Pagi di rumah sakit itu berbau karbol, kopi sachet, dan orang-orang yang belum tidur.
Gladys duduk bersandar di ranjang ruang observasi dengan selimut sampai dada dan lengan atas berbalut perban tipis. Dokter jaga, seorang perempuan muda bermata lelah, baru selesai memeriksa lebamnya dan menulis sesuatu panjang di rekam medis. Pak Harun duduk di kursi plastik dengan laptop di pangkuan, mengetik laporan dengan jari-jari tua yang cepat sekali.
“Tanggal kejadian, bukan hanya semalam,” kata Pak Harun lembut. “Ibu Gladys boleh ceritakan yang lama juga. Saya catat satu per satu.”
“Boleh nanti?” Suara Gladys hanya serak sisa tangis.
“Boleh nanti. Tanda tangan di sini cukup untuk sekarang.”
Nadia berdiri di dekat tirai dengan kaus yang masih bau selokan. Dia belum tidur, belum makan, dan satu telinganya masih berdenging dengan kalimat Aron. Anggit tertidur di kursi koridor dengan kepala miring dan sandal jepit berbeda warna. Gisel duduk di sisi ranjang, memegang tangan Gladys dengan dua tangan, tidak mengatakan apa-apa.
Pintu dibuka dua kali ketukan.
“Permisi.”
Evan berdiri di ambang pintu dengan kemeja biru muda dan buket bunga lili putih. Nadia merasa perutnya menegang.
“Pak Lucas memberi tahu tim kontrak pagi ini bahwa Nadia tidak masuk karena membantu keluarga Pak Felix di rumah sakit,” katanya dengan suara rendah dan sopan. “Saya tidak bermaksud mengganggu. Bunga ini untuk Bu Gladys, dari tim.” Dia menatap Nadia sekilas, sopan, dan menambahkan, “Bukan untuk Nad. Saya ingat aturan Pak Lucas.”
“Saya kira kamu tidak tahu aturan,” kata Gisel dingin.
“Saya tahu semuanya, Bu.” Evan tersenyum, lalu melangkah dua langkah ke samping ranjang dan meletakkan buket itu di meja dekat jendela. “Semoga lekas pulih, Bu Gladys. Kami semua khawatir.”
Nadia memperhatikan wajah Gladys.
Wanita itu menatap bunga itu. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Pegangan tangannya pada selimut mengencang sampai buku-buku jarinya memutih, dan rahangnya bergerak sekali seolah menelan sesuatu yang tajam. Dalam sepersekian detik itu wajahnya bukan wajah korban yang rapuh. Wajah itu keras dan dingin.
Lalu dia menutup mata.
“Taruh saja,” katanya lirih. “Terima kasih.”
“Ibu Gladys perlu istirahat,” kata Nadia cepat. Dia berjalan ke pintu dan memegangnya setengah terbuka. “Mas Evan, makasih. Tapi ini bukan waktunya.”
“Tentu.” Evan mengangguk pada Gisel, pada Pak Harun, dan pada Nadia, lalu keluar tanpa suara langkah.
Hening. Gladys memiringkan wajahnya ke arah dinding.
“Sakit?” Nadia mendekat. “Lengannya? Aku panggilin dokter?”
“Tidak.” Gladys menggeleng pelan tanpa membuka mata. “Aku hanya lelah.”
Nadia mengira itu takut. Dia mengira itu nyeri. Dia menarik selimut Gladys sedikit ke atas, dan wanita itu menelan ludah.
Di koridor, Anggit terbangun dengan bunyi hidung tersedak, mengusap air liur di sudut bibir, dan melihat Nadia keluar.
“Gue ketiduran? Ada yang foto gue?”
“Nggak ada.”
“Tadi gue denger suara Evan.” Anggit mengerjap. “Dia bawa bunga?”
“Lili putih.”
“Lili putih buat orang sakit?” Anggit menggaruk tengkuk. “Bukannya itu bunga duka cita? Gue pernah nganter satu ke pemakaman tetangga.”
“Namanya perhatian,” kata Pak Harun dari ambang pintu, tanpa mengangkat mata dari laptop. “Kadang perhatian yang tidak diminta tidak peduli dengan arti bunga.”
“Iya, Pak,” kata Nadia, tidak mengerti kenapa tengkuknya dingin.
***
Pukul sembilan, Bram dan Sandra tiba di koridor dengan langkah tergesa. Sandra masih memakai blus tidur di balik cardigan. Bram berjalan di depannya dengan wajah gelap, dan Nadia, yang duduk di bangku dekat pintu observasi, langsung berdiri.
