alina naik ke tangga ingin menuju kamar dia dan devin, untuk membangunkannya karna dia memang ada rapat penting pagi ini, setibanya di kamar devin sudah lebih dulu membuka pintu, "pagi tuan, itu saya sudah masak kit_" katanya terhenti begitu devin melewati nya
tepat di hadapan, devin seperti tak dengar apa yang di katakan alina, alina hanya diam menunduk, dia mengikuti devin dari belakangnya
di lift saat mereka berdua ingin turun ke bawa, suasana hening, tiba lah devin berkata, "Kau mau honeymoon?" tanya devin secara tiba tiba, membuat alina mengangkat wajahnya
"honeymoon?, sa-saya" terhenti lagi dia berkata, "kita pulang ke rumah dulu, 2 hari setelah itu baru honeymoon" ucapnya astaga alina berdebar, benarkan barusan yang dia dengar??
hatinya senang sekali, terukir lah senyuman di wajahnya, "baiklah.. t-" kali ini katanya terhenti lagi begitu devin meninggalakannya sendiri saat lift yang sudah tiba di bawa.
"aku ada rapat penting pagi ini kau makan sendiri saja" ucapnya lalu pergi meninggalkan alina sendiri di meja makan, "baik baiklah hanya kau sendiri sekarang kau bisa makan sepuasnya alin!" tegasnya dalam hati lalu mula mengautkan nasi ke piringnya
"lho lho, mana devin?? kok kamu cuma sendiri?" tanya kayla yang muncul dari arah tangga menuju meja makan itu, "udah jalan mi, nanti alina hantar makanan ke kantor" jawab alina, kemudian mengautkan nasi ke piring mertuanya itu
"ohh anak itu! emang kebiasan!, ya sudah lah, kita makan berdua aja" ucap kayla lalu duduk di kursi, "ini kamu yang masak?, sendiri??, wahh wangi banget, ada..BUTTER CHICKEN!! kesukaan mami"
"mami suka butter chicken??" tanya alina begitu melihat mertuanya mengambil lauk butter chicken itu, "iya mami dari gadis lagi suka ini, kamu pintar masak cocok jadi menantu mami!" ucapnya sembari menunjuk jari jempol buat alina.
setelah selesai makan alina membereskan bekas bekas makanan tadi, ibu mertuanya awalnya ingin membantu tapi di larang sama alina, sewaktu mencuci piring kepalanya terasa sakit d**a nya sesak, "ahkk" ringisnya memegang d**a kirinya
lalu rasa sakit itu berhenti, dia memukul mukul dadanya yang sudah berhenti sakit itu, dia mempercepatkan mencuci piring.
setelah selesai cuci dia kembali ke kamarnya
mengambil obat dan air, lalu di minum,
"shhh" dia memegang kepalanya sakit nya terasa lagi, dia abaikan rasa sakit itu, "kau kuat alin!!" tegasnya pada diri sendiri
lalu kembali turun ke bawa membuat makanan tengah hari untuk suaminya, dan di bawakan ke kantor
"mbok" panggil alina melihat mbok jira ada di dapur, "eh iya nyonya muda ada yang bisa mbok bantu??" ucapnya lalu pergi ke hadapan alina
"itu..hmm saya mau bikin makan tengah hari untuk Tuan devin dia sukanya makan apa??" tanya alina.
"Tuan devin sukanya pasta sih non yang pedas pedas dia nya suka, sama rendang" jelas mbok jira
"ohh yaudah makasih ya mbok alina mau bikin dulu" ucapnya mbok jira begitu mendengar apa yang di katakan alina, langsung senyum senyum romantis banget sih pikirnya.
alina selesai masak, dia memasukkan ke dalam paper bag coklat, dia biarkan penutupnya terbuka agar huapnya keluar, lalu dia naik ke atas, untuk mandi dan bersiap.
