"Sayang, sekitar 15 menit lagi Aku pulang, kamu sudah mandi belum? kamu siap-siap yah !" begitu isi pesan yang baru saja kuterima dari w******p.
Segera Aku beranjak dari pembaringan, kuteliti tanggal pada kalender yang tergantung di dinding kamar.
Sudah tanggal 02, itu artinya Suamiku sudah gajian, selama tiga tahun ini jika Suami gajian Ia selalu saja seperti itu, mengajak Aku keluar jalan-jalan untuk sekedar jajan kaki lima atau sekali-kali ke rumah makan dan belanja bulanan di mall, hanya sekedar itu tanpa memberi uang nafkah. Semua keuangan masih Ia yang handle, pernah suatu waktu Aku bertanya tentang keuangan namun Ia berkata hanya tidak ingin membuat Aku merasa pusing untuk mengatur semuanya, ada baiknya juga fikirku. Tapi itu pun Ibu dan saudaranya selalu menyindir boros. Padahal kalau kami dari belanja bulanan semua kebutuhan dapur dan juga kamar mandi Suami yang menanggung. Sedangkan saudaranya, uang hasil kerjanya dinikmati sendiri.
***
Kudengar suara motor suami telah tiba.
Kusambar tas putih berhias pita itu dibelakang pintu.
Sorakan keponakan terdengar lantang tatkalah setelah diajak berbincang dengan om-nya, sayup-sayup terdengar kegaduhan sebab saling berebutan.
"Nisa carikan dulu baju Afdal dan Fadlan itu," ujar Ibu Mertua yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.
Terlintas dalam fikir, ternyata Suami ku mengajak keponakan-keponakannya juga untuk ikut, tapi Aku tidak pernah keberatan dalam hal itu.
"Dafan tidak usah, biar tinggal sama Ibu saja," lanjut Ibu Mertua tatkala Aku mencari baju buat mereka.
Kali ini Ibu Mertua tidak nampak judes ketika Aku akan keluar kemana-mana dengan Suami, mungkin karena cucu-cucunya diajak.
"Mau titip makan apa Bu ?" tawar Suamiku
"Martabak saja Kil tapi telurnya dua," jawabnya.
"Anak-anak gantengku ini mau kemana rapi begini?" terdengar suara Mbak Ipar, rupanya sudah pulang kerja juga,
"Dafan mau ikut juga?" ujarnya lagi tatkalah menghampiri, sementara Aku menuju teras untuk menunggu Suami, guna menghindari setiap perkataan Mbak Ipar yang selalu menohok,
"Ini Dafan ganti baju dulu,"
Sudah kubilang Mbak Ipar ini tipe yang dikasih hati minta jantung. Ia mengambil baju untuk dipakai kan ke anak bungsunya itu dengan harap bisa ikut, agar Ia bisa bersantai setelah itu. Namun di tampik oleh Sang Ibu.
"Tidak usah, Dafan biar dirumah saja,apa jadinya kalau semua Ikut, barang belanja disimpan dimana,nanti adikmu kesulitan memegangnya," bela Ibu Mertua.
Sekali-kali Ibu mertua membela jika itu ada maunya.
***
Ku susuri sepanjang rak yang berisi barang kebutuhan harian itu, sementara Suami tengah mendampingi dua keponakan jagoannya itu yang tengah memilih Snack, beberapa bahan dapur ku cermati harga dan isianya menyesuaikan budget Suami,
"Jangan yang itu, Ibu tidak suka rasanya," ujar Suami seraya menepis tanganku dengan isyarat agar mengembalikan bumbu kemasan saset itu.
Aku hanya diam, padahal baru saja ku ambil untuk membaca komposisinya.
"Ibu biasa pakai yang rasa ini," sambil menunjukkan royco bergambar sapi kemudian langsung diletakkan kedalam troli belanjaan.
Bahkan shampoo maupun pewangi pakaian semua harus disesuaikan selera Ibunya. Dan pernah juga Aku memasak sayur ,ku campurkan telur pada kuahnya yang terjadi Ia meleraiku dan berkata jangan campurkan telur pada sayur karena Ibunya tidak suka.
"Kamu mau beli bedak tidak?" tawar Suami sambil melirik pada etalase yang berisi alat make up.
