak akan menghukum orang yang menyatakan perasaannya. Itu bukan kejahatan, dan saya tidak mau jadi atasan yang mengurus perasaan.” Lucas berputar, memandang Evan dari atas. “Saya hanya menghukum orang yang memaksa. Kamu menyatakan perasaan, ditolak, dan kamu berhenti?”
“Saya berhenti, Pak.”
“Dengan kalimat ‘saya bisa menunggu’?”
Evan tidak berkedip. “Itu bukan paksaan. Itu kejujuran. Saya tidak berbohong tentang perasaan saya.”
“Kejujuran yang memperlihatkan bahwa kamu tahu dia suka teh tanpa gula, rute pulangnya, dan warung langganannya.” Suara Lucas datar. “Itu kamu sebut apa?”
“Perhatian.”
“Perhatian dan pengamatan itu dua hal berbeda.” Lucas melangkah satu kali. “Perhatian bertanya. Pengamatan mencatat. Dan orang yang dicatat tanpa tahu selalu merasa seperti serangga di bawah kaca.”
Felix mengepal tangan di lutut, tetapi tidak berkata apa-apa. Evan menunduk sedikit.
“Saya minta maaf kalau saya menimbulkan ketidaknyamanan. Itu tidak pernah niat saya.”
“Bagus. Itu langkah pertama.” Lucas menatap Felix. “Sekarang keputusan.”
Felix mengangkat kepala. “Gue udah bilang...”
“Lo udah bilang lo mau memindahkannya ke cabang, dan gue udah bilang tidak.” Lucas mengibaskan tangan. “Kesalahannya belum terbukti. Memindahkan orang tanpa kesalahan hanya karena pacar bos tidak nyaman, itu tidak adil, dan semua karyawan akan mengingatnya. Ini masalah kebijakan, bukan perasaan.”
“Dan kalau dia melakukannya lagi?”
“Maka kita punya bukti.” Lucas kembali menatap Evan. “Mulai hari ini kamu dipindahkan ke divisi Pak Angga. Lantai dua. Kamu tidak punya alasan lewat lantai tiga kecuali rapat proyek.”
Evan mengangguk pelan.
“Tapi kamu tetap diperbantukan sebagai penerjemah dokumen kontrak Manriko sampai kontrak selesai.”
Felix menoleh begitu cepat sampai kursinya berderit. “Lucas.”
“Dengar dulu.” Lucas mengangkat satu jari. “Satu: penerjemah yang ditarik di tengah proyek tanpa kesalahan yang terbukti akan jadi preseden buruk, dan Sra. Manriko sudah mengenal gaya terjemahannya. Dua: Nadia memegang kontrak ini dengan taruhan magangnya, dan lo dilarang menyentuh pekerjaannya. Kalau Evan ditarik, siapa yang mau bantu Nadia dalam bahasa Spanyol? Lo?”
Felix menutup mulutnya.
“Itulah. Penerjemah lain tak mungkin dilatih dalam tujuh hari. Jadi dengar syaratnya.” Lucas kembali menghadap Evan. “Semua komunikasi soal kontrak lewat surel atau rapat dengan paling sedikit tiga orang. Dilarang bicara berdua dengan Nadia. Dilarang datang ke apartemennya, dilarang membawa makanan, dilarang memberi hadiah. Kalau saya dengar kamu melanggar satu saja, kamu tidak akan masuk kantor ini lagi. Mengerti?”
“Mengerti, Pak.”
“Rere akan mengawasi akses folder kontrak. Setiap berkas yang kamu buka akan tercatat.”
“Saya tidak keberatan.” Evan menautkan jari di pangkuan. “Terima kasih sudah memberi saya kesempatan, Pak.”
Lucas menatapnya beberapa detik lagi. “Keluar.”
Evan berdiri, membungkuk sopan pada Lucas, dan mengangguk pada Felix sebelum keluar dengan langkah ringan.
Pintu menutup. Felix menghembuskan napas yang tertahan.
“Lo membiarkan dia tetap di dekat Nadia.”
“Gue menaruh dia di tempat yang bisa gue lihat.” Lucas mengambil botol sanitizer dari mejanya dan menyemprot kursi yang baru diduduki Evan, seperti menandai wilayah. “Lo pikir gue bodoh? Menyingkirkan orang yang tidak bisa kita buktikan hanya mengirimnya ke tempat yang tidak kita lihat.”
Felix tidak menjawab. Tetapi wajahnya sedikit mengendur.
***
Di lorong lantai tiga, Nadia berdiri bersandar di dinding dengan map di dada, setengah mengintip ke arah pintu Lucas. Rere berdiri di sampingnya membawa tablet, tidak berbicara.
Pintu terbuka. Evan keluar.
Dia berjalan melewati Nadia dan berhenti dua langkah di depannya. Senyumnya tipis, sopan, tanpa bayangan apa pun.
“Maaf kalau kamu merasa tidak nyaman, Nad.”
“Iya, Mas.”
“Saya akan menjaga jarak.” Dia mengangguk dan melanjutkan berjalan.
Nadia memperhatikan punggungnya. Di ujung lorong, tepat di depan pintu ruang Felix yang tertutup, Evan berhenti. Dia tidak mengetuk. Dia hanya berdiri di sana, menatap pintu kayu itu lama, begitu lama sampai Nadia mulai menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Lalu dia berbalik dan masuk ke tangga darurat.
Pintu ruang Lucas terbuka lagi. Felix keluar dengan dasi yang sedikit longgar, dan langkahnya baru melambat ketika dia melihat Nadia di dinding. Rere, tanpa perlu disuruh, mundur lima langkah dan sibuk dengan tabletnya.
“Evan tetap jadi penerjemah,” kata Felix pelan. “Dia pindah ke lantai dua. Syaratnya banyak. Lucas yang menetapkannya, bukan saya.”
“Aku udah nebak dari wajah kamu.”
“Wajah saya?”
“Rahang kamu kayak orang nahan bersin tiga hari.” Nadia menyodorkan map ke dadanya sendiri. “Kamu marah?”
“Saya hampir membanting meja.”
“Tapi enggak.”
“Tidak.” Felix menarik napas. “Saya ingat apa yang kamu bilang. Prosesnya jalan, kamu menang tanpa saya.”
Nadia menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil, yang jarang dia berikan di lorong kantor. “Poin buat kamu.”
“Berapa poin?”
“Satu. Jangan serakah.”
Rere batuk pura-pura di kejauhan. Felix berdeham, mengubah ekspresi menjadi wajah bos, dan berjalan melewati Nadia ke ruangannya tanpa menoleh. Pintu kayu itu menutup, dan Nadia baru menyadari bahwa Felix tadi sengaja memperlambat langkah di dekat bahunya hanya untuk memastikan Nadia baik-baik saja.
“Mbak Nadia,” bisik Rere.
Nadia tersentak. “Hm?”
Rere mengangkat tablet. “Sra. Manriko baru saja mengirim surel. Beliau mempercepat kedatangan. Beliau tiba di Jakarta Sabtu pagi, bukan Senin.”