Alex sedikit menyesuaikan dirinya dengan tubuhnya saat ini. Dia menatap tubuh gadis yang berada di bawahnya. Mata gadis itu besar, memiliki bulu mata lentik yang sangat susah untuk berpaling darinya. Saat tatapan Alex tidak sengaja ke bawah, dia dapat melihat bibir merah muda yang sedikit bengkak. Seketika mata Alex terkejut.
Pikirannya berjelajah bagaimana dia bisa berada di situasi seperti ini. Ini sangat terbuka dan tidak sopan. Alex langsung ingin memindahkan kedua tangan Alex yang dia gunakan untuk bertumpu di atas tubuh gadis itu. Namun anehnya dia tidak bisa. Seolah ada kekuatan lain yang mengontrol semua gerakannya.
Apa ini? Alex bertanya dalam hatinya. Dia bingung, namun tidak tahu harus berbuat apa pada sosok gadis yang berada di bawahnya ini. Bukankah dia harusnya datang di masa lalu gadis konyol itu? Tapi kenapa dia justru terlihat dewasa? Dan kenapa ada dirinya sendiri di masa lalu gadis itu?
“Alex,” panggil gadis itu padanya. Perut Alex bergejolak dan jantungnya berdegup dengan kencang ketika dia mendengar suara yang muncul dari bibir gadis itu. Terdengar merdu, lembut dan sedikit suara penuh kemanjaan.
Alex ingin menjawab, namun bibirnya seolah terkunci dimana dia tidak tahu bagaimana itu terjadi. Di sisi lain, Alex merasakan dorongan kuat mendambakan bibir penuh gadis itu seolah-olah dia sangat ingin melahapnya. Lalu detik berikutnya dia merasa bahwa dia seolah-olah menekan semua egonya untuk menyambar bibir gadis itu memasukkan di bibirnya dan dia akhirnya menarik diri. Beralih menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya yang posesif.
“Oke,” tiba-tiba saja mulut Alex bergerak tanpa dia sadari. Kata-kata yang dia dia ucapkanpun seolah telah terkontrol dan dia sekali lagi tidak dapat melawan hal itu.
Bibir Dee yang basah dan rona merah muda yang menjalar di hampir semua pipinya membuatnya terlihat semakin menggoda. Lagi-lagi Alex merasakan dorongan asing berguling di atas gadis itu dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mematuk bibir gadis itu. Namun tindakannya itu mendapatkan sambutan sebuah tangan yang menahan bibirnya. Tangan itu lembut, berbau seperti campuran antara mawar dan lemon.
“Jangan, kita harus kembali,” kata Dee.
“Kemana?” Alex bertanya menggoda dengan suaranya yang serak. Alex memiliki wajah terkejut dia dapat berkata seperti itu.
“Ih, aku serius. Jangan sampai cerita ini berubah dan penulis sadar bahwa kita mengacaukan ceritanya.”
“Oh? Tapi sulit bagi kita untuk bisa di ranjang yang sama dan…” Alex memajukan wajahnya untuk mengambil keuntungan dari bibir gadis itu namun tangan kecil itu kembali menahannya.
“Ya Tuhan…” desah Dee tidak berdaya. Demi apa lelaki di atasnya ini begitu tidak tahu malu sehingga membuat Dee merasa lebih malu.
“Stop, bangun, dan ayo kembali ke cerita kita masing-masing. Selesaikan kisah kita masing-masing dan kembali.”
“Tapi aku tidak suka kamu dengan lelaki lain di novel itu,” kata Alex terdengar protes. Tangan kanannya kini mulai nakal kembali dengan mencari hal baru di balik baju Dee namun segera di tepis gadis itu.
Dia dapat melihat bahwa kekasihnya itu menghela nafas tidak berdaya hanya untuk mengatakan hal yang membuat Alex akhirnya memahami situasi ini.
