Mobil yang dikendarai Agha akhirnya memasuki area parkir basement apartemen. Lampu-lampu putih yang berjajar di langit-langit memantulkan cahaya lembut ke bodi mobil yang perlahan berhenti tepat di salah satu slot parkir.
Mesin dimatikan.
Suasana mendadak sunyi.
Hanya suara pendingin udara yang masih berembus pelan memenuhi kabin.
Tak satu pun dari mereka bergerak.
Di kursi penumpang, Nisa masih memangku buku nikah berwarna hijau tua yang sejak tadi tak pernah lepas dari genggamannya. Jarinya perlahan menyusuri tulisan emas di sampul buku itu, kemudian tanpa sadar menyentuh cincin yang kini melingkar manis di jari manis kirinya.
Masih terasa asing.
Semua yang terjadi hari ini berlangsung begitu cepat.
Pagi tadi ia masih berstatus seorang mahasiswi tingkat akhir yang sibuk mempersiapkan berkas perpindahan pertukaran pelajar di kampus pusat
Siang harinya ia mengucapkan ijab kabul.
Dan sore ini...
Ia sudah menjadi seorang istri.
Nisa menarik napas panjang.
Entah mengapa, perasaan gugup justru datang setelah semua prosesi selesai.
Agha melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya.
Tatapannya tenang, namun cukup lama hingga menyadari bahwa Nisa masih terlihat kebingungan menerima kenyataan baru dalam hidupnya.
Senyum kecil terukir di sudut bibir pria itu.
Ia tidak berniat memaksa Nisa untuk langsung terbiasa.
Perubahan sebesar ini tentu membutuhkan waktu.
"Sudah sampai."
Suara Agha terdengar lembut, membuyarkan lamunan Nisa.
Wanita itu tersentak kecil.
"Oh..."
Ia menoleh ke luar jendela.
Benar saja.
Mereka sudah berada di basement apartemen.
"Iya..."
Nisa mengangguk pelan.
Keduanya kembali diam.
Bukan karena tidak ingin berbicara.
Hanya saja, mereka sama-sama belum tahu harus memulai dari mana.
Agha membuka pintu mobil lebih dulu.
Udara basement yang sedikit lebih dingin langsung menyapa.
Ia berjalan ke arah bagasi, lalu mengangkat koper berukuran sedang milik Nisa dengan satu tangan.
Sementara itu, Nisa buru-buru turun dari mobil untuk membantu Agha membawa barang barangnya.
"Mas..."
Agha menoleh.
"Sini biar aku aja yang bawa."
"Tidak apa-apa."
"Tapi kopernya lumayan berat tau."
"Iya aku tahu."
"Nahkan kalau begitu biar aku bantu bawa juga ya Mas."
Agha menggeleng pelan.
"Aku suamimu sekarang."
Jawaban sederhana itu membuat Nisa terdiam.
Bukan nada memerintah.
Bukan pula bermaksud merendahkan.
Kalimat itu justru terdengar begitu alami, seolah mengatakan bahwa menjaga dan membantu istrinya adalah sesuatu yang memang ingin ia lakukan. Sekaligus dia menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami
Nisa akhirnya mengangguk pelan.
"Hmm.. Baiklah..."
Mereka mulai berjalan berdampingan menuju lift.
Langkah mereka pelan. Nisa berjalan dibelakang Agha. Mengikuti Agha dari belakang
Tak ada percakapan.
Sesekali hanya terdengar suara roda koper yang bergesekan dengan lantai.
Diam-diam, Nisa kembali mencuri pandang
untuk memperhatikan Agha dari belakang.
Hari ini Agha mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan hitam. Penampilannya sederhana, tetapi tetap rapi dan berwibawa.
Posturnya tinggi.
Bahu bidang.
Langkahnya tenang.
Bahkan cara pria itu berjalan pun memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Tanpa sadar, Nisa membandingkan Agha dengan pria-pria seusianya yang pernah ia temui.
Tidak ada yang benar-benar mirip.
Agha memiliki pembawaan yang membuat orang lain merasa aman hanya dengan berada di dekatnya.
Tiba - tiba Agha berhenti dan Nisa menabrak Agha dari belakang. Karna Nisa sedang tidak fokus saat berjalan. Jadi tidak tau kalau Agha berhenti
“Aduuhhh”
Nisa mengusap ngusap dahinya karna terjedot punggung Agha.
“Dadakan banget sih berhentinya. Kan sakit ini”
Agha menoleh kebelakang dingin
“Sudah sampai depan lift”
Nisa melihat ke depan.
“ Oh iyaa. Maaf ya Mas”
Tidak lama, pintu lift terbuka.
Mereka masuk kedalam lift.
Ruangan sempit itu kembali dipenuhi keheningan.
Nisa berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya. Sambil melihat sekeliling.
Sedangkan Agha berdiri di samping koper.
Layar digital di atas pintu menunjukkan angka yang terus bertambah.
Lantai Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Sembilan
Sepuluh.
Sebelas
Dua belas.
Selama perjalanan singkat itu, tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara. Nisa hanya berdiam dan memperhatikan sekelilingnya
Saat lift berhenti, Agha lebih dulu melangkah keluar lalu disusul oleh Nisa
Koridor apartemen tampak bersih dengan pencahayaan sangat hangat.
Beberapa pot tanaman hijau berjajar di sudut lorong, membuat suasana terasa lebih hidup.
Agha berhenti di depan sebuah pintu berwarna cokelat tua.
Ia memasukkan kode pada panel digital. Sambil menjelaskan kepada Nisa
“Ini kodenya 1 3 5 7 9”
“Hoo okeee aku inget”
Beberapa detik kemudian terdengar bunyi pelan.
Klik.
Pintu terbuka.
