Membiru
dalam gulungan derumu
Berlalu
renjana bersaur dalam seru
***
"LUNA NYEBUT WOY" Bagas mengguncang perempuan itu
"LA LO KENAPA? JANGAN BERCANDA DONG. UDAH MALEM NIH" Kezie yang baru tiba berhambur mengguncang perempuan itu
"LA!!! GUE BENERAN TAKUT"
"SADAR WOY"
"ALULA !!!!" ucapan Kezie mengguncang tubuh mungil itu
Suara tangis Alula kemudian terdengar, tangannya gemetar, tubuh ringkihnya masih meringkuk, bahkan wajahnya sudah penuh dengan air mata, ia menegang untuk beberapa saat.
"Lo kenapa? Ini gue" tanya Kezie lembut
"Kezie" perempuan itu berhambur kepelukan saudaranya itu
"Lo apain b*****t?!" tanya Kezie pada Bagas yang masih menjulang di seberangnya tanpa suara
"Nggak gue apa - apain!!" jawab Bagas panik
"Yaudah yuk pulang, aku yang nyetir" bujuk Bagas lembut sambil berjongkok menyeimbangkah tumbuh mereka
"b******k gue takut!" ucap perempuan itu mencubit kembarannya
"ADUH SAKIT GBLK!!!" Kezie melepaskan pelukannya
Alula kemudian memasuki mobil tanpa banyak berkata, ia hanya menunduk hingga mobil itu meninggalkan pekarangan sekolahan mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan selama perjalanan, meskipun mereka sangat ingin tau apa yang terjadi dengan perempuan bar - bar ini. Sungguh mereka benar - benar penasaran. Kezie mencoba menenangkan Alula yang terlihat syok, bagaimanapun melihat kondisi saudaranya ini bisa - bisa mama memaksanya tidur di halaman karena membuat anak perempuannya menangis.
"Lo kenapa sih?! Cerita coba, bikin panik aja" ucap Kezie sewot tiba - tiba
"Brisik anjir" ucap Alula menimpuk mulut Kezie
"Aduh!! Mulut gue. Durhaka lo!" sungut Kezie
"Diem anjir! Bisa kecelakaan nih" ucap Bagas ikut sewot yang sedari tadi diam seperti sopir mereka
"Mulut " Kezie mengumpat
"Mau s**u ga lo?!!" tanya Bagas
"Mau. Rasa coklat" saut Alula dengan suara paraunya
***
"Luna"
"Nama lo Luna kan?!"
"Lo bisa lihat gue kan"
"Liat gue!!"
"AAAAAAAAAAAAAAAArghhhhhhhh"
Sosok perempuan dengan seragam yang sama dengan yang miliki itu sungguh mengerikan. Darah dipelipis kepalanya, rambutnya teruari kusut, sikunya berdarah, kakinya bankan bengkok. Bau anyir darah mulai menguar membuatnya merasa mual luar biasa. Tatapan perempuan itu mencekam seketika, wajahnya pucat pasi, bahkan sangat sulit untuk mendeskripsikannya. Perempuan itu semakin mendekat membuat Alula yang pertama kali melihatnya menjadi histeris. Untungnya Kezie segera datang di waktu yang tepat.
"Gue nggak punya six sense ya sayang" - Alula
Sepertinya Alula sedang dalam kondisi yang benar - benar lelah. Ia akan sangat mudah bersinggungan dengan hal - hal seperti ini jika ia dalam kondisi kurang baik dan sepertinya hari itu ia sedang dalam tekanan yang lain. Meskipun begitu seluruh keluarga tidak mengetahui itu, awalnya Alula juga berpikir ia seperti anak - anak indigo lain, tapi nyatanya ia bahkan tak pernah menemui wujud - wujud seperti itu selama ini, selain daalam kondisi tertentu.
Setelah kejadian itu, Alula akhirnya terbaring sakit selama 7 hari. Sepertinya dia sawanen. Selama seminggu itu pula Kezie merima beribu tuduhan mamanya "Kamu nakutin pake kecoa kan?" "Kamu ajakin nonton apa kakak kamu?" "Kamu kasih s**u basi ya dek?" . Malang sekali nasib kezie ini. Semua pekerjaan kepanitiaan Alula tidak dapat ikut serta padahal minggu - minggu awal SC harus melakukan survey dan rapat dengan Penanggung Jawab lapangan (Sekolah), media, dll. Mau bagaimana lagi, bangun saja kepalanya rasanya mau pecah. Ia hanya sesekali muncul di group untuk mencari info apa saja yang telah di kerjakan serta apa yang dapat ia lakukan dan meminta maaf karena kitidakhadirannya selama seminggu ini.
