Happy Reading
.
.
.
Satu hal yang tak pernah Gavino bayangkan, jika Deon yang berada di posisinya. Pasti pria itu akan berseru senang, berjingkrak bahkan memamerkan pada teman-temannya.
Tapi dia bukanlah Deon, yang tidak punya malu ataupun gila. Ia seorang pria yang pemalu pada wanita, eak!
Suasana canggung begitu menyeruak di halaman belakang rumah Pak Dimas.
Gavino yang terjebak di antara dua wanita, membuatnya tak bisa bergerak dengan bebas. Sisi kanannya adalah calon istri nya, meski dia sudah menolak pada Ayahnya.
Lalu di sisi kirinya, ada seorang gadis yang setahun terakhir ini memporak-porandakan pikiran dan hati Gavino.
Padahal Gavino sudah merencanakan sesuatu, ia akan mengajak Airin untuk makan malam bersama di luar setelah selesai.
Namun gagal, rencana yang tersusun rapi begitu saja berubah dalam sekejap.
"Kamu udah punya pacar Rin?" Itu Lia yang bertanya.
Keduanya menoleh, Airin menatap Lia yang bertanya padanya. Lalu Gavino... Menatap Airin tentu saja.
Kegiatan nya terhenti sejenak, Airin menatap Gavino sebentar lalu beralih pada Lia. "Nggak ada mba."
Gavino terpaku di tempatnya, Airin tersenyum padanya. Meski sebenarnya pada Lia yang berada di tak jauh di belakang Gavino, tapi... Mari biarkan pria itu bahagia sejenak.
"Serius? Padahal kamu cantik loh, masa nggak ada yang mau." Sembari mengambil bibit bunga yang akan di tanam.
"Belum ada kepikiran buat cari pacar mba."
Lia mengangguk, "Aku juga dulu gitu sih, nggak mikirin soal pacar. Tapi karena dulu ada seseorang yang tiap hari nempelin kemanapun pergi, tembok pertahanan runtuh deh."
Airin dan Gavino setia mendengar, lebih tepatnya Gavino. Ia merasa sedikit was-was dengan cerita Lia, apalagi pada seseorang yang di sebut.
"Oh iya? Temannya mba?" Tanyanya begitu penasaran.
"Bukan teman Rin, dulu dia masih sekolah kayak kamu. Mba dulu baru aja lulus, terus dia ngajak mba pacaran. Yaudah, karena mba ngeliat dia tulus mba terima. Tapi kita pacaran nya nggak sampe setahun, bukan dia jahat. Dia baik banget malah, manja banget kalo sama ibunya, keluarga nya juga baik."
Airin menaikkan sebelah alisnya, "Putus? Why? Ada Masalah? "
Gavino memasang telinganya dengan benar-benar, mendengarkan dengan seksama.
"Something, tapi kamu tau nggak yang paling menarik nya apa?" Gadis itu menggeleng.
"Dia... Sekarang dia jadi calon suamiku Rin, nggak nyangka banget kan? Takdir Tuhan emang nggak ada yang tau. Dan dia, sekarang lagi di sini." Sambungnya sembari melihat Gavino.
Airin menyetujui itu, padahal Airin bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Tapi menurutnya cerita Lia menarik, itu membuatnya begitu penasaran. "Wahhh... Romantis banget sampe di temenin ke rumah Tante Yuna, pasti dia sayang banget sama mba."
Wanita itu tertawa kecil melihat betapa polosnya Airin, "Dia nggak temanin aku ke sini Rin, emang rumahnya di sin--"
Grep
"Hah!"
Gavino menarik lengan Airin, membuat gadis itu terkejut hingga bunga yang baru saja hendak di tanamnya jatuh ke atas rumput.
"Bentar lagi magrib, mending kita siap-siap sholat di masjid. Sisanya biarin aja." Timpal Gavino dengan cepat sembari menatap Lia.
Sedangkan Airin menatap datar Gavino yang memegang lengannya, "Kotor."
Sadar dengan perbuatannya, Gavino melepaskan tangannya yang memang kotor dari lengan kurus milik Airin. "M-maaf."
Baru saja Gavino ingin membersihkan tangan Airin yang kotor karenanya, tapi dengan cepat gadis itu menepis tangannya begitu saja.
"Jangan pegang." Dengan nada datar.
Allahu Akbar Allaahu Akbar
~~~
Gitar yang di mainkannya mengalun begitu lembut, di tambah suara khasnya yang merdu membuat seseorang di sebrang sana hampir saja tertidur.
Hanya dirimu yang pernah
Tenangkan ku dalam pelukmu
Saat ku menangis~
Sesekali matanya bergerak melihat ke arah laptopnya, di dalam sana. Di dalam layar laptopnya, Naya terlalu menghayati lagu yang di nyanyikan oleh Deon.
