Janda kini tersemat pada Cempaka Resyakilla, suaminya Abian Sachdev telah meninggal dunia mendadak karena serangan jantung. Padahal keduanya baru menyesap mahligai pernikahan baru lima bulan, saat rumah tangganya begitu bahagia Cempaka harus di terpa dengan cobaan sangat menyakitkan hatinya. Karena musibah itu juga menyebabkan ibunya Niar sakit-sakitan dan hanya terbaring lemah di kamar. Dokter akan datang seminggu sekali memeriksa kondisi ibunya. Cempaka berharap ibunya cepat pulih karena satu satunya orang yang ia sayangi di dunia ini.
Satu bulan telah berlalu suaminya telah tiada, semua terasa sepi merayapi tinggal di rumah besar dengan beberapa orang pelayan. Cempaka memang tidak perlu risau pemasukan keuangan terus lancar dari perusahaan tekstil dan bisnis lainnya yang di tinggalkan mendiang suaminya yang sementara ini di kelola orang kepercayaan.
Cempaka berada di kamarnya menyisir rambutnya, kenangan kebersamaannya dengan Mas Abian terlintas di benaknya. Mas Abian adalah suami romantis dan sangat baik. Berawal ibunya Niar adalah pekerja di rumah Mas Abian, sudah bertahun-tahun ibunya ikut dengan beliau sampai beliau menikah. Cempaka memang sering berkunjung ke rumah Mas Abian selain membantu pekerjaan ibunya atau bila ibunya sakit Cempaka yang akan gantikan, dari seiring perjumpaannya melihat Cempaka ternyata Mas Abian menaruh perasaan lebih. Mas Abian meminang Cempaka setelah istri beliau meninggal dunia. Cempaka tidak ada pilihan lain selain menerima beliau karena kebaikan beliau terutama pada ibunya.
Pernikahan berlangsung dengan meriah tanpa di hadiri putra tunggal Mas Abian bernama Elang Sachdev Rafisqy yang berada di Korea Selatan mengelola bisnisnya. Hari ini tepat sebulan ayahnya Abian pergi untuk selamanya di kabarkan Elang akan kembali ke rumah besar. Miris memang pemuda itu baru memutuskan kembali sedangkan di waktu ayahnya di kebumikan batang hidungnya tidak nampak padahal berita duka telah di terima, Cempaka sendiri memberanikan diri menelpon putra sambungnya itu, tidak ada sambutan menyenangkan, dingin dan datar. Cempaka sadar kenapa Elang bersikap demikian karena Elang secara terang-terangan menolak dirinya menggantikan posisi mendiang ibunya sebagai istri Mas Abian.
Pulangnya Elang memang mengejutkan sekali atau ini berkaitan dengan surat wasiat yang akan di bacakan beberapa hari lagi. Kalau hanya harta tujuan pemuda itu sungguh Cempaka menyayangkan dengan sikapnya.
Cempaka menatap pantulannya di cermin, wajah cantik yang terkesan pucat, tidak ada raut kebahagiaan yang tampak, ia merasa sendiri dan sepi. Menggeser kursi Cempaka beranjak keluar dari kamar, ia melangkah menuju kamar ibunya.
"Kamu tahu Tuan Elang akan kembali,"
Langkah Cempaka terhenti saat mendengar sayup-sayup obrolan dari ruang lain. Terlihat dua orang pelayan sedang membersihkan ruangan. Fitria dan Devi nama kedua pelayan itu. Fitria memang sudah lama bekerja di sini, pelayan satu itu memang terlihat tidak menyukai Cempaka meski masih melakukan tugasnya dengan baik.
"Aku bersyukur Tuan Elang akhirnya kembali, setidaknya di rumah ini tidak di kuasai p*****r lagi."
"Maksudmu?"
"Siapa lagi kalau bukan Nyonya baru sok cantik itu, aku yakin dia mau menerima pinangan Tuan Abian karena harta."
"Tapi selama ini Nyonya sangat baik pada kita, satu bulan Tuan Abian tiada, Nyonya tidak berubah."
"Belum waktunya, lihat saja saat surat wasiat di bacakan p*****r itu akan semakin tamak."
"Ini sungguh menguatirkan."
"Tenang saja, Tuan Elang akan menyeret p*****r itu dan ibunya sakit-sakitan keluar dari rumah ini."
Apa yang mereka bicarakan? tangan Cempaka mengepal hatinya sungguh panas, ingin rasanya ia masuk dan mempermalukan kedua pelayan tersebut tapi semua tertahankan mengingat mendiang suaminya dulu memberi nasehat pada Cempaka untuk menahan diri dari amarah. Mendiang suaminyalah selama ini selalu menguatkan Cempaka menerima gunjingan menyakitkan yang bergulir terus menerus. Kenapa dengan mereka membenci Cempaka, apa salah Cempaka hingga mengatai Cempaka dengan sebutan tidak pantas. Cempaka bukan p*****r, ia menikah sah dengan Mas Abian di mata hukum dan agama, Cempaka bukan perebut suami orang karena saat dia di peristri Mas Abian seorang duda. Lalu di mana letak kesalahannya.
