Beberapa tahun kemudian Nadira dan Nura masih tetap berteman baik, saat lulus SMA Nadira memutuskan keluar dari rumah dan Rifqi lalu memberikanya satu unit apartement untuk dirinya tinggali.
Nadira yang pintar membuat dirinya diterima di Universitas ternama di Ibu Kota, sedangkan Tania dia masuk di Universitas Swasta. Tania merasa senang saat Nadira meninggalkan rumah karena itu berarti dia telah kenyingkirkan Nadira dari Ayahnya.
Nadira berada di apartemenya bersama dengan Nura, mereka berdua akan tinggak bersama di apartement itu.
“Nura memang orang tuamu beneran ngebolehin kamu tinggal disini?” tanya Nadira yang sedang sibuk menata barang-barangnya.
‘’Iya beb mereka ngebolehin aku kan aku akan tinggal denganmu jadi sudah pasti mereka tidak melarangku,” jawab Nura. Keluarga Nura sudah mengenal Nadira dengan baik.
“Ya sudah kau masak sana aku laper,” pinta Nadira yang baru saja selesai menata barangnya dan duduk disamping Nura.
“Hiii engga mau aku mager, pesen makanan ajalah,” usul Nura yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk memesan makanan.
“Tunanganmu gimana?” tanya Nura setelah selesai memesan makanan melalui ponselnya.
“Aku malas jika membahas dia,” jawab acuh Nadira.
“Isunya dia tampan,” ujar Nura.
“Iya dia memang tampan tetapi dia playboy, jika perjodohanya batal juga aku tak perduli Nura,” tutur Nadira.
“Tania masih mencoba mendekati tunanganmu itu?” tanya Nuta penasaran.
“Jangan ditanya lagi, dia bahkan ikut kami saat nonton bioskop,” ujar Nadira yang membuat Nura ngakak mendengarnya.
“Hah beneran dia melakukanya, terus-terus Devan gimana? Gimana reaksinya?”
“Dia cuek banget sama Tania, setiap Tania ngajak ngobrol hanya dibalas hm oh ya ntah gak tau,” cerita Nadira membuat Nura terbahak-bahak membayangkan kejadian itu.
“Kau kan tau jika aku sama Devan jarang ketemu sekalinya ketemu jarang ngobrol apalagi pegangan tangan, kemaren mungkin karena dia terlalu risih dengan Tania dia tiba-tiba gandeng tanganku. Aku kan melotot ke dia terus dia melotot balik ke aku biar aku ngga lepasin pegangan tanganya,” jelas Nadira.
“Aku yakin Tania langsung terbakar saat itu,” tebak Nura.
“Iya kamu benar dia langsung pamit pergi dengan alasan ada janji dengan teman,” keduanya tertawa terbahak-bahak sampai perut mereka sakit.
“Hahahaha Tania Tania kasian dia,” ujar Nura mengasihani Tania. “Mungkin Tania sekarang senang karena kamu pergi dari rumah, dan berusaha membujuk Om Rifqi supaya dia saja yang dijodohkan dengan Devan,” tebak Nura lagi.
“Ya kek dulu waktu Devan main kerumah saat libur semester, setelah melihat Devan dia langsung terang-terangan ke Ayah kalau dia suka dengan Devan,” tutur Nadira.
“Tetapi ternyata Om Rifqi engga mau membatalkan pertunangan itu, dia mungkin berfikir bahwa permintaanya akan selalu dikabulkan oleh Om Rifqi tapi nyatanya engga,” ujar Nura yang disambut tawa oleh keduanya.
“Meskipun Ayah mau membatalkanya aku rasa Mamanya Devan engga akan pernah setuju,” ujar Nadira menghentikan tawanya.
“Ya jelaslah itu kan janji dia dengan Bunda kamu Ra,” ujar Nura membenarkan.
“Padahal aku mau pertunanganya batal, kamu belum pernah ketemu Devankan? Sumpah dia menyebalkan.”
