Pagi itu datang dengan lembut, seolah tahu bahwa seorang gadis sedang memulai babak baru dalam hidupnya. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai putih di sebuah kamar bernuansa pastel, memantul di dinding dan menyentuh wajah seorang gadis yang masih terlelap. Udara pagi terasa segar, membawa aroma taman kecil di halaman rumah.
Gadis itu bernama Chloe Alverina.
Usianya 17 tahun, anak kedua dari dua bersaudara. Rambut hitamnya tergerai acak di atas bantal, wajahnya tampak damai, polos, dan jauh dari kesan beban hidup. Ketika alarm ponselnya berbunyi pelan, Chloe menggeliat kecil sebelum akhirnya membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar selama beberapa detik, lalu tersenyum samar.
Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, adalah hari yang penuh harapan.
Chloe duduk di tepi ranjang, merapikan selimut dengan kebiasaan yang telah ia lakukan sejak kecil. Ia bukan gadis yang suka meninggalkan kekacauan. Sejak dini, orang tuanya mengajarkan tanggung jawab, kesederhanaan, dan rasa syukur—nilai yang membuat Chloe tumbuh menjadi pribadi yang anggun, bukan karena penampilan, melainkan sikap.
Ia berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya, lalu berdiri sejenak di depan cermin. Pantulan dirinya memperlihatkan seorang gadis dengan mata jernih dan sorot yang tenang. Chloe tidak pernah merasa dirinya istimewa, meskipun orang-orang di sekitarnya sering memuji kecantikannya.
Baginya, hidup bukan tentang menjadi paling menonjol, melainkan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Chloe berasal dari keluarga berada. Fasilitas hidupnya lengkap, pendidikannya terjamin, dan masa depannya terlihat cerah. Namun semua itu tidak pernah membuatnya tinggi hati. Ayah dan ibunya selalu memastikan bahwa kekayaan tidak menjadi alat untuk merendahkan orang lain. Justru sebaliknya, Chloe dibesarkan dengan empati dan kesadaran sosial.
Ia baru saja memasuki awal masa kuliah di jurusan Bisnis—pilihan yang cukup mengejutkan sebagian orang. Banyak yang mengira ia akan memilih seni atau sastra karena sifatnya yang lembut. Namun Chloe menyukai tantangan. Ia ingin memahami bagaimana sebuah keputusan dapat memengaruhi banyak orang, bagaimana kepemimpinan dijalankan dengan hati, bukan hanya kekuasaan.
Di lantai bawah, aroma sarapan tercium hangat. Suara peralatan makan dan langkah kaki ibunya membuat suasana rumah terasa hidup.
“Chloe, sarapan sudah siap,” panggil sang ibu dengan suara penuh kasih.
“Iya, Ma,” jawab Chloe sambil meraih tas kecilnya.
Di meja makan, ayahnya duduk membaca koran pagi, sementara kakaknya menikmati kopi. Kehangatan keluarga itu selalu menjadi tempat paling aman bagi Chloe.
“Kuliahmu bagaimana?” tanya ayahnya sambil melipat koran.
“Baik, Yah. Masih adaptasi, tapi aku suka,” jawab Chloe jujur.
Ayahnya tersenyum bangga. Ia tahu, putrinya memiliki masa depan yang cerah—meski ia juga sadar, ada hal-hal dalam hidup yang tidak selalu bisa dikendalikan.
Chloe tidak tahu bahwa ketenangan pagi itu adalah bagian dari hidupnya yang suatu hari akan ia kenang dengan perasaan campur aduk.
Di tempat lain, pagi tidak pernah terasa selembut itu.
Di sebuah gedung tinggi yang menjulang di pusat kota, seorang pria berdiri sendirian di balik jendela kaca besar. Dari ketinggian, kota terlihat kecil dan teratur—seperti papan catur yang siap digerakkan.
Pria itu adalah Gavin Artheon.
