Dalam perjalan pulang, dari tape mobil yang sengaja kunyalakan terdengar suara Sebuah lagu dari ECLAT yang berjudul “BENTUK CINTA” Seutas senyum tanpa sadar telah menghiasi wajah.
Sebuah nama seketika terniang dikepala, dia adalah sosok yang memberi kenangan masa SMA dan kegilaan kami kala itu. bibir tiada henti membentuk garis lebar diwajah lalu tertawa geli akan semua ucapan dan tindakan hanya bisa bersama.
Aku tidak tahu harus memulai kisah ini layaknya pujangga atau seolah pria yang sedang berbagi kisah pada kawan mengenai hari yang telah kulalui. Banyak drama yang telah terjadi namun ada 1 nama yang selalu membekas dalam hati.
Kusebut dia teman sebaya namun pola pikir dan cara hidupnya lebih dewasa, ku sapa dia sahabat nyatanya tidak cocok untuk kami yang pernah menjalin cinta walau berakhir tragis, status mantan nyatanya tidak membuatku membeci karena kehadirannya selalu berarti.
Mungkin terdengar klasik tapi bagiku unik. Dia bisa menjadi sosok yang paling menyebalkan sekaligus kubutuhkan diwaktu yang bersamaan. Dengannya, aku melupakan bahwa kami berbeda gender. Dia bisa jadi teman bertanding, sosok ibu yang baik hati, setelahnya menjadi iblis paling murah senyum yang pernah ku temui.
Namanya lia lebih lengkapnya adalah Nurlia yang artinya cahaya pembawa berita baik. Terkadang nama itu terasa sangat pas untuknya namun kadang pulang menjadi cemohan untukku. Biar kuceritakan sedikit mengenai dia dan masa lalu kami.
.
.
.
.
.
.
.
.
FLASHBACK ON.
Matahari pagi belum juga tiba posisinya namun aku telah memarkirkan kendaraan di depan gerbang yang berdirik tinggi menjulang dan terlihat kokoh semenjak pertama kali dibuat hingga beberapa generasi telah masuk dan pergi melewatinya.
Dari dalam, terdengar suara-suara orang sedang berteriak, beryanyi juga tertawa riang nyatanya tidak mengoyahkanku untuk memasuki tempat itu. Cukup lama aku duduk dalam kendaraan menatap jalan dimana motor dan mobil silih berganti untuk berlalu.
Suara nyaring dari bell telah terdengar beberapa kali namun aku memilih acuh. Kini, Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi lebih, seharusnya aku sudah mengikuti masa oreantasi siswa baru namun tidak ku lakukan. Tengah asyik menikmati sebatang rokok, tidak jauh dari posisiku sekarang, terlihat Angkot berhenti tepat didepan gerbang sekolah yang masih terbuka lebar.
seorang gadis yang terburu-buru turun dari angkot. setelah turun dan membayar biaya angkot, wanita itu merapikan penampilannya serta menggenakan atribut-atribut yang menjadi aturan dalam kegiatan kami.
Dari tingkahnya saja terlihat jelas jika dia panik karena terlambat lalu dengan berlari memasuki gedung sekolah. Aku masih duduk santai di dalam mobil dan menyesap batang rokok ke 3 kala terhanyut dalam lamunan panjang.
Statusku sebagai cucu pemilik sekolah ternyata tidak membuat aku lolos dari kegiatan yang membosankan itu. Bagiku, MOS atau masa orientasi siswa adalah kesempatan untuk mereka yang sudah dikerjai oleh kakak kelas untuk balas dendan namun dilampiaskan pada anak baru.
Masih dalam kegiatan dan pikiran sendiri, seseorang mengetuk kaca jendala mobil yang menyadarkanku jika aku sedang di awasinya sedari tadi. “Hari ini adalah hari terakhir jadi anda harus ikut kegiatan” ucapnya singkat dengan wajah datar serta sikap siap yang membuatku berdecak malas.
Enggan sekali rasanya aku mengikuti perintah namun dering telpon dengan ID Ibu mendandakan jika wanita yang telah melahirkanku telah mendapat laporan dari pria itu. Mau tidak mau kutinggalkan mobil lalu memasuki gedung sekolah.
Setelah melangkah cukup jauh kedalam, kudapati seorang wanita tengah dikelilinggi beberapa orang yang sedang berceramah mengenai tata tertip serta konsekuensi tidak tepat waktu.
“ini juga. kamu pikir ini sekolah milikmu apa?” bentak seseorang kala melihatku sedang berjalan acuh mendekati mereka.
“mana atributmu?” tanyanya lalu menyuruhku berdiri sejajar dengan wanita itu.
“tidak ada” jawabku singkat.
Orang-orang yang mengaku sebagai senior itu lalu memberi kotbah tentang pentingnya mengikuti aturan dan menjadi siswa yang menghargai waktu. Mereka bahkan membanding-bandingkan dengan wanita disampingku.