Pinth kamar di buka, alina langsung mengambil handuknya, dan masuk ke kamar mandi. setelah mandi, dia ke ruangan persalinan baju, lalu memilih baju yang casual elegan dan simple, setelah semua itu dia
menata rambutnya, di lerai dan di tambah cepitan di kanan kiri rambutnya, touch up sedikit cushion dan blush on di muka, lipbalm pink, lalu minyak wangi satu semprot
setelah selesai dia turun ke bawa, turun menggunakan lift, lalu berjalan ke arah dapur.
"mbok alin pergi dulu ya" pamitnya pada mbok jira yang memotong daun di halaman luar, "iya nyonya hati hati" ucapnya lalu alina masuk ke dalam mobil, "pak kita ke kantor tuan devin" titahnya alina, lalu supir itu pun mengiyakan dengan anggukan kemudian mobil pun berjalan
di tengah tengah perjalanan alina yang di seat belakang, dia menatap jendela mobil entah sedang melihat apa atau melamun, dia tiba tiba teringat saat, dia di angkat oleh kedua orang tuanya itu
dulu kedua orang tua alina meninggal akibat kecelakaan, dia di asuh oleh temannya orang tua nya yang sekarang menjaganya hingga dia menikah lalu di lepaskan pada suaminya
MEMORIES KELUARGA ALINA YANG DULU
"happy birthday alina...happy birthday anak ibu ayah happy birthday to you" nyanyian ulang tahun masih alina ingat sangat ia rindukan ingin sekali mendengar nyanyian ibu ayahnya saat ulang tahun nya nanti
"yeayyy, makasih ibu ayah,, sayang kalian banyak banyakk. muahh, muahh" ujar alina lalu mencium kedua pipi orang tuanya itu
saat itu umur alina sudah 12 tahun mereka merayakan ulang tahun alina di pantai
"ok sekarang make a wish sayangnya ibu"
dia membuat permintaan, menutup matanya,
lalu memeluk kedua orang tuanya itu
"tutup mata ibu mau kasih hadiah" kata ibunya alina, alina menutup mata nya dengan kedua tangan, lalu dalam kiraan 3
"1...2...3, tadaaa" alina kaget senang bahagia bercampur dia berlompat lomoat begitu meoihat hadiah dari sang ibu, sebuah rantai emas yang ada nama alina andrea itu, terukir cantik, alina memang senang dengan hadiah apa pun itu
"ibu pasangin yah" kata ibunya alina, lalu berjalan mendekay alina dan memasang rantai emas indah itu di lehernya.
Seketika lamunan alina terhenti begitu melihat devin menuju restoran dengan wanita yang ia lihat malam itu dan sore itu, "Kenapa hati ini harus sakit?!" keluhnya dalam hati, lalu menyuruh supir itu untuk berhenti di dekat halte bus yang jauh dari restoran itu.
"pak ini makanan buat bapak aja, oh yah nggak usah jemput saya pak nanti saya pulang di hantar teman saya" ucap alina lalu memberikan bekal yang ia buat untuk suaminya itu pada supir
daripada di buang mubazir, mending di kasih aja ke pak supir, "ehh bukan ini untuk tuan ya?? kok di kasih ke saya" kata pak supir itu, mencuba untuk menolak
"ambil aja pak, saya mau beliin sesuatu untuk tuan devin" jelas alina.
"ohh iya iya makasih ya nyonya, nyonya emang yang terbaik" ucap pak supir itu.
setelah 20 menit alina duduk di halte bus itu menatapi hidupnya yang sekarang, banyak orang yang berlalu lalang di sekitar halte bus itu, alina masih diam, hingga 30 menit, dia berdiri berjalan entah kemana
"ibuu ayah... alin kangen kalian" batinnya, lalu melintasi jalan raya. BRUKK
"maaf, maaf," ucap seorang pria lalu mengambilkan tas alina yang jatuh, "ahh nggak papa makasih" balas alina, entahlah biar pun di senggol orang dengan keras tak ada rasa sakit yang ia rasa
malah rasa sakit hati melihat suaminya denganw wanita lain, tapi kenapa, kenapa dia harus sakit hati??
pria itu memandang lama wajah alina, dia mengerut dahi lalu berkata, "eh? alina??" alina yang sadar, langsung memandang wajah pria di depannya dia pun mengerut dahi, ingin mengenal siapa pria yang tau namanya itu?
