"Sudah bangun?, Bersihkan dirimu lalu kita sarapan" Ucap pria di depannya.
Vania yang memang pada dasarnya sudah tau bahwa dia yang pertama kali menggoda pria didepannya hanya mengangguk samar.
Bergegas menuju pintu yang dia perkirakan adalah kamar mandi.
Sementara Vania membersihkan diri , Rey memesan sarapan di hotel tempat mereka menginap. Karena sarapannya agak kesiangan, Rey sengaja memesan makan siang sekaligus agar lebih memudahkan jika Vania ingin memakan makanan berat. Bagaimanapun kegiatan semalam menguras tenaganya.
Kurang lebih hampir satu jam Vania menghabiskan waktu untuk membersihkan dirinya, bahkan Rey harus menggunakan kamar mandi di kamar sebelah ketika melihat Vania tidak kunjung keluar.
Saat ini, Rey mengenakan atasan kaos polo berwarna hitam dengan bawahan celana bahan panjang berwarna grey.
"Psttt.. Om"
Merasa di panggil Rey berbalik dan melihat jika Vania masih mengenakan handuk putih yang melilit tubuhnya, Bahkan dengan hanya melihat Vania, sesuatu yang biasanya tidak pernah terbangun selama hampir enam belas tahun saat ini sangat sesak.
Melihat sekali lagi, panjang handuknya bahkan tidak mencapai setengah dari pahanya, dengan melirik kebagian atas tubuh Vania. P*****a nya menyembul keluar, seolah memanggil Rey untuk melabuhkan kedua tangannya dan memijat pelan.
"Omm"
Melihat Rey bengong membuat stok kesabaran Vania menipis, dia kedinginan tapi si Om m***m satu ini malah melamun sambil melirik tubuhnya terus menerus!
"Y-ya, kenapa masih pakai handuk?" Menghela napas mencoba menahan hasrat yang hampir meledak lagi.
Tidak, jangan lagi. Ingat Rey dia masih v****n semalam. Jangan jadi binatang buas!
"Aku gak punya baju ganti, baju yang semalam bau s*****a. Aku gak mungkin pakai lagi"
Jawaban spontan dari Vania menyadarkan Rey untuk tidak lagi memandang kearah tubuhnya, meskipun ingin.
"Sebentar"
Tak berselang lama, Rey kembali membawa kemeja lengan panjang miliknya dan rok milik mendiang istrinya yang kebetulan terbawa dalam koper. Entah harus bersyukur atau tidak karena melihat Vania kebingungan saat ini.
"Itu kemeja milikku, sementara rok punya istriku"
"O-oke, aku pakai ya Om"
Vania kembali masuk dan mengunci pintu kamar mandi, mungkin takut kegiatan tadi terulang kembali. Memikirkan pipi Vania yang merona dan dirinya terus memompa tubuhnya dan mendengarkan desahan merdu Vania setiap hari. Sungguh pemandangan yang indah.
"Sial. Sejak kapan aku menyukai anak ingusan?!"
Sementara di tempat lain, Gadis cantik yang tahun ini akan memasukin SMA sedang memegang ponsel dan mencoba menghubungi seseorang.
"Gimana sih Papa!, Katanya mau temani aku ke mall. Tapi dihubungi dari tadi gak aktif!"
"Sabar Non, mungkin Tuan sedang ada pekerjaan yang lebih mendesak"
Terdengar sahutan dari wanita paruh baya di sebelah gadis itu, karena merasa kesal gadis itu hanya mampu mengeluh dan semakin kencang jarinya menari diatas ponsel keluaran terbaru miliknya. Dan yang lain hanya mampu menggelengkan kepala sambil tersenyum.
********
Vania keluar dalam keadaan fresh dan wangi, meskipun jejak lelah tetap terlihat. Tapi karena tadi dia berendam cukup lama, membuat tubuhnya lebih ringan saat ini.
"Ayo duduk"
Vania melihat Rey yang duduk didepannya sedang memakan sarapannya, Roti mentega dengan tambahan telur diatasnya.
Beberapa hidangan tersaji didepan Vania yang membuatnya semakin kelaparan tapi juga bingung. Harus mulai dari mana dulu pikirnya.
"Makan apapun yang ingin kamu makan"
Mendengar lagi ucapan pria di depannya membuat Vania tidak lagi merasa sungkan, segera mengangkat piring yang berisi Opor ayam serta nasi putih. Dirasa hari sudah siang dan sebentar lagi makan siang, Vania lebih memilih memakan Opor ayam untuk menambah tenaga nya yang sudah terkuras hampir delapan puluh persen.
"Kamu masih kuliah atau sudah kerja?"
