---
angin laut palermo malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. aurora berdiri di balkon hotel tua miliknya, menatap laut gelap yang tenang—terlalu tenang. tidak ada yang tahu dia kembali. tidak ada yang tahu bahwa wanita yang mereka bunuh, yang mereka bakar dalam pengkhianatan, sekarang berdiri di tempat tinggi ini, mengamati mereka seperti dewi kematian yang sabar.
aurora duduk. menghidupkan rokoknya. asapnya menari bersama kenangan.
"ayah… aku akan ambil semua yang mereka rampas darimu. dariku."
kilatan bayangan muncul dalam benaknya—hari ketika kapal meledak, tubuh ayahnya hancur bersama kehormatan keluarga castellano. dan malam itu, ketika orang yang ia percaya menjerat lehernya dengan kabel dan menjerumuskannya ke laut. ia tidak mati. ia dibawa oleh laut, ditemukan oleh nelayan rusia, dijual ke mafia. dihancurkan. ditempa. dilahirkan kembali.
aurora yang lama sudah mati.
yang ada sekarang adalah lyra morozova.
dan lyra tidak mengenal ampun.
---
sementara itu, di ruang bawah tanah villa castellano, giancarlo sedang duduk dalam ruang konferensi gelap bersama tiga pria tua lainnya—anggota tertua dewan castellano. mereka sedang menonton rekaman cctv dari hotel pesta ulang tahunnya.
"siapa wanita ini?" tanya salah satu dari mereka, menunjuk lyra yang muncul dalam tayangan. "tak ada dalam data tamu tetap."
giancarlo menyipitkan mata. "nama palsu. tapi dia... familiar."
"aku punya rekaman suara percakapannya dengan enzo marino di lantai dua," ujar pria ketiga.
mereka mendengarkan. hening. dan kemudian...
"aurora...?"
setelah suara itu terdengar, ketiganya saling menatap. giancarlo berdiri pelan. kepalan tangannya gemetar.
"tidak mungkin. dia sudah mati."
pria pertama mendesis, "jasadnya tidak pernah ditemukan."
"mungkin hanya mirip."
"kalau memang dia..." pria kedua menggigit bibirnya. "kita harus bertindak sebelum dia bertindak."
giancarlo mengangguk pelan. "panggil leonardo. suruh dia buru wanita itu. jika itu benar aurora… maka kita akan selesaikan yang dulu belum tuntas."
---
---
Aurora tahu malam ini mereka mulai mencari. Dia bisa merasakannya di udara, di gerakan para pengawal yang mondar-mandir lebih waspada. Informasi sudah bocor, atau setidaknya, kecurigaan mulai tumbuh.
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan hotel yang gelap, hanya diterangi lampu kecil di pojok. Di sana sudah menunggu seorang pria berjas hitam dengan rambut pirang keemasan dan tatapan dingin. Luka Romanov—orang yang menyelamatkannya di Rusia.
“Kau terlalu cepat muncul,” katanya tanpa menoleh.
Aurora menyeringai tipis. “Kau bilang waktunya sudah tepat.”
“Tidak ada waktu tepat di dunia seperti ini, hanya ada langkah yang tidak boleh salah.”
Ia melemparkan berkas di atas meja. “Enzo Marino. Sekutu Giancarlo. Dia mengenalmu. Tapi dia tidak membocorkannya… belum.”
Aurora membuka berkas itu perlahan. Wajah pria muda tampan dengan senyum licik terpampang di sana. “Dia jatuh cinta padaku saat aku berusia tujuh belas,” gumamnya. “Tapi dia ikut menjerat leherku ketika aku jatuh.”
“Gunakan itu,” jawab Luka. “Cinta adalah senjata paling membunuh.”
Aurora memejamkan mata. “Kalau begitu, mari kita mulai pembantaian.”
---
Di sisi lain kota, Enzo Marino duduk di dalam mobil mewah hitam yang berhenti di pelataran kasino pribadi. Pikirannya tidak tenang sejak pesta ulang tahun itu. Wanita itu... ada sesuatu dalam sorot matanya. Seperti kenangan yang ditusuk, perlahan tapi tajam.
“Aurora…” bisiknya sendiri. “Kalau itu benar kamu…”
Seseorang mengetuk kaca mobil. Seorang gadis berpakaian seperti pelayan kasino menyelipkan catatan kecil.
“Jika kamu ingin tahu siapa aku, datang ke kamar 807. Sendirian. —A”
Enzo menatap kertas itu lama. Ia tahu ini bisa jadi jebakan. Tapi ia juga tahu, hanya Aurora yang menulis huruf A dengan lengkungan tajam seperti itu.
Dan jika itu benar...
Maka ia harus tahu.
---
Kamar 807. Sepi. Lampu temaram. Musik klasik pelan mengalun dari gramofon tua di sudut ruangan. Enzo membuka pintu perlahan, tangannya di balik jas, memegang pistol kecil.
Di sana, duduk seorang wanita bergaun hitam panjang dengan belahan tinggi, rambut hitam terurai dan kaki disilangkan. Wajahnya setengah tersembunyi bayangan.