Agha membuka pintu lebih lebar, lalu menoleh kepada Nisa.
"Masuklah."
Nisa melangkah perlahan.
Begitu memasuki apartemen, matanya langsung berkeliling.
Ruangan itu tidak terlalu besar, tetapi terasa lapang.
Dominasi warna putih, krem, dan cokelat muda membuat suasana hangat sekaligus menenangkan.
Ruang tamunya sederhana.
Sebuah sofa abu-abu menghadap televisi yang menempel di dinding.
Di depannya terdapat meja kayu kecil dengan vas berisi bunga putih segar.
Tak jauh dari sana, ruang kerja dengan rak buku yang memenuhi salah satu sisi dinding.
Isinya rapi.
Sebagian besar merupakan buku-buku akademik, jurnal, serta novel.
Nisa mendekat beberapa langkah.
Ia membaca beberapa judul buku.
Psikologi.
Pendidikan.
Metode Penelitian.
Filsafat.
Ekonomi.
Bisnis.
IT
Semuanya tersusun berdasarkan ukuran.
Sangat rapi.
“Wahh.. Banyak banget bukunya”
"Mas suka membaca?"
Agha yang sedang menutup pintu menoleh.
"Hmm.."
Nisa mengangguk pelan
"Banyak sekali bukunya."
Ia kembali menyebut kalimat itu dan mengedarkan pandangan.
Dapur mungil menyatu dengan ruang makan.
Semua peralatan tersusun rapi.
Tidak ada piring yang menumpuk.
Tidak ada barang berserakan.
Bahkan meja makan hanya dihiasi semangkuk buah dan sebuah tanaman kecil.
Apartemen ini terasa begitu bersih.
Sulit dipercaya bahwa tempat ini dihuni seorang pria yang tinggal sendirian.
"Mas..."
"Hm?"
"Mas tinggal sendiri selama ini?"
"Iya."
Nisa kembali melihat sekeliling dan terkagum - kagum
"Rapi banget semuanya"
Agha tersenyum tipis.
"Aku tidak terlalu suka rumah yang berantakan."
Jawaban itu membuat Nisa ikut tersenyum kecil.
"Hmmm begituu."
Agha mengangguk.
"Iya."
Nisa menatapnya dan berbicara didalam hati
“Dari tadi di tanya jawabnya cuma hmm.. iya.. hmm.. iyaa.. hufftt”
“Mulai sekarang rumah ini menjadi rumahmu juga”
Ucap Agha ke Nisa
Walaupun ucapannya begitu dingin, tanpa sadar membuat hati Nisa terasa hangat.
“ Bukan rumahku".
“Tapi rumah kita."
Jawab Nisa sambil melihat lihat sekeliling
Agha kemudian berjalan menuju lemari kecil di dekat pintu masuk.
Ia membuka pintunya, lalu mengeluarkan sepasang sandal rumah baru berwarna merah muda.
"Ini."
Nisa menerimanya dengan heran.
"Buat aku?"
"Iya."
"Agha mengangguk pelan.
"Kemarin aku membelinya."
Nisa memperhatikan sandal itu.
Masih baru.
Label harganya bahkan sudah dilepas dengan rapi.
Ia perlahan mengenakannya.
Pas.
Benar-benar pas.
Nisa mengangkat wajahnya dengan ekspresi terkejut.
"Ukurannya pas sekali."
"Aku memperkirakan."
“Hooo begituu”
“Lagipula waktu beli sepatu untuk akad kan kamu kasih tau ukuran sepatu kamu”
“Eh iyayaa heheh lupa aku Mas”
Ternyata Mas Agha masih inget aja. Nisa melirik ke arah Agha
"Terima kasih ya Mas."
"Sama-sama."
Untuk pertama kalinya sejak akad selesai, senyum Nisa terlihat lebih lepas.
Melihat itu, Agha merasa lega.
Setidaknya, wanita yang kini menjadi istrinya mulai merasa sedikit nyaman berada di rumah barunya.
"Kalau boleh tahu..."
Nisa kembali membuka suara.
"Kamarku... eh.. maksudnya..."
Ia langsung menggigit bibirnya sendiri karena merasa salah bicara.
Pipi wanita itu memerah.
Agha tampak memahami maksudnya.
Ia tidak menggodanya.
Ia hanya menunjuk sebuah pintu di ujung lorong.
"Kamar kita."
Ucapan itu kembali membuat wajah Nisa memanas.
“Disini kamarnya cuma satu ya Mas”
“Iyaa”
“Hmmmm..”
"Kalau kamu masih belum nyaman..."
lanjut Agha pelan,
"...aku bisa tidur di ruang kerja untuk sementara."
Nisa langsung menggeleng.
"Ehh jangan, jangan Mas. Aku cuma... masih berusaha menyesuaikan diri aja."
"Aku mengerti."
Agha tidak memaksa pembicaraan itu berlanjut.
Baginya, membangun rasa nyaman jauh lebih penting daripada terburu-buru menjalankan peran sebagai suami istri.
Ia percaya, kedekatan yang tumbuh perlahan akan bertahan lebih lama dibandingkan kedekatan yang dipaksakan.
Nisa menatap pria itu beberapa saat.
Di dalam hatinya, ia masih tidak percaya kalau dia sekarang sudah menikah dan menjadi seorang istri.
Mungkin ia belum mencintai Agha.
Mungkin mereka belum benar-benar saling mengenal.
Namun, sejak pagi hingga sore ini, sikap Agha memang sedikit menjengkelkan. Tapi nisa tidak mempermasalahkan ya karna memang sifatnya begitu dari lahir
Dan tanpa disadari Nisa, rasa jengkel yang sejak tadi menyelimuti dirinya mulai berganti dengan rasa senang dan nyaman.