“Hari ini kamu harus pakai gaun berwarna merah one shoulder yang memiliki riasan simple di bagian d**a, jangan lupa kamu harus ke ruang spa untuk mendapatkan kulit yang eksotik.”
Aku menganggukan kepala dengan bosan, Chloe seperti biasa membacakan setiap perintah yang tertulis dalam kertas yang ia pegang sekarang. Bosan sekali rasanya harus ditentukan apa yang harus aku gunakan, bahkan cemilanku saja aku sudah ditentukan. Oh Tuhan! Aku bisa mati di umurku yang baru menginjak kepala dua. Chloe menghampiriku, dia memijat pundakku dengan lembut hingga aku memejamkan mata.
“Aku lelah, Choe.” Aku menatap Chloe dari pantulan kaca yang berada di hadapanku.
“Aku tahu Putri Harper, aku juga lelah menjagamu selama dua belas tahun.” Dia tersenyum simpul menatapku, aku membalas senyumannya dengan miris.
Andai aku tidak terjebak dalam rumah megah dengan segala peraturan kerajaan yang selalu membuatku ingin berteriak tentang kebebasan, sudah pasti aku sedang bermain di pinggir pantai dengan menggoda beberapa laki-laki seumuranku atau berkeliling dunia menikmati keindahan alam. Bangun, Harper! Jangan terlalu banyak berimajisani, karena nyatanya kau masih perawan hingga saat ini bahkan ciuman pertamamu baru diambil seminggu yang lalu.
“Apa arti kebebasan menurutmu, Chloe?” aku menatapnya dengan penasaran, wanita yang sudah berumur hampir setengah abad itu terdiam sejenak. Aku yakin, Chloe yang sudah menghabiskan seluruh hidupnya sejak kecil pada keluarga Enrique dan pasti menginginkan kebebasan.
Dia menatapku dengan santai, ia mulai menyisir rambut pirangku dengan sisir perak yang ia ambil dari tanganku. “Menurutmu apa?”
“Kebebasan seperti permata yang ditemukan di dasar bumi. Mahal dan berharga, tapi sulit untuk didapat.” Mataku menerawang sejenak, lagi-lagi membayangkan diriku yang bebas hidup di luar rumah keluarga Macht.
“Bagaimana dengan kebahagian?” tanya tiba-tiba, aku menatapnya dengan bingung namun senyum menenangkan yang ditampilkan Chloe membuatku berpikir sejenak.
Tak pernah terbesit arti kebahagiaan dalam otakku, karena menurutku kebahagiaan sudah satu paket dengan kebahagiaan. Jika aku sudah mendapatkan kebebasan sudah pasti aku mendapatkan kebahagiaan, bukan begitu?
“Jangan pernah berpikir jika mereka seperti sebab dan akibat, karena keduanya berbeda. Bukan sebab kebebasan kamu akan mendapatkan kebahagiaan, karena itu belum tentu, Putri,” aku menatapnya dengan bingung, dia memegang kedua bahuku dengan erat. “Kebebasan itu mengerikan, tapi kebahagiaan itu menyenangkan.”
“Aku tidak mengerti, Chloe,” ujarku dengan bingung, baru saja Chloe siap menjelaskan sesuatu padaku tiba-tiba pintu kamarku terbuka.
Sosok Enrique berdiri tegak di pintu kamar, mata hijaunya menatapku lurus. Chloe membungkukan tubuhnya ke arah Enrique, lalu tersenyum menatapku. “Saya permisi, Putri Harper.”
Kini tinggal aku dan Enrique setelah kepergian Chloe, aku tersenyum menatapnya yang masih berdiri di pintu. Aku tidak tahu sejak kapan Enrique memotong rambutnya, karena terakhir aku bertemu sekitar seminggu yang lalu setelah ia meninggalkanku tanpa banyak kata setelah kami berciuman. Jahat sangat jahat.
Tanpa sadar dia berdiri di belakangku, menatapku melalui cermin yang sedang memantulkan diri kami. Tanganku sibuk menyisir rambut yang tidak dilanjutkan oleh Chloe, aku tersenyum namun tidak menatapnya. Kalian tahu alasanku melakukan itu, aku berpura-pura marah karena kejadian memalukan itu.
Dia meninggalkanku saat aku merasa sangat b*******h padanya.
Sialan, bukan? Aku rasa Enrique memang tidak ditakdirkan untuk menikmati tubuhku, atau aku yang terlarang memiliki tubuh sempurna itu? Aku rasa, aku yang begitu terlarang memiliki tubuh itu, bahkan menyentuh saja hanya ada dalam imajinasiku.
“Hari ini kau harus menemaniku,” ujarnya dengan pandangan lurus menatapku.
Aku meliriknya dari ekor mataku, aku kira dia akan meminta maaf dan mau melakukan hal itu padaku sebagai permintaan maafnya. “Pardon me?”
“Aku akan menghadiri acara amal di pusat kota dan kau harus menemaniku.”
Apa telingaku bermasalah karena efek ciuman itu? Atau sedang berada di alam mimpi dan bertemu pangeran baik hati? Aku mencubit diam-diam pahaku, ugh! Sakit dan ini kenyataan bukan efek ciuman atau mimpi.
“Apa kamu sedang mabuk?” tanyaku bingung, karena sejak dia menikahiku di altar geraja kerajaan rumahnya –yang hanya dihadiri Chloe, Raja Marques dan adik sulung Enrique, ah jangan lupa ada sosok yang melahirkanku juga– dia tidak pernah mempublikasi pernikahan kami malah menganggapku istrinya saja tidak, tapi ketika dia mengucapkan janji di depan pendeta dengan sorotan mata –yang tidak ingin kuyakini– ada kebahagiaan di mata hijaunya karena kami dijodohkan. Sejak pernikahan aku hanya berada dalam rumahnya yang megah, menikmati semua aturan kerajaan yang memuakkan.
“Chloe sudah menyebutkan baju apa yang sudah kau gunakan, sekarang waktunya kau pergi ke ruang spa.” Dia beranjak pergi meninggalkanku, aku menahan tangannya hingga ia berhenti dan menatapku untuk sesaat sebelum ia membuang mukanya dengan cepat.
“Apa kamu serius ingin mengajakku ke acara itu?” tanyaku dengan ragu, karena aku yakin dia akan mendapatkan cibiran pedas dari para bangsawan sialan itu.
“Apa aku terlihat bercanda? Aku serius, Harper! Bukankah ini yang kamu inginkan? Keluar dari sangkar neraka yang sering kau teriakkan?” katanya dengan menatapku lagi.
Aku langsung berdiri, memeluknya dengan erat. Meskipun hanya menghadiri acara amal yang lebih tepatnya tempat pamer barang mewah, aku senang. Aku mengecup bibirnya hingga ia terdiam, aku merasakan dia menyentuh pinggangku dengan sebelah tangannya.
“Aku akan bersikap baik dan anggun seperti yang diajarkan Chloe,” aku menatapnya dengan manis, melingkarkan kedua tanganku di lehernya. “Aku akan segera pergi ke ruang spa, Pangeran Enrique.”
Aku berlari meninggalkannya menuju ruang spa yang berada di sayap kanan rumah ini, tempat di mana tubuhku akan dimanja dan menyegarkan semuanya. Aku mengangkat gaun berwarna putihku untuk mempermudahku berlari, beruntung ini bukan gaun seperti gaun zaman perang dunia ke dua yang begitu berat dan menyulitkan para bangsawan putri untuk bernafas karena sekarang aku bebas bernafas namun sulit berlari.