Ku perhatikan penampilan wanita itu. Wanita itu menggunakan topi kerucut yang tinggi, kepalanya tertutup hijab putih yang terlihat cukup tebal dan tidak bermode.
Hijabnya lalu ditempeli beberapa pita yang warna sisi kanan dan kiri berbeda, dia menggunakan kalung yang terbuat dari tali rapiah dan kertas karton bertuliskan LEOKOSIT selain itu, tasnya terbuat dari kantong kresek merah besar hingga nampak layaknya ODGJ.
“kamu anak baru tapi sudah sok yag?!” decak seorang pria dengan wajah sok galak.
Kultum pagi pun dilontarkan pria yang ada di hadapanku masih saja berlanjut namun ku acuhkan. Tidak cukup mengomeli kami berdua, mereka malah menyuruh kami berjemur.
Kami berdua dijemur dilapangan dan harus memberi hormat pada tiang bendera padahal matahari sudah terik-teriknya. Diatas sana matahari mulai mengeluarkan teriknya penuh semangat hingga keringat ditubuh mulai bercucuran.
Benda kebanggaan rakyat indonesia itu tengah bergerak mengikut angin seolah sedang menari-nari diatas sana. Hembusan angin tidak membuat segar malah kami seolah sedang mengolok-ngolok.
Jika aku terus saja mengeluh, wanita berkalung kardus bertuliskan leukosit, malah terlihat menikmati hukuman yang dia dapatkan bahkan mengumamkan lagu aneh beberapa kali yang layaknya mantra. Dia berkata,
“demi dewa langit dan hujan bertempurlah hingga hujan turun dan bumi basah dengan asmara juga cinta” gumamnya bergerak layaknya avatar yang sedang mengerakkan angin menjadi bulatan kecil ditangannya.
Tidak cukup dengan hal itu, dia malah bergumam mengenai bagaimana kerja keras dari istri president pertama indonesia telah bekerja keras demi menjahit kain merah putih hingga sampai saat ini menjadi kebanggan indonesia. Dia berkata
“seandainya aku lahir lebih cepat dari ibu Fatmawati, aku kali yagh yang jahit bendera itu?”
“gila” gumamku dengan pandangan sinis padanya.
“diam” ujarnya galak namun setelahnya dia malah tertawa sendiri.
Tak ada kata yang bisa ku lontarkan namun pandanganku semakin sinis padanya bahkan aku semakin membuat jarak, khawatir jika memang wanita ini memiki penyakit mental yang tidak tertolong.
Setelah hampir setengah jam kami dijemur, pria itu menyuruh kami melewati kolong meja dengan membawa beberapa botol kecap yang dikalungkan pada leher kami.
Ada 4 meja yang tersusun rapi dan kami harus merayap untuk mewati kolong meja itu. walau dia menggerutu, nyatanya tetap mengikuti perintah sedangkan aku hanya memperhatikannya. Dengan susah payah, wanita itu akhirnya berhasil mengerjakan titah kakak senior namun karena aku tidak hingga akhirnya dia harus mengulang dari awal.
Atas desakan dari wanita itu, ujung-ujungnya aku mengikuti perintah. Baru juga kolong meja ke dua, tiba-tiba wanita itu mengeluarkan gas dari bokongnya hingga aku terperanjat kaget, lalu kepalaku terbentur meja beberapa kali. Bukannya merasa bersalah, wanita itu malah tertawa sangat keras. Jelas aku mengerutu namun dengan santainya dia berkata,
“layaknya rindu, kentut pun tidak bisa ditahan”
“lo makan bangke ya?” ucapku sarkas.
“kok tahu” balasnya malah semakin tertawa keras.
“awas ya lo” ancamku namun bukannya takut, dia malah memeletkan lidah seolah menantang.
Ku pikir setelah menyelesaikan hukuman kami bisa berpisah namun nyatanya tidak. aku berada digugus yang sama dengan wanita itu. Didalam kelas, panita yang menangani gugus 8 sibuk mengarahkan kami agar mempermantap hal yang akan ditampilkan nanti.
Aku yang baru pertama kali datang dan mengikuti MOS padahal kegiatan ini telah berlangsung 6 hari, jelas binggung. Wanita itu ternyata sangat senang mencampuri urusan orang lain hingga memaksaku ikut barisan dan bergerak sesuai apa yang teman-teman lakukan. Walau enggan, atas desakannya aku mau bergabung.
aku jelas selalu membuat kesalahan namun dia dengan sabar mengajari walau tidak mengubah apapun. Mataku terus saja terarah padanya karena dia yang paling sering mendapatkan hukuman dari senior.
Menurutku tidak ada yang sepesial dari kegiatan ini namun tidak dengan wanita itu nampak sangat menikmati setiap moment hingga sedari tadi bibirnya tetap melengkung menunjukkan senyum cerah walau terus saja jadi mainan.