Bila aku, harus mencintai
Dan berbagi hati, Itu hanya denganmu
Namun bila ku harus tanpamu
Akan tetap ku arungi hidup tanpa cinta~
Bila aku, harus mencintai
Dan berbagi hati, Itu hanya denganmu
Namun bila ku harus tanpamu
Akan tetap ku arungi hidup tanpa b******a~
Jreng~
Setelah menyelesaikan lagu, Deon menaruh gitar kesayangannya di kursi yang kosong di samping kanannya.
Menyeruput secangkir kopi s**u yang menemani dinginnya malam ini, "Hahh..."
Di sana, Naya dapat dengan jelas melihat raut wajah sedih Deon. "Kenapa?"
Deon menatap jalan raya, begitu banyak orang. Padahal malam ini seharusnya ia ke markas, tapi karena Gavino bilang tidak akan datang... Ia pun sama.
"Minggu depan Gavino lamaran."
Reaksi Naya mengejutkan Deon yang baru saja hendak meminum kembali kosu nya.
"Serius!? Demi apa!?"
Pekikan Naya membuat Deon mengorek telinga nya, "Bisa nggak sih nggak usah teriak, kuping gue baru aja kemarin dapat perawatan dan lo mau ngerusakin lagi?" Geramnya tertahan.
Naya hanya tertawa kecil, "Iya-iya maaf, jadi... Airin nerima cintanya Vino? Wahh, gila sih Vino langsung gercep ye, langsung ngajak nikah aja."
Deon mengerjap, "Bukan Airin, tapi Lia."
Kalian tau reaksinya lagi? Naya bertepuk tangan, "What!? Wahh... Demi sih ini mah, se-enggak tau diri itu dia."
Ya, dan Deon menyetujui itu.
Naya menyuruh Deon mendekat, seolah wanita itu ingin berbisik padanya. "Bukannya Lia punya pacar ya? Apa jangan-jangan..."
"... Jangan-jangan tuh cewek hamil! Makanya minta ke emaknya di nikahin sama Vino, biar di kira tuh anak hasil nganu with Gavino!"
Sejujurnya Deon ingin sekali mengumpati Naya dengan berbagai binatang, tapi ia urung. Namun itu mempengaruhi pikiran Deon, padahal sebelumnya ia tak pernah berpikir seperti itu.
Menenggak kosu nya hingga tandas, Deon berucap. "Tapi Nay... Kan kita nggak boleh suudzon."
Dengan wajah polosnya, Naya mengangguk.
sih, lo bener kali ini."
~~~
Suara dentingan sendok yang beradu bersama piring menjadi pengiring makan malam ketiga orang disana.
Ayah dan Bundanya sudah kembali setelah sholat Isya berakhir, Kini ketiganya menikmati makan malam bersama di rumah.
"Oh iya Vin, Lia tadi sore ke sini nggak? Soalnya bunda minta tolong dia bantuin kamu."
Kunyahan Gavino melambat, ternyata dugaannya benar. Bundanya telah merencanakan sesuatu untuknya, "Jadi bener, Bunda yang nyuruh dia ke sini. Kenapa? Kan udah ada Airin yang bantuin."
Meski sedang kesal, tapi Gavino bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan pada kedua orangtuanya.
"Menurut kamu? Nggak mungkin kan Bunda biarin kamu berduaan sama Airin, sedangkan kamu udah punya calon istri."
Begitu enteng kalimat itu keluar dari bibir sayang bunda, moodnya benar-benar hancur saat ini. Lalu kegunaan Airin di sana untuk apa jika sudah meminta bantuan pada Lia?
"Bener apa yang di bilang Bunda kamu Vin, nggak baik seorang cowok yang udah punya calon berduaan sama cewek lain." Timpal ayah Dimas.
Trang
"Vino selesai, terimakasih atas makanannya."
Beranjak dari kursinya, Gavino melengos pergi membawa s**u yang di buatkan Bunda untuknya.
Meninggalkan kedua orang tuanya yang menatapnya nelangsa di sana.
Gavino masuk ke dalam kamarnya, sesampainya di sana ia langsung menenggak minuman nya.
Tenggorokannya nya terasa kering, dan kesalnya semakin bertambah. "Lagi-lagi pembahasan konyol, lama-lama gue yang mati konyol." Gumamnya.
Lalu ia mengambil ponselnya, membuka galeri dan mencari satu foto yang di ambilnya diam-diam.
Siapa lagi jika bukan foto Airin yang sedang memakan es krim di pinggir jalan dengan sepedanya di samping kirinya.
Di foto itu, Airin terlihat benar-benar seperti gadis yang polos. Seperti seorang anak yang di buang oleh kedua orangtuanya, sangat lucu hingga membuat Gavino tersenyum konyol.