Mungkin Ia paham karena sekali-kali Aku melirik kesana.
Aku hanya menggelengkan kepala,
"serius?, tidak apa-apa, ayo cepat pilih sana," paksa Suamiku.
"Tidak usah Mas, nanti saja kalau sudah habis," tolakku.
Ia menatapku curiga, seakan menerka-nerka apakah ada salah bicara padaku, karena melihatku sudah kurang mood. Meski Ia tidak pernah memberi Aku uang gajinya tapi semua kebutuhanku selalu dipenuhinya bahkan disaat Aku tidak meminta Ia selalu berinisiatif untuk memberikan, hanya saja Aku kadang merasa risih atau tidak terima jika keluarganya mencap-ku sebagai tukang habis duit Suami atau boros-boros. Karena kenyataannya masih Suamiku yang menghandle semua uangnya dan itupun uangnya kira pakai bersama untuk memenuhi kebutuhan orang rumah
Aku pun bukan tipe wanita yang lapar mata, setiap melihat sesuatu yang trendy langsung ingin memilikinya, Aku membeli sesuatu sesuai kebutuhan saja.
"Jadi kamu, mau makan apa sayang?" rayunya kembali.
"Terserah aja bi, anak-anak mau makan apa?" tanya ku melempar kata kepada kedua keponakanku sambil memandang mereka.
"Steaaak ..." dengan serentak mereka bersorak.
Setelah pembayaran di kasir semua selesai, kami pun meninggalkan mall besar itu menuju tempat untuk memenuhi hajat lambung ini.
***
Sejenak mampir ke resto buat menyenangkan keponakan, kemudian lanjut membelikan Ibu martabak sesuai request-an nya, begitu pun membelikan untuk Mbak Ipar meski tanpa Ia meminta.
Kurang dari 20menit setelah perjalanan akhirnya kami sampai di rumah.
***
Aku masuk ke dalam kamar guna mengganti baju, sementara Suami masih sibuk memasukkan barang belanjaan,
"Mana martabaknya?" terdengar Ibu Mertua menagih, setelah itu berganti dengan suara tawa-nya yang khas.
"Banyak sekali belanjaan mu Kil," sergah Mbak Ipar
"Mana liat kertasnya?" pinta Ibu Mertua.
Dari balik tirai antara penghubung ruang tamu dan ruang tengah Aku melihatnya, Struk belanjaan dibacanya dengan teliti berdua dengan anak perempuannya itu,
"Ini terlalu mahal dan terlalu boros lain kali beli di tempat ..."
Aku yang mendengarnya kembali masuk kedalam kamar
"Itu sudah termasuk keperluan kalian," tukas Suamiku.
Seketika mereka langsung terdiam.
Tidak bersyukur sekali orang-orang itu,padahal kami membelinya untuk keperluannya juga.
Setiap kali Aku dan Suami keluar dan pulang bawa belanjaan atau entah itu buah tangan selalu saja di kritiknya, memang sangat serba salah tinggal dengan mereka, pernah sekali tidak membawa apa-apa malah dikata pelit ,tidak tahu berbagi dengan orang tua, Atau terkadang mereka menyindir bahwa uangnya sudah berapa banyak ditabung. Dan yang paling Aku tidak habis fikir adalah pertanyaan Mbak Ipar keingin tahuanya yang besar tentang berapa banyak Suamiku memberi uang kepada ku ketika gajian, bukan ingin memastikan apakah Aku tercukupi atau tidak, tetapi memang rasa cemburunya yang begitu jelas tatkala Suamiku memberi lebih, itu ku ketahui karena pernah suatu ketika tidak sengaja mendengar perbincangan nya dengan Ibunya.
"Sebaiknya Akil tidak perlu memberi semua uang nya ke Nisa, Nisa kan ikut tinggal disini, lagi pula, beras kan Ibu yang tanggung, diberi makan saja sudah cukup tuh anak."
Begitu hasutanya ke Ibu dan semenjak itu, ibu banyak berubah. Membatasi bahkan mengawasi setiap apa yang ingin kulakukan dengan anaknya, memang selama ini beras dan air kami tidak pernah kekurangan, karena Ibu ada hasil panen dari persawahan,juga air ada sumur bor yang meringankan.