“Uhukk, uhukkk, uhukkk” Suara batuk bapak semakin pilu didengar. Kulihat ia begitu kesulitan membuang dan kembali menghirup nafas.
“Pak, ayo ke Rumah Sakit!” kataku lagi, kali ini dengan nada lebih memaksa. Aku khawatir sekali dengan keadaan bapak. Walau aku juga sebenarnya tak membawa uang banyak namun aku ingin bapak berangkat ke Rumah Sakit demi memeriksakan kondisinya. Namun, lagi-lagi bapak menggeleng kuat.
“Simpanlah ini, bapak mau istirahat dulu sebentar ya.” Ia malah menunjuk kotak hitam yang sudah ditanganku.
“Git,” panggil bapak lagi.
“Ya Pak?”
“Maafkan bapak…dan sampaikan maaf bapak pada ibumu ya..” pintanya dengan suara lirih dan pandangan yang- kosong, lalu melanjutkan, “Terima kasih sudah mengunjungi Bapak ya Nak..”
Aku mengangguk.
“Ada kamar disebelah kamar ini, kamu beristirahatlah disana..tapi maaf, rumah bapak sederhana begini, pasti berbeda jauh dengan tempat tinggalmu di luar negeri…maaf kalau kamu tidak nyaman..”
“Tak apa Pak…” sahutku, “Pak, apa bapak tinggal sendirian selama ini? Sejak kapan? Dan..kenapa keadaannya berbeda jauh dengan dulu Pak?”
Akhirnya keluar juga pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi memenuhi kepalaku itu.
Sejenak bapak seperti merenung. Pandangannya seperti mengawang. Lantas ia tersenyum kecut.
“Semua sudah takdir, bapak memang sudah kehilangan segalanya karena kebodohan bapak. Sekarang, beginilah keadaan bapak Git, mungkin ini karma yang harus bapak tanggung karena dulu menyia-nyiakan kamu dan ibumu..” mata tuanya nampak berkaca, lalu melanjutkan kalimatnya, “Bapak sudah sendirian sejak tiga tahun yang lalu…”
“Risna? Kemana dia? Bukannya bapak menikah dengannya?” tanyaku penasaran.
Bapak mengangguk, “Bapak sudah salah pilih…uhukk, uhukk” kembali ucapan bapak dijeda dengan suara batuk keringnya.
“Apa Risna yang sudah menghabiskan harta milik bapak?!” tanyaku lagi, dengan mata membulat.
Kini airmata bapak mulai turun, dan dengan cepat ia mengusapnya. “Bapak yang bodoh Git…yang penting, jangan lagi berurusan dengannya, abaikan dia kalau suatu hari dia datang! Abaikan, abaikan!” ada penekanan berulang yang bapak ucapkan, menyiratkan amarah yang terpendam. "Kuharap ia mendapat hukuman setimpal!" celoteh bapak lagi tanpa aku mengerti maksudnya.
Kemudian kembali bapak terbatuk-batuk. Dengan cepat ia mengambil tissue dan menutup mulutnya. Setelah batuknya mereda, ia mencoba menyembunyikan bekas tissue-nya dari depanku, namun aku sudah terlanjur sempat melihat ada bercak darah lagi disana.
“Batuk bapak berdarah, sakit bapak parah, ayolah, bapak harus ke Rumah Sakit! Aku akan minta tolong Tante Marti untuk mengantar ke Rumah Sakit! Aku pergi dulu ya!” gegas aku langsung keluar kamar bapak, tak kuhiraukan panggilan bapak yang hendak mencegahku pergi. Aku lalu meletakkan kotak hitam pemberian bapak kedalam koperku. Kemudian setengah berlari keluar rumah.
Sempat linglung, karena aku baru ingat kalau aku lupa jalan ke rumah Tante Marti, “biarlah, aku bisa bertanya pada orang-orang disini” kataku sambil terus melangkah.
Airmata menggenang dipelupuk, kuteruskan langkah mencari rumah tante Marti dan Tini, aku sudah dapatkan gambarannya lewat orang yang kutanyai dijalan tadi, yang mengenal mereka.
Menahan pilu, mengingat kondisi bapak kini, serta mengingat sakitnya aku dulu menerima perlakuan bapak, yang saat itu tergila-gila pada Risna, sosok janda kembang di sini. Namun melihat kondisi bapak, kuabaikan rasa sakit hatiku padanya.
Bayangan lima belas tahun lalu itu melayang lagi dalam benak, tak pernah bisa kulupakan meski aku sudah lama pergi jauh sekali dari sini.