"zaki???, astaga" ucapnya lalu menutup mulut nya dengan kedua tangan. "astaga, si cengeng di sekolah dulu udah gede aja yah" ujar pria bernama zaki itu,
"lu darimana mau kemana lin?" tanya zaki, mereka ada di sebuah cafe casual di tengah tengah kota itu, alina berfikie sejenak tak mungkin kan dia berkata jika dia ingin menghantarkan bekal pada suaminya
malah liat suaminya sama wanita lain, terua dia mau pulang aja karna sakit hati, "ohh jalan jalan aja sih" ucapnya
"Lu sendiri ngapain?" tanya alina kembali, sembari memandang muka sahabatnya dari kecil itu, "mau ke rumah abang gue, anaknnya nyambut ulang tahun"jawab zaki juga kembali menatap alina
kedua mata saling bertemu, alina senyum lebar memperlihatkan giginya yang rapi dan indah sementara zaki hanya tertawa kecil melihat sang sahabatnya itu sikapnya tak berubah
"bisa dong gua dateng? di jemput nggak sih gua??" tanya alina, "ohh tentu kapan pun itu datang aja sih, nanti sore kayaknya jam 4 an gitu mau gua jempit nggak??, etss tunggu lu kan dah nikah.." alina senyum senyum tak jelas
"nggak papa.. nanti gua nyuruh nila hantar aja" ucapnya dia juga tak ingin di anggap sebagai wanita tak baik baik karna di jemput sama pria lain selain suaminya
dia harus setia, dan memang dia memang setia, namun pernikahan itu sangat amat membuatnya sakit hati, dan dia memang sudah tau itu dari awal,
"Lu nggak berubah tau lin" ucap zaki tiba tiba.
"yaudah sih iya, gua kan emang suka senyum, orang senyuman gua aja menawan" godanya, tapi memang senyuman seorang alina andrea sangat manis bisa bikin para kaum adam mimisan
"bukan..di wajah lu, lu kelihatan banget lagi nggak baik baik aja" ucapnya lagi, alina terpatung, dia seharusnya memasang lebih banyak topeng senyuman palsu biar orang orang tidak melihat dirinya sedang tidak baik baik saja
"kelihatan banget yah?, sokay kalo lu traktir gua cheese kek itu gua bakalan jauh lebih baik" kata alina dengan senyuman lebarnya lagi
"lu nggak biasanya gini alina.." batin zaki, lalu menggelengkan kepalanya dan berdiri menunu kaunter untuk memesan cheese cake kesukaan alina, dia memperhatikan alina, gadis itu masih tersenyum, namun perlahan pudar,matanya berkaca kaca memandang ke luar jendela.
"siapa yang nyakitin lu lin" batinnya lalu membawa pesanan cheese cake itu, berjalan ke arah meja dia dan alina, "nahh cheese kek lu" ucap zaki menyodorkan cheese kek itu pada alina lalu duduk di kursi nya
"wahhh, makasih, lu nggak makan??" tanya alina melihat zaki hanya ada air jus di hadapannya, "lu aja makan, gua udah tadi" jawabnya lalu melipatkan tangan di meja
"yaudah gua makan" ucap alina sembari memotong cheese kek itu, lalu memasukkan nya ke dalam mulut, "hmm enak banget sampai mau nangis gua" ucap alina kembali lalu mengelap air matanya yang jatuh ke pipi
"lu nangis lin, lu nggak baik baik aja" batin zaki melihat alina, yang mengelap airmatanya guna tisu.
setelah 2 jam bercerita tentang masa lalu dan masa sekarang alina dan zaki masing masing pulang, zaki awalnya ingin menghantar alina namun alina menolak, zaki tau maksud alina apa, jadi dia tidak menghantar alina,
gadis itu naik bas, zaki yang melihatnya sudah duduk di dalam bas itu melambai lambai, perlahan bas itu berjalan dan makin menjauh.