Cempaka memilih berlalu, ia tidak sanggup mendengar obrolan semakin menyakiti hatinya, biarkan mereka puas membicarakannya karena Tuhan tidak tidur akan membalas semua perbuatan buruk di dunia ini.
Klek! Pintu di buka, Cempaka masuk ke dalam kamar menatap ke ranjang pada wanita paruh baya yang terbaring lemah tidak berdaya. Bola mata indahnya berkaca-kaca terasa berat kakinya di ayunkan untuk mendekati ibunya di saat hatinya terluka. Tapi tidak ada tempat untuk bersandar diri selain di sini. Kini Cempaka sudah berdiri di pinggir ranjang, tubuhnya luruh ke lantai, membaringkan kepala di tepi ranjang. Air mata Cempaka mengalir membasahi seprai, menangis dalam diamnya.
Sentuhan lembut di pucuk kepalanya membuat Cempaka bergeming sesaat, ia menghapus air mata mengangkat kepalanya menatap sang Ibu yang terbangun dari tidur.
"Ibu, bagaimana keadaan Ibu hari ini?" tanya Cempaka parau.
"Ibu baik nak." jawab Niar sangat pelan, matanya memperhatikan pada Cempaka.
"Kamu menangis?"
"Tidak Bu,"
Cempaka tidak ingin membuat ibunya cemas, ia selalu berusaha menyembunyikan beban hatinya di hadapan Ibu.
"Lalu kenapa matamu bengkak nak?"
"Tidak apa Bu, Cempaka hanya mencemaskan Ibu, cepat sembuh ya Bu." Cempaka memeluk ibunya hangat. Kelopak matanya penuh dengan air namun ia tahan agar tidak jatuh.
"Jangan cemaskan Ibu nak, Ibu baik-baik saja." bisik Niar mengelus rambut ikal Cempaka.
Sangat lama Cempaka berada di kamar ibunya, menyuapi makan ibunya meski tidak pernah di habiskan sampai ibunya tertidur lagi. Cempaka keluar meninggalkan ibunya yang terlelap sampai seorang pelayan menghampirinya dan memberi hormat.
"Siang Nyonya, Tuan Elang sudah kembali kini berada di ruang tengah." beritahu pelayan tersebut di balas anggukan Cempaka.
Cempaka berlalu menuju ruang tengah dengan perasaan campur aduk dan tidak menentu.
Dia pasti membenciku.
Seharusnya aku tidak menemuinya.
Tapi sekarang aku ibunya dan harus menyambutnya.
Pergulatan batin terus berlawanan, tapi akhirnya Cempaka telah sampai berada di ruang tengah berdiri tidak jauh dari lelaki yang berdiri membelakanginya menatap ke luar jendela kaca. Lelaki itu memiliki rambut hitam, sangat tinggi dengan bahu lebar dan mengenakan jas bercorak hitam. Tempat saat Cempaka kembali melangkah lebih maju lelaki itu berbalik menghentikan poros dunia Cempaka. Matanya setajam elang, hitam pekat menatap tepat di manik mata Cempaka yang mengecil, dengan rahang tegas dan wajah rupawan. Dia Elang Sachdev Rafisqy.
"Ini pertama kalinya kita berjumpa bukan, Ibu sambung." katanya dengan suara serak terkesan berat sementara Cempaka tidak mampu bicara. Suaranya tercekat di tenggorokan, ia hanya terpaku mendengar suara sepatu bergema saat Elang melangkah ke meja menyentuh bingkai foto Mas Abian.
"Bagaimana rasanya menjadi p*****r di sayangi ayahku, Cempaka Resyakilla?" katanya menusuk hati Cempaka hingga memercikan kemarahan, namun Cempaka masih sangat tenang menghadapi.
"Kamu baru pulang sebaiknya beristirahatlah, kamarmu sudah di rapikan." kata Cempaka datar tidak ingin membahas apapun, ia berbalik berniat meninggalkan ruangan itu tanpa ia sadari tatapan Elang sangat nyalang begitu murka padanya.
"Satu hal lagi," kata Cempaka menghentikan langkahnya tanpa berniat bersitatap.
"Aku bukan p*****r, di sini aku Ibu sambungmu, sudah sepatutnya kamu menghormatiku, bukankah kamu terpelajar jadi lebih tahu bagaimana bersikap sopan. Semoga harimu menyenangkan." Cempaka melanjutkan langkahnya sementara Elang mendengus mendengar ucapan terlontar barusan.
"Ternyata pemberani juga kamu." desisnya menyipitkan matanya pada Cempaka yang sudah hilang dari pandangan.
Tbc