“Enzo Marino,” katanya pelan. Suaranya lembut, tapi ada duri di ujungnya. “Duduklah.”
Enzo menutup pintu. “Kalau kau benar-benar Aurora... kenapa tidak menampakkan wajahmu?”
Wanita itu bangkit pelan. Melangkah mendekatinya. Dan saat dia benar-benar berdiri di depan Enzo—sorot mata itu tak salah lagi.
“Astaga…” Enzo mundur setengah langkah. “Kau... masih hidup…”
Aurora menatapnya tajam. “Kau ikut menjebakku, Enzo.”
“Aku... aku disuruh. Aku takut.”
“Semua pengkhianat bicara begitu,” katanya sambil mengeluarkan pistol kecil dari balik paha. Enzo menegang. Tapi Aurora tak menembak.
“Aku tak akan membunuhmu sekarang. Aku ingin kau melihat semua orangmu hancur. Hanya itu yang pantas untukmu.”
---
---
Enzo tidak tidur malam itu. Bayangan wajah Aurora menghantuinya. Tatapan matanya bukan hanya penuh dendam—tapi luka yang belum mati. Luka yang ia ikut ciptakan. Ia tahu Giancarlo akan membunuhnya jika tahu dia menyembunyikan kebenaran.
Tapi lebih dari itu, ia takut Aurora.
Karena Aurora tidak seperti dulu lagi.
---
Aurora menatap foto besar Giancarlo yang tergantung di ruang tamunya. Ia menggenggam segelas anggur, memutar gelas itu dengan pelan.
“Giancarlo Castellano... paman pengkhianat. Dulu kau cium keningku saat ibuku dikubur. Tapi kaulah yang menaruh racun di kopinya.”
Luka masuk, membawa beberapa dokumen.
“Intel dari Jerman mengkonfirmasi. Pasokan senjata Giancarlo untuk kartel Kolombia akan tiba di pelabuhan tiga hari lagi. Jika kita sabotasikan…”
“Kita bisa mengirimkan pesan.”
Luka mengangguk. “Pesan yang membakar.”
Aurora menarik nafas panjang. “Kita mulai dari sana.”
---
Tiga hari kemudian, pelabuhan Palermo terbakar.
Peti kemas meledak satu per satu, menciptakan semburan api ke langit. Orang-orang berlarian panik, sirene meraung, dan asap hitam membumbung.
Di kejauhan, dari atap gedung tua, Aurora menyaksikan kehancuran itu dengan mata kosong.
Satu langkah kecil. Satu luka balas.
Tapi belum cukup.
Giancarlo menerima kabar saat sedang makan malam dengan anak tirinya, Francesca. Wajahnya memucat.
“Siapa yang melakukan ini?” bentaknya.
Salah satu anak buahnya menjawab, “Tidak ada jejak. Tapi... simbol mawar hitam terbakar ditemukan di lokasi.”
Giancarlo melempar gelasnya. “Itu lambang Castellano lama… sebelum aku merebut tahta. Ini… ini bukan kebetulan.”
Francesca menatapnya tajam. “Kau pikir… itu Aurora?”
“Tidak mungkin. Dia sudah mati.”
“Atau... kau hanya berharap dia sudah mati,” jawab Francesca dingin.
---
Di Roma, Leonardo—pemburu bayaran terbaik keluarga Castellano—menerima pesan pribadi dari Giancarlo.
“Temukan dia. Bunuh dia. Jika dia Aurora, bakar lagi sampai tinggal tulang.”
Leonardo tersenyum pelan.
Berburu hantu? Menarik.
---
Sementara itu, Aurora bertemu dengan teman lama yang dulu menghilang saat ia dijatuhkan—Claudia, sahabat masa kecilnya. Claudia kini pemilik galeri seni di Florence, tapi diam-diam menjadi penyelundup barang antik untuk mafia.
Saat melihat Aurora, Claudia terdiam. Bibirnya gemetar.
“Kau... masih hidup...”
Aurora mendekat. “Aku tidak butuh pelukan. Aku butuh kejujuran.”
Claudia menggigit bibir. “Aku... aku tak bisa menolongmu saat itu…”
“Aku tahu. Kau memilih diam. Dan diam juga pengkhianatan.”
“Aurora…”
“Sekarang saatnya kau menebusnya.”
Claudia menatapnya. “Apa yang harus kulakukan?”
Aurora mengulurkan peta rahasia. “Kita akan mencuri satu hal yang paling dijaga Giancarlo: daftar pembeli gelap senjata biologis. Kita hancurkan reputasinya... lalu tubuhnya.”
Claudia mengangguk.
Masa lalu belum mati. Tapi kini saatnya membunuh semuanya.
---
Pencurian itu terjadi tengah malam.
Aurora, Claudia, dan dua orang bayaran menyusup ke vila musim panas Giancarlo di Napoli—tempat ia menyimpan brankas pribadi dalam ruang bawah tanah tersembunyi. Pencahayaan minim, sensor ketat, dan pengamanan elektronik canggih.
Tapi mereka sudah meretas semuanya sejak dua minggu lalu.
“Waktu kita 12 menit,” bisik Claudia.