“Apa boleh buat? Kita hanya tokoh yang punya sedikit kelebihan. Lagipula kamu juga tidak akan bisa melawan alur. Bagi manusia ini adalah takdir.” Dee bangkit dari tempat tidur setelah menyingkirkan tubuh Alex dari atasnya dan berjalan menuju meja rias. Dia mulai membenarkan bajunya yang kusut dan kembali memperbaiki makeup miliknya.
“Tapi dia bukan Tuhan.”
Dee berbalik dan berkata, “ Apa Tuhan itu ada untuk tokoh dua dimensi?”
“Kita dapat sadar adalah sebuah berkah itu sendiri. Aku memang serakah ingin menulis apapun sesuai apa yang aku inginkan. Tapi kamu lihat, kan? Apa yang terjadi pada bibi Marlena ketika dia nekat melawan alur yang ada?” Dee mengingat bagaimana bibi manis yang ramah itu tiba-tiba saja menghilang bersama suaminya. Bukan mati seperti alur biasa.
Saat melihat lelaki di tempat tidur itu masih diam, Dee melanjutkan perkataannya, “ Bagi kita, penulis adalah Tuhan itu sendiri.” Dee telah selesai dengan dandanan barunya. Gadis itu berjalan mendekati Alex dan dengan cepat memberi sebuah kecupan kecil pada Alex.
“Selamat bekerja My lovely antagonist. Aku akan segera menemuimu jika aku telah selesai dengan peranku. Tenang saja, aku kan hanya figuran. Paling lama aku akan mati dalam waktu satu bulan.”
“Oke, aku akan menunggumu saat itu. Menjelajahi banyak cerita.” Alex menurunkan kaki panjangnya di atas lantai. Dan sebelum gadis itu memprediksi apa yang akan dilakukan lelaki itu, Alex telah lebih dulu menyambar bibir ranumnya dan melumatnya.
“Alex!”
Kesadaran Alex tiba-tiba ditarik oleh suara jeritan itu, tubuhnya terpental melintasi lubang hitam yang sama saat dia masuk. Lubang itu terbuka lagi tepat di kamar Alex. Dengan bunyi benturan yang keras atas tubuhnya yang terpelanting di atas lantai kamarnya, Alex memandang tidak percaya pada lubang hitam yang tiba-tiba menutup.
“Apa itu?” Nafas Alex seolah sesak. Tanpa sadar dia memegang jantungnya yang masih berdegup dengan begitu kencangnya.
Alex masih bingung dengan semua yang dia lihat di dalam tabir dunia pararel yang dia buka. Sejak dia berumur sepuluh tahun, Alex telah mengetahui bakatnya yang dapat menjelajahi waktu. Sebuah bakat yang di turunkan oleh neneknya—seorang wanita bangsawan inggris yang saat ini telah tiada. Seorang yang memiliki bakat itu, maka dia akan memiliki mata dengan ciri yang sama—iris mata zamrud yang berkilau. Meski tidak semua orang yang memiliki iris mata itu merupakan seorang penjelajah waktu, namun jika itu adalah penjelajah waktu mereka pasti memiliki iris mata yang sama yaitu zamrud.
Sejak saat itu dia telah mempelajari bakatnya, dan sering menggunakannya untuk melintasi masa lalu dan masa depan. Awalnya dia menggunakannya hanya untuk mengusir kebosanannya. Mencari sebuah rahasia tentang kelahirannya yang selalu di rahasiakan oleh Davin Hinata. Siapapun akan curiga jika mendapati ayahnya yang merupakan seorang gay, tapi memiliki seorang anak.