Usianya 24 tahun, seorang anak tunggal, dan pemegang kekuasaan besar dalam dunia bisnis. Wajahnya tegas, rahangnya kokoh, dan sorot matanya tajam. Banyak yang menyebutnya tampan bak pangeran Yunani—karismatik, gagah, dan memikat. Namun tidak semua orang berani menatapnya lama-lama. Ada aura d******i yang membuat siapa pun menjaga jarak.
Gavin mengenakan setelan hitam rapi. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya, bukan sebagai simbol gaya, melainkan disiplin waktu. Hidupnya terjadwal dengan presisi.
Pada usia 21 tahun, Gavin menggantikan ayahnya sebagai CEO. Keputusan itu sempat diragukan banyak pihak. Terlalu muda, terlalu dingin, terlalu cepat berada di puncak. Namun Gavin membuktikan bahwa usia bukan ukuran kemampuan.
Selama tiga tahun kepemimpinannya, perusahaan berkembang pesat. Sistem manajemen diperbarui, strategi diperketat, dan setiap divisi bekerja dengan efisiensi tinggi. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas, adil, dan visioner. Tidak ada ruang untuk kelalaian.
Namun di balik semua keberhasilan itu, Gavin hidup dalam kesunyian.
Ia dibesarkan dalam lingkungan yang keras dan penuh tuntutan. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil, dan sejak itu hidup Gavin berputar pada tanggung jawab dan ekspektasi. Ayahnya tidak pernah mengajarkan cara mengekspresikan perasaan, hanya cara bertahan dan memimpin.
“Pak Gavin, rapat direksi akan dimulai sepuluh menit lagi,” ujar sekretarisnya dengan nada hormat.
“Baik,” jawab Gavin singkat.
Ia melangkah menuju ruang rapat dengan langkah mantap. Setiap orang berdiri atau menunduk saat ia lewat. Gavin terbiasa dengan itu. Ia dihormati, namun jarang benar-benar dikenal.
Di dalam dirinya, ada ruang kosong yang tak pernah terisi. Kesuksesan tidak memberinya kehangatan. Kekuasaan tidak memberinya kedamaian. Namun ia terlalu terbiasa menutup perasaan itu rapat-rapat.
Baginya, hidup adalah tanggung jawab, bukan pilihan.
Sementara Chloe menikmati masa mudanya dengan tawa sederhana, Gavin menjalani hari-harinya dengan keputusan besar yang menentukan nasib ratusan karyawan. Dua dunia yang sangat berbeda, tak pernah bersinggungan, dan seharusnya tak perlu dipertemukan.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Suatu malam, Chloe dipanggil ke ruang keluarga. Suasana berbeda dari biasanya. Ayah dan ibunya duduk berdampingan, wajah mereka serius namun penuh kehati-hatian.
“Ada hal penting yang ingin kami bicarakan,” kata ayahnya pelan.
Chloe merasakan dadanya mengencang. “Tentang apa, Yah?”
Ibunya menggenggam tangan Chloe erat, seolah ingin memberi kekuatan sebelum kata-kata itu diucapkan.
Di waktu yang hampir bersamaan, Gavin duduk berhadapan dengan ayahnya di ruang kerja yang sunyi. Pria tua itu menatapnya lama, seakan menimbang masa depan anak tunggalnya.
“Gavin,” ucap ayahnya akhirnya, “sudah waktunya kamu menikah.”
Dua tempat berbeda.
Dua kehidupan bertolak belakang.
Namun satu keputusan yang akan mengikat keduanya.
Chloe belum mengenal Gavin.
Gavin belum mengenal Chloe.
Namun masa muda Chloe yang masih polos, dan dunia Gavin yang keras dan dewasa, akan segera dipertemukan dalam sebuah ikatan yang tak pernah mereka rencanakan.
Dan dari sinilah kisah PERJODOHAN DI MASA MUDAKU benar-benar dimulai