begitu tiba di villa devin, entah mengapa alina menyukai villa itu dan kawasan villa itu rasanya tenang sekali damai dan dingin, ada danau yang indah dan terjaga, juga sangat menyatu dengan alam ada kebun kecil bunga mawar putih, alina tersenyum melihat iu semuanya
Dia berjalan masuk ke dalam villa itu, koper nya sudah terlebih dulu di bawakan oleh supir tadi keatas kamar, mengenai kedua orang itu mereka masih di mobil entah mau kemana atau hanya ingin tidur di mobil saja
alina tak perdulikan itu, dia naik anak tangga satu demi satu hingga lah tiba di depan kamarnya, begitu pintu di buka, yah dia sudah menduga, hanya ada satu kasur untuk satu orang dan memang hanya dia yang akan tidur di kamar itu
alina tersenyum lalu menghela nafas lega, dia meletakkan tas nya di meja rias lalu berjalab keluar ke balkon
kamar itu tersedia balkon cukup luas untuk satu orang dan tak terlali kecil ada kamar mandi dan ruang ganti baju, dia membuka gorden berwarna putih dan beige yang punya dua sisi itu, lalu memdorong pintu slide door itu, baru saja di buka, kesejukkan angin sepoi sepoi
menyapa tubuhnya, untungnya dia memakai baju yang agak tebal, Dia ke depan balkon itu untuk melihat apa yang ada di bawa sana
ada taman hatinya tenang dia mencoba menenangkan fikirannya dan membuang semua fikiran basinya tentang kehidupan sekarang pada angin yang berlalu
menghela nafas lega, lalu perhatikan sekeliling kawasan taman itu, jika menyatu dengan alam sudah pasti ada hutan, tak menyeramkan karna terjaga, dan juga bersih, tapi ada satu lubang di belakang pokok sakura yang menarik perhatian alina
dia mengerut kan dahi melihat lubang yang hanya bisa muat anak kecil itu, lama dia meletakkan pandangan ke lubang kecil itu
namun tak ada apa apa hanya lubang kecil untuk para kelinci lalu lalang, dia berfikiran positive meski hatinya penasaran sekali ingin tau apa yang di balik lubang terbentuk bulan penuh rerumputan itu.
Hari mulai gelap perlahan karna mendung, kini hanya ada alina dan beberapa pembantu di villa itu, fia dan devin entahlah kemana mereka, alina turun ke bawa ingin melihat² sekeliling puas sudah dia seharian menata kamar barunya itu yang awalnya berdebu karna tak pernah di huni kini sudah cerah menjadi kamar di huni
"nyonya alina selamat datang di villa ini
nama ku amon bagaimana perasaan mu mengenai villa ini" ucap sebuah robot mini yang terletak di meja ruang tamu, "hmm tenang dan damai, yah rasanya cukup menyenangkan" balas alina sambil duduk di sofa kulit berwarna hitam itu
"Wahh aku ikut senang mendengarnya, apa yang ingin kau lakukan hari ini?" tanya robot itu sambil menunjukkan senyuman nya di dalan screen hitam, "aku juga kurang tau sepertinya akan hujan aku ingin menikmati setiap rintik rintik hujan yang turun sambil meminum coklat panas ku"
ucapnya, robot itu berkata "sepertinya seruu, ohh yah aku sudah mendaftar namamu di dalam sistem ku, jadi kau bisa bebas menggunakan ku" jelas robot itu.
Sore menjelma Karna keasikan bermain dan bercerita dengan robot alina tertidur di sofa empuk itu, suasana villa sangat dingin karna ada ac yang di pasang dan lebatnya hujan yang turun, villa itu tampak mewah jika lampu hiasan nya di atas di hidupkan dan menjadi warna oren
alina dengan tidur cantiknya, rambutnya di lerai, juga memakai selimut penghangat sedada, dia kelihatan seperti seorang anak gadis yang baru pulang sekolah, langsung rebah di sofa dan tidur.
di Malam sunyi di campur dengan hujan, zaki seorang diri di kamarnya melakukan tugasnya, lelaki itu sungguh tampan saat fokus berkerja, tak kalah dengan devin, mereka berdua sangat tampan rupawan, tiba tiba zaki menghentikan penggerakan jari jemari nya mengetik ngetik keyboard computer itu
dia tiba tiba, teringat akan alina, dia bersandar ke belakang kursi menatap langit langit, entah mengapa begitu teringat senyuman manis sang sahabat dia tertawa kecil dan melanjutkan tugasnya.
sementara itu di Hotel bintang lima milik devin, fia dan devin tak jauh dari kata hotel sudah pasti tau apa yang berlaku antara mereka.
