Bisakah dipercaya janji menikah saat kecil? Rasanya percuma. Terlebih, jika si dia sudah tidak ada kabar sejak lama. Bisakah wanita berlapang d**a, meyakini hati bahwa si dia akan datang kembali?
**
“Kenapa nangis?”
Seorang anak laki-laki menghampiri. Tangis Azizah makin pecah dibuatnya. Meski begitu, gadis cilik yang berusia lima tahun menjawab dengan terbata-bata.
“A-ku enggak pu-nya ibu. Ayah ke-lja ....”
Kasihan sekali dirimu itu, Azizah. Sejak kecil sudah merasakan kerasnya kehidupan.
Anak itu memeluk tubuh Azizah, juga mengusap-usap rambutnya memberikan kehangatan. Dia seolah menyatakan bahwa Azizah tidak sendiri; ada orang yang akan menemani.
“Ayah enggak bisa layain ulang tahun a-ku.” Dia kembali bersuara mencurahkan isi hatinya.
“Ada aku yang akan rayain ulang tahun kamu," balas si anak laki-laki yang berusia selisih dua tahun di atasnya.
Azizah mendongak menatap tidak percaya. “Bene-lan?” tanyanya memastikan.
Sembari merekahkan senyuman, anak laki-laki itu mengangguk mantap. Azizah mengusap pipinya kasar. Dia membalas senyuman orang yang kini merangkul pundaknya.
“Untuk tahun-tahun ke depannya, aku juga akan temanin kamu ngerayain ulang tahun.”
Azizah mengangguk penuh antusiasme. Dia senang bukan kepalang. Teman-teman di sekolahnya menjauhi karena dia dianggap anak tanpa orang tua.
“Apa kamu akan nikahin aku?” tanya Azizah penuh harap, sebab setahunya laki-laki yang selalu menemani wanita di waktu ulang tahun adalah orang yang sudah menikah. Seperti orang tuanya di tahun lalu.
Anggukan dari lawan bicara Azizah menjadi awal sebuah janji pernikahan terikat yang keduanya buat.
Azizah terbangun dari mimpi indah yang menyesakkan d**a. Napasnya naik-turun tak menentu. Dzikir dia lafalkan tanpa suara.
"Astaghfirullahal'adzim." Sembari memegang d**a, bibirnya tak berhenti meminta ampunan.
**
‘Perpustakaan Santri’ Banner itu tertulis di depan sebuah gedung besar dengan suasana asri. Banyak pelajar putra maupun putri merasa terbantu dengan kehadiran bangunan yang didirikan di antara banyaknya lembaga pendidikan agama (seperti) pesantren. Bahkan, bagi pemuda playboy seperti Revano. Bukan untuk belajar di sana, melainkan mencari gadis untuk dijadikan korbannya.
"Wah, dia Azizah, kan?” Seorang pemuda tampan berucap kepada temannya.
Dia yang memakai sarung dengan kemeja polos itu bernama Andi. Gayanya memang begitu khas. Amat santun dan menyejukkan hati.
Dan di samping Andi, sedang duduk seorang remaja berjuluk buaya berkaki dua, Revano atau lebih akrabnya disapa Vano. Pemuda itu sibuk ber-chatting ria dengan para wanita. Dia tidak menggubris ucapan sahabatnya. Dia si buaya Vano ini terlampau percaya diri rupanya.
“Azizah, tuh, ya. Sudah baik, pintar, sholehah pula. Beruntung banget yang bakal jadi suaminya.” Andi kembali berucap, seolah tidak peduli akan mendapatkan respons atau tidak.
Masih dengan pandangan yang tidak teralihkan dari ponsel di genggaman, Vano membalas ucapan Andi, “Gue calon suaminya.”
Mengapa bisa begitu percaya diri, wahai Revano?
Sebelah alis mata Andi terangkat, tidak menyangka seorang playboy membalas ucapan unpaedah-nya.
