Aku mengikuti langkah Enrique setelah keluar dari mobil, percakapan kami hanya sebatas tadi di dalam mobil dan setelah itu hanya keheningan diantara kami. Dia berjalan dengan begitu angkuh memasuki rumahnya yang megah ketika dua penjaga pintu mulai membuka pintu besar berpahat kayu yang berat, disusul aku yang berada di belakangnya dengan langkah pelan mengikutinya. Tiba-tiba ia berbalik menatapku dengan mata hijaunya yang tajam, bibirnya yang tipis mengambil napas pelan.
“Aku harap kau tidak percaya diri kalau aku sudah mencintaimu hanya karena aku membelamu,” katanya dengan bibir tipis menatapku dengan tajam.
Aku berlari menyusulnya dengan susah payah. “Kenapa memang?” tanyaku dengan tatapan mengerlingkan mata dan bibir tersenyum manis, tanganku menyentuh dadanya dengan gerakan menggoda. “Aku yakin sebenarnya dalam diri kamu, sangat menginginkanku.”
Mata hijau itu menatapku tanpa ekspresi, tiba-tiba dia memegang tanganku dengan erat. “Jangan macam-macam denganku, Harper!”
Aku membalas tatapannya dengan sengit, memajukkan wajahku hingga wajah kami berada sangat dekat. “Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?” mataku begitu tajam menatapnya dengan kesal, dia masih tak berekspresi namun mengatup rahangnya. “Oh aku tahu... karena kamu seorang keturunan bangsawan dan aku hanya anak p*****r yang sangat beruntung dinikahi olehmu, ah iya itu adalah aku.”
Aku menjauhkan wajahku dan tersenyum miris, aku dengannya sangat jauh. Bahkan stratanya bagai bumi dan langit, dia berada di langit ke tujuh dan aku berada di dasar bumi yang tak dapat diraih oleh apapun. Meskipun sekarang aku menjadi istrinya dan sudah menjadi bagian darah biru, tetap saja aku hanya anak p*****r di matanya.
Dia menyentuh daguku hingga aku menatapnya yang memandangku lurus dan menyipit matanya, dia langsung melepas sentuhannya terhadapku. “Jaga uca –“
Sebelum dia melanjutkan ucapannya, aku langsung membungkam mulutnya dengan kasar. Bibir bawah yang biasa ia tipiskan kini aku kecup dan menarik agar ia mau membalas kecupanku, aku memegang wajahnya ketika ia ingin melepaskan pagutanku. Hingga akhirnya caraku berhasil, dia membalas pagutanku dengan semakin kasar dan begitu terburu-buru. Dia menggigit bibir atasku dengan begitu s*****l, dan aku mulai membalasnya.
“Kau membohongi tubuhmu, Enrique.” Aku berbisik disela ciuman kami, aku bisa merasakan bagaimana tubuh bagian bawah Enrique mulai menegang. Aku melepas ciuman tersebut dan berlari menuju kamar, membalas dendam karena Enrique pernah meninggalkanku ketika aku sedang b*******h.
*****
Malam ini aku memandang langit tempat tidurku yang dilapisi kelambu berwarna perak, masih terbesit di otakku tentang kebebasan. Selama ini aku hidup dengan berbagai peraturan kerajaan yang memuakan, aku ingin melihat dunia luar yang katanya begitu indah. Aku penasaran, bagaimana hutan lebat yang berisi hewan? Lalu hujan yang membasahi tubuh, dan bertemu dengan orang-orang baru bukan hanya Chloe, pelayan di rumah ini atau Enrique.
Sejak umurku delapan tahun, aku sudah diangkat dan diasramakan oleh seseorang yang mengambilku dari wanita itu, dia tak memberitahu identitasnya selain menyuruhku besar di asrama kerajaan. Duabelas tahun yang lalu, aku mulai beradaptasi dengan lingkungan kerajaan atau lebih tepatnya dengan asrama yang berada di wilayah kerajaan. Ibu asuhku adalah Chloe, dia secara langsung mengasuh dan mengajariku bagaimana menjadi seorang bangsawan kerajaan. Semua aku turuti, karena saat itu dalam otak anak kecil aku ingin seperti Queen Ellezabeth dan menginginkan pangerang berkuda putih untuk menikahiku.
Semua aku lakukan, dari memakai korset yang menyakitkan agar aku berdiri tegak, lalu makan dengan begitu pelan dan harus mengunyah duapuluh delapan kali gigitan, berjalan dengan satu garis dan tiga tumpuk buku di atas kepala, tersenyum tiga jari, bersopan santun dalam bercakap hingga cara duduk yang elegan sudah diajarkan oleh Chloe ketika umurku delapan tahu. Hingga perkembangan zaman dan aku tumbuh dewasa, Chloe mengajarkanku bagaimana cara melayani suamiku nantinya karena kemungkinan aku akan dipersunting oleh bangsawan juga karena parasku yang cantik. Dia mengajarkan bagaimana aku memulai tersenyum manis, menyambut suamiku dengan lembut dengan menggunakan pakaian tipis dan membiarkan tubuhku dalam kuasa suamiku. Tapi semakin aku tumbuh dewasa, sisi liar yang diturunkan dari wanita itu mulai keluar dari diriku, aku menjadi sulit diatus dan benar-benar liar.