"Pagi nyonya" sapa bi sugi pembantu paling senior di villa itu, "iya bi, Devin belum pulang lagi?" tanya alina kali ini dia tidak menggunakan kata tuan, Mau bagaimana pun dia tidak boleh jatuh meski dia sadar posisinya
"belum pulang lagi nyonya, saya sudah siapkan sarapan silakan di makan nyonya" ucap bi sugi membuka jalan buay alina ke ruang makan, "makasih bi, bi mau makan sama saya?" ajak alina alih alih suaminya tidak ada apa salahnya mengajak seorang yang ia kenal apalagi itu bi sugi sudah serasa ibunya sendiri
"nggak deh nyon, makasih bi sugi ke belakang dulu" tolak bi sugi walaupun sebenarnya lapar juga, alina menawarkan sekali lagi syukurnya ia mau karna wajah alina yang memohon mohon untuk makan bersama, sangat terkesan di hati bi sugi
"Bi devin biasanya kapan pulang kalau habis kerja?" tanya alina mereka sudah di meja makan dan mulai mengaut nasi goreng ayam buatan di sugi, "biasanya jam 11 malam, tapi kayaknya mungkin lagi lembur makanya belum pulang" jawab bi sugi yang mengautkan nasi goreng ayam itu ke piringnya
"ohh begitu yah" ucap alina, terpapar di wajahnya banyak pertanyaan yang ingin dia tanya kepada bi sugi, bi sugi tau akan hal itu, dia menarik nafas panjang panjang lalu menghembuskan nya, "kamu anak yang baik" ucap bi sugi alina mengangkat kepalanya menatap bi sugi
"Saya juga pernah menikah, jadi saya tau apa yang kamu rasakan, menikah tidak seindah yang kamu bayangka bukan?" ujar bi sugi, sembari memandang alina di hadapannya
"Setiap rumah tangga pasti ada ujiannya cobaannya, kadang ada jalan penyelesaian nya kadang juga ada jalan buntunya" jelas bi sugi
"bibi dulu sempat menyesal, karna menikahi pria yang tak mencintai dan menyayangi bibi, padahal bibi menaruh harapan besar padanya, di awali dengan berantem ber adu mulut, rumah desa kami nggak sah kalau nggak ada suara cacian makian hinaan" jelas bi sugi lagi
"namun setelah bibi tau dia punya wanita lain, entah lah perasaan bibi campur aduk, antara sedih dan marah mau menangis iya, namun semua itu tak ada guna, perlahan bibi bangkit sendiri, maju dan berubah hingga pada akhirnya bibi mati rasa dengan mantan suami bibi kami bercerai, dia menyesal untungnya kami belum di kurniai seorang anak" jelas bi sugi lagi sepertinya air matanya akan keluar
"Ahh maaf bibi kelewatan, cepet habiskan makanan mu nanti bibi beresin" ucapnya lalu mengelap air mata yang jatuh ke pipi, alina memandang wanita paru baya itu, dia terdiam sejenak lalu berkata
"Bi? mau kah kau mendengar cerita ku?" ucapnya bi sugi yang sibuk membereskan tempat makannya berhenti begitu alina berkata
"silakan nyonya".
"Aku juga bingung harus mulai dari mana, seperti yang bibi katakan tadi memang benar pernikahan hasil dari perjodohan tak indah jika kedua belah insan tak mencintai satu sama lain, tapi mampu kah aku melawan rasa cinta ini? untuk tidak berharap kepada nya?, hari demi hari rasa ini makin merajarela di hati entah aku harus bagaimana, aku ingin membuang semua perasaan itu jauh jauh, namun aku tam mampu, rasanya berat sekali, padahal orang yang ia cintai bukan diriku" jelas alina dengan nada lembut
"seperti yang bibi katakan tadi, setiap masalah ada jalan nya dan ada buntu, bibi tau kamu pintar memilih jalan, tak semua orang di ciptakan dengan sempurna dan terus mendapatkan jalan lurus setiap manusia punya masalah dan jalan masing masing, bibi akan mendukung mu di belakang jangan pernah menyerah yah" ujar bi sugi dengan senyuman nya
"benar" batin alina lalu membalas senyuman dan berkata, "makasih bi, oh yah aku mau keluar dulu yah ketemu sahabat ku".
Setelah pamitan alina keluar dari villa itu dia di hantar oleh supir, alina awalnya ingin mengendarai mobilnya sendiri tapi mobilnya masih di rumah ibu ayahnya belum di hantar lagi.
"mau kemana nyonya?" tanya pak supir itu
"ke makam pak, turunin saja saya disitu" jawab alina pak supir itu tak bertanya lagi mungkin tak ingi mengorek privasi alina, dia mengiyakan dan mobil itu berjalan.
alina membuka ponselnya masuk ke aplikasi galerry, dan terlihat lah banyak sekali fto dia dan kedua mendiang ibu ayahnya, "ibu ayah.. alina kangen kalian" batin nya perlahan air mata nya jatuh ke pipi, makam tak terlalu jauh, alina ingin menjenguk makam kedua orang tuanya itu.
"makasih pak" ucap nya dia sudah tiba di makam, dia menyuruh pak supir untuk jangan menunggu nya karna ada teman nya yang menjemput meski sebenarnya itu alasannya ingin pergi ke RS.
Setelah menjenguk kedua makam orang tuanya, dan melepaskan rindu, dia pergi ke Rs untung RS itu tak jauh dari makam hanya di sebrang.