Pagi yang begitu cerah.
Namun seperti biasa, ia bangun siang.
Suara kampung terdengar riuh warga menjemur padi, mencuci di depan rumah, memberi makan ternak. Hiruk-pikuk itu seperti musik latar yang tidak pernah berhenti setiap pagi.
Andra duduk di pinggir ranjang bambu, menatap kosong ke dinding biliknya yang sudah mulai lapuk. Langit-langit bocor, cahaya matahari menyelinap dari celah celah atap. Kaus oblongnya kusut, dan napasnya berat.
Ibu Andra : “Ndra! Kamu mau tidur sampai ayam botak.. ?”
Andra tak menjawab. Dia tahu diam kadang lebih baik dari pada membalas.
setiap hari hidupnya hanya penuh dengan omelan Ibunya.
Ibunya kesal karena bangun siang dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan. Ibunya menyuruhnya kerja karenakan Andra anak paling tua di antara saudarinya.
Ibu Andra : "Kerja, Ndra! Kamu itu lelaki paling tua!"
Ibunya muncul di pintu, berkeringat, membawa keranjang jemuran.
Ibu Andra : Orang lain bisa! Masa kamu enggak?”
Tatapan ibunya tajam, tapi di balik itu terlihat jelas dia hanya ibu yang kelelahan berjuang sendirian.
Andra : "Aku nyari kerja, Bu. Tapi nggak ada yang nerima orang kayak aku," ( gumamnya pelan ).
Ibunya pun diam sembari berjalan menjemur pakaian.
Andra ia memiliki seorang adik perempuan yang masih SMP, Ibunya adalah seorang janda yang menanggung biaya hidup satu sekeluarga dengan berjualan.
Andra tidak mengenal Ayahnya, yang Dia tau setiap Dia bertanya kepada Ibunya, hanya Omelan dan cacian sifat buruk Ayahnya yang ia terima, semenjak itu Andra dan adiknya tidak pernah menanyai kemana Ayahnya.
Pukul 10 pagi, Andra akhirnya keluar rumah. Tanpa arah. Hanya berjalan menyusuri jalan tanah di kampungnya, sandal jepit menginjak genangan bekas hujan semalam. Hingga langkahnya terhenti di depan sebuah warung kopi sederhana di sudut pertigaan kampung.
Warung itu selalu ramai di pagi hari tempat bapak bapak ngopi sambil main kartu, tempat gosip dan debat politik yang tak pernah selesai.
Tapi pagi ini berbeda.
Andra melihat seseorang yang tidak asing sedang duduk di bangku kayu depan warung, mengaduk kopi dengan santai. Rambutnya klimis, jaket kulit hitam menempel di tubuhnya, dan ransel besar bersandar di kakinya.
Reno.
Teman akrabnya saat SMP. Orang yang dulu selalu duduk sebangku dengannya, berbagi mi instan saat uang saku tak cukup, dan pergi dari kampung tanpa pamit satu tahun lalu.
Andra terdiam. Napasnya menggantung.
Reno menoleh seolah merasakan tatapan. Sekejap mata mereka bertemu, lalu senyum terbit di wajah Reno.
Reno : “Andra?”
Andra : ( mengangguk pelan ).
Reno : “Gila, kamu masih hidup juga, Ndra.”
Suara Reno setengah bercanda, tapi terdengar berat di telinga Andra.
Andra duduk di sampingnya tanpa banyak bicara.
Andra : “Baru pulang?”
Reno : “Baru turun semalam. Dari Jakarta. Capek juga jadi kuli bangunan di kota.”
Andra : ( menoleh cepat ). “Kuli?”
Reno : ( mengangkat bahu ). “Semua orang cari duit, Ndra. Di kota atau kampung, sama aja. Yang penting enggak nyusahin emak.”
Andra terdiam. Kata-kata itu seperti menamparnya.
Reno : ( menyeruput kopinya ). “Kamu kerja di mana sekarang?”
Andra : ( memalingkan wajah ). “Belum.”
Reno : ( menatapnya sebentar, lalu menepuk bahu Andra pelan ). “Ada proyek gede di jakarta. Katanya butuh orang banyak buat pasang fondasi. Aku juga mau kesan. Bareng, yuk?”
Andra : ( menunduk ).
Reno… tetap seperti dulu. Nggak banyak tanya, tapi selalu hadir di saat yang paling Andra butuhkan.
Reno : “Bareng, ya.. ?” ( ulang Reno ).
Andra : ( mengangguk ). “Gas.”
