Pukul 2 dini hari. Langkah kaki kurus itu semakin melemah kala menapaki jalanan menanjak yang licin dan gelap. Peluh dan letih yang menumpuk di pundak seakan tak diindahkan wanita tiga puluh tahunan itu asal bisa sampai ke tempat tujuan dengan segera. Roda kecil di bawah tas koper terus menggelinding mengikuti arah tarikan dari sang pemilik. Sedikit lagi, ucapnya dalam hati. Meski tampak dekat, namun jalanan menuju rumah terujung rupanya terlampau panjang dan berliku. Bangunan mungil itu cukup jelas terlihat diantara hamparan ladang sayur yang membentang di kanan dan kiri jalanan berbatu. Tak ada rumah lain. Ah, mengapa harus terpencil, keluhnya.
Tak ada siapapun selain katak sawah yang sejak tadi mengiringi perjalanan. Tak pernah terbayang olehnya akan sebahagia ini mendengar katak sawah saling bersahutan. Dulu terasa berisik namun sekarang justru menggelitik. Aroma rumput dan tanah basah ikut menambah suasana petang itu menjadi lebih sendu. Jelas inilah yang ia cari.
“Baguslah, sekarang sudah ada penerangan di jalan ini,” lirihnya sembari mengingat terakhir kali ia melewati jalan yang sama 13 tahun silam. Dulu belum sebagus ini. Hanya ada satu lampu pijar yang nyalanya redup membuat siapapun, terutama dirinya malas melewatinya ketika hari sudah gelap.
Melewati tanjakan terakhir, wanita pemilik nama Nirbita itu akhirnya berdiri di halaman rumah tujuan. Tampak sepi namun cukup terang. Sunyi sekali di sini. Bita tersenyum getir. Ia paham betul sejak dulu memang begini. Bukankah ini alasan dia datang kembali? Karena kesunyiannya. Ia rela menempuh 10 jam perjalanan hanya demi mendapatkan rasa sunyi yang penuh kerinduan ini. Jika keputusannya 13 tahun lalu meninggalkan tempat itu karena sepi, sekarang justru ia rindukan kembali.
Tok tok tok….
Tak ada bel. Ketukan pun Bita lakukan pada pintu kayu berwarna coklat biji salak. Warna yang sama meski sedikit pudar. Semuanya tak ada yang berubah dari rumah ini, begitupun dengan pintu kayu ukiran yang baru saja ia ketuk. Bita menelisik setiap jengkal dari bangunan itu seakan membuka lembaran demi lembaran memori masa kecil.
Bita tak berharap Bibi Wening akan segera membuka pintu. Ia sadar kedatangannya pukul 2 dini hari cukup membuat pemilik rumah curiga untuk membuka pintu. Siapapun pasti demikian.
“Siapa?”
Saat Bita memutuskan untuk duduk menunggu di ayunan di bawah pohon mangga, pintu terbuka. Pemilik rumah menyembul dari balik daun pintu kayu dengan penampilan kusut. Sweater yang dikenakannya disampirkan begitu saja di pundak. Jelas sekali wanita itu belum lama terbangun dari tidur. Mungkin ia tergesa-gesa sampai tak mengindahkan rambut bergelombangnya terurai mengembang tanpa ikatan.
Bibi Wening berjalan perlahan menuju ayunan. Sambil berjinjit, ia mengernyit lalu wajahnya terkejut mendapati wanita yang tengah tersenyum kepadanya duduk berayun di atas ayunan.
“Kamu bukan hantu kan?”
Tawa tak bisa ditahan lagi. Bita terkekeh mendengarnya. Sontak kepalanya berputar memandangi setiap lekuk tubuhnya sendiri. Rambutnya panjang lurus tergerai menutupi punggung dan saat itu ia mengenakan kardigan putih. Siapapun, tak hanya Bibi Wening juga akan menanyakan hal yang sama, atau bahkan memilih lari karena takut. Namun ini menggelikan dimana Bita tak pernah percaya akan hal yang tak rasional.
“Bibi, ini aku. Bita. Nirbita satu-satunya keponakan Bibi,” sahut Bita yang masih berayun. Dengan loncatan kecil, ia melepas ayunan dan berdiri memandang sang bibi yang tampak lebih mungil dari yang pernah ia lihat. Selama itukah ia pergi hingga baru menyadari semua tampak kecil dari sudut pandangnya? Bahkan halaman rumah ini terasa begitu luas saat dulu ia bermain di sana namun sekarang hanya butuh beberapa langkah saja untuk mencapai pintu utama.
