Takut mengkhawatirkan orang tua Anna, dengan keadaan Anna sekarang yang masih saja menangis sedari tadi.
Akhirnya Gio membawa Anna ke apartemen nya dahulu, menenangkannya dan menyuruh Anna untuk merapikan penampilan nya.
Setelah Anna sudah cukup terlihat segar dari sebelumnya akhirnya aku mengajaknya duduk, menanyakan kebenaran tentang kejadian tadi.
Bukannya menjawab, Anna malah kembali menangis tersedu-sedu. Aku yang tak tega akhirnya memenangkannya, memeluk dan menepuk pelan punggungnya.
Tak pernah terlintas di pikiranku, tindakan yang aku lakukan malah membawa penyesalan tersendiri untukku.
Entah siapa yang memulai, sampai akhirnya aku dan Anna melakukan kesalahan fatal.
Awalnya aku syok atas tindakanku, memikirkannya aku jadi mengingat sosok Xaviora yang masih menjadi kekasihku. Dadaku terasa sesak, merasa bersalah telah mengkhianatinya.
Walaupun kadang aku membenci Xaviora, tapi di dalam lubuk hatiku sebenarnya aku masih mencintai dan menyayangi nya. Entah apa yang membuatnya berubah, gadis manis yang dulu aku kenal telah menjadi jahat dan kasar.
Tapi mengingat perubahan sikapnya hari ini, entah karena apa perasaanku menjadi kalut dan takut.
"Kak, aku lapar."
Suara gadis, atau mungkin sekarang lebih tepatnya suara seorang wanita mengalun merdu memasuki telingaku.
Aku sampai lupa keberadaanya, kulirik Anna yang masih merapikan baju. Tidak ada raut penyesalan atau khawatir diwajahnya, tidak sadar aku menghela nafas lega.
"Ayo cari makan, disini ngga ada stok makanan."
"Iya kak."
Setelah berputar-putar mencari tempat makan, akhirnya kami singgah di kedai bakso pinggir jalan.
Berjalan masuk, tak kusangka pemandangan pertama yang aku lihat adalah Xaviora.
Xaviora dengan Xabiru, sialnya si b******k itu sedang memegang bibir gadisnya.
Tak sadar, aku mencengkram erat tangan Anna yang kugenggam.
"Bukan mukhrim." Ucapku spontan.
Setelah tadi bersama Airlangga, sekarang dia bersama Xabiru. Keduanya sahabatku, apakah aku saja tidak cukup?
Tapi kemarahanku tiba-tiba sirna, mendengar Xaviora memanggil namaku dengan lembut.
"Gio."
Menoleh kearahnya, seketika aku teringat kejadian tadi bersama Anna. Merasa bersalah dan senang bersamaan membuatku tersenyum kearahnya, bersalah karena aku telah mengkhianatinya dan senang karena sepertinya Xaviora tidak mengganggu Anna lagi.
"Xavi." Sahutku.
"Gio sini." Ucap Xaviora sambil menepuk tempat kosong yang berada di sampingnya.
"Iya." Ucapku sambil berjalan kearahnya.
Akhirnya aku duduk di sebelah Xaviora dengan Anna berada di depanku, dan Xabiru berada di depan Xaviora.
"Gio kok kamu sama Anna." Tanya Xaviora.
"Eh a-anu, tadi ngga sengaja ketemu jadi sekalian."
Kulihat Xaviora hanya tersenyum menanggapi ucapanku, aku jadi teringat Xaviora yang dulu. Xaviora yang manis dan penurut, aku jadi merindukan Xavioraku yang seperti ini.
Aku menghela nafas lega karena sepertinya Xaviora tidak bertanya-tanya lebih jauh lagi, tapi harapan sepertinya hanya harapan.
"Anna, leher kamu kenapa?"
Aku terkejut mendengar penuturan Xavi, wajahku seketika kaku.
"A-ah ini, e-em tadi anu nyamuk." Sahut Anna yang sedari tadi hanya diam.
Kulihat Xavi yang menatap kearahku sambil mengangkat alis tanda bertanya, wajahku sudah pucat. Tapi setelahnya kulihat Xavi saling melempar senyum dengan Xabiru, di depan mataku sendiri.
Menggeram marah, kutatap tajam Xabiru yang dibalas dengan tatapan santai.
"Lo ngapain sama pacar gue?"
"Makan bro."
"Emang pacar kamu siapa Gio?"
Bukan suara Xabiru atau Anna, melainkan Xaviora yang bertanya dengan wajah polosnya.