Kabar sakitnya pun telah sampai ke semua panitia, salahkan tangan lemesnya Kezie juga yang salah kirim pesan ke group panitia. Selama seminggu itu juga rumah Alula ramai dengan teman - teman panitia yang datang menyempatkan menjenguknya, ya walaupun baru seminggu kenal nyatanya mereka sepeduli itu- berakhri Kezie yang meladeni- ingat kepala gue mau pecah buat melek aja. Pada akhirnya Kezie yang repot, tapi terima kasih untuk pahlawan Kezie ini.
***
Setelah drama sakit, ketemu mbak - mbak yang ngga tau datang dari mana, ketinggal banyak pelajaran, hingga harus ngikut sana - sini karena semua jobdesnya di cover Maraka tanpa terasa perjalanan kepanitian ini sudah 2 bulan berlalu.
"Lun, hari ini ikut Maraka ketemu media ya. Buat fix in aja sih. Jam 5 nan sih janjiannya, nanti lo kontakan aja sama dia. Gue mau persiapan tempat buat RO seleksi sama anak humas" jelas Yessa diseberang
"Yaudah, entar gue kabarin Maraka. Proposal udah kan?"
"Udah gue kasihin kok kedia, lo tinggal out aja ntar"
"Udahan dulu ya, udah bell nih. Ati - ati"
"Iya. Lo juga"
Pip - sambungan itu terputus sepihak
"Cie yang anak sibuk" goda Rena yang duduk disebelahnya sambil menyesap botol Yakult ke 3 nya
"Capek gue anjir. Tiap malem begadang mulu, berasa kerja rodi" keluh Alula
"Lo kan enak nggak ada ngapa - ngapain tinggal ngawas doang" timpa Rene
"Dih. Mulut suka ngadi - adi. Terus yang ngalor ngidul dari kemarin biar semua fix siapa anjir"
"Udah kaya babu gue tuh!" Alula kesal mengambil yakult Rene
"Yakult gue" ucap Rene pasrah melihat yakultnya berpindah tangan
"Mencret lo kebanyakan minum, b**o" ketus Alula kemudian
Maraka
`Today
Ka, ketemu media bareng gue. Nebeng | 10.30 Read
Hm | 10.30 Read
"Eh dia cakep tau. Lo ga kepincut nyet?" saut Rene tiba - tiba setelah melihat nama kontak yang dihubungi temannya itu
"Ngintip - ngintip. Bintitan lo!"
"Eh beneran tau, dia cakep juga. Boyfreind-able gitu. Bolehlah gue mbat"
"Buset boyfriend-able, tapi sayang seringnya jalan sama gue. Gimana dong?" usil Alula
"Ye elu mah gitiu nying"
Mereka pun terlarut dalam obrolan seputar acara, kegiatan baru - baru ini, dangan jangan lupakan mereka juga membahas berbagai jenis lelaki. Mulai dari Rene yang ingin dekat dengan Tendra anak sebelah yang ternyata sengkleknya minta ampun, hingga bagaimana Rene kalah dalam debat mulut denngan anak laki - laki bernama Renjana beberapa waktu lalu.
Tanpa sadar waktu berlalu, sang surya telah merendah mencipta warna orange di pelupuk barat. Hari ini cuaca sedang berbaik hati, langit membiru cerah, bahkan udarapun terasa sejuk.
"Alula, draf peserta udah sampe di divisi kalian kan?" tanya Carel saat berpapasan di koridor
"Eh Carel. Udah, ini gue ada soft filenya. Gimana?"
"Langsung sesuain aja -" ucapan Carel terpotong karena dering telepon Alula
"Eh bentar, Rel"
"Halo"
"Gue udah digerbang neh. Cepet"
"Sabar Malin. Gue otewe" jawabnya selo
Pip
"Gimana rel?"
"Lo buru - buru deh, mau kemana?"
"Ini mau nemuin media sama anak humas"
"Yaudah ntar aja gue pc koor lo. Duluan. Ati - ati" ucap Carel tersenyum
Alula kemudian berlalu meninggalkan koridor sekolahan mereka. Maraka terlihat muram menunggunya diatas motornya. Sepertinya dia risih karena tatapan perempuan - perempuan yang berlalu lalang pulang itu.
"Maraka" teriak Alula dari kejauahan
Tatapan itu sedikit ceria mendengar teriakan Alula -oh ayolah PD sedikit sepertinya tidak apa kan- Alula kemudian menghampiri lelaki itu
"Sorry"
"Lama banget sih, udah beruban gue nunggu"
"Dih, no bukti hoax ya Malin"
"Kan gue dah minta maaf. Tadi Carel mbahas masalah peserta bentar"
"Udah ayok" ucap Maraka sambil menyerahkan helmnya
"Ka"
"Apa?" helm itu masih belum diterima oleh Alula
"Gue pake rok" ucapnya polos
"Ya terus??!!" ketus Maraka
Alula mengarahkan pandangannya pada rok yang sedang ia gunakan. Rok kotak - kotak warna merah diatas lutut 2 cm. Damn. Sepertinya Maraka secara tidak langsung ingin menjajakan Alula.