“Bita? Benar kamu Nirbita?”
“Tentu, Bi. Aku Bita. Aku pulang.”
Pelukan? Sambutan hangat? Semua itu tak masuk dalam angan Bita. Kelembutan bukanlah sifat Bibi Wening. Jadi, Bita sudah bersiap jika setelah ini Bibi Wening justru mengusirnya.
“Pulang? Rumahmu bukan di sini.”
Bita tersenyum dalam tundukan kepala. Sungguh sesuai dugaan. Sama sekali Bita tak menaruh rasa marah, justru Ia lega Bibi Wening masih sama seperti saat ia meninggalkannya.
“Bibi, maafkan aku,” ucap Bita dengan cepat sebelum marah itu berubah jadi murka. Salah atau tidak, minta maaf adalah langkah tepat untuk memperbaiki hubungan.
“Apa kau tak ingat bagaimana kau pergi karena muak dengan tempat ini?”
“Bibi, bisa kita bicara nanti? Di sini dingin. Boleh aku masuk?”
“Hanya sementara,”
“Kita bahas nanti, oke.”
Tubuh kurus Bibi Wening terpaksa menyingkir saat Bita memaksa menyeruak masuk melalui pintu utama. Wanita paruh baya itu sampai berjingkat khawatir kakinya terlindas roda koper. Tak ada penolakan. Ini membuat Bita cukup yakin bahwa kedatangannya tidaklah salah.
“Kamarku masih ada kan Bi?” Bita bertanya sambil memandang tangga kayu yang gelap. Tangan kurusnya cekatan menekan saklar di belakang lemari perabot. Ia sempat terkejut dengan daya ingat otaknya sendiri. Rupanya saklar itu belum pindah posisi.
“Lihat sendiri di atas,” sahut Bibi Wening dengan nada tinggi sebelum membanting pintu kamar lalu menghilang di baliknya.
Bola mata Bita bergeser ke sudut mata dan mengernyit secara sinis ke arah sang Bibi. Tidak berubah sama sekali sejak dulu, batin Bita. Meski baru bertemu setelah 13 tahun berpisah, penerimaan Bibi Wening terasa masih sedingin dahulu saat Bita pertama kali tinggal dengannya.
Dengan susah payah Bita menarik koper menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Jangan harap bantuan dari Bibi Wening. Tak mengusirnya keluar dari rumah itu saja sudah beruntung.
Tak seperti lantai dua rumah pada umumnya, rumah tua itu hanya memiliki tiga ruangan di lantai dua. Kamar tidur Nirbita, kamar mandi, serta balkon. Seakan masuk melewati lorong waktu, Bita membuka pintu kamar kecilnya. Aneh rasanya karena tak menemukan debu yang menempel dan jaring laba-laba di setiap sudut kamar. Alih-alih sarang kecoa, kamar itu justru bersih dan bebas debu. Semua perabot tertata rapi di tempatnya, sama persis dengan penataan Bita saat ia menghuni. Hanya saja corak sprei penutup kasur itu yang asing bagi Bita. Terlihat baru.
Senyum sinis pun terlayang di wajah Bita.
“Sok cuek aslinya rindu,” lirihnya. Bita cukup yakin bahwa sang bibi sengaja merawat kamar itu untuk berjaga jika ia kembali pulang. Meski tampak judes tapi Bita menduga Bibi Wening menyimpan harapan akan kehadiran keponakannya kembali lagi ke rumah itu.
Sambil mengenang masa kecilnya, Bita berhambur ke atas kasur mungil dan menengadah menatap langit-langit kamar. Tampak sedikit bercak-bercak coklat akibat jamur. Rambut panjangnya tergerai di seluruh permukaan kasur. Bita menerawang udara hampa. Sungguh tak pernah ia duga sebelumnya akan kembali merebahkan tubuh dengan cukup nyaman di tempat yang ia benci. Segenap usaha ia kerahkan untuk bisa menjauh dari tempat yang menyakitkan itu namun justru ia datang kembali secara suka rela dan tanpa paksaan. Tak beda jauh dengan alasannya pergi 13 tahun silam, kini ia kembali pulang pun sebab membawa luka. Tampak pengecut memang. Sepertinya lari dari masalah sudah menjadi kebiasannya.