Andra : tanggal berapa berangkatnya.. ?
Reno : 3 hari lagi ndra.
Andra : Ok gas no..
Setelah mendapat kabar baik dari Reno, Andra pulang dengan langkah kaki yang mantap menghentak tanah, menendang batu-batu kecil di jalan setapak.
Wajahnya yang biasanya murung kini penuh semangat.
Di sudut bibirnya tergurat senyum lebar yang sudah lama,, kembali lagi.
Andra : “Ibu! Ibu! Ibu!” ( serunya dari depan pintu sambil membuka sandal cepat cepat ).
Ibunya yang sedang menanak nasi di dapur terkejut.
Ibu Andra : “Kenapa teriak-teriak, Ndra?”
Andra : ( berjalan cepat mendekat ). “Aku kerja besok, Bu. Di proyek itu, sama si Reno!”
Ibunya terdiam sejenak. Lalu perlahan, senyum muncul di wajah lelahnya. Ia menoleh, mematikan kompor, lalu duduk di bangku kecil.
Ibu Andra : “Alhamdulillah...” ( Tangannya refleks menepuk paha Andra dengan pelan ).
Ibu Andra : “Tapi inget, kerja proyek itu bukan main-main. Harus hati-hati. Pakai helm, sepatu, jangan ngawur. Jangan maksa angkat yang berat-berat kalau gak kuat.”
Andra hanya mengangguk-angguk. Ia tahu ibunya khawatir, tapi hari ini ia merasa sedikit berguna.
Tak lama suara tukang paket bersorak.
PAKET..! PAKET..! PAKET..!
Andra dengan sigap berlari menuju jendela dan melompat untuk kabur. sontak Ibu Andra merasakan ada hal yang aneh.
Kurir : Atas namanya Andra Bu..
Ibu Andra : ya benar,, anak saya..
Kurir : paket Andra Bu,, COD 78 ribu.
Ibu Andra : Anak setan.
Ibu Andra pun membayar sembari menggerutu, dan adek Andra ketawa melihat tingkah laku kakanya yang pengangguran.
Namun, saat malam tiba…
Di pembaringan, pandangan Andra kosong menatap langit-langit rumahnya.
ia berfikir dan berbicara sendiri.
“Aku belum pernah kerja kasar... Bisa nggak ya? Kalau aku salah angkat besi? Kalau aku pingsan di lapangan? Malu…”
Keraguan pelan-pelan menggigit semangat yang tadi membara.
Tapi satu bayangan mengalahkan semua ketakutan itu.
Wajah ibunya yang tersenyum bangga.
Pagi itu,, di hari keberangkatan Andra ke kota, hari Minggu, langit kampung terlihat cerah. Sinar matahari belum sepenuhnya terbit, tapi ayam jantan sudah ribut bersahut -sahutan menanyakan duluan telur apa ayam.
Andra bangun lebih pagi dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin kecil, mencoba merapikan rambutnya dengan tangan. dengan kaos polos dan tas yang penuh pakaian yang ia sandang.
Andra : ternyata Aku ganteng" ( gumanya dalam hati )
Ibunya sudah menyiapkan nasi bungkus dan air minum dalam botol plastik bekas sirup untuk di pejalanan.
Ibu Andra : “Ini, buat bekal. Nanti jangan malu nanya kalau gak ngerti saat bekerja ya, Ndra,” "Kamu hati hati di jalan" ( ucap ibunya dengan mata berkaca-kaca akan perpisahan ).
Andra hanya mengangguk. Kata-kata terlalu berat untuk keluar dari mulutnya saat itu.
Tak lama Adik Andra pun keluar dari kamarnya, dengan mengusap mata yang masih mengantuk untuk meminta uang jajan 10 ribu, karena uang ibunya dikasih ke Andra semua, untuk ongkos dan jajan di perjalanan.
itu semua membuat Andra berfikir. "perpisahan yang sangat dramatis ini, sangat berat".
5 menit menunggu,, Reno datang ia denga langganan travelnya menjemput Andra untuk berangkat ke lokasi.
TIN! TIN!.
Reno : Ayo ndraa..
Andra : Ayo udah siap kok.
Ibu Andra : Reno,, titip Andra yaa.. ( sembari berteriak )
Reno : baik Bu,, ( tersenyum )
Ibu Andra : hati-hati di jalan.
mereka akhirnya berangkat. Di perjalanan Hari Minggu itu, menjadi hari pertama Andra memijakkan langkah untuk memulai menjadi seorang BURUH BAYANGAN.