11:20 WIB
Aku baru saja terbangun dari tidur yang panjang, sekujur tubuhku rasanya remuk, tulang-tulang ku terasa ngilu, mungkin efek AC pesawat dan juga bus yang membekap tubuhku seharian kemarin, wajarlah jika ini baru terasa sebab baru pertama kali melakukan perjalanan jauh.
Aku beranjak dari tempat tidur dan duduk disudut kasur, kupandang sekeliling kamar suami sepertinya temboknya baru saja di cat, biru muda warna yang melambangkan kesehatan dan juga kelembutan, tampak beberapa buku yang acak-acakan diatas rak, beberapa perabotan tak beraturan,tumpukan baju pun terlihat berserakan di sudut lemari, kurasa memang suamiku butuh pendamping untuk merawatnya. Oke akan ku rapikan setelah ini, Senyumku kembali mengembang saat menatap wajah teduh suamiku, peluh dari sudut alisnya yang tebal seakan menambah kesan kejantanannya, Aku merasa jatuh cinta berkali-kali ketika menatapnya.
Pintu kamar masih terkunci, Aku rasanya enggan untuk membukanya, namun rasa ingin buang air kecil memaksaku untuk keluar dari kamar ini. Dari luar sana juga tidak terdengar apa-apa, Ibu Mertua dan Adik iparku mungkin saja masih terlelap karena kelelahan. Perlahan Aku mencoba membuka pintu, Aku berjalan menujuh arah dapur, mencari kamar kecil, suasana menjadi hening tidak ada siapa-siapa disini,dua kamar yang ku lalui tadi pun tampak terbuka namun tak seorang pun di dalamnya, mungkinkah Ibu mertua ku keluar bersama anak gadisnya? Ke pasar, Atau mereka pulng kerumahnya? Apakah rumah ini milik suamiku sendiri? Atau ...
Belum selesai Aku menerka-nerka terdengar suara motor dari depan, suaranya tidak asing, dari balik jendela Aku memastikan, dan benar saja itu mereka. Bergegas Ku buka pintu mencoba membantu mengangkat belanjaan ke dalam rumah,
"Sudah bangun Mbak?" Tanya Adik iparku sambil jalan beriringan.
"Cukup lelah dengan perjalanan jauh," jawabku sambil melempar gelak tawa.
Di dapur, Kami bertiga berkemas, masak dan juga merapikan ole-ole yang akan dibagikan kesanak saudara, cukup menyenangkan sambil berusaha akrab dengan keluarga suami adalah PR baru bagi ku.
Ibu Mertua banyak bercerita tentang masa kecil suami. Yang menambah kesan cinta ku terhadapnya ,ternyata Suami sangat penyayang keluarga,
"Berhenti menceritakan ku Bu,kalau tidak batukku ini tidak akan berhenti," pungkas suamiku yang tiba-tiba muncul dengan suara batuk yang khas, sepertinya dia alergi efek AC di dalam bus kemarin, sementara Adik dan Ibu mertua membalas dengan tawa.
***
"Adik dan Ibu ku baik kan?" ujarnya.
Aku menatapnya dengan senyuman , sambil melanjutkan merapikan tatanan buku-buku, ada banyak buku islami, bahkan buku tentang Sirah Nabawiyah yang masih tersegel pun.
"Itu buat Kamu, dulu Aku lupa ikutkan dalam paket untuk dikirim," jelasnya.
Tiba-tiba Aku memeluknya, kembali mata kami saling beradu, tanpa aba-aba kurasakan kembali sentuhan hangat pada permukaan bibirku, jantung ku memacu cepat, desir hangat aliran darah semakin kuat tatkalah hembusan nafasnya yang memenuhi rongga telingaku. Aku melakukan perlawanan dengan mendorong tubuh kekarnya menjauh dari tubuhku yang seakan dililit kuat.
"Aku belum bersih," ujarku sambil menunduk malu, tubuhnya hampir saja terjatuh sebab tersandung barang-barang yang masih berserakan dilantai. Namun itu tidak mematahkan gairahnya untuk mendekapku, bagaikan ayam jantan yang mengelilingi betinanya.
"Kapan sayang," bisiknya sambil mengecup punggungku dari belakang.
