Air mata Celline tak henti mengalir dari kedua matanya. Menangis dalam diam sudah menghiasi malam-malamnya selama hampir sebulan ini. Saat ia mencoba membuka hati pada Dias, lelaki yang dijodohkan dengannya demi mempererat pertalian keluarga yang konon sudah lebih dari setengah abad itu. Namun kenyataannya kembali melukai hati Celline seperti cinta pertamanya dulu.
Awalnya, saat diadakan acara reuni keluarga Celline dikenalkan oleh kerabatnya dengan Dias. Lelaki putih tampan dengan lesung pipi di wajahnya itu memang mudah membuat banyak wanita tergoda untuk mendekatinya. Namun Celline yang kala itu baru saja patah hati akibat diselingkuhi oleh Arya cinta pertamanya hanya menanggapi perkenalan itu dengan biasa saja. Namun semenjak perkenalan itu, Dias sering menghubunginya lewat telepon ataupun kirim pesan w******p yang Celline tahu nomornya bisa dimiliki Dias dari orangtua mereka.
Hari demi hari kekukuhan Dias dalam mendekati Celline membuat hatinya mulai membuka diri pada lelaki tampan itu. Sikap manis dan perhatian Dias mampu meluluhkan hati Celline yang sedang berusaha move pn. Tiada hari tanpa Dias membuat Celline menjadi terbiasa akan kehadirannya
"Good morning sayang" suara manis dari lelaki diseberang sana selalu menghiasi pagi Celline dengan indah
"Morning sayang.. Bagaimana pagimu hari ini?" sapa Celline dengan senyum sambil melihat wajah tampan yang selalu melakukan videocall ditiap paginya
"Pagi ku akan selalu indah jika tiap hari diawali dengan melihat senyum manismu" goda Dias hingga membuat pipi Celline selalu merona karena tersipu
"Tidakkah kamu bersiap ke kantor dulu sekarang? Ini sudah hampir siang. Aku dengar ada proyek baru di kantormu, bukankah itu butuh perhatian ekstra darimu sayang?" Celline selalu mengingatkan Dias agar selalu bertanggungjawab pada tugasnya sekarang sebagai CEO setelah menggantikan ayahnya
"Aku akan semangat bekerja setelah aku bertemu denganmu sayang. Tunggu aku 30 menit lagi sampai menjemputmu Tuan Putri"
"Hay.. Tidak usah sayang.. Aku akan menyetir sendiri ke kantor toh juga dekat jangan sampai kamu terlambat ke proyek sayang" tolak Celline agar Dias fokus pada tugasnya
"No.. No.. No.. Pangeran harus mengantarkan Tuan Putri dulu baru bisa bekerja. Pokoknya tunggu aku dalam 30 menit.. Aku tak mau dibantah. I Love You" kekeh Dias
"Baiklah Pangeran tampanku.. Aku mengaku kalah.. Selalu saja tak bisa menang jika berdebat denganmu.. Love you too.. Hati-hati dijalan"
Begitulah hari-hari Celline yang selalu diisi oleh sikap manis Dias, hingga ia memantapkan hati untuk menerima perjodohan keluarga ini. Selain untuk mempererat tali silaturahmi yang sudah berpuluh tahun terjalin, ia sudah melabuhkan hatinya pada lelaki yang mampu membuatnya lupa pada luka dari cinta pertamanya.
To Be Continue
*by Shreyardhani*