“Kuncinya disimpan saja.”
Pembantu di rumahnya yang sudah bekerja sejak Matteo lahir itu menatapnya bingung. “Kalila tidak akan kembali ke sini, Tuan Matteo?” Mendengar wanita tua itu memanggil nama Kalila dengan santainya, membuat Matteo menyadari bahwa mereka memang sudah kenal dekat.
“Tidak.”
Wanita itu terkejut mendengarnya. “Tidak akan kembali? Kenapa?”
Matteo tersenyum kecut. Dia mengangkat kedua bahunya sambil menghela napas lelah. “Mungkin, memang sudah saatnya dia pergi.” Matteo sungguh tidak suka ketika memperlihatkan sisi lemahnya pada orang lain, terutama mengenai kisah cintanya yang menyedihkan. Tapi, dia masih syok atas keputusan Kalila dan dia tidak bisa menahan dirinya lagi.
Sementara itu, wanita di hadapannya hanya mengangguk patuh dan tersenyum kecil. “Baik, Tuan.”