"Setelah ini Aku akan mandi," ucapku
"Tapi tolong bantu untuk merapikan ini agar terlihat bersih," sambungku lagi, keceriaan tampak dikedua bola matanya, seperti anak kecil yang dijanjikan permen kalau rajin gosok gigi. Dan Aku bagaikan penguasa baru didalam kamar itu, Aku memang tipe yang tidak senang melihat ruangan yang berantakan. Baru bisa rehat jika melihat semua sudah rapi dan bersih.
***
"Kil, dua kantongan ini untuk Bude Tim dan bude Cia, yang lainya untuk Mbak Laras,Sarah,Tami. Pokoknya yang kantongan besar ini isinya bagikan ke Mbak sama Mas mu," jelas Ibu .
Sore ini Aku dan Suami akan berkunjung kerumah kerabatnya, mungkin niatnya sekalian untuk memperkenalkan Aku.
Aku mencium punggung tangan Ibu, seraya berpamitan,pundakku dielusnya.
"Aku pergi dulu yah buk, sekalian izin kalau malam ini Aku dan Nisa nginap di ... " ucap suamiku setelah mencium punggung tangan Ibu, namun belum selesai berucap, Adik Ipar ku tertawa lepas merasa mengerti akan maksud Mas nya itu, Ibu mertua ikut tertawa meski nampak terlihat ada ucapan yang ingin diutarakan.
Ia menepuk pundak anak lelaki semata wayangnya itu sambil menyampaikan kata yang Aku sendiri tidak tahu artinya, matanya berkaca-kaca saat Aku dan suami mulai meninggalkan mereka.
***
Disepanjang jalan Aku menikmati aroma segar udara sore ini, sekali-kali Aku menerka-nerka Mama,Papa dan juga adik-adikku sedang apa sekarang disana, ah nanti Aku mencoba menghubunginya dengan panggilan video call setelah sampai dirumah keluarga.
20 menit perjalanan akhirnya tiba dikediaman keluarga suami, tampak mereka sudah berkumpul di teras rumah, sangat hangat sambutan mereka. Tetapi Aku masih kebingungan dengan apa yang mereka ucapkan, Aku lebih banyak diam dan senyum saat mendengar mereka berbincang, tapi menurutku mereka sangat ramah.
"Mbak, jangan kaget kalau main ke sini. Suara orang-orang disini memang keras, tapi mereka ramah-ramah." ucap salah seorang kerabat yang mungkin melihatku bingung sejak tadi.
"Iya, Mas." jawabku.
Aku mulai merasa nyaman karena satu persatu mulai membuka percakapan denganku dengan bahasa yang lebih ku mengerti.
"Nanti Mbak juga terbiasa mendengar dan lama-lama akan mengerti dengan bahasa disini," sambung kerabat yang lain.
Cukup lama bercengkrama dan mengenal satu sama lain, ku perkenalan kan juga dengan keluarga disana meski melalui video call, suamiku ternyata memiliki keluarga yang banyak, rumah mereka pun saling berdekatan,sehingga memudahkan untuk meminta bantuan satu sama lain jika ada sesuatu yang dibutuhkan.
***
Senja mulai melukis gradasi pada rona nya,
Motor terus melaju pada arah yang masih kita usahakan.
"Jadi nginap dimana sayang?" tanyaku.
"Di villa depan sana saja," jawab suamiku sembari tangan kirinya menggenggam erat tangan ku. Motor Yamaha NMAX yang kami kendarai melaju kuat saat menanjak diatas bukit-bukit beraspal, Aku begitu menikmati dingin nya udara diatas ke tinggian 1.300 mdpl, kueratkan pelukan pada punggung suamiku, namun mata ini merasa takjub dengan keindahan suasana kota di bawa sana, kerlap kerlip lampu kota mulai berganti menerangi senja yang semakin tenggelam, Aku berdiri membentangkan kedua tangan, Aku merasa di bukit ini Aku ingin melepas semua kepenatan hati dan fikiran yang membuat diriku terkungkung dalam kesepian, Aku merasa terbebas, Aku merasa lepas dari kesengsaraan.
Kurasakan pelukan hangat dari belakang, lelaki ini selalu membuatku melayang, Aku kemudian memejamkan kedua mata menikmati hembusan angin malam ini ,seperti ini rasanya pacaran setelah menikah. Setiap aktivitas yang kami lakukan akan terhitung nilai pahala didalamnya.
***
Kewajiban sebagai seorang muslim tidak lupa Kami tunaikan, setelah mampir untuk sholat Maghrib, Aku dan suami mencari makan, sungguh banyak juga pedagang diatas bukit ini, dibandingkan dengan kota ku, Aku lebih takjub dengan kota ini, pemandangan yang indah, suasana yang nyaman dan orang-orang yang ramah, dan Aku benar-benar baru merasakan yang namanya dinner berdua seperti ini.