“Sabar aja ya siapa tau setelah nikah sama kamu dia berubah dan mencintai kamu,” goda Nura yang mendapat timpukan bantal di wajahnya. “ Oh ya apa Tania tahu jika Ayahmu yang membelikan apartement ini?” tanya Nura.
“Sepertinya engga tahu,” jawab singkat Nadira.
“Ra aku rasa Om Rifqi menyayangi mu tetapi dia kalah dengan ibu tirimu itu.”
“Aku juga kadang merasa gitu, mungkin setelah kedatangan Tania membuat hubunganku dan Ayah renggang tetapi sesungguhnya Ayah diam-diam menjagaku dari orang-orang yang akan mencelakaiku,” tutur Nadira. “Apa kau tahu dulu saat Tania memaksaku memakan udang dan membuat wajahku merah-merah Ayah diam-diam memberikan obat untukku,” sambung Nadira.
“Oh ya kau tak pernah cerita itu.”
“Mungkin jika Ayah tak memberikanku obat maka wajahku masih memiliki bekasnya, aku percaya dia menyayangiku,” ujar Nadira.
“Tapi Om Rifqi engga pernah lihat wajah kamu?” tanya Nura.
“Engga pernah, Ayah engga pernah liat wajah aku mungkin dia juga mengira bahwa aku jelek.”
“Sejelek apapun anaknya orang tua pasti menganggapnya cantik.”
“Oh ya bukanya kau dijodohkan dengan Damian, gimana dia?”
“Ya dia tampan tapi sangat angkuh aku berharap jika perjodohan ini dibatalkan,” harap Nura.
“Aku dengar dia baru saja menyekesaikan S1nya di Inggris.”
“Iya kau benar, kemaren aku bertemu denganya dia yang baru pulang dari Inggris. Oh sungguh itu pertemuan yang mengesalkan,” ujar Nura dengan ekspresi kesalnya.
“Apa yang dia perbuat sampai sahabatku ini kesal begini?” tanya Nadira.
“Dia kan datang kerumah ngajak aku makan malam, dari awal sih aku tau jika itu pasti paksaan dari orang tuanya. Tapi apa kamu tau apa yang terjadi?” Nadira menggelengkan kepalanya.
“Dia memesan ruang vvip di restoran dan saat aku dan dia masuk disana udah ada dua wanita yang menunggunya,” jelas Nadira yang menahan emosinya.
“Playboy,” ujar Nadira. “Lalu apa yang kamu lakukan?”
“Aku membiarkanya saja, aku males meladeni orang seperti dia apalagi jika harus berurusan dengan wanita-wanita seperti itu. Aku merasa kalau tidak selevel dengan mereka,” jelas Nura. “Bukanya aku merendahkan wanita itu tetapi mereka terlihat seperti wanita murah*n, berebut menyuapi Damian makan bahkan berebut perhatian dari Damian,” sambungnya lagi.
“Kamu sungguh membiarkanya?” tanya Nadira tak percaya.
“Mungkin dia menginginkan aku marah dan membatalkan perjodohan ini, padahal jika aku bisa melakukanya aku udah batalin perjodohan ini sebelum bertemu denganya,” tutur Nura.
“Sepertinya Damian engga bisa membatalkan perjodohan ini makanya dia membuat kamu kesal denganya,” tebak Nadira.
“Ya kau benar aku juga merasa begitu, tapi sudah lah biarkan saja dia bertingkah sesuka dia. Aku hanya perlu berdoa agar perjodohanya batal,” ujar Nura.
“Sabar ya,” ujar Nadira.
Ting tong. Bel berbunyi Nura langsung menuju kearah pintu untuk melihat siapa yang datang, ternyata pengantar makanan yang datang mengntarkan pesanan mereka. Nadira dan Nura lalu makan siang bersama sambil terus membahas keburukan laki-laki yang dijodohkan dengan mereka.