Aku pernah kabur dari asrama hanya untuk merasakan yang namanya dunia malam serta minuman alkohol dan beberapa pria yang mulai mendekatiku, aku bahagia saat itu karena akhirnya aku bisa merasakan kebebasan yang tidak pernah aku rasakan. Hingga tiba-tiba, aku mabuk dan tak kuat menompang tubuhku sendiri. Seorang menolongku, aku tidak ingat dan tidak melihat dengan jelas bagaimana wajahnya namun yang aku sadari dia memiliki mata hijau yang begitu indah. Tapi kebahagiaanku segera berakhir, aku langsung dibawa kembali ke asrama oleh Chloe yang tiba-tiba menarikku ke dalam mobil dan aku tidak ingat apa-apa setelah itu. Bahkan sisi liarku yang lain adalah aku sering menonton video panas di laptopku, hanya karena aku penasaran dengan adegan yang mereka lakukan.
Dan di saat umurku delapan belas tahun, aku tidak melanjutkan sekolah asramaku karena aku dilamar oleh pangeran. Ya, putra dari Queen Ellezabeth melamarku tepat malam pergantian tahun dengan mendadak. Aku terkejut bukan main, aku menatap Chloe dengan bingung dan Chloe hanya tersenyum meyakinkan jika itu sudah takdirku. Tentu saja aku bahagia, karena impianku terwujud. Namun pertentangan yang begitu keras dilakukan oleh Queen Ellezabeth, dia sangat murka dan membenciku karena mengetahui asal usulku. Memang saat itu laki-laki yang menikahiku tidak mengatakan cinta padaku, hanya mengatakan jika ia ingin aku menjadi istrinya, hanya itu tidak lebih karena pikirianku masih terpatri jika seorang pria mengajakmu menikah maka ia sudah mencintaimu. Meskipun Queen Ellezabeth melarang putra mahkotanya menikah denganku, pernikahan tetap berlanjut dengan sederhana dengan dihadiri Raja Marques selaku Ayah dari laki-laki yang menikahiku, wanita itu, Chloe dan Victoria.
Laki-laki yang menikahiku adalah Enrique. Dia yang datang ketika malam pergantian tahun dan mengajakku menikah, mengikat janji di altar dan di depan pendeta kerajaan. Tak ada jumpa dengan rakyat atau pernikahan megah lainnya, hanya ada acara yang begitu sakral dan membutakan mataku karena menganggap laki-laki itu mencintaiku.
Nyatanya, selama dua tahun usia pernikahan kami, Enrique tidak pernah menyentuhku bahkan menggenggam tanganku saja tidak atau lebih parahnya lagi melirikku ketika telanjang saja tak sudi. Aku tahu, seharusnya aku sudah memberikan keturunan untuk kerajaan ini tapi nyatanya tidak. Aku masih tersinggung hingga memikirkan kata-kata perempuan itu malam ini, tentu saja aku tidak mandul apa lagi memiliki program penundaan kehamilan. Dicium Enrique saja aku senang sampai tidak bisa tidur, apa lagi b******a dengannya, yang ada aku tidak bisa duduk selama seminggu.
Aku menoleh ketika pintu kamarku terbuka, biasanya Chloe akan mengetuk sebelum masuk atau aku tidak dengar ketukkannya karena asik bernostalgia, menertawakan takdirku yang miris. Ketika itu juga mataku terbelalak kaget, aku sekarang sudah berada di dalam mimpi karena melihat Enrique dengan piyama tidur memasuki kamarku. Tapi rasanya ini bukan mimpi, dia benar nyata tidur bergabung bersamaku yang masih terdiam menatapnya dengan penuh tanya.
“Aku tidur di sini malam ini, karena pendingin kamar sedang rusak.”
Aku melihat wajahnya yang lelah, ia tidur menghadapku dengan mata terpejam. Oh Tuhan! Pendingin yang baik hati membantuku agar ia tidur denganku, dia begitu menawan hanya dengan memejamkan matanya. Perlahan aku menelusuri tulang wajahnya yang begitu terpahat indah, menghadap ke arah tubuhnya untuk memandang malaikat tanpa sayap yang nyasar tertidur di kamarku. Tanganku langsung menangkup wajahnya dengan lembut, ingin merasakan kembali kecupan manis dari bibirnya yang tipis namun begitu sexy. Perlahan aku mendekatkan wajahku dengannya, mengabaikan u*****n yang akan ia layangkan setelah aku kecup bibirnya. Dan... cup! Aku berhasil mengecupnya pelan.
“Jangan menggangguku, Harper! Sekarang pejamkan matamu dan tidur.” Perintahnya dengan tegas dari suara bass bercampur serak yang semakin sexy, aku tersenyum mendengarnya.
Aku langsung mendekap tubuhnya erat, aku ingin merasakan hangatnya tubuh dalam dekapanku ini. Pertama kali dalam pernikahanku ini, dia begitu manis memperbolehkan aku menyentuhnya. Aku yakin, malam ini akan bermimpi indah dan besok pagi aku akan menjadi kucing manis di hadapannya.
******
Lorong Istana
“Tak hanya itu, tadi aku sempat melihat Pangeran Enrique dan Putri Harper berciuman mesra di tangga setelah pulang dari acara amal.” Bisik salah satu pelayan yang baru saja melihat Enrique memasuki kamar Harper.
“Aku rasa, Pangeran Enrique sudah sadar dengan perasaannya.”
“Perasaan apa? Pangeran Enrique menikahi Putri Harper untuk membuktikan kepada Queen Ellezabeth, jika kerajaan selalu memiliki aib dan Putri Harper adalah aib yang paling dibenci Queen Elle karena berasal bukan dari bangsawan, terlebih Putri Harp dari anak pelacur.”