“Cukup,” jawab Aurora.
Mereka masuk seperti bayangan, menonaktifkan satu per satu laser pengaman dan menembakkan panah bius ke penjaga di lorong. Aurora berjalan paling depan. Saat sampai di brankas besar di balik lukisan, dia menyentuh permukaannya pelan.
“Dulu ini lukisan ibuku,” gumamnya.
Claudia menunduk. “Giancarlo menyimpannya di sini seolah bangga.”
“Dia akan tahu artinya kehilangan.”
Aurora membuka brankas dengan kode lama milik ayahnya. Masih sama. Masih terdaftar sebagai kepala keluarga—meski sudah dibunuh oleh keponakannya sendiri.
Di dalamnya, tumpukan dokumen, emas batangan, dan satu flashdisk merah kecil.
Inilah yang mereka cari.
Saat Claudia menyimpannya ke dalam tas, alarm tiba-tiba berbunyi.
“s**t!”
“Jangan panik!” teriak Aurora. “Jalan keluar darurat!”
Tapi saat mereka sampai di lorong belakang, dua pria bersenjata sudah menunggu.
Aurora menembak satu. Claudia menendang lutut satunya hingga roboh. Mereka lari.
Lari sambil menghindar dari peluru. Claudia terluka di bahu, tapi terus berlari. Aurora menariknya naik ke atap, lalu melompat ke mobil yang menunggu.
Mobil tancap gas.
Misi berhasil.
Tapi malam itu, seluruh keluarga Castellano tahu: Aurora kembali. Dan dia tidak akan berhenti.
---
Esoknya, dunia mafia Eropa terguncang saat dokumen pembelian senjata ilegal Giancarlo bocor ke publik melalui darknet.
Media heboh.
Interpol mulai bergerak.
Investor dan aliansi mulai menarik diri.
Giancarlo mengamuk seperti binatang.
“Siapa yang melakukan ini?!” teriaknya.
Tapi jauh di sudut pikirannya, dia tahu jawabannya.
Aurora. Hantu masa lalu yang dia bakar hidup-hidup.
Kini, dia kembali membawa api yang lebih besar.
---
---
Di dalam markas rahasia bawah tanah di Montenegro, Aurora duduk di depan cermin tua. Ia melepaskan wig hitamnya perlahan, menatap pantulan wajahnya sendiri yang penuh luka lama dan luka baru.
Di tangannya, foto ayahnya—Don Matteo Castellano—masih ia genggam.
"Ayah," bisiknya pelan. "Aku ambil satu langkah lagi hari ini. Tapi jalanku belum selesai."
Luka masuk dengan wajah dingin seperti biasa. “Leonardo sudah turun ke Italia. Dia akan mencarimu. Mereka sudah menyadari kau bukan hantu—tapi ancaman.”
Aurora berdiri. “Biarkan dia datang.”
“Dia bukan pembunuh biasa.”
“Dia bukan aku.”
Luka menatapnya lama. “Dan Giancarlo? Apa langkahmu berikutnya?”
Aurora berbalik ke arah jendela kaca tebal yang memperlihatkan laut gelap dan langit kelam.
“Kita hancurkan kepercayaannya. Kita bunuh sekutunya. Dan terakhir…” Aurora menatap Luka, dingin. “Kita buat dia memohon untuk mati.”
---
Sementara itu, Giancarlo duduk di gereja tua tempat ia dibaptis dahulu. Kini gereja itu sepi, hanya ada satu lilin menyala.
Ia berbicara pelan kepada salib di depannya.
“Jika kau masih hidup, Aurora… jika kau benar-benar kembali…”
Dia menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca.
“…maka kau akan menjadi musuh terakhirku. Dan yang paling berbahaya.”
Langkah kaki terdengar dari belakang. Francesca muncul, diam-diam.
“Ayah,” katanya. “Apa kau menyesal membunuhnya dulu?”
Giancarlo tak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangan.
Francesca menatapnya penuh kebencian. “Mungkin seharusnya aku biarkan dia membakarmu sampai habis.”
Giancarlo menoleh. “Kau... tahu?”
Francesca tersenyum tipis. “Sejak hari dia tenggelam. Karena aku juga yang menaruh batu di kakinya. Tapi aku salah satu dari mereka yang berharap dia tidak mati.”
Giancarlo berdiri cepat, terkejut dan marah.
Tapi Francesca sudah keluar.
Dunia Giancarlo mulai retak. Dari luar, Aurora menyerang. Dari dalam, pengkhianatan mulai tumbuh.
---
Aurora menatap layar besar—peta koneksi jaringan Castellano menyala seperti sarang laba-laba yang menunggu dibakar.
Di atasnya, ia menulis satu kalimat besar dengan spidol merah:
“HANYA KEMATIAN YANG LAYAK UNTUK MEREKA YANG MENJUAL DARAHNYA SENDIRI.”
Ia tersenyum dingin. Matanya tidak lagi menampung air mata.
Hanya api.
Api yang akan membakar seluruh dunia mafia—dan tak akan padam sampai jantung Giancarlo Castellano berhenti berdetak.
---