Maraka speclesh melihat kelakuan anggotanya itu
"Oh my god, Alula. KENAPA LO NGGAK BAWA GANTI ATAU PAKE TRAINING SIH?!" sewot Maraka
"Ya kan Yessa ngabarinnya ngedadak pak!"
Tanpa banyak bicara karena waktu yang semakin mepet, ia kemudian mengambil hoddie didalam tasnya, menyerahkan kepada Alula untuk menutupi roknya itu.
"Terharu gue. Jatuh cinta gue lama - lama sama lo" ucap Alula santai
Mendengar itu Maraka terdiam sejenak, ada sedikit bunga dalam hatinya namun ia tutup tutupi mati matian. Sungguh memalukan jika pipinya memerah tiba - tiba. Ia kemudian menerima hoddie itu dan berlalu meninggalkan halaman sekolah itu.
***
20 menit berlalu, sepanjang perjalanan Alula membahas hal - hal yang belum mereka kerjakan hingga bagaimana ribetnya panitia di Harapan Bangsa yang harus bekerja seperti ninja. Kalian tau jika semua panitia seperti menjadi hidden member kecuali semua anak osis ya. Nama - nama mereka baru akan di publish ketika H-1 kegiatan. Surprise! . Suka - suka mereka lah!
"Ka, ini kita nggak telat apa?" tanya Alula setelah sampai di lokasi
"Anak humas udah handdle, kita mah ngawas doang" santai Maraka
"Ayok cepet. Udah jam 5 kurang 15 menit" cerewetnya
"Sabar neng" Maraka masih sibuk dengan motornya
"Udah ayo! Lantai berapa?!" Alula yang gemas kemudian menyeret lelaki itu yang baru saja akan membenahi rambutnya
Ting
Lift itu berhenti di lantai 24 tempat pertemuan mereka. Alula dan Maraka kemudian memasuki ruangan yang telah disediakan. Disana sudah ada Tendra dan Caterina yang sudah stand by. Mereka kemudian mendudukan diri disebelah perwakilan humas itu
"Hai" sapa Alula
"Belum mulai?" tanya Maraka
"5 menit lagi, pihak Grow Media lagi otw"
"Bener kan ngeret" ucap Maraka pelan
Mereka berempat sibuk membaca handout masing - masing. Hingga suara pintu mengintrupsi mereka
"Selamat sore, maaf atas keterlambatan kami"
"Selamat sore"
"Baik kita mulai saja agar segera mempersingkat waktu"
Pembahasan antara panitia dan pihak media berjalan cukup alot. Pihak media mengajukan untuk pembatasan promosi dan dana sponosor dipotong 10% dari ketentuan awal. Hal itu tentunya akan sangat berdampak pada acara mereka, bagaimanapun Gro media membawahi media cetak, digital di Bandung. Namun dengan sedikit negosiasi dan berbagai penjelasan yang dilakukan oleh panita, mereka akhirnya mendapat syarat yang telah diajukan meski dana sponsor tetap mendapat pengurangan namun dalam jumlah yang berbeda.
Mereka menghabiskan waktu hampir 1,5 jam untuk membahas hal itu. Pukul 19.00 mereka akhirnya meninggalkan ruangan pertemuan itu.
"Lun, pulang bareng siapa?" tanya Tendra saat mereka beriringan menuju lobby
"Bareng aja, Kate juga bareng nih" ajak Tendra
"Iya Lun kalau belum ada yang jemput" saut Caterine
"Em-"
"Bareng gue" saut Maraka dari arah belakang
"Oh yaudah. Ati - ati kalian. Balik duluan" ucap Tendra kemudian
***
Basement
"Awas lo jangan culik gue!"
"Gue buang beneran lo. Suuzon mulu sama gue"
"Iye iye"
"Lun"
"Ape" Alula masih sibuk mengenakan helmnya
"Gue suka sama lo " reflek Maraka tanpa sadar
"Ha?" Alula bingung - jangan lupakan mukanya yang sudah merah-
"kalo anteng maksudnya" lanjut Alula kaku
"Anjir" Alula menepuk bahu lelaki itu sebal
"Dih ngarep ya lo gue suka sama lo?!!" usil Maraka
"ENGGAK!" malu Alula
"Cieee"
"Ma-"
Kezie is calling