Saat beberapa anak yang dianggap melanggar berdiri dengan malu-malu di pojok ruangan, wanita itu malah bertukar sapa dan ketawa-ketiwi dengan sok akrab pada yang lainnya. Walau penampilan dan postur tubuhnya tidak seberapa, nyatanya dia termasuk wanita yang populer.
Dari seseorang yang baru ku kenal, dia menjelaskan jika wanita itu bernama lia. Lia memiliki suara yang bagus, jenaka dan aktif dalam setiap kegiatan hingga baik teman seangkatan dan kakak senior mengenalnya.
Tanpa memperdulikan teriknya matahari, kami berkumpul di lapangan basket dengan beraturan. 1 persatu telah maju menunjukkan hasil latihan dan semangat dari gugus mereka. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya giliran kami.
Penampilan kelompok delapan jelas diperburuk karena kehadiranku. Aku ditempatkan ditengah barisan dan bersampingan dengan lia hingga nampak jelas perbedaan kami berdua.
Jika lia bergerak dengan energik, maka aku sebaliknya. Tanpa menghiraukan sorakan orang lain, aku bergerak dengan asal hingga teman-teman juga senior dibuat geram dan lagi-lagi cuman lia yang paling ceria.
Akhirnya setelah penampilan semua kelompok yang ku tanggapi dengan acuh dan merasa bosan, kegiatan itu akan berakhir namun sebelum mengakhiri kegiatan, kami di minta kumpul di lapangan sekolah lalu panita MOS.
Dalam kegiatan itu, kepala sekolah turut hadir lalu mengucapkan kata sambutan dan pesan agar kami bisa menjadi siswa-siswi teladan untuk membanggakan sekolah. Setelah kepala sekolah selesai dengan ceramahnya, Seorang wanita berpakain panita tengah berdiri dimimbar dan mengatakan bahwa seseorang akan membacakan isi suratnya dihadapan kami semua.
“dari semua surat yang ada, kami memilih satu surat yang paling unik”
“serius deh ini isi suratnya unik, kecentilan tapi kayak ngajak betarung juga” jelas wanita itu lagi.
“penasaran kan?” ujarnya memancing audiens.
”gimana kalo yang nulis yang kita suruh naik untuk baca suratnya?” tanya wanita itu melemparkan pertanyaan dari kami sekali lagi da semua orang bersorak mengiyakan hingga wanita yang tengah berdiri di podium dan memegang mik dengan riang berkata,
“baiklah, kita sambut nurlia dari gugus 8 untuk membacakan suratnya” kata wanita itu dengan semangat dan mengundang orang-orang lain berseru menyemangati juga ada yang mengejek.
Semua orang telah bersorak keras menyemangati dan berulang-ulang memanggil nama lia. Walau ragu, dan malu-malu pada dia maju lalu mendekati podium. Dengan suara sedikit bergetar, akhinya dia berkata,
“to kak Dika, from Nurlia” ucapnya terbata-bata karena gugup.
“hewan dan hujan ada pawangnya, kalo kakak kelakuannya liar, siapa yang akan meminang?!” ucap Lia sembari menatap pada pria yang tengah berdiri tidak jauh dari podium
“dag dig dug serr mata minta digeser. Tatapanmu Layaknya Zusana menawarkan sate pada bang bokir dan minta diberi goyangan ngeboor” ujarnya lalu cengengesan tidak jelas.
“tidak selamanya langit cerah dan mendung tidak selalu menjadi petanda akan hujan” kata lia sembari menatap langit sebentar lalu berucap,
“si lidah pahit menyimpan senyum paling indah. Tertawalah, dunia tidak akan kiamat karena lengkungan garis diwajahmu bukan terompet sangkakala”
“jika tidak ingin dunia tahu berapa banyak gula yang ada dibibir, mendekatlah biar kutimbang dan ku jual” katanya lagi dengan gaya centil pada pria yang berdiri kian kaku di pojok sana.
“kakak tahu, masih banyak yang memperdebatkan dunia itu datar atau bulat!” ujarnya.
“kurasa kakak sama denganku yang tidak peduli, jadi ayo berteman denganku. Mari berbincang tentang hari ini atau esok, Jangan seperti sibuta dari goa hantu yang menganggap kera adalah sahabatnya” mendengar hal itu, orang-orang bersorak menertawakan sedangkan yang dimaksud tengah berdecih.
“mari berbincang tentang dunia agar kelak aku tahu kakak adalah kawan atau lawan. Jangan terburu-buru menebak seperti apa aku, mari berjalan beriringan untuk tahu kita adalah goresan indah dimasa lalu atau sekedar piguran yang lalu lalang tak berkarakter” ucap lia menunduk malu.
Acara MOS berakhir dengan suka cita begitu pun aku. Hari pertama sekolahku berjalan normal namun tidak pada lia. Baru juga sedang mengakrabkan diri pada teman-teman sekelasnya, beberapa kakak kelas malah datang dan mengancam lia agar tidak mencari muka atau mendekati Kak Dika.
“sungguh ironis” ejekku tanpa peduli pertarungan itu lagi.
FLASHBACK OFF.