“Aku sudah melayangkan gugatan perceraian kita, ini, tolong tanda tangani!” secarik kertas bapak berikan pada ibu. Aku yang masih berumur tujuh tahun, mengintipnya dari balik dinding yang memisahkan antara ruang tamu, dengan ruang keluarga. Kupeluk erat boneka panda yang sedari tadi kumainkan di ruang keluarga ini. Apa itu cerai? Tanyaku dalam hati.
“Teganya kamu Mas! Memangnya aku salah apa?!” ibuku menahan isak tangisnya bertanya dengan lirih, mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang dilengkapi sofa mewah berwarna coklat muda-warna favorit ibu-
Tanpa menjawab, bapak hanya memberikan pulpen agar ibu segera tanda tangan.
“Aku hanya ingin kita cerai, TITIK!”
“Aku akan tanda tangani setelah kamu bicara terus terang kenapa mau menceraikanku, Mas?!” tantang ibu.
Sejenak bapak terdiam. “Aisyah, kau tahu pernikahan kita hanya sebuah perjodohan, tidak ada cinta diantara kita, maka kita sudahi saja! Aku mencintai wanita lain!”
“Siapa? Risna?!” tebak ibu, namun bapak tak menjawab, “ingat mas, kita punya Anggita, Anggita masih kecil, bagaimana dengan dia kalau kita berpisah?! Walaupun tak ada cinta, tapi cinta akan tumbuh semakin lamanya usia pernikahan, apalagi kita sudah punya anak! Anggita mas, Anggita, pikirkan dia! Kasihan dia kalau tahu orangtuanya berpisah, kasihan dia mas!” ibuku ngotot menolak perceraian apalagi kalau disebabkan Risna, seorang janda kembang di kampung kami.
Aku manggut-manggut sendiri, mulai mengerti arti kata perceraian yang rupanya -- perpisahan. Sontak airmataku jatuh perlahan, hingga tetesannya mengenai boneka panda dalam pelukanku. Aku terduduk dan bersandar pada dinding, tak mampu lagi kulihat perdebatan orangtuaku itu, hanya satu yang ada dalam hatiku, sedih.
“Non..ngapain disini?” tiba-tiba Bi Imah mendatangiku, matanya sejenak melirik kearah ruang tamu, tempat ibu dan bapak berdebat, atau bertengkar? Ahh entahlah.
Aku menggeleng, kupeluk Bi Imah dan menangis dalam rengkuhannya. Bi Imah lantas menggendongku, membawaku ke lantai dua. “Ayo kita ke kamar non saja ya!” katanya.
Di kamarku yang serba berwarna pink ini, Bi Imah menemaniku. Asisten rumah tangga yang sudah ada sejak aku lahir ini, begitu menyayangiku. Ia juga sangat baik pada ibu.
Aku diam saja, meski Bi Imah sudah berusaha banyak mendongeng, menghiburku.
“Bi, Bapak dan Ibu, mau berpisah ya?” tanyaku polos. Tak kudengarkan dongeng yang ia ceritakan.
Sejenak bi Imah tertegun, “Non, itu urusan orang dewasa, non jangan pikirkan, non kan masih kecil, ayo, kita main saja. Non bosan ya sama dongeng Bibi? Hmmm kalo gitu, kita main boneka aja yuk! Nah, ini panda-nya non, kalo ini, bebeknya Bibi!” hibur bibi sambil mengambil boneka bebek.
“Bi, kalau Ibu dan Bapak pisah, bibi ikut siapa? Bibi ikut aku dan ibu ya?” pintaku.
Kali ini bibi menghela nafas, lalu memandangiku. Kulihat matanya berkaca, “Non, sudah..sudah…jangan ngomong begitu terus, bapak dan ibu cuma berdebat kecil, non dan ibu nggak akan kemana-mana, kita tetap sama-sama di rumah ini, ya!”
Tetap saja, aku tak percaya kata-kata bibi. Karena sesudah malam itu, kulihat hubungan ibu dan bapak makin tak harmonis, mereka sudah jarang bersama-sama, jika hari libur sekolahku sebelum-sebelumnya diisi dengan liburan ke tempat-tempat wisata yang indah, maka tidak kali ini. Aku dan ibu hanya di rumah saja.
Terkadang ayah hanya mengajakku keluar, tanpa mengajak serta ibu. Rupanya bapak mengajak aku untuk dikenalkan dengan tante Risna, wanita yang ibu sebut, dicintai bapak kini.
Hari-hari dan bulan-bulan berikutnya, dipenuhi perdebatan antara ibu dan bapak.