"Bagaimana sayang? Apakah kamu senang?" Tanya suamiku.
Aku menganggukkan kepala sambil makan dengan lahap.
5 waktu telah tuntas berlalu,
Aku dan suami melanjutkan perjalanan menuju penginapan yang sudah kami setujui tadi.
Tampak bangunan kokoh dipojok bukit sana, bercat putih dan diapit dengan pohon pohon pinus yang lebat,
Aku menyusuri taman-taman dengan bunga berbau sedap malam,meski beberapa hari mungkin Aku akan betah disini,
Knop pintu terbuka, Aku terpanah pada dekorasi didalam ruangan, sederhana tapi tetap megah, sangat cocoklah untuk Kami yang pengantin baru ini.
Aku duduk dipojok kasur setelah bersih-bersih badan, ku raih tas selempang ber merk Gucci diatas nakas, Aku berusaha mencari baju yang akan ku kenakan sebagai persembahan malam pertama ini. Tiba-tiba si mata elang keluar dari bilik kamar kecil itu.
Secepat kilat Ia menarikku, hingga membuat badanku berbalik tepat dibelakangnya, masih dengan piyama yang membungkus keindahan tubuhku, Ia memeluk erat tubuh yang padat ini. Kurasakan rudal keras yang mendesak pada puncak impian, namun terhalang dengan piyama berwarna maroon ini.
Hembusan nafasnya yang kian memburu, membuat jantungku berdegup kencang, mataku yang sedari tadi terpejam sontak terbelalak saat kedua tangannya meremas gunung kembarku, Aku berusaha menepi mencari sandaran tatkalah Ia membalikkan tubuhku dan mulai menyerang gunung kembar dengan wajahnya, bagaikan bayi yang kehausan Aku terjatuh diatas bed, piyama yang kupakai tersingkap sehingga menampakkan keseluruhan yang tersembunyi, Aku melihat bagaimana Ia menelan salivanya, sorotan matanya yang tajam membuat Aku merasa mengibah, mengibah untuk lebih jauh terjamah. Perlahan Ia mendekat, sementara kuangkat kedua bahuku, menopang dengan kedua lengan untuk melakukan pergerakan mundur, namun terhenti saat kedua pahanya berada diatas kedua paha ku, kurasakan kehangatan tubuhnya saat menempel pada tubuhku,rambut halus pada dadanya menambah kesan cinta malam ini, namun kali ini Ia tak seberontak tadi. Dengan lembut membelai rambut hitam ku, Aku memejamkan mata saat kembali kurasa sentuhan hangat pada bibirku, tangan kanannya berusaha meraih pangkal pahaku untuk menepi agar merasa lebih terbuka, air mataku menetes merasakan setiap lumayan bibirnya, dan saat Ia memainkan lidah kedalam rongga mulutku, berpindah ke gunung kembarku, Aku merasa jauh lebih nikmat disana ketika ia memainkan tonjolan kecil itu, Aku berusaha menekan kepalanya saat tonjolan itu masuk penuh kedalam rongga mulutnya. Desahan yang sudah tak tertahan mengisi ruang dalam kamar itu, tak henti-henti nya Ia memainkan setiap inci tubuhku sebelum akhirnya puncak kenikmatan yang sesungguhnya diraih dengan puas, kali ini Aku melihatnya tanpa benang sehelai pun, rudalnya yang siap menghujam puncak kenikmatan ku semakin kokoh pada pertahanannya, sementara diriku sudah dibuatnya licin berkali-kali. Aku meringis kesakitan namun Ia bergerak tanpa lengah, sejenak Ia menghentikan permainan tatkala melihat bercak merah menempel disana. Aku duduk menepi entah apa yang kurasakan saat ini, senang atau sedih, pertahankan ku telah hilang sudah.
"Makasih sayang," ucapnya sembari mengecup keningku, Aku masih terdiam entah mengapa merasa kehilangan. Aku merasa kesakitan dibawah sana.
"Hey ... Kita sudah halal sayang, katakan jika cara ku kasar, akan ku lakukan secara pelan-pelan selanjutnya, suatu saat nanti kau akan lebih menyukainya." Aku menoleh sembari melepaskan pelukannya dari belakang, Ia tertawa saat kutimpuk bantal.