Tatapan dari pemuda yang selalu memakai celak hitam itu diarahkan ke sahabatnya. “Ente ngomong sama ane, Van?”
“Bukan. Sama buaya berkaki dua.”
“Lah, ngomong sendiri dong.”
Vano tersentak. “Iya juga, ya. Udahlah, ribet ngomong sama lo, mah.”
Bukankah yang lebih ribet itu dirinya? Yang selalu mengiakan ajakan berpacaran dari para gadis, sedangkan rasa cinta saja tidak ada? Sungguh terlalu dirimu itu, Revano.
Tanpa sepengetahuan keduanya, Azizah terpaku saat tanpa sengaja kembali melihat pemuda yang dicintainya. ‘Aku rindu. Ingin bisa memelukmu seperti dulu.’
Andi Permana, nama yang selalu disebutkan Azizah dalam doa untuk bisa disandingkan bersamanya. “Astagfirullah.” Azizah lekas melanjutkan langkah menyusuri rak-rak buku, hingga suara cempreng sahabatnya membuat dia lekas menutup telinga.
“Ya ampun, Azizah! Kamu lihat Vano enggak tadi? Gantengnya, tuh ... subhanalah.”
Zulfa Laila, gadis bermulut mercon yang bagai letusan gunung meletup-letup itu mengecilkan volume suara pada akhir kalimatnya, sebab menyadari beberapa orang menoleh ke arah mereka.
Yang sepeti itu tuh, sering maluin kalau diajak ke tempat ramai. Tapi, yang kaya dia juga yang asyiknya tiada dua. Sebab tanpanya, sepi akan terasa.
Azizah menggeleng kecil. “Laila, ingat kultum Ustazah Aina pagi tadi. Melalui penglihatan adalah salah satu zina, yaitu zina mata,” katanya mengingatkan.
Laila bergumam kecil, bibirnya mencebik. Azizah yang berdiri di belakangnya, mendengar jelas gumaman itu.
“Laila,” panggil Azizah menekan, tidak terima dengan kalimat gumaman sahabatnya.
“Iya, iya, Ustazah A-zi-zah.” Ledekan Laila membuat Azizah menggelengkan kepala, lalu mengembuskan napasnya panjang.
Azizah berakhir memilih mengabaikan Laila. Dia melewati sang sahabat tanpa bicara apa-apa lagi. Tangannya kembali menyentuh buku-buku di sana sembari membaca judul yang tertera. ‘Akhirnya ketemu juga.’
Buku ‘Gulali’ sudah ada di genggaman. Meski sudah ketinggalan jaman, Azizah masih penasaran pada ending cerita yang ditulis penulis belia, yang dikenalnya melalui sosial media ber-background biru.
Azizah izin kepada Laila mencari tempat duduk lebih dulu. Gadis yang masih fokus berjalan lambat mencari buku idamannya itu mengiakan ucapannya.
Gulali, seperti judulnya, manis. Kisah bergenre romence-religi itu ditulis apik oleh gadis belia yang masih berstatus seorang siswi sekolah menengah pertama. Dia salah satu orang yang memotivasi Azizah untuk menuangkan curahan hati dalam bentuk tulisan indah.
Hati yang senang karena bisa membaca tulisan author yang disuka menjadi tidak terlalu mengindahkan keadaan.
Bruk!
“Aw!” Azizah merintih kecil.
Asyik dengan ponsel, tidak ada rasa bersalah di hati Revano. Dia pergi begitu saja tanpa mengucap kata maaf.
Dasar sombong!
Bagaimana bisa orang seperti dia disukai banyak wanita?
Sambil mengusap siku karena beberapa detik lalu berciuman dengan rak buku, tanpa sengaja mata Azizah menangkap punggung seseorang. Tangan pemuda itu merangkul sahabatnya.
'Aku rindu kamu.'
“Wah, lagi mikirin apa, nih?”
“Astagfirullah, Laila!”