Pada suatu malam, Bapak pulang bersama Risna. Wanita seksi nan menor itu dengan angkuhnya menantang ibu.
“Kenapa masih tinggal di sini? Kalian sudah cerai kan?!” katanya ketus pada ibuku. Aku saat itu kembali mengintip dari ruangan keluarga.
“Belum ada putusan pengadilan, jadi aku masih layak tinggal di sini!” ibu membela diri. “Kamu sendiri ngapain ada disini?! Ini rumahku dan suamiku! Cepat pergi dari sini sebelum aku mengusirmu dengan kasar!” tandas ibu.
Wanita itu mendengus, bibirnya ditarik keatas, dengan sebelah mata memandang remeh ibu, “Huh, apa kamu tak punya kaca? Mana cocok kamu menyandang gelar jadi Nyonya Anggoro?! Tampilanmu kampungan begitu, apa kau tak punya malu? Sudah dicerai tapi kekeh tinggal di sini!”
“Kurang ajar! Dasar wanita jal*ng!Pergi!” ibu menarik tangan tante Risna, memaksanya keluar dari rumah, namun Bapak yang baru saja datang setelah mengganti baju di kamar, berusaha melerai.
“Apa-apaan Aisyah!” bapak menarik tangan ibu agar terlepas dari tangan tante Risna.
“Risna benar Syah, kita sudah bercerai, hanya tinggal menunggu keluar surat resmi pengadilan!” aku kaget ketika bapak malah membela tante Risna. “Aku yang membawanya kesini! Ini rumahku, jadi aku berhak membawa siapapun kesini! Kalau kau tak suka, maka kau saja yang pergi!” bentak bapak pada ibu, yang berhasil membuat ibuku terperanjat kaget lantas menangis.
“Tega kamu Mas! Apa kata orang diluar sana nanti? Mas memasukkan wanita yang bukan muhrimnya ke rumah ini!”
“ITU URUSANKU!” bentak bapak lagi.
“Kalau begitu aku akan membawa Anggita keluar dari rumah ini!” ancam ibu. Ibu mungkin berharap bapak akan mencegah kami, karena ibu tahu, bapak sangat menyayangiku.
“Bagus, memang harusnya begitu, toh kalian bukan siapa-siapa lagi, kenapa masih bertahan di sini? Justru orang-orang di luar sana yang heran, sudah cerai kok masih serumah!” tante Risna mencibir, matanya menatap penuh kemenangan.
Tak tahan lagi, aku langsung keluar dari balik dinding tempat aku mengintip, lalu berlari menghampiri ibu yang terus menangis.
“Anggita! Kenapa disini? Cepat kekamarmu!” perintah bapak melihat aku yang datang berlari kemudian memeluk ibu.
“Nggak mau! Anggita mau ikut ibu! Huhuuhu” sambil menangis, kusahuti bapak.
“Bi! Bi Imah! Bawa Anggita kekamarnya!” bapak berteriak memanggil bi Imah. Pembantuku itu tergopoh menghampiri, lalu membujukku agar ikut dengannya, tapi aku tak mau, tangan kecilku mencengkram kuat baju ibu, begitupula ibu, yang kekeh memelukku.
“Ayo Git, kita pergi dari sini! Bi, tolong lepaskan tangan Gita! Biar kami pergi sekarang juga!” perintah ibu yang disahuti Bi Imah dengan nelangsa.”Nyonya, ini sudah malam, kalian mau kemana? Sabarlah Nyonya…tunggu besok pagi..”
Ibu menggeleng keras, “Suamiku sudah menyuruhku pergi, jadi aku harus pergi”
“Nyonya..jangan pergi..”ratap Bi Imah, “Tuan, tolong cegah Nyonya, ini sudah malam Tuan, mereka mau kemana? Mereka tak punya sanak saudara, kasihan Anggita, Tuan..”
“Halahh…pembantu sepertimu untuk apa ikut campur urusan majikan! Sudah sana kembali ke dapur!” dengan ketus tante Risna menyahut sambil memandang Bi Imah sinis.
“Tuan…” ratap Bi Imah sambil memohon, tapi Bapak yang sejak tadi tangannya sudah digelendoti Risna, tak menggubris.
Ibu lantas menggendongku keluar rumah. Tak ada barang apapun yang kami bawa. Hanya baju dibadan. Malam itu, Ibu membawaku pergi. Dari rumah besar dan mewah pada jamannya, tempat aku dilahirkan dan hidup nyaman sampai usiaku tujuh tahun.