"Aku baru lulus kuliah, baru aja diterima kerja tapi harus bolos hari ini"
Jawaban spontan Vania membuatnya tersedak, setelah meminum air didekatnya Rey mencoba untuk menormalkan suaranya akibat insiden 'tercekik' yang baru dia alami.
"Di perusahaan mana? biar nanti aku bantu kalau masalahnya lebih serius"
"Gak perlu, Makasih sebelumnya Om. Aku gak tau siapa yang memulai lebih dulu, karena jujur aku cuma ingat saat aku gak sengaja nabrak Om di depan pintu. Tapi karena aku juga menikmatinya jadi aku pikir kita impas."
Setelah mendengar ungkapan kalimat bahwa Om-Om di depannya ini sudah beristri Vania lebih memilih menjauh, meskipun Vania sangat menyayangkan bahwa pertemuan kali ini harus berakhir hanya sampai sini. Vania yang memang menyukai pria matang sudah terpesona sejak awal, bahkan tidak sadar jika saja dia tidak memakai rok istrinya sekarang.
"Ah begitu, baiklah"
Rey sempat tertegun ketika Vania mencoba menjauh dengan memutus akeses yang sedang coba dia buka lewat pertanyaannya tadi. Jika gadis ini memang hanya ingin sampai sini, Rey tidak bisa memaksa lebih jauh. Diam-diam Rey sempat membuka dompet gadis itu ketika dia sedang mengganti baju, menemukan yang dicari dan menghubungi orang suruhannya agar segera mengumpulkan informasi yang dia butuhkan.
Bahkan, sebelum Vania muncul Rey sudah mendapatkan informasi itu sehingga mencoba bertanya apakah Vania akan jujur atau tidak. Sungguh disayangkan, Vania tidak ingin mencoba dekat dengannya.
Mungkin karena aku kurang memuaskannya?
Pikiran kotor berkelebatan bagai kaset kusut di dalam kepala Rey. Hingga membuat dia tidak sadar bahwa Vania meninggalkannya sendirian.
Ketika akan mencari, ponsel di dalam sakunya bergetar. Muncul notifikasi dalam aplikasi hijau, Profil gadis belia yang umurnya belum mencapai Tujuh belas tahun menyambutnya. Ketika akan membalas pesan dari putrinya tersebut mendapati sebuah layar berganti menjadi panggilan Video call, terpampang lah wajah gadis cantik yang sedang mengerutkan alis.
"Papa lagi di hotel?, Sama siapa?, Kenapa pesan aku gak dibalas dari tadi sih!. Papa udah janji mau temani aku cari hadiah untuk eyang loh!"
"Ya sayang, Maaf Papa sedang ada urusan mendesak gak sempat liat ponsel. Nanti kita cari kado sama-sama ya"
"Pa-"
"Om, aku ada urusan mendadak. Makasih untuk makan siangnya, Permisi."
Rey tidak sempat menjawab kalimat Vania karena sebuah suara teriakan di seberang sana membuat dia mengehela napas.
Duh nasib, baru mau pedekate malah terhalang anak.
Karena Rey tidak kunjung menjawab pertanyaan dari gadis itu, membuat dia hilang kesabaran dan memutuskan panggilan secara sepihak.
Rey yang melihat layar ponselnya sudah kembali menghitam tidak bisa tidak memegang kepalanya yang berdenyut. Memikirkan harus menjelaskan dengan rinci kepada anak dibawah umur perihal suara gadis yang bersamanya semalam.
******
Semenjak meninggalkan unit hotel, Vania terus bergumam dan menyesalkan dirinya yang terlena dengan suami orang. Dia yang cantik dan dambaan para pria ini, menjadi seorang p*lakor?! Oh tidak mungkin! Dia masih waras tentunya.
Karena tidak ingin berurusan lebih jauh dengan pria itu, Vania tidak ingin menyebutkan dimana dia bekerja saat ini. Disatu sisi memang itu tuntutan Papanya, Dan demi memuluskan jalannya agar mendapatkan kepercayaan Rano Widjaja Alias sang Papa. Vania harus bersabar dan menutup diri agar identitas aslinya tidak tersebar.
"Sayang banget, aku gak akan pernah bisa ngerasain yang ukurannya kayak Om itu lagi"
Menghela napas, terus berjalan keluar guna mencari taksi. Semalam Vania menumpang dengan teman kantornya. Berpikir mungkin dilain waktu dia bisa pergi ke klub malam untuk melepaskan penat, dan juga mungkin dia bisa bertemu dengan pria lain yang lebih perkasa dari yang baru saja dia temui.
Vania tidak menyadari, bahwa setelah dia menghentikan taksi. Ada seorang pria yang mengenali dirinya sambil memikirkan cara kotor untuk menjebaknya.
TBC
Revisi. Tangerang, 5 Juni 2025