Hingga saat dia berusia tiga belas tahun, Alex tahu dari penjelajahan waktu ke masa lalu neneknya pernah mengatakan pada sosok ayahnya bahwa kekuatan yang dimilikinya ini tidak gratis. Ada harga yang sangat mahal untuk setiap penggunaan kekuatan ini yang jelas melawan takdir Tuhan. Dan harga itu adalah umurnya. Setiap kali menggunakan, maka umur asli pemilik akan berkurang entah berapa tahun waktu yang akan di ambil, neneknya tidak tahu. Karena itu neneknya itu memperingati ayah kandungnya untuk menggunakan kekuatan itu dengan bijak. Jangan sampai seperti neneknya yang telah memprediksi bahwa dia akan mati sebentar lagi puluhan tahun lebih cepat dari umurnya yang sesungguhnya.
Malam ini Alex hanya penasaran tentang masa lalu Dee—gadis yang baru saja dia temui hari ini. Saat pertama kali melihatnya, Alex telah penasaran kenapa mata gadis itu berwarna sama dengannya, namun wajahnya jelas seperti orang Asia asli. Itu membuat sebuah kecurigaan datang di pikiran Alex.
Namun siapa yang menyangka, bahwa masa lalu gadis itu justru membuatnya melihat hal yang mengejutkan. Alex sangat bingung dengan apa yang terjadi. Biasanya saat menjelajahi masa lalu, dia hanya akan menjadi pengamat. Namun malam ini, dia adalah pelaku itu sendiri! Dia bahkan masih bisa merasakan adegan panas yang baru saja dia lakukan di penglihatannya itu. Mengingat hal itu, wajah dingin Alex untuk pertama kali terlihat memerah.
Meninggalkan hal memalukan itu, Alex mencoba mengingat poin penting dari percakapannya dengan Dee di masa lalu yang masih membuatnya bingung.
“Penulis, Tuhan, tokoh, alur? Apa maksudnya itu?” Alex menyentuh bibirnya yang masih merasakan kebas. Sungguh perasaan yang aneh, bahkan hatinya yang seolah memuja gadis itu juga terbawa sampai Alex kembali.
“Dan kenapa aku ada di masa lalunya dalam tampilan dewasa? Apa aku salah justru memasuki masa depan?” gumam Alex yang jelas tidak ada siapapun yang bisa menjawabnya. Alex akhirnya bangkit dari lantai. Dia melihat jam di dinding kamar, itu sudah menunjukkan pukul empat dini hari. Sangat terlambat untuk tidur kembali. Dia masih memiliki kelas di pagi hari. Akhirnya Alex memilih keluar dari kamar dan masuk ke ruang kerja milik Ayahnya—mengecek beberapa email yang mungkin di tinggalkan Davin padanya tentang perusahaan.
Tanpa Alex sadari, Nohan telah mengawasinya sejak Alex masuk ke ruang kerjanya. Disampingnya ada Oskar—dokter pribadi keluarga Hinata yang selama ini menjadi terapis psikolog Alex.
“Sepertinya malam inipun dia masih insomnia,” Oskar berkata dengan lelah.
“Jika terus berlanjut, maka tubuhnya akan memburuk dan pada akhirnya dia akan tumbang,” dia melanjutkan.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Obat-obatan jelas tidak bekerja dengan baik.” Nohan bertanya dengan cemas. Nohan adalah anak dari kepala pelayan mansion ini. Ayahnya mengikuti tuan Davin ke Boston, menjalankan tugas perusahaan di sana. Ini adalah rahasia yang hanya di simpan oleh keluarganya saja. Sedangkan dia diberi tugas untuk menjaga Alex selama di Indonesia.
Oskar menghela nafasnya, “Andai saja dia memiliki cinta anak muda, mungkin itu akan membuatnya lebih rileks dan menekan kekhawatirannya penyebab insomnia miliknya.”
“Cinta anak muda?” Nohan langsung memikirkan gadis konyol sore kemarin. Meskipun tidak di sebut musim semi anak muda, namun setidaknya gadis itu adalah satu-satunya yang berhasil membuat perubahan ekspresi di wajah Alex.
“Dokter, aku pikir aku masih punya harapan.”
“Hah?” Oskar memandang Nohan bingung.