Kabar tentang panti datang bukan sebagai kemenangan, melainkan sebagai kompromi, dan Arka harus belajar menerimanya.
Liputan media tentang anak panti yang menang medali nasional di velodrom sekarat ternyata punya jangkauan yang lebih jauh dari yang siapa pun duga. Bukan hanya kota yang tahu nama Arka sekarang—sebuah yayasan sosial dari Jakarta, yang bergerak di bidang perlindungan anak, membaca kisah itu dan mengirim utusan ke Bandung. Mereka datang ke panti, bertemu Bu Ningsih yang masih lemah dari ranjang sakitnya, melihat bangunan tua yang temboknya retak dan atapnya bocor dan tanahnya diincar pengembang lewat celah hukum yang berbeda dari velodrom.
Arka berharap mereka akan menyelamatkan bangunan itu. Membayar utang, melawan pengembang di pengadilan, mempertahankan tembok-tembok tempat ia tumbuh. Itu yang ia bayangkan ketika ia membayangkan menyelamatkan rumah.
Kenyataannya lebih rumit, seperti selalu.
"Bangunan ini tak bisa dipertahankan," kata utusan yayasan itu—seorang perempuan setengah baya dengan suara lembut dan dokumen yang tebal—di ruang tamu panti yang sempit, di hadapan Bu Ningsih dan Arka dan beberapa pengurus. "Bukan karena pengembang. Karena bangunannya sendiri. Pondasinya bermasalah, instalasi listriknya berbahaya, dan biaya memperbaikinya jauh melebihi nilai tanahnya yang sedang disengketakan. Kalau kami tuang dana ke sini, kami menambal kapal yang bocor."
Arka merasakan sesuatu mengeras di dadanya. "Jadi kalian biarkan saja digusur?"
"Tidak," kata perempuan itu. "Kami menawarkan sesuatu yang berbeda. Yayasan punya lahan di pinggir kota, dekat fasilitas umum, dengan bangunan yang bisa direnovasi jadi panti yang layak—kamar yang cukup, dapur bersih, ruang belajar. Kami menanggung pemindahan, dan beberapa donatur yang tergerak oleh kisah kalian ikut mendanai. Anak-anak tetap bersama. Bu Ningsih tetap mengasuh. Yang berubah hanya temboknya."
Hanya temboknya. Arka memandang ke ruang tamu yang sempit ini, ke noda di dinding tempat tinggi badan tiap anak ditandai bertahun-tahun, ke retakan di langit-langit yang ia hafal bentuknya dari ribuan malam menatapnya. Tempat ini bukan cuma tembok baginya. Tempat ini adalah satu-satunya keluarga yang pernah ia punya. Memindahkannya terasa seperti pengkhianatan, seperti menyerah.
Malam itu ia duduk di sebelah ranjang Bu Ningsih, perempuan tua yang memungutnya bertahun-tahun lalu dan membesarkannya bersama belasan anak terbuang lainnya. Wajahnya pucat, tapi matanya jernih, dan ia menggenggam tangan Arka dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Kamu sedih," kata Bu Ningsih.
"Mereka mau memindahkan kita, Bu. Ini rumah kita."
Bu Ningsih tersenyum, senyum lelah yang penuh sesuatu yang Arka butuh waktu lama untuk mengerti. "Arka," katanya pelan, "rumah bukan tembok. Tiga puluh tahun aku mengasuh anak di tempat ini, dan tahu apa yang membuatnya rumah? Bukan dindingnya. Anak-anaknya. Selama kita semua bersama, di mana pun kita, itu rumah." Ia meremas tangan Arka. "Aku tua, Nak. Aku ingin anak-anak punya dapur yang bersih dan atap yang tak bocor sebelum aku tak bisa mengasuh lagi. Kalau yayasan itu memberikannya, aku terima dengan syukur. Tembok lama ini—" ia menoleh ke jendela, ke bangunan tua yang ia jaga selama tiga dekade, "—sudah lelah, sepertiku. Tak apa membiarkannya istirahat."
Arka teringat Hasan, yang menjaga papan kayu sekarat seperti makam, dan teringat apa yang akhirnya menyelamatkan velodrom itu—bukan mempertahankan setiap papan tua, tapi anak-anak baru di lintasan, garis yang mengalir ke depan. Dan ia teringat apa yang Hasan katakan dulu: olahraga bukan sihir, ia cuma memberi panggung, bukan keajaiban. Beberapa hal tak bisa diselamatkan dengan dipertahankan. Beberapa hal diselamatkan dengan dipindahkan, dengan dibiarkan tumbuh di tempat baru.
Menyelamatkan sesuatu kadang berarti memindahkannya, bukan mempertahankan temboknya.
Ia menarik napas panjang, dan sesuatu yang keras di dadanya melunak. "Baik, Bu," katanya. "Kalau itu yang Ibu mau."
Kesepakatan ditandatangani dalam minggu-minggu berikutnya. Tidak sempurna—tak ada yang sempurna, Arka mulai mengerti. Pengembang mendapat tanah lama yang memang mereka incar. Tapi anak-anak mendapat rumah yang layak, Bu Ningsih mendapat ketenangan, dan tak satu anak pun tercerai-berai ke tempat yang berbeda. Mereka pindah bersama, sebagai keluarga, ke tempat dengan dapur bersih dan ruang belajar dan—Arka memastikan ini masuk dalam negosiasi—cukup dekat ke velodrom Rajawali agar Doni dan yang lain bisa terus berlatih.
Di hari pemindahan, Arka membantu mengangkut kardus terakhir, dan sebelum pintu lama ditutup untuk selamanya, ia berdiri sejenak di ruang tamu kosong, menatap noda tinggi badan di dinding, dan mengucapkan terima kasih dalam hati. Bukan perpisahan yang ia inginkan. Tapi perpisahan yang ia bisa terima—karena yang penting, keluarganya, ikut bersamanya ke depan.