“Pah—”
“Kamu menendang penculik?”
“Itu bukan penculik, Pah. Itu suami—”
“Bukan masalah suami atau bukan!” Suara Bram naik, bergema di dinding koridor. Dua perawat menoleh. “Papah dapat telepon pukul empat dari Edgar yang dapat telepon dari Anggit. Anak Papah ada di rumah kontrakan orang yang hampir membunuh istrinya sendiri, jam dua pagi, dan Papah baru tahu setelah selesai!”
“Mas,” bisik Sandra, “pelan.”
“Papah tidak bisa pelan, Mah.”
“Pah.” Nadia menegakkan bahu. Dia menatap ayahnya, sesuatu yang jarang dia lakukan saat Bram sedang marah. “Nanad tahu Papah takut. Nanad juga takut. Tapi Nanad masuk ke sana karena Nanad memilih masuk. Bukan karena Felix menyuruh. Bukan karena Anggit membawa Nanad. Gladys teriak, dan Nanad nggak bisa duduk di mobil.”
“Kamu bisa mati.”
“Nanad tahu.”
“Papah tidak membesarkan kamu untuk—”
“Mas.” Sandra menyentuh lengan suaminya, lembut dan pasti. “Anak kita menolong orang. Biarkan dia selesai bicara.”
Bram menarik napas panjang. Matanya merah. Dia menatap Nadia lama, lalu memalingkan wajah ke jendela, bahunya turun sedikit.
“Papah tidak marah pada kamu,” katanya pada kaca. “Papah marah pada diri Papah sendiri karena tidak ada di sana.”
“Pah.”
“Jangan lakukan itu lagi.”
“Nanad nggak janji.”
“Nadia.”
“Tapi Nanad bakal nelpon Papah dulu,” tambah Nadia, dan Sandra tertawa kecil di antara air matanya.
***
Siang menjelang, koridor lebih sepi. Nadia duduk di bangku besi yang dingin, memeluk lutut, dan Felix duduk di sebelahnya dengan siku di lutut, kemejanya kusut, dasinya entah di mana.
Dia belum bicara hampir setengah jam. Nadia menunggunya.
“Semalam,” kata Felix akhirnya, tanpa menoleh, “saya hampir kehilangan dua orang sekaligus.”
Nadia menoleh pelan.
“Gladys,” lanjut Felix. “Dan kamu.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Saya tahu. Itu yang membuat saya takut.” Dia menyisir rambut dengan jari. “Kamu masuk. Padahal saya sudah bilang tinggal.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Nadia membuka mulut dan jawaban itu keluar sendiri, tanpa saringan. “Karena kamu ada di dalam.”
Hening, panjang. Felix tidak berkata apa-apa.
Dan Nadia, yang baru saja mengucapkan kalimat paling jujur dalam waktu lama, tiba-tiba terdiam pada kalimatnya sendiri. Karena kamu ada di dalam. Bukan karena Gladys. Bukan karena Aron. Dia berlari ke dalam rumah penjahat tanpa berpikir, hanya karena Felix ada di sana. Kapan terakhir kali dia berlari ke arah mana pun tanpa terlebih dulu bertanya ke mana Felix pergi?
Itu keberanian? Atau kebiasaan mengikuti Felix ke mana saja?
Pertanyaan itu duduk di sebelah pertanyaan lama dari malam demam, yang belum dia jawab. Dia tidak mengatakannya. Dia memeluk lututnya lebih erat.
“Nad?”
“Hm?”
“Kamu diam.”
“Capek.” Nadia memaksakan senyum. “Kurang tidur.”
Pintu ruang observasi terbuka. Gisel keluar sambil menutupnya pelan. Dia melihat dua orang di bangku itu, dan wajahnya yang tadi tegang meluruh sebentar.
“Gladys sudah tidur.” Dia menepuk bahu Nadia, bukan Felix. “Kamu juga tidur, bocah nakal. Pulang ke mansion dan tidur di kamar tamu.”
“Tante Mamah, aku masih—”
“Nadia.” Gisel menurunkan kacamata ke ujung hidung. “Gladys tidak punya siapa-siapa. Dan dia tadi bilang pada Tante sebelum tidur, ‘Siapa yang menendang Aron?’ Tante jawab, ‘Menantu Tante Mamah.’”
Telinga Felix memerah dalam waktu dua detik. Nadia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Tante Mamah, aku belum—”
“Belum apa? Belum jadi menantu? Itu urusan nanti.” Gisel mengibas tangan dan berbalik. “Makan dulu. Kalian berdua bau selokan.”