Azizah menekan pelan hijab yang menutupi d**a. Degupan jantung di dalam sana lebih cepat dari biasanya. Dia mengembuskan napas panjang, membuat sahabatnya itu tertawa renyah.
"Ya ampun, Azizah, sampai sekaget itu ...." Laila kembali tertawa.
Wajah Laila yang cerah berbanding terbalik dengannya yang masih suram menenangkan diri. Bukan hanya apa yang dikatakan Laila, Azizah juga harus bisa lebih tenang karena melihat kembali laki-laki yang dicintainya sejak lama.
Termenung seperkian detik, dia akhirnya tersadar. Laila masih dengan tawanya. Tanpa memedulikan gadis itu, dia beranjak menuju tempat yang dilihatnya sangat cocok untuk tempat favorit.
Di dekat jendela. Menampilkan suasana asri di luar, Azizah sangat menikmatinya. Lagi, netra itu bertemu dengan pemuda berkulit putih dengan kemeja, sarung dan peci yang dikenakan. 'Aku harus terbiasa,' batinnya, lalu mengalihkan pandangannya.
Kursi di depannya sudah terisi. Laila menatap Azizah sinis, bibirnya ikut berperan dengan dimajukan beberapa senti.
"Ada apa?" Dia berpura-pura tak peka, sahabatnya tak bergeming. Sampai akhirnya Azizah memilih menggidikkan bahu dan membuka buku.
"Azizah ...," panggil Laila gemas.
Mengangkat kepala dan menatap sang sahabat. "Maaf, Laila. Oke?" Ucapan lembut yang keluar dari bibirnya itu cukup meluluhkan hati Laila. Azizah ini, memang selalu bisa meluluhkan hati siapa saja.
Laila mengangguk, kemudian mulai membuka buku tebal yang sudah ditaruhnya pada atas meja. Keduanya itu langsung duduk dan membaca dengan fokus apa yang menjadi pilihan masing-masing.
Tidak terasa, satu jam telah berlalu. Sebagian buku sudah terbaca, Azizah menutup novel itu. Berniat ingin mengembalikan buku ke tempat asal, dia bangun dari duduknya.
Begitu berdiri, selembar kertas terjatuh dari buku di tangannya. Kertas kecil berisi coretan tinta berwarna biru. Satu kalimat itu dibaca Azizah dengan mata menyipit.
Tulisan tangan di sana sangat mirip dengan pemilik nama sapa Andi.
Mungkinkah itu dia?
Azizah tertegun. Apa Kak Andi juga baca novel ini? Tapi, apa maksudnya si pencari jati diri? Bukannya Kak Andi sudah menemukan jati dirinya seperti yang dibilang Kak Reyhan?
Menunduk, Azizah meraih kertas itu. Ya, ini tulisan Kak Andi.
Azizah sangat yakin, terlebih pada inisial kecil di pojok kertas tersebut.
“Ada apa, Zah?” Laila mendongak dan mendapati Azizah sedang menunduk.
Azizah refleks memelotot layaknya seorang pencuri yang kepergok warga. Mereka beradu pandang. Azizah lekas menggeleng.
Senyuman merekah di bibirnya. Sambil memasukkan kertas tersebut ke saku gamis, dia berkata, “Ah, enggak ada apa-apa, La.”
Batinnya beristighfar meminta ampunan. Bagaimanapun, kebohongan sangat tidak disarankan.
"Sesulit apa pun pilihannya, lebih utamakan kejujuran. Sebab, Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati," kata sang ibu saat dirinya di tahun pertama sekolah dasar.
Azizah menunduk menyembunyikan air matanya. Mengusap pipi chubby yang sudah berjejak buliran dari netranya, dia lalu tersenyum dan mengembuskan napas meringankan beban di d**a yang mulai terasa lagi menyesakkannya.
Begitu mengangkat kepala, matanya membulat tidak percaya. "Assalamualaikum. Azizah, ya?"